HELL WALKER

HELL WALKER
Bab 30 : Laki-laki bertulang Lunak



Tetapi, Gevariel tidak bisa sepenuhnya melupakan penderitaannya selama tiga tahun terakhir. Tidak peduli apa pun, mantan ibu mertua dan mantan istrinya ini sangat menyebalkan.


"Ayo, cepat masuk kerja. Meskipun aku bos di perusahaan, tetapi kamu harus tetap rajin masuk kerja. Masih banyak hal yang harus kamu pelajari di sana, dan nanti akan ada orang yang akan mengajarimu banyak hal. Tenang saja, kamu tidak akan pernah dipecat dari sana," kata Gevariel.


"Aku tahu, tapi aku meminta cuti hari ini. PT. Amarta memberiku gaji 500 juta kemarin. Aku sangat senang sekali. Jadi aku langsung membawa Ella ke rumah sakit untuk operasi. Saat ini dia masih belum sadar, jadi aku bisa kesini untuk mencarimu" kata Johan.


Gevariel mengangguk dan berkata, "Oh, jadi begitu. Semoga saja dia akan cepat pulih. Kalau begitu, aku akan ikut denganmu untuk menjenguk Ella di rumah sakit!"


Pada saat yang sama, di depan pintu PT. Amarta, seorang pria paruh baya berkepala botak dengan jas dan sepatu kulit sedang memegang tas kerja, dia berdiri dengan cemas di depan pintu.


Saat itu, seorang wanita cantik berlari, dan ketika dia melihat pria paruh baya itu, dia bertanya dengan heran, "Paman Bagas, mengapa kamu datang ke sini?" Orang di depannya adalah paman Akness, Bagas.


Ketika Bagas melihat Anita, sebuah senyuman muncul di wajahnya, dan dia dengan cepat berkata, "Anita, Jadi begini, aku ingin bertemu dengan Pak Rahmat. Kamu juga tahu sendiri kan, jika perusahaanku bekerja sama dengan PT. Amarta. Tetapi kemarin dia tiba-tiba memberi tahuku bahwa kerja sama telah dihentikan. Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba PT. Amarta memutus kontrak secara sepihak kemarin, jadi hari ini aku ingin bertemu dengan Pak Rahmat."


Ekspresi Anita sedikit berubah.


Dia tiba-tiba memikirkan apa yang Gevariel katakan di depan pintu rumah Akness kala itu, Gevariel pernah berkata "Kalian akan menyesalinya."


Dan sekarang, Gevariel telah berubah menjadi bosnya, dan perusahaan memutuskan kerja sama dengan perusahaan milik Bagas.


Otomatis Anita sangat paham betul dengan permasalahan ini, tetapi dia memang tidak pernah menyangka jika Gevariel akan menjadi orang besar seperti sekarang ini.


Anita tersenyum kecut dan berkata, "Paman, maaf, sepertinya aku tidak bisa membantumu sekarang. Aku hanya seorang karyawan biasa di kantor."


"Begini, sebenarnya aku baru saja melihat Pak Rahmat tadi, tetapi sepertinya dia tidak ingin berbicara denganku. Jadi aku berpikir untuk menemuimu. Siapa tahu kamu bisa mempertemukanku dengan Pak Rahmat," kata Bagas.


Anita menghela nafas, lalu memandang Bagas, dan berkata, "Paman Bagas, meskipun aku bisa membantumu bertemu dengan Pak Rahmat, tetapi itu tidak akan ada gunanya, karena dia bukan lagi bos perusahaan ini. Apa paman tahu siapa bos kita sekarang? Bos kita sekarang adalah Gevariel!"


"Gevariel? Gevariel yang mana?" Bagas bertanya.


Anita tersenyum kecut dan berkata, "Lha, memang foto siapa yang ada di sana?" ucap Anita sambil menunjuk ke arah sebuah foto yang tergantung di dinding.


Wajah Bagas tiba-tiba berubah, wajahnya saat ini pucat penuh ketidakpercayaan.


Anita berkata, "Jadi jika paman datang kepadaku sekarang, itu akan menjadi hal yang sia-sia. Kalau pun paman ingin meminta bantuan, sebaiknya paman minta kepada Tante Ratna dan Kak Akness! Tapi aku rasa itu juga akan tetap percuma. Kita semua tahu, seperti apa kita dulu memperlakukan Gevariel."


"Aku rasa dia sekarang sedang balas dendam!" kata Bagas dengan wajah pucat.


Sebenarnya, masalah ini tidak ada hubungannya dengan Gevariel.


Dia berbicara dengan Yahya Maulana kemarin dan meminta Yahya Maulana untuk bekerja sama secara penuh dengan PT. Amarta. Segera setelah itu, Yahya Maulana menelepon Rahmat untuk membicarakannya.


Saat itu Rahmat serasa ingin buang air kecil di celana. Bagaimana tidak, Yahya Maulana adalah orang terkaya di Kota M, dan dia menerima telepon langsung darinya, tentu saja hal itu membuat Rahmat merasa takut dan juga gembira.


Bisnis mereka sangat besar. Setelah menerima berita itu, dia dengan cepat membuat penilaian dan membuang beberapa bisnis yang dianggap kurang penting. Sayangnya, perusahaan Bagas ada di dalam daftar nama-nama perusahaan yang dianggap tidak penting.


Setelah makan dengan Johan di warung langganan mereka, Gevariel pergi ke rumah sakit bersama Johan untuk menjenguk Ella. Tidak lama setelah itu, Gevariel pun pulang.


Dia sudah tidak lagi bekerja sebagai kuli bangunan, dan Chesilia mengatakan kepadanya bahwa saat ini dia belum memiliki misi apapun di Hell Walker. Dia benar-benar menjadi seorang pengangguran sukses sekarang.


Ketika dia sampai di rumah, hari sudah siang. Chesilia dan Lucy telah menyiapkan makanan. Ketika Gevariel kembali, Chesilia menatapnya dengan pandangan sekilas, dia berkata, "Oh, sepertinya kita memiliki seorang pengangguran di sini."


Gevariel terkekeh dan berkata, "Memangnya apa yang harus aku lakukan sekarang? Lagian aku belum kembali aktif di Hell Walker, jadi jelas aku tidak punya pekerjaan yang bisa aku kerjakan."


Chesilia memberi Gevariel pandangan kosong dan berkata, "Hell Walker, kamu tidak perlu kembali."


"Hah?" Gevariel bertanya dengan heran, "Apa maksudmu?"


"Kamu telah menghilang selama tiga tahun. Aku baru saja berbicara dengan Pak tua itu di telepon. Sepertinya dia memiliki rencana lain. Dalam waktu tiga tahun terakhir, entah itu Hell Walker atau kekuatan lain, mereka semua berpikir bahwa kamu telah sepenuhnya menghilang atau bisa dikatakan kamu telah mati. Kamu tidak perlu keluar dulu untuk saat ini. Tetapi kamu harus membantu tugas kami secara rahasia," kata Chesilia.


Mata Gevariel berbinar dan berkata, "Itu benar, hal itu akan membuatku jauh lebih bebas!"


"Lalu sekarang apa misimu di kota ini?" Tanya Gevariel.


"Sebenarnya aku sudah membuat beberapa rencana untuk misi kali ini, dan kamu ada dalam rencanaku."


Di sebelahnya, Lucy sedang makan dan tiba-tiba terbatuk.


Gevariel tidak terlalu memperhatikan, dia tampak begitu bersemangat, "Apakah kamu sudah menemukan orang-orang dari Blood Lotus?"


"Nggak juga sih, tapi kami tahu tujuan mereka. Sesuai dengan apa yang aku pahami, tujuan mereka saat ini adalah menculik atau membunuh Amanda. Hal itu mereka lakukan untuk memaksa Yahya Maulana bergabung dengan organisasi mereka. Apa kamu tahu? Sebenarnya Yahya Maulana sudah tahu tentang keberadaan kami. Karena saat pertama kali kami tiba, kami sudah bertemu dengan Yahya Maulana. Jadi misi kami saat ini adalah memastikan keselamatan Amanda."


"Lalu apa hubungannya denganku?" Gevariel bertanya.


"Jadi kita perlu mengirim seseorang ke sisi Amanda tanpa sepengetahuan Blood Lotus." Chesilia mengambil sesuap makanan dan lanjut berbicara dengan santai, "Artinya, kamu harus menjadi pengawal Amanda secara langsung, dengan identitas yang sudah kami siapkan."


Gevariel bertanya dengan heran, "Tunggu... Identitas apa maksudmu?"


"Menjadi suami Amanda!" Chesilia berkata dengan santai, "Aku kan tadi udah bilang, setelah kami tiba di Kota M, kami telah bertemu dengan Yahya Maulana. Jadi dia membuat pesta seperti kapan hari itu, tujuannya adalah untuk mencarikan suwami Amanda, dan kebetulan sekali, kamu sekarang sudah dekat dengan Amanda, maka menurutku, identitas yang paling tepat untuk kamu gunakan dalam penyamaran ini. Ya, menjadi suami Amanda, mau jadi apa lagi?”


Saat mengatakan itu, Chesilia memandang Gevariel dengan pupil mata terbuka lebar dan berkata, "Dengan cara ini, kamu bisa keluar masuk dengan Amanda, dan bahkan tidur di ranjang yang sama!"


"Apa? Kamu benar-benar sudah gila! Aku tidak biasa sekarang. Aku baru saja membeli sebuah perusahaan. Bahkan fotoku masih tergantung di dinding perusahaanku!" Gevariel menggosok kepalanya.


"Itu benar, biarkan orang-orang berfikir jika perusahaan yang baru saja kamu beli itu adalah hadiah dari Yahya Maulana" Chesilia berkata dengan nada tenang.


Gevariel mengerutkan kening. Selesai sudah, dengan cara seperti ini, semua orang di Kota M pasti akan mengatainya sebagai laki-laki bertulang lunak, yang hidup dengan mengandalkan kekayaan mertuanya.