Homeless Need a Job

Homeless Need a Job
Keping Sebelas



"Enak,kalau papah temani tio pergi ke pekan baru! Pergi sendiri dan belum tahu seperti apa disana!"terang tio pada papah. "enggak mungkin papah temani kamu,kebisingan bocah cengeng itu terasa saat bagian hidupnya terlihat!"kata papah.


Usianya yang tidak muda lagi,masih bisa mengimbangi kemampuan berpikir tio anak lelaki pertamanya.


"Berapa menit sampai terminal Baranang siang?"tanya tio yang sudah duduk dibangku belakang. "sejumlah jari di pergelangan tanganmu,"jawab papah,terasa berat dari hati tuanya melepas anak lelaki yang dibesarkannya akan bekerja di sumatera.


Kata merantau dan sebuah cerita dalam nasab keluarga yang akan menjadi cerita turun temurun. "Kita siap berangkat?"tanyanya sembari telapak kanannya memutar handgrip kebelakang. Motor bebek keluaran tahun 90-an terdengar halus saat digas,motor yang selalu diservise setiap bulannya.


"Siap pah,kita berangkat sekarang,"sahut tio sembari mendekap tas travelingnya. Terdengar suara klakson,memberitahukan pada istrinya yang tengah berdiri dipekarangan. "Tio pergi dulu,setibanya di Pekanbaru tio akan telepon,"kata tio menghibur yang melihat kedua mata ibu paruh baya itu akan meneteskan air matanya.


Ayah dan anak lelakinya itupun pergi berlalu,meninggalkan kebersamaan mamah dan anak pertamanya.


Mereka berdua telah pergi dengan motor bebek berplat merah. Mamah tio masih berdiri saat bayangan mereka hilang dari pandangannya.


Tatapan mata ibu paruh baya itupun beralih ketika suara terdengar,"Tio pergi ke jakarta lagi?"tanya teh ria sembari menyuapi nasi ke anak lelakinya.


Ria tetangga sekaligus kakak kelas tio di SMA yang sampai saat ini belum menikah,lebih tepatnya ditinggal nikah sama ria. "Tio pergi ke sumatera,"jawab mamah tio.


"Ke sumatera? Bukannya kantor tio bekerja di jakarta? Pindah lagi kerjanya?"tanya ria penasaran,"Makin jauh,Perusahaannya memutasi tio ke sumatera,karyawan di sana mengundurkan diri,tio diminta menggantikan posisinya,"jawab mamah tio.


Kenangan ria akan tio dan ketidakbahagiaan ria dalam pernikahannya membuat lamunan panjang.


Motor bebek plat merah berhenti tepat di jalur keluar terminal. Kota Bogor memiliki dua terminal,dan dua terminal tersebut berada di satu lokasi berdekatan dengan jalan tol.


Lampu belakang motor bebek berplat merah bersinar,diiringi suara kampas rem yang berbunyi,remnya bunyi,jangan-jangan kampas remnya?"tanya tio sembari turun dengan melepaskan half helmetnya. "Iya,nanti papah service,"jawab papah tio sembari mengambil half helmet yang dipegang tio.


"Tio pamit pah,nanti setibanya di pekanbaru,tio akan telepon,"kata tio sembari mencium pergelangan kanannya,"Hati-hati jaga kesehatan,kalau ada kesulitan hubungi papah,"jawabnya yang tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.


Tio berjalan cepat menuju bus damri dan meletakkan tas travelingnya di bagasi bus,"Bagasi didalam bus,sudah dipenuhi tas penumpang,"gerutu tio sedikit kesal. Tio mendapat kursi duduk didepan dibelakang supir,terlihat jelas diwajah tio kegelisahan saat duduk di bus karena ketidaknyamanannya melihat bus yang tidak seluas rangkaian commuter.


Bus,sudah bergerak keluar terminal,suara penumpang yang akan menjemput dan akan pergi kebandara campur aduk duduk didalam bus damri. "Apa sebaiknya aku tidur saja,sampai terminal bandara,pasti petugas didalam bus akan membangunkanku,"bathin tio berkata pada diri sendiri.


"Baiklah ayah,aku sudah di bus menuju bandara,"terdengar suara perempuan dibelakang tio. Perempuan berhijab dengan logat sumateranya yang kental.


Di sumatera tio akan terbiasa mendengar bahasa daerah yang kental,bahasa yang akan menentukan kata iya atau tidak dalam pengetahuan yang akan diterimanya.


"Sepertinya suara penumpang tidak akan berhenti,gimana bisa tidur?"bathin tio pada dirinya sendiri,kekesalannya karena menahan ngantuk dan lelah.


Tepukan dipundak terasa saat sudah sampai diterminal bandara,tio menegakkan punggungnya dan beranjak bangun untuk mengambil tas nya di bagasi yang berada di samping bus,tidak ada seorangpun yang dikenalnya,tidak seperti penumpang bus,mereka pergi bersama untuk menjemput kerabatnya diterminal 1B.


Setelah mendapatkan tiket pesawat tio berjalan menuju antrian Boarding Pass,antrian yang padat sampai terdengar kunyahan chiki potatoes dibelakang,"Sendirian?"terdengar suara dari belakang.


Tio memalingkan wajahnya dan saat melihat tidak ada seorangpun yang mengantri,karena tio tengah berada ditoilet. Tio telah masuk ke Boarding Room dan sudah melewati pengecekan barang bawaan.


Setiap bandara memiliki boarding room atau ruang tunggu pesawat. Diruangan yang paling menenangkan bagi tio karena hanya tinggal menunggu pengumuman untuk masuk pesawat.


Tio berada sesuai gerbang keberangkatan yang tertera di tiket pesawat. "Jika mendengar pemberitahuan perpindahan gate, tanyakan pada petugas bandara yang siap sedia disekitarmu, lalu berpindahlah ke gate yang diminta,"ingat tio saat lina menjelaskan pertanyaan kakaknya tio.


Biasanya setiap bandara menawarkan berbagai fasilitas di ruang tunggu seperti pendingin ruangan, charger, dan tempat mengisi air minum. Setelah kembali dari toilet,tio membaringkan tubuhnya diatas kursi panjang. Rasa kantuk yang harus hilang dalam dua jam.


Pengumaman di Bandara menginformasikan pesawat Batavia Air menuju Bandara Sultan syarif Kasim II telah tersedia. Tio beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuruni tangga,tio mengamati calon penumpang yang akan bersamanya terbang. Tidak terlihat rasa takut diraut wajahnya,pesawat Batavia Air terlihat jelas dihadapan tio.


Tio bergegas masuk ke dalam pesawat,setelah masuk kedalan pesawat,terlihat dua Cabin Crew tengah berdiri dihadapannya,tentu saja bagaikan gemerincing lonceng senyuman menyambutnya, "Hai,Masuk dan carilah tempat duduk sesuai tiket.


Letakkan tas atau barangmu di bagasi kabin atas tempat dudukmu,"tidak seperti itu sambutan yang dilontarkan Cabin Crew.


Cabin Crew membantu tio menunjukkan letak tempat duduk. "Terimakasih bu,"kataku pada Cabin Crew yang baru kuketahui dari name tagenya bernama Maya Riska.


Cabin Crew itupun berlalu membantu penumpang lain.


"Usahakan jangan terlalu lama menata tas di bagasi kabin karena akan mengganggu penumpang lainnya,"celetuk lelaki yang sudah duduk dikursinya melihat tio menatap Cabin Crew.


"Jika tas bawaanmu kecil, maka sebaiknya kamu pegang atau taruh di bawah kursi,"lelaki itu berkata lagi sembari mengangkat kedua alisnya. "Ee iya sudah,saya akan ikuti sarannya,"jawab tio kedua bola matanya berputar seperti ekspresi kekesalan.


Tio melihat nomor 21A pada bagasi kabin,penumpang pria yang so tahu itu berdiri dan mempersilahkan tio untuk menempati kursinya. "Sudah pakai sabuk pengaman dan matikan telepon genggam?"tanya lelaki itu gelisah,yang bergerutu kalau ini penerbangan pertamanya.


"Belum,saya akan merubahnya kemode pesawat,terima kasih sudah menegur saya,saya sangat takut karena ini penerbangan pertama saya,"ungkap tio sembari menepuk paha kiri lelaki yang terlihat resah.


Setelah duduk di tempat duduk yangsesuai tiket, tio mengenakan sabuk pengaman dan mematikan telepon genggam. Hal ini untuk menjaga keselamatan bersama selama di pesawat,bukan keselamatan lelaki yang disebelahnya itu.


Cabin Cree tengah memberikan informasi atau pengumuman saat penerbangan dipesawat. Kata-kata yang diucapkan oleh Cabin Crew sebagai upaya menjaga keselamatan penumpang.


Lalu diikuti dengan Safety Demontration yang dilakukan Cabin Crew. Tio dengan seksama memperhatikan,berbeda dengan lelaki yang duduk disebelahnya,lelaki yang terdiam terlihat terus menghirup udara sepertinya tekanan udara didalam kabin menipis.


Amannya, jangan gugup dan takut selama berada di pesawat, meskipun sudah melewati proses lepas landas dan mendarat.