
Aku sangat menyukai Budaya Perusahaan yang akan menjadi tempatku bekerja. Tidak sabar untuk mengetahui apakah aku di terima atau tidak untuk bekerja di perusahaan ini.
Pengalaman hidupku di mulai di kota Kembang dan di perusahaan ini.
Aku bersalaman dengan beberapa peserta wawancara yang hadir hari ini. Mereka warga asli Bandung yang akan bekerja menjadi karyawan di pergudangan jakarta.
Kami mengobrol mengenai kota asal tempat kami tinggal dan kendaraan yang di gunakan menuju Bandung.
Keakraban kami bersambung sampai nama ku terdengar di panggil salah satu karyawan perempuan yang datang menghampiri.
Pak Tio Dimas Teguh Hermawan. Silahkan masuk ke ruangan untuk wawancara.
Baik bu. Terimakasih.
"Saya duluan kang!"seru ku sembari beranjak diri untuk merapikan kemeja dan celana panjang.
Aku berjalan menuju pintu ruangan yang hanya beberapa langkah dari tempat dudukku tadi.
Ku buka pintu dengan mendorong pelan ke arah depan. Ruangan ber AC dengan suhu dingin yang sama ku rasakan selama perjalanan.
*Selamat pagi*
Terdengar suara menggaung berwibawa di dalam ruangan. Terlihat tiga orang berpakaian kemeja putih tengah duduk bersama di dalam ruangan.
"Selamat pagi,"jawab ku sembari berjalan melangkah ke arah mereka.
Pijakan suara dari sepatuku terdengar mantap melangkah.
"Silahkan duduk Pak Tio,"ucap seorang pewawancara yang duduk di sebelah kanan. Lelaki paruh baya yang baru ku ketahui namanya Roma dirama.
Wajah oval berambut hitam pendek. Berbibir tebal membentuk guratan khas pada wajahnya. Menambah ke wibawaan si pewawancara. Tercium dari tubuhnya parfum beraroma rempah-rempah berkualitas tinggi.
Parfum yang di bandrol setengah jutaan itu tercium segar di ke dua ujung hidung tio. Di bandingkan dengan harga parfum yang tercium di bajunya.
Aroma parfum yang tercampur asap kenalpot yang sampai kini masih menempel di pori-pori kaos dalamnya.
Tio membaca beberapa berkas yang berisikan materi mengenai kelangsungan karyawan bekerja di tingkat jarak wilayah dan waktu kerja yang mengikat di pergudangan.
Belakang tubuhnya di sandarkan pada kursi. Tio harus terlihat santai dengan posisi yang sering di lihatnya di setiap wawancara.
Sepatu hitam yang terasa lembab menambah dingin ke dua pergelangan kakinya.
Posisi ke dua pijakan kaki tidak terlihat menjinjit ke atas. Ke dua lututnya di sejajarkan lurus.
Meskipun Rasa pegal di tangan masih terasa.Tio hanya mengusap lembut dengan ke dua telapak tangannya secara bergantian.
Ke tiga pewawancara yang kini tengah di hadapan tio sedang mempelajari CV yang tadi di letakkannya di atas meja.
Salah satu dari mereka terdengar membicarakan lokasi kota yang menjadi tempat tinggal tio yang tidak jauh dari kota Jakarta. Sehingga memudahkannya untuk mengikuti pelatihan di sana.
Tio mendengar beberapa penjelasan yang akan di bahas dalam sesi wawancara siang ini.
*Sesi pertama mengenai Modul sparepart dari Teknologi Perusahaan Operator Seluler di Indonesia*
*Dan yang ke dua mengenai Ware House manajemen dan transportasi logistik pergudangan*
*Materi pertama selesai dalam beberapa puluh menit dengan menjabarkan tipe modul sparepart*
Sesekali dalam menjelaskan mengenai materi. Kami tertawa bersama karena di selingi gurauan.
*Materi ke dua mengenai Transportasi Logistik Perusahaan*
Pengiriman modul masuk dan keluar pergudangan melalui jalur udara dan darat dan laut yang di sesuaikan jadwal transportasinya.
Pengiriman Modul termasuk di wilayah Pulau Sumatera karena Pengiriman lebih mengutamakan jalur darat dari pada udara.
Materi itu selesai dalam beberapa puluh menit dengan pembahasan mengenai stok modul sparepart seluler di tiap-tiap Kota dan Provinsi.
Indonesia dengan kemajuan Teknologi Informasinya memberikan pelayanan maksimal pada masyarakat indonesia. Di tangani para teknisi yang handal di setiap area operasional.
Hal ini terlihat dari banyaknya teknisi-teknisi BTS Seluler yang selalu memonitoring sparepart yang terpasang pada tower yang menancap dalam di seluruh neosantara.
Sesi wawancara telah selesai. Mereka bertiga terlihat berbicara kembali mengenai pelatihan di Gudang Sparepart Logistik di Jakarta.
*SELAMAT ANDA DI TERIMA BEKERJA DI PERUSAHAAN KAMI*
*SIAP UNTUK DI TEMPATKAN DI JAKARTA?*
Siap pak!
Tio cepat menjawabnya dengan perasaan senang dan bangga.
Kami berempat beranjak berdiri. Terdengar bangku tergeser mundur.
Tio berjabat tangan pada ke tiga pewawancara sembari bergegas meninggalkan kursi duduk dengan bergegas berjalan menuju pintu dengan tersenyum.
Tio menutup kembali pintu sembari menunjukkan ke dua jarinya dan berkata.
*Heiwa-heiwa*
*Aku di terima!*
Salah satu dari ke-enam peserta wawancara menanyakan seputar pertanyaan dan penjelasan yang di terangkan pewawancara.
Penjelasan yang sangat panjang menurut saya. Yang tak habis pikir mengenai materi pergudangan yang pernah di pelajarinya.
Yang menjadi kendala pada transportasi logistik. Pengiriman modul sparepart harus sesuai tipe orderan. Pemilihan rekanan pengiriman di setiap kota dalam mengirimkan modul sparepart ke-setiap kota.
Langkah kaki peserta ke dua bergegas masuk mengikuti banyangannya. Selalu di awali dengan berdoa yang kononnya mampu mengabulkan permintaan.
Rapalan suci yang entah di ingatkan orang tuanya atau dari salah satu peserta wawancara.
***
Di sela-selanya mendengarkan obrolan. Tio sempatkan untuk membuka aplikasi menulis yang selalu di gunakannya saat menulis cerita.
Ujung jari kanannya menyentuh layar ponselnya dan di klik icon *writer* yang berada di samping kiri icon* character planner*yang telah di instal-nya.
Tulisan dengan khasanah percakapan yang sangat monoton dan terlalu story telling. Sangat *Tidak* mudah menghidupkan karakter tokoh yang di tulisnya dalam cerita.
Hal ini yang menyebabkan konflik pada alur cerita yang di tulisnya tidak maksimal.
Tio tidak menyerah mengenai kegalauannya yang tengah di rasakannya kini. Karena pikirnya syndrome ini akan hilang kalau di selingi membaca ebook setiap pagi.
Besok pagi ebook akan menjadi sarapan paginya. Entah kenapa tiba-tiba tio sangat menyukai dunia literasi,semoga menulis bukan pelarian hidupnya sekarang.
Ungkapan ini tio dapat dari temannya. Himawan. Dia senang bersepedah. Setiap harinya himawan selalu menambah rasa sakit pada ke dua kakinya.
"Kalau kaki enggak kerasa sakit bukan bersepedah,"ucap himawan saat tio tengah meneliti mengenai bersepedah.
Kalimat itu yang pernah di ucapkan himawan dari seorang yang memiliki Keteguhan Hati.
"Kenapa aku menceritakannya? Emangnya dia itu siapa!"ucap tio datar.
***
Tio tengah tertawa saat membaca cerita yang di tulisnya kemarin siang. Salah satu peserta wawancara yang berbadan lebih tinggi beberapa senti darinya ikut nimbrung untuk melihat cerita yang sedang di bacanya.
Kita sebut saja namanya Kang deni.
Banyak dari macam gaya menulis yang di tirunya hingga akhirnya plot narasi yang di tulisnya tidak tersampaikan oleh si pembaca.
Semenjak Sma dulu. Kang deni senang membuat cerita pendek yang selalu di terbitkannya melalui novel online.
"Kenapa enggak di bukukan ceritamu? Kalau di simpan di ponsel enggak akan jadi uang,"ucapnya sembari ke dua ujung matanya menatap wajah tio yang lelahnya masih tergambar jelas pada raut wajahnya.
"Atau akang,bisa jual kumpulan ceritanya pada penerbit atau mading sekolah. Setau saya harga kumpulan cerita sekitar Rp.50,- Rp.100,-perkata,"lanjutnya memberitahu besaran nominal yang belum di hargai sebagai Author.
"Benar jugaya! Pulang dari wawancara akan saya terbitkan kumpulan cerita yang pernah saya tulis,"ujar tio meyakinkan.
Tidak terpikirkan sebelumnya untuk menerbitkannya di online. Setaunya di playstore banyak aplikasi untuk menerbitkan kumpulan cerpen,"jelas tio sembari menceritakan bagaimana ke seruannya membawa imajinasi pembaca ke dalam alur ceritanya.
Terlihat secuil guratan sesal pada diri tio di saat kang deni berbicara mengenai sebuah karya yang akan di terbitkannya.
"Seharusnya tio menulis cerita sejak masih Sma dulu,mungkin di usianya yang saat ini sudah lewat belasan tahun tio seharusnya sudah memiliki beberapa karya,"sesalnya dengan nada rendah.
Jadi,tambahnya menjelaskan "Yang harus di lakukannya saat ini adalah memiliki selikung dalam membuat naskah dialog." Penulis dengan gaya menulis yang di nanti.
*Tio menghembuskan nafas panjang*
Tio berpikir sajian dalam tulisan berikutnya pada para pembacanya adalah mengenai pesan orang tua yang sudah banyak di lupakan generasi-generasi sekarang.
Misalnya saja dalam hal etika. Tidak boleh mengerjakan sesuatu di malam hari. Seperti menjahit. Duduk di dekat pintu,misalnya.
Dan kebiasaan orang tua kita dulu di saat bulan purnama yang terang mentaram mengharuskan anak-anaknya bermain.
Sekarang enggak terlihat seperti itu. Anak-anak sekarang senang memainkan bayangan dari sebuah rencana yang sepuluh tahun kedepan akan menjadi siapa?
Sebuah perjalanan hidup yang pada akhirnya nobita meminta bantuan pada doraemon untuk memintanya mengeluarkan sesuatu dalam kantung ajaibnya.
*Empat jam berlalu*
Kami tengah menunggu peserta terakhir keluar dari ruang wawancara. Secuil senyuman tergurat dari wajah mereka.
Antusiasnya. Rasa bangganya dan kenyataan yang tidak mudah menyandang nama perusahaan di belakang nama panggilan.
Anak baik menjadi anak bagian dari sebuah birokrasi perusahaan yang akan menyita separuh hidupnya.
Alih-alih untuk biaya nikah dan membuat bangga calon mertua karena di terima di perusahaan yang enggak nyangka akan menentukan Daftar Riwayat Hidup mereka.
*Pada akhirnya*
Sebuah pintu terbuka pelan terlihat senyuman yang menyembur melalui sebuah tulisan yang segera ia bagikan pada kami ber-enam.
Malam ini kami harus sudah berada di Gudang Sparepart di kota Jakarta.
Seorang karyawan senior menghampiri rekannya. Kita sebut saja karyawan senior ini bernama Kang Ari. Kang Ari di minta untuk mengganti sementara tugas karyawan di Sulawesi karena karyawan di sana akan mengambil jatah cutinya.
Karyawan itu menjawab ke sanggupannya. Ia terlihat bergegas pergi menuju ruangan yang tidak terlihat dari tempatku duduk.
Cerita ini bagian penggalan dari sebuah nama yang di sandingkan dengan nama depan. Hal itu belum terjadi pada ku. Tugas pertamaku adalah mengikuti pelatihan di gudang sparepart yang kemungkinan besok sudah harus bekerja.
Salah seorang dari ke tiga pewawancara keluar dan memberitahukan agar kami semua bersiap-siap untuk bergegas ke kota jakarta. Arah jarum jam sudah menunjukkan pukul 14.00 siang.
Tio dan ke-enam peserta wawancara pamit undur diri untuk kembali ke kota Bogor. Tentu saja tio pulang dengan motor bebeknya dengan waktu tempuh selama empat jam yang akan menambah daftar lelahnya di hari itu.
Setelah itu tio bisa membayangkan capeknya untuk berkemas dan membawa pakaian ganti karena akan tinggal di mess karyawan selama pelatihan.
Hari itu hari yang sangat melelahkan bagi Tio. Seorang pemuda yang terbiasa kerja di dalam kota dengan waktu produktifnya.
Dan bagaimana dengan ke-enam peserta wawancara lainnya. Mereka warga asli kota kembang dan dengan segera berangkat langsung menuju kota jakarta dengan transportasi kereta api.
Tio kembali menuju parkiran di mana motor bebeknya di parkir. Rasa lelah tidak bisa ia sembunyikan dari raut wajahnya.
Terpikir dalam benaknya.
Setibanya melintasi Bandung Barat. Tio akan berhenti sebentar di lokasi pengisian bensin. Motor bebeknya sudah meluncur ke luar gerbang perusahaan dan melaju mulus ke kiri dengan dorongan mesin yang mulus.
Tio terlihat selalu memalingkan wajahnya ke arah kanan saat melaju. Ia tidak mempercayai spion di kiri kemudinya.
*Entah kenapa!*
Setiap perempuan yang ia lewati dengan motor bebeknya selalu tidak terlihat raut wajahnya.
"Terlalu cepat,hanya beberapa detik terlihat raut wajah cantik nan kuning langsat itu,"gumamnya sembari menghentikan laju motor bebeknya beberapa meter dari zebra cross.
Dalam lamunan.
Tio membayangkan perempuan cantik yang tengah melangkah pelan melewatinya.
*Ngek-wew*
Perempuan tua yang dua puluh tahun yang lalu pernah di puja. Di cintai oleh banyak lelaki.
*Susah amat jelasinnya*
Lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau. Motor bebek ku laju pelan berbelok ke kanan. Aku membayangkan lemari pendingin yang di penuhi botol minuman dan kaleng soda.
Lampu sen kiri Motor bebek ku nyalakan agar aku bisa melambatkan laju gerak motor bebekku.
Segera ku standar miring dan mendorong kaca helem ke atas.
Terdengar sambutan dari seorang kasir perempuan yang di iringi senyumannya yang ramah.
Langkah-ku arahkan pada lemari pendingin dan ku-ambil dua minuman bersoda dari lemari pendingin dan membayarnya.
Kulanjutkan perjalananku menuju kota kelahiranku.
*BOGOR KOTA*
*Empat jam berlalu*
Motor bebek tio sudah mendorong pintu pagar depan rumahnya. Langkah kakinya bergegas masuk ke dalam rumah dan mencari mamah dan papahnya.
*Terdengar suara dari ruang tamu*
"Kamu sudah pulang,cepat sana mandi. Mamah sudah masakkan ikan tongkol balado."
"Mah,tio di ter---"
*Aduh*
*Tio dan mamahnya jatuh bersamaan*
"Sa---"
"Sakit!"rintih tio sembari memegang pergelangan tangan mamahnya lalu mereka mencoba beranjak diri.
"Maaf mah,tadi mau nyamperin mamah,"ucap tio sembari menahan ngilu.
"Ya udah,mamah maafin,"jawab mamah.
"Sana makan dulu,tadi mamah sudah masakin tongkol balado,"serunya.
"Mah,tio di terima kerja. Sekarang tio harus mengikuti pelatihan di jakarta,"ungkapnya.
Selama pelatihan anaknya tio akan tinggal di mess karyawan. Tio tidak mungkin pulang dalam beberapa minggu ke depan.
Langkah kakinya di arahkan menuju dapur untuk segera menyantap makan malamnya. Tio makan dengan lahapnya. Ikan tongkol balado yang sambalnya tercampur nasi menambah selera makannya.
Tidak terasa sudah tiga piring nasi dan tiga ikan tongkol di kunyahnya.
*Sampai kunyahannya terhenti*
*Sebuah notif pesan telegram x*
Ke-enam orang yang di kenalnya saat wawancara sudah tiba di stasiun gambir dan akan menuju stasiun manggarai.
Di ketiknya...
Baru sampai. Saya upayakan empat jam lagi sudah tiba di pergudangan jakarta.
*Pesan singkat dikirimkannya kembali melalui telegram x*
Tio bergegas mandi dan menyiapkan semua yang di butuhkannya di masukkanya ke dalam tas.
Selesai!
"Papah masih belum pulang? Tio berangkat sekarang,mah!"ucap tio sembari menghampiri mamahnya.
"Papah belum pulang,nanti mamah kasih tahu papah kamu pelatihan di jakarta,"jawabnya ramah.
Tio mencium tangan mamahnya. Pergelangan kanan kirinya mengunci pintu pagar depan. Setelah sampai di pertigaan jalan tio memberhentikan angkutan umum dan melaju menuju stasiun bogor kota.
Selama satu jam. Tio duduk memejamkan mata. Setibanya di stasiun manggarai,tio menanyakan lokasi pergudangan di sekitaran manggarai.
*Selang beberapa waktu*
Tio melihat kesibukan yang belum pernah di lihatnya selama ini.
Kesibukkan yang hanya bisa di baca dengan kamus teknik.