
Ruangan dingin ber AC menambah kerutan pada dahi dan kening,jelas saja pengalaman berorganisasi terlihat jelas padanya. Tio selalu menyimpulkan hasil pembicaraannya dan Ibu Alisa mendengar. Sebuah kehadiran dari air yang menetes keluar muara.
Tio menyempatkan diri makan siang bersama dan mengetahui isi kulkas yang akan di belinya untuk makan di sumatera. Banyak nasihat yang terabaikan dan tio mendapatkannya.
Setelah usai makan siang,tio bersiap-siap untuk kembali ke bogor kota,perjalanan jauh dan rasa lelah seharian ini terasa,hanya lelah sebentar. Sebelum menuju lahan parkiran,tio menyempatkan diri betkeliling perkantoran,pemandangan yang tidak mungkin dilihatnya kembali.
Sampai akhirnya bunyi dari jok motor berbunyi, "Tttrrraaakkk,"terdengar lembut dikedua telinga,bukan tiket pesawat yang akan di letakkan didalam tetapi,sebuah kebiasaan yang sudah tertanam. Sejak motor bebek keluaran tahun 2009 itu dimilikinya. Kedua sarung tangan kulit berwarna hitam dipakainya serasa tidak meching dengan half helmet yang dikenakannya.
Sebenarnya selera tio terbilang buruk,perjalanan jauh dan perjalanan dekat dilihat dari helem yang dikenakannya. Lampu kuning melambatkan laju motor bebeknya,tio sangat menyukai gaya mengeremnya,selama empat belas hari genggaman dikedua telapak tangannya memegang dus dengan bobot yang cukup berat.
Lampu hijau terlihat seiring putaran gas dipergelangan kanannya memacu pelan kendaraannya,tio berinisiatif untuk banyak membeli kaleng soda,seperti kelabilan yang teramat-sangat,pengalaman dalam mendata modul secara manual dan komputerisasi telah dikuasainya,pendataan secara internasional standarisasi pergudangan yang mrmbuatnya akan lebih akrab dengan Kata SN atau PN dan tipe modul sparepart yang dikerjakannya selama empat belas hari belakangan ini.
Suara kendaraan dan klakson yang melewatinya dan reaksi tio saat melihat kelucuan pengendara motor lain membuatnya tertawa sendiri agar rasa pegal dan ngantuk menjauh menguasai kedua kelopak matanya. Jarum penunjuk bensin sudah bergeser ke warna merah seiring terlihatnya tempat pengisian bahan bakar.
Lampu sen berwarna kuning terlihat mengedip terang sebelum akhirnya motor bebek tio berbelok dan masuk keantrian pengisian pertalite. Seorang perempuan tengah berada didepannya dengan motor bebeknya,perempuan berhijab dan sepertinya mahasiswi disebuah perguruan tinggi dibandung.
Hembusan angin yang membawa aroma tubuh terbang kebelakang terendus dikedua ujung hidung tio. Aroma kelelahan,dan kualitas parfum refile dengan aroma yang diingatnya. "Harum,"bathin tio berkata pada dirinya sendiri. Perempuan itu memalingkan wajahnya kebelakang,dengan gaya khasnya tio tersenyum.
"Selamat siang,full tank atau?"sambut karyawan tersebut,"Full tank,"jawab tio dengan cepat membuka tutup tanki bahan bakarnya. "Dimulai dari angka nol ya pak,"lanjut karyawan tersebut. Suara mesin pengisian bahan bakar terdengar akrab saat sesekali petugas itu menarik tuas pada jemari tangannya.
Selang pengisi bahan bakar ditariknya saat terlihat luber ditangki motor. Tio melihat angka Rp. 38.000,-. Tio menutup dan memutar tutup tanki bahan bakarnya dengan cepat diikuti suara *tttrraaakkk* pada jok motornya.
Tio mendorong motor bebeknya kedepan agar antrian dibelakang bisa bergerak maju kedepan. Dengan cepat tio menarik dompet disaku belakangnya terlihat lembaran biru dikeluarkannya dan menyerahkan lembaran itu kepada petugas pengisi bahan bakar.
Petugas tersebut memberikan uang kembalian dan dengan cepat dimasukkannya kedalam dompet hitamnya. Perjalananpun dilanjutkan,tidak terdengar lantunan lagu dalam perjalanan menuju bogor kota hanya beberapa klakson kendaraan yang menemaninya selama perjalanan.
Terdengar suara klakson motor didepan rumah,seorang ibu paruh baya menyambutnya dengan senyuman. "Sudah sampai? Mamah sudah siapkan makan siangmu?"sambut ibu paruh baya itu.
Motor bebekpun dimasukkan kedalam rumah,pagar depan yang terlihat sempit dengan mudah diterobosnya. "Capeknya minta ampun,setelah makan siang tio langsung menuju bandara!"ungkap tio pada mamahnya. "Hari ini langsung berangkat,enggak bisa besok?"tanya mamah tio.
Tio berjalan menuju keruang belakang,kedua sarung tangan dan semua pakaian yang dikenakannya selama perjalanan dimasukkannya kedalam ember untuk dicuci,dan tio tidak mungkin membawa sarung tangan dan helem motornya.
Tio tidak mengenakan sehelai kainpun saat akan masuk kedalam kamar mandi. Rasa lelahnya membuat lupa dengan cahaya lampu. Lampu yang sangat terang membuatnya tidak nyaman.
Kebiasaannya sejak dulu. Mandi tanpa cahaya rembulan menjadi ikon dirinya. Aroma wangi sabun batangan terendus lembut,rasa hilang dan stres dalam perjalanan lenyap seiring protein yang dihirup masuk kedalam kedua ujung hidungnya.
Larutan garam mengalir naik bertemu dengan protein yang terhirup,hembusan nafas keluar kembali melalui kedua ujung hidungnya. Kalimat yang tio ingat setelah menonton cara menghilangkan stres dalam hidup di youtube.
Beberapa kali tio duduk bersila untuk meditasi,stres hilang seketika seiring lendir yang keluar pada dahi dan keningnya. "Cepat makan,setelah itu pergi ke terminalnya sama papah,katanya papah mau ngantar kamu,"kata mamah sembari mengambil nasi dan meletakkannya diatas meja makan.
Dikamar tidurnya,pakaian dan peralatan mandi telah disiapkan,tio tidak perlu repot memilih pakaian yang akan dibawanya. Menu makan yang dilihat dan mepetnya jadwal penerbangan membuat tio sulit menikmati makan terakhirnya.
"Dinikmati makannya,kunyah dengan pelan,ini bukan makan perpisahan seperti yang dilakukan para nelayan di Georgia!"terdengar suara papah berjalan menghampiri tio untuk menemani duduk. "Belajar untuk tidak tergesa-gesa,papah lihat kamu bisa mempercepat kinerjamu tanpa terburu-buru,"seru papah lagi.
Seperti yang pernah papah bilang, Ritme!"Tio berkata mengikuti! "Karena merasa lelah,tidak semangat merespon kalimat yang orang lain jelaskan,"jelas tio sembari mengunyah nasi terakhirnya. "Disini,dipekerjaan ini,sebuah keluhan akan sering terdengar!"kata tio pada papah.
Kalimat yang terlepas begitu saja. "Papah lihat capekmu itu berasal dari pikiran,bukan dari beratnya pekerjaan? Selama dipesawat kamu bisa istirahat dan tidur dan mengganti energi berlebihmu,jangan lakukan apapun setelah tiba di pekanbaru,"jelas papah sembari beranjak bangun yang sudah bersiap-siap untuk mengantar tio ke terminal baranangsiang. Ucapan papah mengingatkan pada Ibu Alisa yang menginkannya agar tidak melakukan apa-apa setibanya di Pekanbaru. Tio belum menyadari mengenai itu,sebuah pengunduhan file akan berlangsung dan perubahan energi dari etos kerjapun akan berpengaruh saat perubahan itu berlangsung.
"Enak,kalau papah temani tio pergi ke pekan baru! Pergi sendiri dan belum tahu seperti apa disana!"terang tio pada papah. "enggak mungkin papah temani kamu,kebisingan bocah cengeng itu terasa saat bagian hidupnya terlihat!"kata papah.
"Berapa menit sampai terminal Baranang siang?"tanya tio yang sudah duduk dibangku belakang. "sejumlah jari di pergelangan tanganmu,"jawab papah.
Ayah dan anak lelakinya itupun pergi berlalu,meninggalkan kebersamaan mamah dan anak pertamanya.
Mereka berdua telah pergi dengan motor bebek berplat merah. Mamah tio masih berdiri saat bayangan mereka hilang dari pandangannya.