
Terdengar suara jam beker di samping ranjang tidurku.
Kepalaku masih bersandar di atas bantal kapuk dengan sarung berwarna ungu bergambar bunga matahari. Lampu kamar tidak pernah ku nyalakan saat tidur. Lampu dengan watt tinggi bisa membuat ke dua mataku sulit terpejam.
Suara nyaring jam beker masih terdengar keras...
Pergelangan kananku mencari jam beker yang berada di atas meja kecil. Meja berbahan kayu jati yang di cat kayu. Aku menyukai kayu jati itu.
Ku ambil jam beker dan mencoba melihat jam dengan mata yang rabun.
Arah jarum jam sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi. Masih terlalu dini untuk melipat pakaian dan mengepaknya ke dalam tas punggungku. Di luar sana masih gelap gulita. Sesekali terdengar ayam berkokok.
Pagi ini aku harus pergi untuk menghadiri interview. CV dan ijazah serta beberapa lembar photo sudah ku siapkan satu hari sebelumnya agar tidak repot-repot lagi ngeprint dan memasukkannya ke dalam amplop coklat besar.
Aku tidak begitu suka mandi di pagi hari. Sabun yang ku gunakan saat mandi semalam masih terasa harum di tubuh.
Aku beranjak duduk,kepalaku masih terasa oleng karena sukmaku belum menyatu dengan ragaku.
Aku belum memperkenalkan diri kepada kalian. Nama lengkapku Tio Dimas Teguh hermawan. Nama lengkapku sangat panjang karena ayahku menyukai nama-nama hebat.
Yang membuatku bingung di saat aku berulang tahun. Aku suka mendengar mereka menyebut nama lengkapku.
"Selamat ulang tahun dengan nama lengkapku,"gerutuku.
Tapi kalian bisa memanggil ku Tio. Ya Tio itu nama yang akan kalian ucap pada setiap kepingan hidupku.
"Interview,interview,interview di kota A,"gumamku. Perjalanan selama empat jam yang harus ku tempuh dengan motor bebek ku. Aku sudah memikirkan di mana aku harus rehat sejenak selama perjalanan.
Sepuluh menit berlalu...
Aku bangkit beranjak dari ranjangku. Merapikan kamar tidur setiap pagi merupakan kebiasaanku.
Mengganti sprei kasur dengan corak warna berbeda. Aku meletakkan sprei lamaku di lantai sambil ku bawa dan cuci di laundry di sekitar rumahku.
Di sebelah kiri lemari pakaianku terdapat meja belajar,aku tidak lagi menulis banyak hal. Aku menggunakan meja belajar untuk membaca naskah-naskah fiksi melalui ponsel.
Banyak naskah-naskah fiksi yang kubaca. Naskah-naskah fiksi yang tidak mungkin di baca di kertas polio bergaris.
Keharusanku untuk dapat menulis sebanyak 2700 kata sehari di kalikan 22 hari dalam sebulan,sama saja aku menulis novel 400 halaman.
Saat ini aku sudah bisa menulis sampai 1500 kata dalam sehari. Dengan khasanah percakapan yang terus bertambah agar bisa di nikmati remaja milenial di seluruh dunia.
Aku melangkah memuju kamar mandi. Letaknya masih di kamarku. bercermin dan mengoleskan pasta gigi...
ku sikat halus gigi depanku sembari merasakan rasa hangat menyentuh gusi merahku.
Setelah selesai dengan semua gigi,aku menyikat halus lidah dengan lembut. keharuman yang membuatku senang dan dekat berbicara dengan banyak orang.
Lemari pakaian dengan kayu jati berada tidak jauh di samping meja belajar. Ku buka pintu dan tercium bau kamper dengan aroma khas.
Kemeja lengan panjang berwarna putih ku keluarkan dari lemari dan celana panjang hitam yang selalu di sandingkan bagi pelamar-pelamar yang ingin bekerja di banyak perusahaan.
Kemeja putih lengan panjang dan celana hitam panjang akan ku kenakan saat interview.
Ke dua pakaian itu ku lipat dan ku masukkan bersamaan dengan amplop coklate berisikan CV lamaran kerjaku.
Kaos berwana putih atau merah,aku memilih ke duanya.
Hhhheeemmm ok! Aku akan memilih ke duanya.
Saat ini Aku akanmengenakan kaos pendek berwarna putih bertuliskan FRANCE di dada dan celana panjang.
Sedangkan kaos berwarna merah ku kenakan saat pulang.
Jaket motor yang ku kenakan jaket kulit berwarna coklat muda dan sepasang sarung tangan kulit berwarna hitam.
"Seprei akan ku bawa ke Laundry di sekitar Perumnas,"pikirku.
Sekarang, aku bersiap-siap untuk sarapan pagi. Ke dua orang tua ku sudah menungguku di meja makan.
Aku menghampiri mereka dan mencium pipi mereka. "Selamat pagi,"ucap mereka berdua berbarengan.
Papahku tengah asik membaca surat kabar paginya. Ia berprofesi sebagai PNS di Pemerintahan Kota. Seragam berwarna coklat selalu ia kenakan saat bekerja. Dan ibuku bekerja sebagai Ibu rumah tangga.
Kalian di pagi ini tidak akan melihat adikku lina. Adikku lina tengah kuliah di kota C.
Dari kemarin ia masih sibuk mengurus skripsinya. Di kepingan lain akan ku ceritakan tentang lina adik perempuanku. Bagaimana Ia menjalani kehidupan sehari-harinya di kota kecil ini.
Kami ber empat tinggal di kota yang tidak mungkin kering di rumah sederhana.
"Selamat pagi juga,"balasku sembari bergegas duduk untuk menyiuk nasi goreng yang di taburi biji pete.
Pergelangan kanan mamah menepuk cepat tangan kananku...
"Sakit mah!"ketusku sembari mengelus pergelangan atas tangan kananku.
"*Berdoa dulu baru makan,"tegas mamah memandangku penuh perhatian.
"Iya!"ucapku sambil nyengir.
Menunya nasi goreng dan pete. Biji petenya gede-gede gini. "Pete lagi murahya mah?"tanyaku Sambil mengunyah nasi dan pete di mulutku.
"Kemarin pagi,mamah pergi ke pasar,banyak pete yang di jual dengan harga terjangkau,"seru mamah sembari asik mengupas kulit pete di telapak tangannya.
"Pagi-pagi berangkatnya?"tanya mamah.
"Iya mah,"ucapku sembari menjelaskan pada ke dua orang tuaku mengenai interview hari ini.
Kemarin siang tio di telepon untuk menghadiri interview hari ini jam 10.00 siang.
"Di panggil interview,berarti kamu bisa bekerja setelah diterima,"ungkapnya.
"Posisi apa yang kamu lamar saat melamar?"tanya papah.
"Tio melamar untuk posisi warehouse staff untuk di training dan di tempatkan di kota B, kebetulan tio mengerti sedikit mengenai warehouse.
Papahku mengetahui perusahaan yang akan menginterviewku. Perusahaan besar yang bergerak di bidang teknologi.
"Pasti gajinya besar pah,lumayan loh buat modal nikah,"ungkap mamah ke dua matanya menatap suaminya.
"Hhhhaaahhhaaahhh."
"Mamah bisa aja,"celetuknya.
"Pergudangannya bergerak di bidang teknologi,"gumam papah dengan nada rendah sambil mengingat divisi di perusahaan itu.
"Setau papah banyak divisi di perusahaan teknologi,papah baru mendengar mengenai divisi warehouse?"tandasnya sembari melanjutkan membaca koran paginya.
"Tio nnggak tau persis,tapi di setiap tower bts terdapat modul telepon seluler dari perusahaan,"terangku sembari mengingat.
"Dan setelah mengetahui hari ini interview, tio langsung pergi menuju travel agent untuk reservasi tiket."ucapku menambahkan.
"Ternyata kursi penumpang yang akan tio pesan sudah penuh,tio langsung pergi menuju terminal bus menanyakan pemberangkatan bus paling awal,"seruku menambahkan.
Ternyata, Bus menuju kota A pemberangkatan awal pukul 07.00 pagi.
Sedangkan interview jam 10.00 siang.
Nnggak ke kejar pah.
Karena travel dan bus penuh di pagi ini tio putuskan pergi dengan motor. selesai!
"Jadi kamu keukeuh naik motor ke sana?"tanya mamah sembari mengunyah pete di mulutnya.
"Iya,mah tio naik motor,"cetusku.
Mereka berdua mengetahui caraku mengemudi dan mereka tidak khawatir.
"*Kamu bawa uang saku?"tanya mamah.
"Iya,mah tio bawa uang,"jawabku sembari memperlihatkan dompet hitam dan mengeluarkan beberapa uang kartal untuk isi pertamax,karena untuk sampai ke kota A motor harus berpacu di perbukitan dan Pertamax cukup mampu mendapatkan kecepatan yang stabil.
Uang untuk makan siang dan ngemil,aku tunjukkan agar mamah mau menambahkan. Mulut suka gatel ingin beli sekaleng dan malah berkaleng-kaleng soda.
"Mamah tahu mengenai kebiasaan tio ngemil saat berkendara apalagi kalau melihat minimarket pasti tio selalu berhenti,"ungkapku.
"Hhhhaaahhhaaa."ke dua orang tuaku tertawa bersamaan.
"Tapi tidak berlaku untuk tujuan ke kota A, setiap dua jam perjalanan tio selalu istirahat di pengisian bensin untuk berhenti,"serunya.
"Mamah berbisik pada papah**,"
Mamah masuk ke dalam kamarnya dan aku menunggu dengan sabar. Bukan karena uang berlebih tapi akan banyak kaleng soda yang bisa ku habiskan.
Selang beberapa waktu Mamah kembali duduk di kursinya dengan membawa beberapa lembar uang. "*Mamah rasa ini cukup untuk bekal perjalananmu,"ucap mamah sembari kembali menyiuk nasi goreng yang sebentar lagi akan habis.
"Lima lembar untuk perjalanan,tio rasa cukup mah,"ucapku.
Aku melihat jam di lengan kiriku. "Tio harus berangkat sekarang,mah!"ungkapku sembari menyeruput segelas air mineral yang nanggung tersisa.
Aku beranjak bangun dan menghampiri mamah dan papah. Aku mencium pipi mereka berdua*.
"Tio berangkat dulu,"ucapku sembari menggemblok tas di punggung.
Bergegas mengambil sprei kotor yang akan ku bawa ke laundry.
"Hati-hati di jalan tio,"ucap papah.
*Iya,pah. Tio akan hati-hati.
"Uangnya jangan di habiskan,"seru mamah.
"Iya mah,sisanya tio tabung,"seruku sambil menatap ke dua matanya.
Aku terduduk pada kursi kayu yang bau cat nya masih tercium. Sepertinya kursi kayu ini semalam terkena air hujan sehingga aroma kayunya kuat tercium.
Di luar terlihat berawan...
"Aku harus melaju pelan dengan kondisi jalan aspal yang basah,"pikirku.
Kaos kaki berwarna hitam dan sepatu hitam ku pakai dengan cepat.
Motor bebek keluaran tahun 2009 ku tegakkan sambil ku dorong mundur untuk keluar dari pintu pagar rumahku.
kunci kontak ku masukkan pada lubangnya dan ku putar kuncinya agar lampu pada dashboard menyala.
Motor bebek ku sela dengan pijakan kuat. Suara mesin yang olinya ku ganti setiap 10.000 km terasa mantap di dengar.
Sepuluh menit berlalu...
Standar motor ku kembalikan pada posisi semula. Aku sudah di belakang kemudi dan siap berangkat*.
"*Tio,tio!"terdengar suara mamah dari dalam rumah. Ia keluar dengan membawa sebotol juss jeruk ukuran sedang untuk minumku dalam perjalanan.
"*Juss ini untuk minum kamu!"serunya.
"Makasih mah,"seruku sembari ku letakkan pada braket minuman di dekat kaca spion.
Ku kelakson mamah dan papah yang tengah duduk di kursinya.
Ku lihat di kaca spion mamah melambaikan tangannya ke arahku...
Perjalan dengan kondisi langit tengah berawan,ku kemudikan motor bebekku dengan pelan. Desiran angin terdengar di sela-sela half helmetku.
Udara dingin terasa di sekujur tubuhku dengan Jalanan yang masih lenggang karena kendaran belum banyak yang lalu lalang.
Aku mencoba mempercepat laju kendaraanku.
Perjalananku menuju kota A akan banyak melintasi perbukitan dan perkebunan teh. Berarti kalau aku berkendara selama dua jam dengan kecepatan 60 km/jam Aku harus bisa berhenti di sekitar pengisian bensin,biasanya ada minimarket yang bisa ku kunjungi**.