Homeless Need a Job

Homeless Need a Job
Keping Empat



"Papah masih belum pulang? Tio berangkat sekarang,mah!"ucap tio sembari menghampiri mamahnya.


"Papah belum pulang,nanti mamah kasih tahu papah kalau kamu pelatihan di jakarta,"jawabnya ramah.


Tio mencium tangan mamahnya. Pergelangan kanan kirinya mengunci pintu pagar depan. Setelah sampai di pertigaan jalan,tio memberhentikan angkutan umum dan melaju menuju stasiun bogor kota.


Stasiun kota dengan lahan parkir yang luas terlihat dikedua matanya. Jalanan bagi calon penumpang dari gerbang stasiun menuju loket antrian,memudahkan bagi tio untuk berjalan menuju loket antrian.


Tio memandang sekitar untuk melihat mesin penjual tiket. Tio belum pernah menggunakan mesin penjual tiket selama beberapa menit tio terdiam dimesin tersebut.


Sampai pada akhirnya salah satu petugas diloket datang menghampiri. "Tujuan bapak kestasiun mana?"ucap petugas loket. "Stasiun Manggarai,"jawab tio sembari memberikan uang kartal Rp.20.000,- kepada petugas loket. Petugas loket menyentuh layar monitor dan memilih stasiun manggarai sebagai tujuan destinasi.


Mesin penjual tiket mengeluarkan uang kembalian selembar uang kartal seiring tiket tujuan. Tiket yang keluar dari mesin penjual tiket yang dimiliki dapat di tap pada gate penumpang.


Tio tidak perlu mengantri saat melewati gate karena perjalanan disore hari tidak sepadat di jam sibuk dipagi hari. Jadwal pemberangkatan commuter menuju stasiun manggarai tersedia.


Tio tidak perlu mencari rangkaian commuter untuk perjalanan. Kabin masinis berjejer didepannya. Masing-masing rangkaian melewati stasiun manggarai. Tio memilih rangkaian commutter menuju destinasi akhir stasiun kota.


Tertulis Stasiun Kota didepan kabin masinis. Langkah kakinya melangkah kearah rangkaian nomor empat. Tio bergegas duduk dikursi panjang yang mempunggungi pada kaca sebelah kanan. Tio terbangun dari lamunannya karena suara seorang kakek minta dibantu untuk masuk kedalam rangkaian.


Seorang mahasiswi membantu dan memandunya duduk dikursi yang dikhususkan bagi manula. Ibu hamil. Wanita menyusui dan orang yang berkebutuhan khusus. Suara masinis terdengar disetiap rangkaian,commuter line siap diberangkatkan.


Didalam rangkaian suhu rangkaian terasa dingin,karena menggunakan jaket dan memeluk erat tas dipangkuannya. Tio menyandarkan punggungnya dan kepalanya. Setelah commuter kembali melaju dari stasiun bojong gede tio terlelap tidur.


Suara obrolan penumpang di rangkaian masih kecil terdengar. Tio terlihat tengah tidur atau berpura-pura,merupakan pandangan yang terbiasa dilihat penumpang. Kebiasaan saat ada penumpang manula. Ibu menyusui. Wanita hamil.


Kebutuhan khusus dari keempat kriteria itu mereka tidak mengetahui bahwa terdapat kursi yang dikhususkan bagi mereka. Masih lama commuter tiba di stasiun cawang yang membuatku bangun terjaga mendengarkan suara obrolan penumpang.


Tidak banyak yang bisa kulihat dirangkaian nomor empat dari commuter line. Rangkaian yang sudah dipenuhi penumpang berdiri menanti untuk duduk. Suara masinis terdengar dirangkaian commuter line. Beberapa saat lagi commuter line akan memasuki stasiun cawang.


Tio menengadahkan kepalanya kedepan dan berpura-pura mengucek kedua kelopak mata dengan kedua pergelangan tangan. Terdengar suara lembut berkata melintas didepannya "Permisi stasiun cawang." Pintu rangkaian commuter terbuka seiring penumpang keluar dan masuk. Kebanyakan penumpang mengabaikan keselamatan saat masuk dan keluar rangkaian.


Terlihat saat mereka berpas-pasan dipintu rangkaian. Seharusnya para penumpang mengutamakan keselamatan saat akan keluar rangkaian. Pintu kembali ditutup seiring peringatan dari masinis commuter line.


Commuter line kembali melaju menuju stasiun manggarai dimana tio akan turun. Terdengar suara masinis dirangkaian commuter line memberitahukan bahwa commuter line akan tiba distasiun manggarai.


Diluar rangkaian terlihat para penumpang bersiap untuk memilih rangkaian commuter. Sudah menjadi pengetahuan umum beberapa penumpang memiliki janji bertemu dengan rekan kerja atau bahkan selingkuhannya. Sampai terdengar cerita dari salah satu penumpang.


Istri membuntuti suaminya pergi kekantor karena ketahuan berkata-kata mesra dari pesan telegram x. Sampai akhirnya perempuan dari selingkuhannya dilabarak langsung. Hal ini menjadi gosip disetiap rangkaian commuter. Lamunan tio hilang setelah pintu keluar terbuka.


Dengan cepat langkah kakinya menuju gate keluar stasiun. Setelah tiba di gerbang keluar stasiun manggarai. Tio menanyakan lokasi pergudangan pada setiap orang yang dilewatinya. Kenapa setiap tio menanyakan lokasi pergudangan di sekitaran manggarai banyak yang tidak mengetahuinya.


Kenapa? Kenapa? Tio terus berjalan sesuai peta pada aplikasinya. Jarak yang tidak jauh kalau menggunakan kendaraan roda dua. Mungkin dengan berjalan kaki rasa kantuk yang dirasa sore ini bisa hilang.


Selang beberapa waktu. Tio tiba di gerbang ruko pergudangan. Pertama kalinya tio melihat kesibukkan yang belum pernah di lihatnya selama ini. Kesibukkan yang hanya bisa di baca dengan kamus teknik.


Kendaraan besar bergerak mundur untuk menurunkan muatan. Tio bisa merasakan apa yang akan terjadi dengan otot-otot kecilnya selama bekerja di pergudangan sparepart ini. Beberapa modul diangkut diatas troli.


Modul sparepart yang diukur panjangxlebarxkg. Kita tidak berbicara mengangkat jemuran. Yang biasa tio lakukan setiap hujan turun. Dengan sigap tio menyelesaikan tugasnya tersebut. Setibanya didalam gudang.


Tio disambut oleh salah satu staf senior dan mengantarkannya untuk menemui manager operasional. "Kamu tio yang dari bogor,kan?"tanya manager operasional. "Iya,bu. Saya tio dari bogor dan ini surat tugas untuk mengikuti pelatihan disini,"jawabnya sembari menatap menunggu pertanyaan selanjutnya.


"Hem,oke. Tio kamu ditempatkan dibagian pemeriksaan modul rusak!"seru manager operasional. Kedua ujung matanya menatap yakin mengenai kemampuan tio dalam menyelesaikan tugasnya yang hanya memeriksa serial number dan path number pada modul sparepart yang diterima dari gudang-gudang kecil diseluruh indonesia.


Berbeda dengan pemikiran tio,dipikirannya kalimat lelah dan pegal akan menemaninya setiap hari. Lamuannya mengenai tetesan keringat dan jam kerja yang berbeda dengan pekerjaan sebelumnya. Bongkar muat dimalam hari dan jam kerja yang tidak menentu.


Tio meletakkan tas bawaanya kedalam loker karyawan. Banyak pertanyaan dari staff senior mengenai pemahaman administrasi gudang dan transportasi logistik. Satu-persatu dari keenam rekan tio yang ditemuinya dibandung terlihat masuk keruang kamar tidur.


Terlihat rasa lelah dan kantuk dari raut wajahnya. Indra salah satu staf .yang tio kenal mendekatinya dan memberitahukannya kalau malam ini akan ada modul rusak yang datang dari gudang diseluruh indonesia.


Dengan semangat tio meng-iyakan kesiapannya. "Makan malam,kita beli nasi goreng pete,"ucap tio semangat pada keenam rekannya. Tio yang sejak pagi tadi memulai sarapan dengan nasi goreng pete. Raut wajah keenam rekannya berubah setelah mendengar kata biji pete.


"Ada pete,tapi kita enggak makan itu,"sergah deni dengan segera menolak menu yang disebut tio. "Ya,terserah pokonya aku mau menu nasi goreng yang ada petenya,titik,"tegas tio sembari beranjak diri dan melangkahkan kakinya keluar kamar tidur. "Dia,suka pete!"ucap deny pada indra keempat rekan yang lain tertawa melihat reaksi deny mengenai menu yang disebutnya tadi.


"Iya den,tio suka pete,sekarang kita susul tio dan makan nasi goreng pete,"seru indra sembari mendorong tubuh besar deny pelan. Terlihat keempat rekan yang lain dengan cepat melangkah menyusul,mengira-ngira gerobak yang dipilih tio untuk makan.


Indra menyukai rekan-rekan barunya. Tio yang lebih dulu mengusulkan mengenai apapun yang perlu orang tahu. Dan deny selalu bersikap canggung dalam bereaksi pada usulan tio. Dipikirannya indra tio dan deny akan menjadi sahabat dalam profesinya. Tapi,kesedihan yang didalam hati indra,dan kelamnya masa lalu,belum diketahui keenam rekan barunya.