
Tapi sekarang, tampaknya orang-orang yang awalnya bersikap arogan, menjadi sangat ketakutan. Gevariel benar-benar menjadi orang yang berdarah dingin. Bahkan saat ini, orang-orang yang menjemput Gevariel di Caffe tadi pun merasa ngeri. Betapa menyakitkannya jika Gevariel berurusan dengan mereka seperti ini sebelumnya! Ada lebih dari dua puluh orang, tetapi tidak satupun dari mereka yang berani melangkah maju saat ini.
Nevan masih menyipitkan matanya. Dia adalah orang yang tenang di antara semua orang, dengan menyilangkan kaki, dan sudut mulutnya terkekeh. Dia berkata dalam hati, "Kejam, benar-benar kejam, tapi terus kenapa? Dia hanya seorang kuli bangunan, ada banyak cara untuk membunuhnya, dan ini si Felix memang benar-benar bodoh!"
Gevariel tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam pikiran Nevan, dan dia tidak peduli dengan apa yang ada dalam pikirannya. Pada saat ini, dia menundukkan kepalanya, menatap Felix, dan berkata dengan tenang, "Heee, kan aku sudah bilang sama kamu kemarin. Aku tidak ada hubungan apa-apa sama Amanda. Tapi kamu tidak mendengarkanku sama sekali, malah kamu menyuruh orang untuk membawaku kesini. Coba lihat mereka, haha... semua pengecut. Aku menginjak kepalamu seperti ini dan tidak ada satupun dari mereka yang berani melawanku... dasar kumpulan sampah!"
Sudut mulut orang-orang di sebelah berkedut beberapa kali! "Gevariel, apakah kamu tahu siapa aku? Kamu benar-benar ingin mati..." Felix mengertakkan gigi dan berkata sambil menahan rasa sakit yang parah.
“Jadi kamu masih berencana untuk balas dendam sama aku?” Gevariel menatapnya sambil tersenyum dan berkata, "Yang aku lakukan saat ini hanyalah sebuah pelajaran kecil. Sayangnya aku sibuk hari ini, kalau tidak, mungkin akan sangat menyenangkan bermain dengan anak-anak anjing seperti kalian!"
Sambil berbicara, dia melirik Nevan. Nevan juga menatapnya dengan rasa sarkasme.
Gevariel menurunkan kakinya perlahan, lalu mengangkat bahu dan berkata, "Hah, lumayanlah untuk hiburan. Oke, sekarang masalahnya sudah selesai, aku akan pergi dulu. Ngomong-ngomong, aku memperingatkan kalian, jika setelah aku pergi dari sini dan masih ada salah satu dari kalian membuat masalah denganku, aku pastikan nasib kalian akan jauh lebih buruk dari pada anjing kecil ini!"
Saat dia berbicara, dia berjalan dengan angkuh ke arah luar garasi. "Nak, apakah kamu ingin keluar hidup-hidup?" Seseorang berteriak dengan keras. Meskipun dia berteriak, tidak ada yang bergerak. Adegan tadi benar-benar membuat mereka takut.
Gevariel berhenti, lalu berbalik, menatap orang-orang di sana sambil tersenyum dan bertanya, "Hei... heii... Mulut siapa itu tadi?" Lebih konyolnya lagi, tidak ada satupun orang yang mengakuinya.
Gevariel sedikit tercengang. Orang-orang ini terbiasa dengan mengintimidasi orang lain, tetapi ketika mereka bertemu seseorang yang sedikit kejam, mereka akan menjadi pengecut.
Gevariel tertawa kecil, lalu melirik David dan Rio yang bersebelahan! Ekspresi mereka berdua berubah dengan liar ketika mereka melihat tatapan ini, dan keringat dingin segera mengalir. Memikirkan adegan di mana Gevariel menghajar Felix barusan, keduanya merasa, kulit kepala mereka mati rasa.
"Enggak... bukan kami... bukan kami!" Keduanya berkata dengan cepat.
Gevariel menyeringai pada mereka, dan tidak melakukan apa pun, dia berbalik dan berjalan keluar. Saat sosok Gevariel menghilang ke luar garasi, David dan Rio sedikit rileks. Saat ini punggung mereka sudah bermandikan keringat dingin.
Yang lain dengan cepat membantu Felix dan bertanya, "Felix, kamu baik-baik saja?" Felix memegangi kepalanya, dan sekarang dia masih bisa merasakan sakit yang menusuk. Nevan bangkit dan berkata, "Cepat dan bawa dia ke rumah sakit. Jika darahnya terus keluar seperti ini, dia mungkin akan mati.”
Satu jam kemudian, di sebuah rumah sakit tertentu di Kota M, Felix keluar dengan kain kasa diikat di kepalanya, wajahnya sangat jelek!
Saat ini, hanya ada dua orang di rumah sakit, satu adalah Nevan, dan yang lainnya adalah seorang pemuda berusia sekitar delapan belas atau sembilan belasan, tidak diketahui namanya.
“Bang Felix, kamu baik-baik saja?” Melihat Felix keluar, pemuda itu dengan cepat mengikutinya dari belakang seperti pelayan.
Pada saat yang sama, David dan Rio sedang duduk di sebuah warung kopi di tepi sungai di Kota M. Mereka tidak berbicara satu sama lain, hanya diam seperti orang susah.
Ngomong-ngomong, mereka hanya anak orang kaya biasa, memang hobi mereka senang menindas beberapa orang yang lemah dari segi ekonomi, tetapi dibandingkan dengan Felix mereka masih jauh lebih buruk!
Baru saja, kekejaman Gevariel membuat mereka takut. Mereka memikirkan ancaman Gevariel kepada mereka di Grace City Hotel. Saat itu, mereka tidak peduli sama sekali, tapi sekarang setelah melihat Felix dihajar Gevariel di depan mata mereka sendiri, Rio dan David harus memikirkannya.
David memandang Rio dan berkata, "Rio, Gevariel ini memang benar-benar tidak takut apapun, dan dia juga sangat kejam. Kamu juga lihat kan tadi, gerakannya saat menghajar Felix begitu cepat, sepertinya dia berlatih beladiri. Dan juga tadi, kamu juga mendengar sendiri, apa yang dikatakan Nevan? Orang ini telah melakukan kejahatan sebelumnya dan telah dipenjara selama beberapa tahun. Orang seperti itu pasti sangat nekat! Ibarat kata nih ya, seumpama kita berbisnis dengannya, kita pasti akan ditipu habis-habisan olehnya... walau bagaimanapun juga dia mantan napi. Tapi yang membuatku heran, dia itu bekerja sebagai kuli bangunan, tapi kok bisa Yahya Maulana begitu dekat dengannya?!"
Berbicara tentang ini, dia memandang Rio lagi dan berkata, "Selain itu, ketika dia bertemu Akness jalan bareng kita kapan hari lalu, dia terlihat sangat marah, dan dia mungkin masih mencintai Akness."
Itu benar, dari sudut pandang mereka, Gevariel telah bekerja keras untuk Akness selama tiga tahun. Jika bukan karena cinta sejati, dia tidak akan bertahan begitu lama! Bahkan ketika mereka bercerai, dia masih memberikan rumah yang dia beli untuk Akness dan keluarganya. “Sepertinya kamu harus berhati-hati tentang ini!” Wajah Rio menjadi gelap untuk sementara waktu.
Pikirannya menjadi tidak menentu, lalu dia mengeluarkan ponselnya, menekan nomor dan berkata, "Halo, Bank IBC? Saya Rio, dan saya memiliki kartu Silver di Bank Anda! Jika benar, terakhir kali saya menggunakan kartu bank saya untuk mengirim sejumlah uang ke rekening bank lain, sekarang tolong tarik semua uang itu ke rekening saya!"
Setelah mengobrol sebentar, dia menghela nafas lega dan menelepon Akness. Segera, Akness mengangkat telepon dan berkata, "Hallo, sayang, kemana aja sih kamu? Di mana kamu, di rumah? Kemana kita akan pergi hari ini sayang? Aku kangen!"
"Apa?" Di ujung telepon, ekspresi Akness tiba-tiba berubah: "Apa maksudmu? Apa yang terjadi sama kamu?"
“Enggak kenapa-napa sih, hanya saja tadi aku bilang sama orang tuaku. Mereka tidak setuju dengan hubungan kita, kata mereka, aku harus cari calon istri yang sebanding dengan keluargaku. Mereka juga bilang, kalau kamu itu hanya mengincar uangku saja, dan tidak benar-benar tulus mencintaiku." Rio berkata dengan santai: "Selain itu, kita sudah lama pacaran, dan kamu tetap tidak mau pergi ke hotel bersamaku. Jadi aku pikir kamu memang benar-benar hanya main-main sama aku!"
Akness tercengang, dan dia dengan cepat berkata: "Rio, jangan kayak gini, aku sangat mencintaimu, aku bersedia menghabiskan malam denganmu. Ayo, kamu pilih hotelnya, aku akan menemanimu malam ini!"
Rio menelan ludah, tetapi ketika dia memikirkan adegan tadi, dia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Lupakan saja, aku tidak akan menganggumu lagi, kita putus saja, kamu parkir mobilnya di luar rumahmu, nanti atau besok aku akan mengambilnya sendiri!"
Setelah selesai berbicara, dia menutup telepon tanpa menunggu Akness berbicara!
Alam Indah Regency, rumah Akness, dia sedang duduk di ruang tamu menonton TV, setelah dia menutup telepon, dia segera menelepon lagi. Kemudian dia menemukan bahwa panggilan telah dialihkan/sibuk, ternyata nomor teleponnya telah diblokir. Mengirim Whatsapp juga tidak bisa.
"Wuutt!" Pikiran Akness menjadi kosong, dan dia menangis. Ratna, yang sedang sibuk di dapur, mendengar tangisan itu dan berlari keluar dengan cepat dan bertanya, "Akness, ada apa?"
Akness mengangkat kepalanya, menatap Ratna dan berkata, "Bu, Rio memutuskanku. Dia menarik semua uang yang ada di rekeningku, lalu dia bilang, dia akan mengambil mobilnya besok."
Ratna sedikit bingung. Gevariel tentu saja tidak tahu dengan apa yang terjadi. Kejadian hari ini benar-benar membuat Rio sangat takut sehingga dia memilih untuk putus dengan Akness. Tentu saja, dalam pandangan Gevariel, hanya masalah waktu sebelum Rio dan Akness putus. Untuk seorang playboy seperti Rio, dia hanya menyukai penampilan Akness, dan tidak mungkin baginya untuk memiliki perasaan yang tulus terhadapnya.
Dari percakapan sebelumnya dengan David, dia takut jika dia tetap bersama Akness, Gevariel akan menghajarnya seperti Felix barusan.
Setelah meninggalkan garasi Felix, Gevariel memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Dia benar-benar bosan. Setelah berjalan beberapa saat, dia melihat warnet dan memutuskan untuk masuk dan bermain beberapa game online kesukaannya.
Ketika dia akan membeli biling di kasir, pada saat ini, seseorang menepuk pundaknya dan berkata, "Kamu bajingan!" Gevariel menoleh untuk melihat, dengan ekspresi terkejut di wajahnya, dan berkata, "Monica, kamu juga datang ke warnet untuk bermain game?"
Ya, gadis ini adalah sahabat Amanda, Monica.
Monica mengabaikan Gevariel, tetapi berkata dengan mencibir, "Pergi ke warnet lain jika kamu ingin ngegame, kamu tidak diterima di sini!" Gevariel menggaruk kepalanya dan berkata, "Eh!"
Monica begitu membenci Gevariel setelah kejadian malam itu, saat pembunuh Blood Lotus menyerang mereka. Saat itu Gevariel bergegas menuju rumah Amanda dan menghadapi pembunuh peringkat emas yang berada di dalam rumah, dan hal itu tidak diketahui oleh Monica, sehingga sampai sekarang Monica tetap mengira jika Gevariel malam itu sedang melarikan diri.
Dia tidak repot-repot menjelaskan, dan berkata dengan riang, "Lah, kenapa kamu melarangku bermain game di sini?" Saat dia berbicara, dia menampar kartu identitasnya dan berkata, "Terserah aku, pokoknya aku bilang tidak ya tidak. Aku pemilik warnet ini, kamu mau apa?!"
Monica menatap Gevariel dengan dingin. Gevariel tercengang, masuk akal jika dia tidak diizinkan untuk bermain game di sini, orang yang punya warnet aja dia. Dia batuk kering dan berkata, "Oke! Kalau begitu aku akan pergi!"
"Oh..iya.. mulai sekarang jangan mendekati Amanda lagi." Monica mendengus dan berkata, "Kalau sampai aku melihatmu bersama Amanda aku akan memukulimu, awas aja!"
Gevariel menoleh dan mengangkat alisnya sedikit.
Faktanya, kemampuan beladiri Monica cukup bagus, dia pasti berlatih sejak masih kecil, tapi keterampilan kecilnya tidak ada apa-apanya di depan Gevariel.
Dia mengangkat bahu acuh tak acuh, dan berjalan menuju pintu.
"Brakk"!
Pada saat ini, terdengar ledakan, Gevariel terkejut, melihat ke arah pintu, dan menemukan ada beberapa orang yang bersandar di depan pintu. Dilihat dari penampilannya, sepertinya dia adalah Rofik yang mengelola Night Second Bar, di sampingnya ada seorang pria paruh baya botak dengan wajah memar dan perutnya yang sedikit buncit.
Gevariel sedikit terkejut, dia tidak pergi, tetapi berjalan menuju kursi kosong di sebelahnya, menarik kursi dan duduk, seolah menonton pertunjukan.