HELL WALKER

HELL WALKER
Bab 31 : Jangan berpura-pura baik!



"Tapi aku baru saja bercerai, dan Yahya Maulana baru mengumumkan itu kemarin, masak iya tiba-tiba aku menikah dengan Amanda.? Ini lebih cepat dari kilat," kata Gevariel dengan ekspresi wajah aneh.


"Gevariel, kamu tidak bisa meremehakan masalah ini, jika bukan karena kamu tadi malam, Amanda sudah pasti terbunuh malam itu," kata Chesilia.


Gevariel menghembuskan napas perlahan, merenung, mengetukkan jarinya ke meja dengan ringan, dan berkata, "Tapi Dokter Chesilia, kamu tahu bahwa tubuhku, hatiku, dan semuanya ini hanya milikmu kan?"


"Jangan konyol, hanya ketika kamu berada di sisi Amanda, kita akan benar-benar merasa tenang," kata Chesilia dengan mendengus dingin.


Gevariel mengerutkan bibirnya dan berkata, "Ini bukan masalah aku mau atau tidak, yang jadi masalah adalah Amanda mau atau tidak. Lagian, yang tahu jika aku Hell Walker itu kan cuma Yahya Maulana. Sedangkan yang lain tidak mengetahuinya... hal ini pasti akan terlihat konyol oleh orang lain, termasuk Amanda." Chesilia tampak merenung.


Pada saat ini, ponsel Gevariel tiba-tiba berdering. Dia mengangkatnya dan melihat, ternyata itu panggilan telepon dari Akness.


Gevariel mengerutkan kening, menjawab telepon, dan berkata, "Halo, ada apa?"


Di ujung telepon, suara Akness sangat keras, "Aku mendengar bahwa kamu adalah bos PT.Amarta sekarang? Mengerikan, Aku tidak tahu wanita bodoh mana yang berhasil kamu tipu? Sampai-sampai dia memberimu perusahaan sebesar itu." Kata-katanya terasa masam.


Akness selalu percaya bahwa Gevariel adalah orang yang tak berguna, dan di dalam pikirannya, Gevariel tidak mungkin bisa membeli perusahaan sebesar itu dengan uangnya sendiri, jadi, ini pasti ia dapatkan dari pemberian orang lain.


Tentu saja, dia merasa sangat pahit, karena dibandingkan dengan apa yang Gevariel miliki sekarang, apa yang Rio berikan padanya tidak sebanding dengan apa yang Gevariel miliki saat ini.


Gevariel tidak repot-repot menjelaskan apa pun padanya, bahkan menurutnya perceraian ini adalah pilihan terbaik yang pernah dia ambil.


"Kalau tidak ada yang penting, aku akan menutup teleponnya," kata Gevariel dengan ringan.


"Begini ya, kelakuanmu ketika kamu sudah punya uang ? Kamu berani berbicara denganku seperti itu, Gevariel, kamu benar-benar bajingan," Akness terus berkata dengan masam.


"Bukankah kamu tinggal di dekat rumahku sekarang? Kesini sekarang, ada sesuatu yang harus kita bicarakan setelah perceraian kita." Setelah selesai berbicara, Akness menutup telepon.


Gevariel mengerutkan kening, tetapi dia tetap memutuskan untuk pergi ke sana, mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk memutuskan hubungannya dengan mantan istri dan mantan mertuanya yang menyebalkan itu.


Dia menyapa Chesilia dan berkata, "Aku akan keluar dulu."


"Mau pergi kemana? Jadi kamu setuju dengan rencana yang aku buat?" kata Chesilia.


"Yeeee... Aku tidak pernah bilang setuju ya!" Gevariel buru-buru berkata. "Pernikahan palsu seperti ini tidak akan pernah berjalan dengan baik. Mungkin Amanda akan aman, tapi bagaimana jika Amanda benar-benar jatuh cinta padaku? Ada banyak cara untuk menjaga Amanda agar tetap aman, aku akan menggunakan caraku sendiri."


"Ini adalah rencana yang paling strategis," Chesilia berkata dengan sedikit berteriak.


Gevariel tersenyum, tidak setuju, memakai sepatunya, dan lari tanpa jejak.


Lucy berkata dengan riang, "Hahaha... Dokter, sudah kukatakan bahwa Kak Gevariel tidak akan setuju dengan rencana seperti ini... hahaha... Lagipula, dia baru saja bercerai, dan pernikahan tidak terlalu baik."


Chesilia merenung, lalu berkata dengan serius, "Itu benar, dia memiliki trauma dengan pernikahannya, dan itu merupakan penyakit yang perlu disembuhkan!"


...


Gevariel keluar dan kembali ke rumahnya yang dulu, yang jaraknya hanya beberapa langkah dari rumahnya saat ini. Dia mengetuk pintu, dan pintu terbuka dengan cepat. Yang mengejutkan Gevariel, ada sekelompok besar orang duduk di ruang tamu. Mungkin ada lebih dari selusin orang di ruangan ini.


"Masuk!" Akness yang membuka pintu.


Gevariel masuk ke dalam, dan Akness menutup pintu. Pada saat ini, Ratna berkata dengan cara yang aneh, "Oh, ini mengerikan, bercerai dan mendapat banyak uang, dan sekarang mulai berani untuk melawan kita ya?"


Meskipun Ratna masih tidak mau mengakui bahwa Gevariel tiba-tiba berubah menjadi bos Anita, tetapi dengan konfirmasi kakaknya Bagas, dia harus mengakui bahwa ini adalah fakta.


Ratna berkata sambil tersenyum, "Buang-buang waktu kamu bilang? Lalu mengapa setelah kamu menjadi bos di perusahaanmu, kamu memutuskan kerjasama dengan perusahaan milik kakakku? Apa itu bukan balas dendam namanya?"


Gevariel menggosok hidungnya. Memang pagi itu, Rahmat meneleponnya dan memberitahunya jika dia akan memutuskan beberapa perusahaan kecil. Perusahaan Bagas mungkin ada di perusahaan kecil ini. "Kenapa diam? Bisu ya?" kata Ratna sambil mencibir.


Mendengar kata-katanya, kemarahan di hati Gevariel yang terbendung selama ini akhirnya meluap. Mungkin karena Om Rudi menyelamatkan hidupnya saat itu, jadi dia selalu merasa harus bersabar ketika menghadapi hinaan dari Ratna dan Akness setiap saat, tetapi karena ingatannya saat ini sudah kembali, dan merasa sudah berbalas budi dengan menjadi budak istri dan anaknya selama tiga tahun, Gevariel menganggap semua ini sudah lunas terbayar, ditambah dengan rumah yang mereka tinggali ini, ini adalah rumah yang Gevariel beli dengan hasil kerja kerasnya.


Jadi sekarang dia tidak perlu menahan diri lagi. "Aku seorang pemilik perusahaan, jadi aku tidak mau tahu dengan apa yang dilakukan oleh anak buahku di kantor. Tetapi jika memang aku yang menyuruh untuk menghentikan kontrak dengan perusahaannya, lalu kenapa?" ucap Gevariel sambil menatap Bagas.


Nada suaranya sedikit dingin, dan Ratna tertegun sejenak.


Setelah beberapa saat, dia berteriak dengan keras, "Bukankah itu hasil dari pemberian seorang wanita yang kamu tipu? Kenapa kamu begitu sombong padaku!"


Kemudian, dia menatap Gevariel dan berkata, "Apa kamu lupa? Suamiku menyelamatkan nyawa sampahmu, dan aku membiarkanmu tinggal di rumahku selama tiga tahun. Sekarang setelah kamu bercerai, dan memiliki banyak uang, kamu berani menyerang keluargaku? Dasar kamu bajingan!"


Pada saat ini, ayah Anita, Dani, juga ikut bicara, "Ya, Gevariel, tiga tahun lalu, kakakku menyelamatkan hidupmu, dan sungguh tidak layak bagimu untuk melakukan ini sekarang."


"Apakah kamu berpura-pura menjadi orang baik di sini?" Gevariel sangat marah saat ini, dan tiba-tiba menatap Ratna dan Akness kemudian berkata, "Dalam tiga tahun terakhir, kalian, dan semua keluarga kalian, apakah telah memberiku kehidupan yang layak? Aku selalu memberikan semua gajiku kepada kalian! Sedangkan apa yang kalian lakukan selama ini? Aku bekerja keras untuk menafkahi kalian berdua selama tiga tahun, tetapi aku tidak pernah mendapat perlakuan yang baik dari kalian. Malah kalian merasa malu dengan pekerjaanku.”


Saat ini Gevariel menatap Ratna:”Kamu berpikir jika Akness adalah seorang gadis yang cantik, jadi menurutmu dia harus menikah dengan orang kaya, tidak sepertiku, yang hanya menjadi seorang kuli bangunan."


Lalu Gevariel menoleh menatap Dani dan berkata, "Dan sekarang, kamu mengatakan jika selama ini aku tidak pernah melakukan hal yang baik terhadap keluarga ini?" Gevariel berteriak!


Untuk sesaat, semua orang tertegun.


Tapi Gevariel berkata sambil mencibir, "Jangan lupa, rumah yang kamu tinggali sekarang dibeli dengan uangku saat aku berkeja sebagai seorang kuli! Dan apa kalian tahu? saat aku bekerja keras menjadi seorang kuli, Akness malah selingkuh dengan anak orang kaya, padahal dia tahu jika dirinya belum bercerai denganku! Lalu kamu, Ratna, kamu yang menyuruhku untuk menceraikan Akness, dan kamu juga yang mengusirku dari rumah ini!" Kata Gevariel sambil mencibir.


Seluruh ruangan menjadi sunyi senyap.


Mereka tidak pernah menyangka bahwa pria yang mereka anggap polos selama ini akan memaki mereka seperti sekarang.


Terutama Ratna dan Akness, ekspresi mereka sangat jelek.


Setelah Ratna tertegun sebentar, dia tiba-tiba berteriak, melompat ke arah Gevariel. "Kamu benar-benar bajingan! Aku akan menghajarmu hari ini!" Saat dia berbicara, dia melambaikan tangannya dan bergegas menuju Gevariel.


"Ceplakkkk!"


Gevariel tiba-tiba mengangkat tangannya dan menampar wajah Ratna.


Ratna tertegun.


"Bu!" Akness berlari dengan cepat, membantu Ratna, kemudian dia menatap Gevariel dan berkata, "Gevariel, beraninya kamu memukul ibuku!"


"Kamu berani memukulku, beraninya kamu memukulku. Kamu benar-benar bajingan!" Ratna hampir menjadi gila.


Gevariel mencibir dan berkata, "Apa kamu lupa apa yang telah kamu lakukan kepadaku selama tiga tahun ini? Ahirnya hari ini aku bisa menamparmu!"


“Gevariel, jangan bertindak terlalu jauh." Pada saat ini, beberapa anak muda laki-laki berdiri.


Jejak penghinaan muncul di sudut mulut Gevariel, dia mengangkat kepalanya, menatap mereka, dan berkata, "Apa? Apakah kalian ingin mencobanya?"