Homeless Need a Job

Homeless Need a Job
Keping Enam



Kesibukan digudang disumatera tidak seberat disini. Khabarnya ada staf gudang disumatera akan berhenti dan akan ada salah satu staf yang akan menggantikan. "Semoga bukan aku,"bathinnya cemas.


Deni dan tio terlihat asik berbicara mengenai cerpen dan tokoh karakter yang tengah ditulisnya. "Ada yang ingin menjadi penulis?"tanya indra suaranya terdengar dibelakang tio. "Hei,lama banget dikamar mandinya.


Deni tadi bilang kamu batuk-batuk di kamar mandi,jangan-jangan TBC? Sana periksa kedokter!"canda tio sembari merentangkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.deni dan tio saling berjabat tangan menyambut pertemuan mereka dipagi hari.


Secangkir kopi dan sebungkus rokok tidak terlihat. "Seperti ada yang kurang?"celetuk deni sembari mengamati kondisi indra. "Maksudmu rokok dan secangkir kopi?"jawab indra sembari menahan sakit didada saat batuk.


"Batuk kering,tidak ada dahak sama sekali?"jawab indra,kedua telapak tangannya menekan lantai agar sesuai dengan konture tanah. "Kalian,sudah pada sarapan?"tanya indra sembari mengalihkan pembicaraan. Indra melepaskan sandal jepit ditelapak kanannya.


"Sandal baru,kemarin malam baru beli diluar pergudangan,"seru indra yang mengeluhkan bongkar muat semalam.


Flash back on. "Kemarin aku angkat modul sparepart dan menyusunnya dirak. Banyak dus kotak seperti kubus. Semua dus itu kususun sesuai type,"tukas indra yang masih mengingat teguran dari staf senior.


"Indra,kamu angkut modul sampai jam berapa?"tanya deni. "Kemarin capeknya minta ampun dan aku lihat tio sudah tidur dilantai,tidurnya sampai mendengkur gitu,"seru deni sembari melihat arah jarum jam yang sebentar lagi jam kerja akan dimulai. "Sarapan dan ngopi dulu!"seru indra datar.


Tio mengikuti indra menuju keluar komplek pergudangan. Deni terdiam duduk melihat kesehatan rekannya indra. Batuk kedinginan. "Dadanya kalau dioles balsem pasti terasa hangat,"bathinnya sembari mengingat profesi sebelumnya yang bekerja sebagai karyawan diapotik.


Flash back on. Sebelum deni memberikan kaleng soda pada tio,deni sempat cekcok dengan salah satu staf gudang. Deni yang tidak mau dimutasi kesumatera dan berupaya menyingkirkan tio menjauh. Sebuah untaian lagu kebencian mulai terlihat dan siapa yang akan tersingkir jauh dari kekompakan yang sudah terjalin selama ini. Flash back off.


Walaupun tio tidak mengetahui apa yang diinginkan dari sebuah pergantian posisi didalam birokrasi pergudangan. Tio yang mengetahui sebuah bisikan dari Mentoring akan menguatkan pondasi kepemimpianannya.


Tio tengah duduk sembari mencatat type sparepart dan serial number dan path number.


Tumpukan lembaran kertas dan selipan kertas pada sparepart rusak terlihat menumpuk dilantai. Tio mengamati bagaimana staf gudang didaerah mengemas sparepart rusak yang dikirim ke gudang besar dijakarta.


Terlihat adanya beberapa sparepart rusak yang patah ataupun belah. Ditempatkan dipengecekan sparepart rusak harus mengetahui type sparepart dan mengerti serial number dan path number.


Dihari kedua tio mengevaluasi kinerjanya menurutnya sangat memuaskan. Tanpa disadarinya keyakinan tio diamati oleh manager operasional yang tengah mengamatinya didalam kantornya.


Jam makan siang sudah tio lewatkan dikamarnya. Terlihat tio tengah menulis alur cerita yang tidak monoton. Meskipun belum mengetahui sebuah diksi,tio sudah mengerti bagaimana membuat tokoh karakter antagonis dalam sebuah novel.


Tokoh antagonis yang akan membuatnya gagal dalam hubungan pernikahannya dan menggagalkan impiannya. Hari ini tio harus menulis 1000 kata dengan kalimat yang monohok,ciamik agar pembaca merasa baper setelah membacanya.


Tio meninggalkan deni dan indra yang tengah tidur pulas. Langkah tio terhenti dipintu ruang call center saat terdengar seorang staf senior di sumatera akan mengundurkan diri. Selama tujuh hari tio menerima sparepart rusak yang dikirim gudang di sumatera.


Catatan sparepart rusak terbanyak yang diterima tio,yang paling banyak ada dilima kota. Dan staf gudang yang mengundurkan diri berada dikota yang tidak sebanyak dari lima kota di sumatera. Didalam ruangan staf senior melihat tio yang tengah menguping pembicaraan.


Dengan sengaja staf senior tersebut menceritakan tio sebagai staf pengganti karena evaluasi kerjanya yang sangat baik. Tio tersentak kaget karena namanya disebut. Terlebih lagi kata evaluasi kerja baik membuat dirinya merasa diakui.


Tio melanjutkan langkah kakinya menuju kantin yang berada diluar kantor pergudangan. "Sepertinya manager operasional dan staf senior tahu kalau aku menguping pembicaraan mereka,"bathinnya berkata pada diri sendiri.


Terik matahari terasa menyengat diubun-ubun kepalanya. Tio terlihat dari keringat yang menembus pada kaos putihnya. Setibanya dikantin tio memesan nasi dengan sayur asem. Kuah sayur asemnya terlihat tidak bercabai serasa kurang mantap.


Ibu penjaga kantin menawarkan sambal dari cabe merah yang terlihat pedas dimatanya. "Sambalnya banyakin,yabu,"jawabnya sembari memesan teh panas manis kesukaannya. Nasi yang dikunyahnya terasa enak. Airnya pas dan terasa pulen apabila ditekan butiran nasinya.


Teringat perkataan staff senior mengenai evaluasi kerja yang sering tio lakukan selama tujuh hari bekerja. Penguasaan dalam menyelesaikan sparepart rusak diselesaikan dengan cepat dan cekatan. Dan idealisme yang dimilikinya dalam bekerja. "Jangan-jangan?"bathinnya berkata.


"Dari awal pelatihan mengenai sparepart rusak,manager sudah melihat potensinya untuk bisa menggantikan staf senior di sumatera,"bathinnya berucap lagi. Pikirannya membayangkan apa yang harus ia lakukan apabila dimutasi ke sumatera? Pekerjaan yang tidak begitu sulit hanya jam kerja yang berbeda dari profesi sebelumnya.


Apakah bisa pulang setiap bulan? Apakah pergudangan disumatera sama besarnya seperti di gudang besar? Lamunannya terhenti saat melihat jam yang menempel pada dinding yang warna catnya sudah pudar.


Arah jarum jam sudah melewati waktu istirahatnya. Tio bergegas pergi setelah membayar menu maKan siangnya. Tio tidak menghabiskan teh panas manisnya karena sifat tergesa-gesaannya.


Satu nilai minus dari tio yang terlihat dari pengamatan manager operasionalnya. Dalam hierarki birokrasi pergudangan tio telah melompati tahapannya dalam mentoring. "Makan siang telat! Kebiasaan selama enam hari ini,saya lihat kamu asik didepan laptopmu?"tegur staf senior.


Langkahnya terhenti didepan staf senior yang menegurnya. "Iya,maaf pak. Saya menunda makan siang saya,dan bagaimana bapak bisa tahu saya selalu berada didepan layar laptop?"tanya tio penasaran. "Angin itu makhluk hidup,"terang staf senior sembari melangkah meninggalkannya.


"Jangan-jangan lamunanku tadi berasal dari frekuensi aneh yang masuk kedalam jiwaku!"ungkapnya,pikirannya masuk kedalam lamunannya. Hatinya mulai gelisah,seiring lompatan dari tahapan kedua dari sebuah mentoring. Indra datang menghampiri tio dengan membawa sebuah modul sparepart.


Indra meminta bantuan tio agar memeriksa serial number dikomputer. Tio melihat angka 0 dan bukan hurup o. Karena tio tahu kesalahan penulisan pada angka dan hurup yang ditulis staf gudang senior di daerah. "Lihat lagi,takutnya salah nulis serial number,"mohon indra.


Tio menatap indra sepertinya indra mengetes kemampuannya atau mengerjainya. Tio bergegas menuju kedepan layar komputer dan menyaring serial number pada MS excel.


Kelakuan tio kalau lagi ngantuk selalu mengetik asal saat pencarian. Terlihat oleh indra yang menepuk punggungnya tio menahan rasa kantuk karena kekenyangan. "Menu makan siang tadi,sayur asem lagi?"tanya indra sembari menahan batuk yang tidak reda. Batuk yang belum sembuh.