
Melihat ekspresi Gevariel, Monica mendengus dingin, lalu menatap Rofik dengan tatapan tajam dan tanpa rasa takut.
"Monica, kamu sangat berani!" Rofik mencibir, dan orang-orang di belakangnya masuk, menendang apa pun yang mereka lihat di depan mereka, sehingga menimbulkan suara gaduh di dalam warnet.
"Ada apa dengan kalian? Apa kalian buta?" Monica tidak takut, berdiri tegak dan berkata dengan suara dingin.
Rofik memandang Monica, mencibir, dan bertanya pada laki-laki berkepala botak di sebelahnya "Om Candra, apakah benar gadis ini?"
Candra, pria paruh baya berkepala botak itu, mengangguk dan berkata, "Iya, benar dia orangnya!"
Monica sedikit mengernyit saat dia menatap Candra.
"Monica, kamu sering datang ke Barku. Aku selalu bersikap sopan padamu. Dan bahkan aku selalu memberimu diskon setiap kali kamu datang kesana." Rofik berkata sambil mencibir, "Tetapi apa kamu tahu orang ini?" Rofik menunjuk Candra dan berkata. "Om Candra adalah tamu pribadiku, kenapa kamu memukulinya?"
Gevariel memandang pria paruh baya itu dengan heran. Dia tahu bahwa pria ini mungkin sama dengan omnya si Rofik, yang dulunya adalah seorang gangster. Gevariel bisa merasakan kekejaman dalam dirinya.
Monica tidak memperhatikan Rofik secara serius, sudut mulutnya sedikit menyeringai.
Monica mengerutkan kening dan berkata, "Lalu apa yang ingin kamu lakukan? Aku akan membayar ganti rugi untuk itu."
Gevariel terkejut. Dia tidak menyangka karakter Monica akan ditundukkan.
Jelas, Omnya si Rofik adalah Iwan, di Kota M, tidak ada yang berani membuat masalah dengannya.
"Apa kamu bilang, uang ganti rugi? Apa kamu pikir aku masih kekurangan uang?" Rofik memandang Monica dan berkata, "Begini saja, kamu temani Om Candra satu malam saja, jika dia puas dengan pelayanan yang kamu berikan, masalah ini akan dianggap selesai. Tapi jika kamu menolak, warnetmu dan sasana Tekondo ayamu akan kami hancurkan!"
Wajah Monica tiba-tiba menjadi jelek, dia menggertakkan giginya dan menatap Rofik sambil berkata, "Mimpi… Lebih baik aku mati!"
Rofik mengerutkan kening, di sebelahnya, Candra menarik kursi lalu duduk, dan berkata dengan ringan: "Rofik, kamu harus menyelesaikan masalah ini untuk kepuasanku."
Di mata Rofik, tatapan ganas berkedip dan berkata: "Seret dan bawa dia!"
Namun, dia sendirian. Di sana, semua karyawan Warnet atau anak-anak muda yang sedang bermain game tidak ada yang membantunya. Bahkan anak-anak muda yang sedang bermain game online itu semua keluar meninggalkan warnet.
Sebagian besar anak-anak muda ini mengenal Rofik, jadi mereka takut untuk berurusan dengannya. Dia ahli dalam beladiri, tetapi dia adalah seorang wanita. Tenaganya terbatas, jadi tak lama setelah sedikit perlawanan, akhirnya Monica berhasil ditangkap oleh beberapa orang yang mengepungnya.
"Hancurkan tempat ini!" Kata Rofik lagi.
Salah satu orang yang dia bawa mengambil kursi dan melemparkannya langsung ke mesin minuman di dekat meja kasir.
"Praaannkkk!"
Mesin minuman hancur berkeping-keping, dan minuman di dalamnya jatuh ke lantai!
Candra berdiri, dan dia berjalan menuju Monica, dengan senyum di wajahnya, dan ketika dia datang ke Monica, dia berkata, "Aku sangat menyukai kepribadianmu yang ganas, dan kamu pasti akan energik saat berada di tempat tidur bersamaku. Sebenarnya ini sangat sederhana, kamu hanya perlu tidur denganku satu malam saja, dan buat aku puas..dan kamu tidak harus mengalami kejadian seperti ini, tempat usahamu juga akan tetap baik-baik saja."
Rofik menghela napas dan berkata, "Monica, aku tahu kamu punya hubungan baik dengan Amanda, tapi tidak mudah bagi Om Yahya untuk ikut campur dalam masalah ini! Menurut saja dan temani Om Candra satu malam aja."
"Kamu sedang bermimpi!" Kata Monica tajam.
Om Candra menjilat bibirnya, mengulurkan tangannya dan berkata, "Wah..wah..wah..ini sangat besar, rasanya pasti nikmat!"
Dia mengangkat tangannya dan langsung menuju ke dada Monica.
"Ahhhhhh!" Teriak Monica, air mata mengalir di wajahnya, pada saat ini, dia merasa sedikit tidak berdaya.
"Haiii..Lupakan saja untuk melakukan hal menjikikan dengannya, jika dia bersedia sih tidak masalah, tetapi kalau dia tidak mau dan kalian terus memaksanya itu namanya pemerkosaan, dan itu melanggar hukum." Pada saat ini, suara malas terdengar.
Tangan Candra yang terulur tiba-tiba berhenti di udara, lalu semua orang melihat ke arah suara itu. Orang yang berbicara adalah Gevariel, dia sedang duduk di kursi sofa di depan komputer, melihat ke samping sambil sedikit menguap…
"Hoemmm."
Monica terkejut, ternyata Gevariel belum pergi dari tempat ini, dan bahkan membuka mulutnya untuk menghentikan tangan nakal Candra.
Tetapi ketika dia memikirkan tentang pelarian Gevariel malam itu, hatinya menjadi dingin lagi. Orang ini pengecut, jadi apa gunanya dia tetap ada di sini!
Tidak, ini juga berguna, jika dia memanggil Amanda, mungkin Om Yahya bisa menyelamatkan dirinya saat ini. Tetapi pikiran Monica tiba-tiba kembali pesimis lagi, dia berpikir mungkin sebelum Gevariel menelepon Amanda dia sudah dihajar oleh Rofik dan anak buahnya. Dan pada akhirnya, dia tidak berharap lebih terhadap Gevariel.
Candra menyipitkan matanya, dan Gevariel dapat dengan jelas melihat bahwa ada jejak niat membunuh yang muncul di matanya. Ya, Gevariel jelas merasakan aura kekejaman di matanya.
Dia sangat jelas bahwa aura seperti ini hanya dapat ditunjukkan oleh seseorang yang pernah melakukan pembunuhan lebih dari satu kali.
"Orang ini pasti seorang master. Dia dipukuli oleh Monica kemarin, mungkin karena dia mabuk." Gevariel merenung di dalam hatinya.
Candra hanya melirik Gevariel, tidak mengatakan apa-apa, dan duduk kembali, seolah-olah dia akan menunggu Rofik menyelesaikannya.
Setelah Monica melepaskan diri dari salah satu orang, dia dengan cepat berbalik dan menendang organ vital orang yang memegangnya dari belakang.
Orang itu menjerit dan berjongkok sambil memegangi organ vitalnya, Monica melepaskan diri dengan mulus.
Tapi pada saat ini, sekelompok orang tiba-tiba berkumpul, ekspresi Rofik berubah sangat jelek, dan dia berkata, "Gevariel, apakah menurutmu aku benar-benar tidak berani menyentuhmu?"
"Ya, kamu memang tidak akan berani!" Gevariel masih berkata sambil tersenyum.
Rofik menggertakkan giginya, dan rambut gimbal di kepalanya seperti akan rontok karena marah.
Wajah Monica sedikit berubah, dia menatap Gevariel dengan rasa ingin tahu.
Gevariel saat ini dan Gevariel malam itu tampak seperti dua orang yang sama sekali berbeda. Kali ini sikap Gevariel begitu keren dan berani sehingga dia tidak bisa mempercayainya.
"Oke, oke, aku berlutut untukmu hari itu, karena Om Iwan mengatakan sesuatu kepadaku, dan sebenarnya aku juga tidak cukup yakin dengan apa yang dibicarakanya malam itu. Jadi kalau kamu ingin bertarung, aku akan memuaskanmu hari ini!" Kata Rofik, mengangkat tangannya dan meninju Gevariel.
Gevariel mencibir dan tiba-tiba mengangkat tangannya.
"Cepllaaakkk!"
Kecepatan serangannya sangat cepat, mungkin orang yang tidak memiliki ilmu beladiri tidak akan bisa melihat kecepatan tangan Gevariel saat menampar Rofik.
Pada saat ini, Rofik hanya merasakan sakit yang membakar di wajahnya, dan kekuatan besar datang menghantam wajahnya, dia tidak bisa menahan diri untuk mundur beberapa langkah dan menabrak meja kasir!
"Uhukk.. Uhukkk."
Dia terbatuk dua kali, memuntahkan darah dan dua gigi yang patah.
"Hentikan!" Pada saat ini, Candra yang sedang duduk tiba-tiba berseru, lalu dia berdiri, menatap Gevariel, dan berkata, "Anak muda, boleh juga kemampuanmu. Kamu memiliki kemampuan yang bagus!"
Gevariel tersenyum padanya, lalu menatap Rofik, dan tersenyum lagi.
Rofik melihat senyuman itu, dia menjadi gila, dia ingin mendorong Gevariel ke tanah dan menginjak kepalanya!
"Oke, aku tidak akan memaksanya, lupakan saja masalah ini untuk sementara waktu. Tapi aku tertarik sama gadis ini, dan aku akan tetap tinggal di Kota M untuk sementara waktu, dan aku harap kamu akan selalu berada di sisi gadis ini selama 24 jam. Kalau tidak, cepat atau lambat dia akan pergi ke tempat tidurku.” Candra mencibir dan berkata, "Ayo pergi!"
Dengan sedikit berubah, Rofik melihat ke arah Gevariel dan berkata, "Om Candra, bajingan kecil ini menamparku, aku tidak bisa membiarkan ini berlalu begitu saja."
Candra memotongnya dan berkata, "Ayo pergi!"
Mulut Rofik berlumuran darah, dan dia menatap Gevariel dengan marah.
Karena Gevariel, dia menderita dua kali berturut-turut. Dua gigi rontok, dan wajahnya bengkak parah.
Tapi pria paruh baya itu berkata begitu, jadi dia tidak punya pilihan selain menggertakkan giginya dan menuruti perintahnya.
"Apakah aku menyuruh kalian pergi?" Pada saat ini, Gevariel tiba-tiba membuka mulutnya dan berkata dengan tenang.
Candra berhenti, dia menoleh, menatap Gevariel, dan berkata, "Anak muda, aku pergi sekarang karena keahlianmu yang baik. Aku menghargai itu, kita akan pergi dari sini dan sekarang kamu tidak membiarkan kami pergi, apa maksudmu?" Candra berbicara dengan suara yang sedikit bergetar karena amarahnya sudah mulai tersulut.
Gevariel menggosok hidungnya dan berkata: "Haiii... Kamu belum membayar ganti rugi, enak saja main pergi gitu aja!"
Candra menghela nafas berat, matanya terlihat merah karena menahan amarah, dia menatap Rofik dan berkata, "Berikan uang ganti rugi!"
Wajah Rofik sedikit berubah, dia tidak menyangka Candra akan ditundukkan seperti ini.
Dia memandang Gevariel, dengan kebencian yang semakin besar.
Setelah beberapa saat, dia menggertakkan gigi, memindai kode QR di meja kasir, mentransfer 20 juta ke rekening Monica, lalu Gevariel menoleh ke arah Monica dan berkata, "20 juta, apakah cukup?"
Monica mengangguk dan berkata, "Cukup!"
"Ayo pergi!" Kata Candra.
Setelah berbicara, dia berjalan keluar, meninggalkan warnet milik Monica.
Melihat mereka pergi, Monica menghela nafas lega dan menatap Gevariel.
"Beff... Ahahaa." Gevariel meliriknya dengan tertawa ngakak dan berkata, "Baru saja kamu mengusirku, dan kamu tidak mengizinkanku untuk bermain game di sini. Untungnya, aku tidak langsung pergi.
Jika tidak, warnetmu sudah pasti hancur… Hahaha." Gevariel terus tertawa menggoda Monica.
"Brengsek, apa yang terus kamu tertawakan.." Monica berkata sambil menghela nafas lega: "Tapi bagaimanapun juga, aku masih harus berterima kasih sama kamu. Tapi saat ini kamu sudah berurusan dengan Rofik, dan lagi orang yang bernama Candra barusan bukanlah orang yang baik. Aku khawatir itu akan membuatmu kesulitan."
"Terima kasih..?" Gevariel berkata dengan riang: "Apa kamu juga akan memberikan tubuhmu? Kalau kamu tidak mau dengan lelaki tua barusan, kamu bisa tidur bersamaku sepanjang malam! Monica tercengang sesaat, lalu menatap Gevariel dari atas ke bawah dan berkata: "Hemm.. Oke!"
Gevariel sedikit tercengang, saat ini Monica tertawa keras dan berkata: "Ahahaha, Kamu masih menggodaku seperti ini? Dasar mesum!"
Gevariel tersenyum kecut, dan kemudian teringat bahwa Monica ini ceplas-ceplos kalau ngomong, dan kata-katanya sedikit berani, selain itu dia suka datang ke bar untuk minum-minum jadi tidak heran jika dia memiliki keberanian dalam berbicara.
"Sialan!" Monica tertawa dan berkata: "Mumpung sekarang waktunya jam makan siang, ayo.. aku akan mentraktirmu makan siang, dan sepertinya aku harus segera menghubungi Amanda untuk meminta bantuan. Aku khawatir jika hanya Om Yahya yang bisa membantuku menyelesaikan masalah ini."