HELL WALKER

HELL WALKER
Bab 51 : Misi selesai



Blood Rose meletakkan tangannya di bahu Gevariel, kemudian perlahan meluncur ke bawah sambil mengucapkan kata-kata yang menggoda: "Seperti yang diharapkan, kamu adalah Hell Walker Zero. Jika aku mengetahui sejak awal, sejak pertemuan kita di dalam kereta beberapa hari yang lalu, aku tidak akan melepaskanmu. Tapi tentu saja, semuanya sudah terlambat. Ngomong-ngomong, aku sudah memesan kamar di hotel bintang lima dan kamarnya cukup luas. Apa kamu tertarik untuk menemaniku semalam saja?"


Kata-kata Blood Rose sungguh sangat menggoda sehingga Gevariel tidak bisa menahan matanya agar tidak melirik ke samping. Kemudian, kelopak matanya berkedut hebat dan dia menelan ludahnya dengan berat!


Gevariel dengan cepat mendorong Blood Rose menjauh, dia terbatuk dan berkata, "Kamu terlalu tua, aku tidak tertarik pada wanita di atas 30 tahun."


Gevariel terbatuk lagi dan berkata, "Sekarang tujuan kerja sama sudah tercapai, kamu sebaiknya mundur dari Kota M malam ini. Aku juga tidak ingin kamu menyebarkan berita bahwa aku masih hidup. Bahkan orang terdekatmu sekali pun, jika ada satu orang saja yang mengetahui jika aku masih hidup, maka kerja sama kita akan dibatalkan. Dan kamu akan menerima konsekuensinya!"


Setelah beberapa saat cemberut, Blood Rose kembali mendapatkan ketenangannya, dia menatap Gevariel dan berkata, "Tidak masalah. Aku minta nomor HP-mu. Jika ada informasi penting, aku akan segera menghubungimu."


Setelah bertukar pesan di WhatsApp, Gevariel mengerutkan kening dan berkata, "Ngomong-ngomong, bersihkan sampah yang kamu bawa!"


Blood Rose mengerutkan kening, namun kemudian mengangguk.


Gevariel lalu meninggalkan Blood Rose. Saat melihat punggung Gevariel semakin menjauh, Blood Rose menjilat bibirnya dan berkata, "Apakah kamu tidak suka dengan wanita yang berusia lebih dari tiga puluh tahun? Hehe, cepat atau lambat, aku akan tidur denganmu. Kamu akan tergila-gila padaku setelah merasakan kehebatanku."


Setelah selesai berbicara, dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.


Gevariel berjalan menuju pintu masuk restoran di depan kompleks untuk mengambil barbekyu yang sudah lama dipesannya. Saat ini adalah waktu bagi Blood Rose dan yang lainnya untuk mengurus mayat yang ada di dalam rumah!


...


Ketika dia pergi, di lantai dua, Amanda masih terbaring di pelukan Monica. Wajahnya memerah, dan dia bergumam, "Apa yang kau lihat, apa yang kau lihat?" Di sampingnya, Monica mengerutkan kening, melihat cahaya tidak jauh dan berkata, "Kalya, cowok yang tadi lewat, kok mirip dengan Gevariel ya?! Apa yang dia lakukan di sini?"


"Sepertinya ada cukup banyak wanita cantik di sekitarnya, dan wanita yang dia nikahi sebelumnya juga cantik," kata Monica lagi, dengan nada yang sulit dijelaskan.


Kalya tetap diam tanpa mengucapkan kata apa pun. Setelah beberapa saat, dia menarik Amanda dan berkata, "Tidurkan Amanda dulu, lain kali jangan biarkan dia minum alkohol, dia terlalu merepotkan."


"Mau minum, aku masih bisa minum... ayo minum lagi!" Amanda berkata dengan nada ngelantur.


...


Setelah kembali dari membeli barbekyu, saat Gevariel kembali ke rumahnya, mayat pria berkepala cepak itu telah hilang, dan keadaan kembali seperti semula seakan-akan tidak pernah ada kejadian apa pun di sana. Tentu saja, Blood Rose dan anak buahnya telah pergi meninggalkan komplek vila. Gevariel meletakkan barbekyu di atas meja, pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya, dan duduk.


Sekarang, dia tinggal menunggu kabar dari Chesilia. Setelah memastikan bahwa semua anggota Blood Lotus telah pergi meninggalkan Kota M, maka dapat dipastikan bahwa misi di sini telah berakhir.


Setelah masalah di sini selesai, Gevariel berniat pulang ke Kota B dan menyelesaikan masalah pribadinya yang telah dia abaikan selama beberapa tahun terakhir. Tentu saja, masalah ini menyangkut harga dirinya dan juga orang tuanya.


Masalah ini harus segera diselesaikan guna membersihkan nama baiknya dan juga nama baik orang tuanya.


Setelah makan barbekyu dan membereskan beberapa sampah sisa makanan, dia kembali ke kamar tidur dan tertidur lelap.


Keesokan harinya, dia tidur sampai pagi seperti biasa, bangun, mandi, dan pergi ke Kantor Heliyo Grub. Ketika dia tiba di kantor, waktu sudah menunjukkan jam 9:50.


Amanda memandang Gevariel, kemudian melihat ke jam tangannya dan berkata, "Hei, kamu terlambat lagi!"


Gevariel menggaruk kepalanya dan berkata, "Udah deh, biasakan saja." Amanda memutar matanya dan mengutuk dalam hatinya, "Apa maksudmu menyuruhku untuk membiasakan diri denganmu? Memangnya siapa yang menjadi bos di sini?"


Setelah selesai berbicara dalam hati, Amanda berkata, "Kak Kalya dan yang lainnya pergi pagi-pagi sekali. Mereka sudah pergi kembali ke Kota B. Tapi jangan khawatir, aku juga akan ke sana minggu ini. Aku berencana pergi kesana sebelum resepsi pernikahan mereka dimulai. Aku ingin jalan-jalan dulu." Gevariel mengangguk. Memikirkan kontrak pernikahan antara Kalya dan Nevan, dia sedikit mengernyit.


"Yahya Maulana! Serahkan orang itu, atau Bank IBC kami akan menangguhkan semua kerja sama dengan perusahaanmu," tiba-tiba terdengar raungan marah dari luar ruangan.


"Yahya Maulana, jika kamu tidak menyerahkan orang itu kepadaku hari ini, Bank IBC akan menangguhkan semua kerja sama dengan Heliyo Grub mulai sekarang. Dan kami tidak akan pernah meminjamkan sepeser uang pun kepadamu." Mendengar suara ini, Gevariel dan Amanda mengerutkan alis mereka secara bersamaan dan melihat ke arah luar ruangan.


Amanda sedikit mengernyit, lalu berdiri dengan tiba-tiba, membuka pintu, dan berlari ke arah suara itu.


Gevariel juga menyentuh hidungnya, dan buru-buru mengikuti.


Lantai ini adalah lantai di mana kantor manajemen perusahaan berada. Ketika mereka keluar, sudah banyak orang yang berdiri di koridor. Mereka semua mengerutkan kening, dengan sedikit kekhawatiran di wajah mereka.


Saat Amanda berjalan di depan pintu, ekspresi mereka sedikit berubah. Gevariel melihat ke suatu tempat tidak jauh dari sana, di mana Yahya Maulana berdiri sambil mengerutkan kening. Di sampingnya berdiri dua orang, seorang pria paruh baya botak yang menunjuk ke arah Yahya Maulana, dan di sampingnya berdiri seorang pemuda yang dikenal oleh Gevariel, yaitu Farel.


Sebenarnya beberapa hari sebelum pertemuan Gevariel dan Blood Rose kemarin, Amel mengadakan pesta ulang tahun. Pesta itu diadakan di sebuah tempat karaoke terkenal di Kota M yang kebetulan dimiliki oleh Iwan. Saat itu, Farel berniat untuk mempermalukan Gevariel dan sengaja menciptakan masalah di sana. Namun sayangnya, Farel malah dipukuli oleh Hendrik, tangan kanan Iwan yang bertugas mengelola tempat tersebut. Mungkin hari ini, Farel ingin meminta pertanggungjawaban atas kejadian malam itu. “Tampaknya anak ini baik-baik saja,” gumam Gevariel dalam hati.


Nyatanya, setelah diseret oleh Hendrik kemarin, Hendrik memang benar-benar tidak berani melakukan apapun terhadapnya. Putra presiden Bank IBC Kota M memang bukanlah seseorang yang bisa diusik sembarangan. Tidak masalah bagi mereka untuk merugikan orang biasa, tetapi untuk orang kaya dan berpengaruh, mereka harus berpikir ulang sebelum melakukannya.


Tidak sulit untuk menebaknya. Sudah jelas bahwa pria paruh baya itu adalah ayah Farel dan juga presiden Bank IBC Cabang Kota M, Ishan Iskandar! Ishan menatap Yahya dan berkata, "Bawa orang yang bernama Gevariel itu ke mari. Dia benar-benar telah menindas anakku. Bawa dia ke sini sekarang!" Yahya Maulana menjawab dengan alis berkerut, "Memangnya Gevariel telah menindasmu dengan cara apa, Nak? Sepertinya tidak ada goresan sedikit pun pada kulitmu."


Ishan mencibir dan berkata, "Kemarin, di pesta ulang tahun Amel, staf Manager di perusahaan kami, anakku hampir dipukuli orang gara-gara anak itu. Hari ini aku sudah memberi Amel sangsi keras di perusahaan, dan sekarang aku datang untuk menyelesaikan masalah dengan anak buahmu yang bernama Gevariel."


Gevariel mengerutkan kening, dia memandang Amanda, berjalan ke depan dan berkata, "Aku Gevariel, sebenarnya aku cukup penasaran, dengan cara apa kamu akan menyelesaikan masalah ini denganku?"


Di koridor, hampir semua orang mengalihkan pandangannya ke Gevariel.


Gevariel berjalan maju, hanya beberapa langkah dari Ishan dan putranya.


Farel menatap Gevariel, mencibir, dan berkata, "Ayah, bajingan kecil ini. Aku hampir dipukuli orang kemarin gara-gara anak ini, dan aku benar-benar dipermalukan di depan banyak orang." Ketika Yahya melihat Gevariel keluar, dia tahu, sekarang dia tidak perlu mengurus masalah ini, karena Gevariel pasti akan menyelesaikan masalah ini lebih baik dari pada siapapun.


Ishan memandangi Gevariel dari atas ke bawah, dan Gevariel berkata dengan tenang: "Lagian, dia masih hanya ingin dipukuli, dan belum ada pukulan sama sekali. Dan itu juga bukan karena kesalahanku. Dia mencoba menjebakku di Emgrand Family Karaoke, dia memesan minuman mahal dan memintaku untuk membayarnya, tentu saja aku menolak karena aku tidak pernah memesan minuman itu, akibatnya dia mendapat masalah dengan orang-orang di sana."


Ishan mencibir lagi: "Jadi memang gara-gara kamu, anakku hampir dipukuli orang?!"


Gevariel tertawa dan berkata, "Tidak heran anakmu menjadi seorang bajingan, ternyata kamu mendidik anakmu seperti ini."


"Bagaimana aku mendidik anakku tidak ada hubungannya denganmu." Ishan terus mencibir.


Dengan nada tegas dia memandang Yahya Maulana dan berkata, "Oke, sekarang, kamu bisa memecat orang ini. Aku tahu kamu pengusaha besar di kota ini. Selama kamu memecatnya, kita masih bisa bekerja sama dengan baik. Jika kamu tidak memecatnya, kamu akan menghadapi konsekuensinya."


"Kamu agak tidak masuk akal." Yahya berkata, "Kan Gevariel sudah bilang tadi, anakmu masih hampir dipukuli dan belum dipukuli sama sekali, lagian itu bukan salah Gevariel, tetapi karena ulah anakmu sendiri. Jika kamu ingin mencari masalah, tempatmu bukan di sini, kamu seharusnya menemui Iwan, karena menurut yang aku tahu, yang mengelola Karaokean itu adalah dia."


Ishan mengangkat alisnya, menatap Yahya dan berkata, "Jadi kamu berencana melindungi bajingan kecil ini? Yahya, kamu sudah lama menjadi pengusaha. Apa kamu ingin menghancurkan perusahaanmu hanya karena bocah tengik sepertinya? Kamu harus memikirkannya dengan hati-hati!"


Ishan mencibir, menatap Gevariel, dan berkata, "Nak, kamu berani membentakku, kamu pikir aku tidak mampu menghajarmu?"


Gevariel mengabaikannya, memandang Ishan dan berkata, "Heii... heii... heii... keluarga kalian ini benar-benar keluarga Idiot, anakmu hampir dipukuli orang dan kamu malah menyalahkanku!"


"Brengsek apa yang kamu katakan?" Ishan menatap Gevariel, dan berkata dengan marah, "Dengarkan dengan baik, karena aku memiliki pengaruh yang lebih besar darimu, maka aku bisa mengendalikan hidup dan mati banyak perusahaan, karena aku adalah Presiden Bank IBC cabang Kota M. Paham kamu sekarang, kamu tahu kamu sedang berurusan dengan siapa?"


Kata-katanya sangat arogan.


Tapi semua orang di Heliyo Grub tidak bisa menyangkal kata-kata orang tua itu.


Pengaruh Bank IBC di Kota M memang cukup besar, bank ini adalah bank terkaya dan terbesar di negara ini, sehingga mereka memainkan peran penting di setiap daerah.


"Huhhhh!" Gevariel menghela nafas panjang.


Melihat Gevariel menghela nafas, Ishan mengira Gevariel saat ini putus asa, jadi dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menjilat bibirnya, dengan senyum mengejek di wajahnya.


"Kamu bilang kamu juga memberi sangsi kepada Amel di perusahaan? Sangsi apa yang kamu berikan padanya?" Tanya Gevariel lagi.


"Hmph, dia tidak berprilaku baik di tempat umum, dan itu bisa merusak citra perusahaan. Secara pribadi, aku menurunkan jabatannya." Ishan berkata dengan santai, dan setelah selesai berbicara, dia memandang Yahya Maulana dan berkata, "Aku akan memberimu waktu tiga detik untuk memutuskannya, jika keputusanmu cukup memuaskan, aku akan memperpanjang kontrak kerja sama dengan perusahaanmu. Tetapi jika keputusanmu kurang memuaskan, semua investasi dan pinjaman di perusahaanmu akan ditangguhkan, bahkan jika kamu berlutut di depanku sekalipun."


"3!" Setelah selesai berbicara, dia mulai menghitung.


Ketika Ishan melihat adegan ini, matanya sedikit berbinar, dia mengira Gevariel berencana mengeluarkan kartu pekerjaan dan mengundurkan diri secara sukarela.


Selain itu, wajah Amanda menunjukkan ketidaksenangan, tetapi saat ini, dia tahu bahwa dia tidak dapat berbuat banyak dalam masalah ini.


"2!"


Ishan mulai menghitung mundur lagi!


"Sekarang ... kamu bukan presiden Bank IBC cabang Kota M." Pada saat ini, Gevariel berkata dengan santai.


“Hah?” Ishan menoleh dan menatap Gevariel.


Tiba-tiba, dia melihat Gevariel melempar Kartu ATM berwarna Merah ke arahnya, dan kartu itu mengenai wajahnya dengan keras, dan kemudian kartu itu jatuh ke tanah.


“Brengsek Beraninya ...!"


Melihat Gevariel berani melemparkan sesuatu ke wajahnya, Ishan secara naluriah menjadi marah, dan kemudian, dari sudut matanya, dia melirik berwarna merah di bawah kakinya, dan pupil matanya tiba-tiba menyusut.


"Rub… rub.. Kartu Rubi!"


Tubuhnya sedikit gemetar.


Farel juga ingin buang air kecil di celana saat ini. Dia melihat kartu Rubi dengan kaget, kemudian menatap Gevariel dengan tatapan tidak percaya.


"Bagaimana ... bagaimana kamu bisa memiliki kartu Rubi Bank IBC? Keringat dingin muncul di dahi Ishan, lalu dia berkata, "Pengguna kartu Rubi yang diterima oleh Amel beberapa waktu lalu, mungkinkah itu kamu?"


Tentang kepemilikan kartu Rubi oleh Gevariel, hanya Amel yang mengetahuinya. Karena kerahasiaan, Amel tidak mempublikasikannya. Ketika itu, presiden berencana untuk bertemu dengan Gevariel, tetapi Gevariel sudah pergi duluan. Sehingga Ishan tidak sempat bertemu dengan Gevariel.


Setelah Gevariel datang ke kantor cabang kapan hari itu, dia tidak pernah mendapatkan informasi kalau pemilik kartu Rubi datang kembali ke kantor cabang. Jadi dia berpikir bahwa pemilik kartu tersebut sudah pergi meninggalkan Kota M.


Gevariel mengeluarkan kartu Rubi dan melemparkan ke wajah orang yang ada di depannya. Selama ini, mereka semua tahu bahwa Gevariel adalah asisten pribadi Amanda, dan banyak orang telah melihatnya. Meskipun sebenarnya semua orang iri pada Gevariel karena dia terlihat santai dan bahkan sepertinya dia tidak ada niat untuk bekerja, tapi bos mereka yang memberikan pekerjaan kepadanya, sehingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


Sekarang, orang sepertinya benar-benar mengeluarkan kartu Rubi dan melemparkannya ke muka presiden Bank IBC. Melihat keringat di dahi Ishan, Gevariel dengan santai berkata, "Aku tidak perlu memberitahumu bagaimana aku mendapatkan kartu Rubi ini. Lagipula, kau tidak memenuhi syarat untuk mengetahuinya. Tapi kamu seharusnya paham dengan otoritas kartu Rubi, bukan? Aku dapat mentransfer dana lebih dari 10 Triliun dalam bentuk apa pun. Bahkan aku bisa memecat kepala cabang pusat di seluruh Indonesia. Jadi... sekarang, kamu bukan lagi presiden Bank IBC." Gevariel berkata sambil tersenyum. Wajah Ishan dan putranya pucat dalam sekejap.


Seketika, semua orang yang berada di lantai atas Gedung Heliyo Gurb terdiam tanpa bisa berkata-kata.


Mata semua orang penuh keheranan, menatap pemuda di depannya yang mengenakan pakaian biasa, wajah semua orang penuh kebingungan.


Mereka sepertinya tidak tahu mengapa pemuda seperti itu bisa memiliki kartu Rubi dari Bank IBC.


Adapun ayah dan anak yang baru saja berteriak-teriak, wajah mereka pucat, bibir mereka bergetar, dan mereka ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak bisa. Karena memang tidak banyak yang mengetahui jika Gevariel sebenarnya memiliki kartu super sakti itu, termasuk Yahya Maulana dia juga penuh keterkejutan.


Sebagai orang yang mengetahui keberadaan Hell Walker dan dunia bawah tanah, dia tahu persis apa arti kartu Rubi Bank IBC.


Ini bukan sesuatu yang bisa dimiliki dengan menjadi kaya, juga bukan sesuatu yang bisa dimiliki dengan menjadi kuat.


Ini harus ditentukan oleh pemilik Bank IBC sendiri, namun kartu ini bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya. Bisa dikatakan keluarga pemilik kartu ini akan memiliki jaminan hidup selamanya, sampai Bank raksasa ini benar-benar bangkrut.


Sejak pendirian Bank IBC, hanya sembilan kartu Rubi yang pernah diterbitkan.


Sebagian besar dari orang-orang ini adalah individu yang telah memberikan kontribusi luar biasa kepada Bank IBC.


Namun sekarang, pemuda seperti ini memegang kartu Rubi di tangannya, yang membuat semua orang terkejut, terutama Ishan dan putranya.


Setelah beberapa saat, Ishan menyeka keringat di wajahnya. Dia menelan ludahnya, memandang Gevariel, dan berkata, "Maaf, maaf, Tuan Gevariel, kami tidak tahu bahwa Anda adalah pengguna kartu Rubi." Setelah berbicara, dia menarik Farel dan berkata, “Bajingan, mengapa kau tidak segera meminta maaf kepada Tuan Gevariel?”


Tubuh Farel bergetar.


Dia menyadari bahwa semua yang dimilikinya saat ini diberikan oleh ayahnya yang bekerja sebagai presiden Bank IBC Cabang Kota M. Mungkin dia tidak sekaya anak-anak pengusaha di kota ini, tapi dia masih bisa menjalani kehidupan yang cukup nyaman dibandingkan dengan orang biasa.


Jika identitas ayahnya sebagai pimpinan cabang hilang, maka dia takkan memiliki alasan untuk membanggakan diri lagi.


“Gedebrukkk!”


Pada saat ini, dia tidak lagi peduli pada harga dirinya. Dia berlutut di depan Gevariel dan berkata, “Maaf, Gevariel, tolong maafkan aku. Aku tidak tahu bahwa kamu memiliki kartu Rubi sebelumnya. Kalau saja aku tahu sejak awal, aku takkan mencari masalah denganmu. Tolong maafkan aku!”


Pada saat ini, dia benar-benar merasa bahwa Gevariel adalah dewa wabah.


Gevariel adalah dewa wabah. Tidak seorang pun yang memiliki masalah dengannya akan berakhir dengan baik. Dari Rio sebelumnya hingga Felix dan Rofik, dan sekarang malah gilirannya untuk berurusan dengan dewa wabah seperti Gevariel.


"Benar Tuan Gevariel, semua ini hanya kesalahpahaman," ujar Ishan dengan tegas. "Adapun yang bisa disalahkan sebenarnya adalah Amel dia tidak memberitahuku bahwa anda adalah pengguna kartu Rubi. Tolong maafkan kami."


Gevariel menyipitkan matanya, menatap Ishan dengan tajam, lalu berkata: "Hehe, kepemimpinan Bank IBC diberikan padamu agar kamu bisa membantu mengelola perusahaan dengan baik, bukan untuk memamerkan kekuasaan. Jika hari ini aku tidak memiliki kartu Rubi, mungkin aku hanya orang biasa. Aku khawatir kamu akan menggunakan otoritasmu sebagai pimpinan cabang Bank IBC untuk menghalangiku mencari pekerjaan di kota ini. Itu sangat kejam, apakah kamu mengerti?"


Saat dia selesai berbicara, dia mengedipkan mata dan melanjutkan, "Amel merahasiakannya karena aku memintanya untuk tetap merahasiakan semuanya. Selain itu, kamu bisa kembali ke Bank IBC untuk mengemas barang-barangmu. Kamu dipecat. Dalam waktu dekat, orang-orang dari bank pusat akan melakukan investigasi terhadap aset kekayaanmu. Bagaimana hasilnya, itu adalah urusan pribadimu!"


Wajah Ishan berubah menjadi gugup, dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi kali ini Yahya Maulana tersenyum padanya, lalu berteriak ke arah tertentu, "Keamanan!"


Farel dan Ayahnya, yang baru saja memaki Yahya Maulana, telah dibawa pergi oleh penjaga keamanan.


Setelah mereka pergi, Gevariel mengambil kartu bank yang tergeletak di tanah, dan Yahya juga berkata kepada semua anak buahnya yang hadir di sana, "Baiklah, semua orang kembali bekerja, tidak ada yang perlu ditonton lagi."


Setelah semua orang beranjak, Yahya melihat Gevariel yang menatapnya. Dia sedikit terkejut, dan kemudian berkata, "Apakah ada yang salah?"


Gevariel mengangguk.


"Baiklah kalau begitu, datanglah ke kantorku." Yahya memandang Amanda dan berkata, "Kamu kembali ke kantormu dulu."


Amanda melihat Gevariel dengan wajah cemberut, lalu berkata, "Aku melihatmu begitu sombong sekarang."


Gevariel tersenyum, dan berjalan menuju ruangan kantor Yahya Maulana. Yahya memandang Gevariel dan berkata, "Benar-benar anak laki-laki yang dilahirkan untuk menjadi seorang pahlawan, masih sangat muda, bahkan memiliki kartu Rubi Bank IBC."


"Ini hanya masalah keberuntungan." Gevariel menggosok hidungnya.


Dia tidak perlu menceritakan kepada Yahya Maulana bagaimana dia mendapatkan kartu Rubi itu, karena ceritanya terlalu panjang.


Yahya juga tidak bertanya terlalu banyak. Dia duduk, menuangkan segelas air untuk Gevariel, dan meletakkannya di atas meja kopi. Dia kemudian bertanya, "Ada apa?"


Gevariel tidak meminum air yang telah dituangkan untuknya, tetapi dia menatap Yahya dan berkata, "Masalah keamanan Amanda sudah terselesaikan, dia aman sekarang."


"Benarkah?" Jiang Zhennan sangat gembira.


Gevariel mengangguk dan berkata, "Seharusnya memang seperti itu, tetapi kita harus mengawasinya selama beberapa hari. Aku akan memberitahumu jika sudah sepenuhnya dikonfirmasi oleh Hell Walker."


Kegembiraan Yahya Maulana benar-benar tidak bisa di sembunyikan, karena ahir-ahir ini, dia sangat gelisah memikirkan keselamatan putri satu-satunya. Tapi sekarang, sepertinya semuanya akan segera berakhir, dan kabar baik datang satu demi satu.


Perusahaan orang tua Felix sekarang menghadapi krisis kebangkrutan, dan dia terus-menerus berusaha menemukan cara untuk mencaplok semua jenis aset milik keluarga Felix. Kemungkinan besar tidak ada seorang pun di Kota M yang dapat menghalanginya. Tapi sekarang, masalah keselamatan putrinya sudah terpecahkan, bagi Yahya tidak ada berita yang lebih baik dari ini.


Setelah beberapa saat merasakan kegembiraan, dia mendapatkan kembali ketenangannya. Dia menatap Gevariel dengan sedikit kerutan di dahi dan berkata, "Setelah semuanya selesai? Apakah kamu akan segera meninggalkan Kota M?"


"Misi sudah diselesaikan, dan sepertinya begitu," jawab Gevariel sambil tersenyum.