HELL WALKER

HELL WALKER
Bab 41 : Karma Akness



Gevariel mendengar apa yang Monica katakan, dan langsung merasa lapar. Dia tersenyum dan berkata, "Oke, kalau begitu kamu harus mentraktirku makanan mewah!"


"Oke!" Monica mengangguk dan berkata, "Kamu bisa memilih apa pun yang ingin kamu makan!"


"Aku ingin makan ayam bakar utuh dan dengan nasi yang banyak!" Gevariel menjilat bibirnya.


Monica tidak bisa menahan diri untuk tidak memutar matanya, dan berkata dengan kecut, "Orang ini benar-benar!"


Monica memberikan beberapa perintah kepada karyawan, dan dia memutuskan untuk tidak membuka warnet saat ini. Setelah itu, dia membawa Gevariel dan meninggalkan warnet.


Pada saat yang sama, Rofik dan Candra masuk ke mobil, dan Rofik sedang memegang pipi kanannya. Dia masih bisa merasakan rasa sakit yang membakar di pipinya.


"Om Can, kenapa kamu tidak membiarkan aku menghajar anak itu sekarang? Jangan bilang kalau sebenarnya om Candra mengenal anak ini? Apa karena latar belakang orang di belakangnya begitu kuat? Sehingga membuat om Candra takut?" Tanya Rofik.


Candra menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku bahkan tidak tahu siapa dia. Bagaimana aku tahu latar belakangnya. Hanya saja..."


Berbicara tentang ini, dia menghela nafas lega: "Aku mengajakmu pergi, karena anak itu adalah seorang master, sangat kuat, jika kita bertarung dengannya, mungkin kita tidak akan menang."


"Kita mempunyai banyak orang, apa mungkin kita akan kalah dengan satu orang?" Rofik berkata dengan tidak percaya.


Candra meliriknya dan berkata: "Di depan master yang sebenarnya, memiliki banyak orang tidak akan terlalu berguna. Lupakan saja, kembali dan tanyakan pada Iwan, seperti apa latar belakang anak ini, dan gadis ini, aku harus berhasil tidur dengannya. Oke, aku suka gadis muda yang sangat agresif sepertinya!"


"Kring.. kring ..."


Pada saat ini, ponselnya tiba-tiba berdering, dia mengambilnya dan melihat layarnya. Wajahnya sedikit berubah, dan pada saat yang sama Rofik dan yang lainnya membuat gerakan mencemooh!


Di layar ponselnya, dua kata terlintas dengan mengesankan!


"Blood Rose!"


Di samping warnet, dengan pintu tertutup, Monica menekan tombol pada kunci mobil yang diparkir di sebelahnya, lampu berkedip. Monica berkata, "Masuk ke dalam mobil, untuk menunjukkan rasa terima kasihku yang tulus, aku akan membawamu ke tempat makan favoritku. Restoran yang sangat lezat!"


Mata Gevariel berbinar, dan beberapa antisipasi muncul di hatinya, karena dia sudah terlalu sering diperalat oleh gadis-gadis cantik yang dia temui di kota ini.


Mobil mulai dan melaju sepanjang jalan. Sebelum dia menyadarinya, Gevariel menemukan bahwa jalan ini adalah jalan menuju rumahnya. Dia membuka matanya dan melihat, lalu menemukan bahwa ini adalah jalan menuju Alam Indah Regency.


Tentu saja, ketika Gevariel berada di Kota M, selain membeli roti kukus dan bubur di luar untuk sarapan, dia hampir tidak pernah pergi ke restoran.


Biasanya, Akness dan ibunya tidak akan mengajaknya saat mereka pergi makan di restoran, karena mereka merasa malu.


Mungkin Gevariel saat itu bisa makan enak kalau pas lagi hari raya Natal, jadi keluarga Akness mengadakan acara makan bersama, sehingga Gevariel bisa ikut makan bersama mereka.


Jadi dia benar-benar tidak tahu tempat makan apa yang ada di dekat komplek rumahnya.


Tanpa disadari, mobil tersebut tiba di gerbang area taman kompek rumahnya, dan Monica menghentikan mobil tersebut.


Gevariel berkata dengan heran: "Tempat makan macam apa yang ada di sini? Ini kan daerah komplek rumahku."


"Enggak, lihat! Ada sesuatu di depan," kata Monica.


Gevariel melihat ke arah gerbang area taman, dan sudah ada beberapa orang yang bergerombol di sana.


Sebuah mobil mewah diparkir di depan gerbang, tetapi di depan mobil itu berdiri seorang wanita cantik. Dia mencoba yang terbaik untuk menyeret seseorang yang hendak masuk ke dalam mobil, dan karena itu jalanan menjadi sedikit macet.


"Rio?" Monica mengerutkan kening.


Gevariel juga pasti mengenalinya, orang itu adalah Rio, dan orang yang menyeretnya tidak lain adalah Akness.


Pada saat ini, Akness terlihat sedikit memalukan, rambutnya sedikit acak-acakan, dan air mata mengalir di pipinya.


"Playboy ini pasti mempermainkan seorang wanita lagi!" Kata Monica dengan cemberut.


Gevariel menyaksikan semua ini tanpa ada gejolak emosi di dalam hatinya. Monica menurunkan kaca jendela mobil, dan suara-suara dari luar otomatis terdengar di telinga mereka.


"Rio, kamu tidak bisa melakukan ini, kamu tidak bisa meninggalkanku!" Di luar, Akness menangis dan berkata, "Kamu mengejarku atas kemauanmu sendiri, bahkan untuk bersamamu, aku sampai menceraikan Gevariel. Aku tidak punya apa-apa sekarang, kamu benar-benar tidak bisa meninggalkanku."


Mendengar ini, Monica tertegun sejenak, dia menatap Gevariel dan berkata, "Apa dia bilang? Gevariel? Benar kan?!"


Gevariel tidak punya pikiran untuk menyangkalnya, dia mengangguk dan berkata, "Ya, wanita itu adalah mantan istriku, dan kita baru saja bercerai beberapa hari yang lalu."


Monica terkejut, tanpa sadar dia melihat ke atas kepala Gevariel.


Gevariel berkata tanpa ekspresi yang baik, "Heii..kamu jangan melihatku seperti itu, aku sudah ditipu, pernikahanku dengannya juga merupakan kecelakaan, sesuatu terjadi sebelumnya, setelah tiga tahun menikah, bahkan aku belum pernah menyentuh sehelai rambutnya sedikitpun."


"Hahaha..hentikan omong kosongmu." Monica jelas tidak percaya omongan Gevariel.


Gevariel tidak menjelaskan apapun padanya dan terus melihat ke luar!


"Awalnya aku memang berinisiatif untuk mengejarmu. Dan itu memang benar. Tapi kamu waktu itu juga mengabaikanku kan? Tetapi setelah kamu tahu jika aku memiliki mobil sport? Kamu yang malah mengejar-ngejarku." Rio melepaskan diri, berkata: "Aku bilang putus ya putus… kan aku sudah bilang sama kamu, kalau keluargaku tidak setuju dengan hubungan kita."


Rio menggertakkan giginya dan berkata, "Kamu bersamaku bukan karena cinta tetapi karena uang. Aku telah memberi banyak tas dan barang mewah untuk ibumu selama ini. Setidaknya bernilai 100 juta. Dan sekarang semua sudah berakhir!"


Semakin banyak orang yang menonton, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mendorong Akness dengan keras. Langkah kaki Akness goyah, dan dia duduk di tanah.


Melihat adegan ini, Monica mengerutkan kening dan berkata, "Rio ini benar-benar tidak memiliki perasaan, dasar cowok kejam!"


Gevariel menggelengkan kepalanya dan berkata, "Itu semua sudah tidak ada hubungannya denganku lagi. Pernikahanku selama ini hanyalah sebuah kecelakaan, lagian sekarang aku juga sudah bercerai dengannya."


Setelah mendorongnya ke tanah, Rio meluruskan pakaiannya dan berteriak ke sekeliling: "Apa yang kalian lihat? Ha, apa yang kalian lihat? Apakah kalian tidak pernah melihat orang putus dan bertengkar?"


Saat dia berbicara, dia melirik Akness, dengan jejak keengganan berkedip di matanya. Sebenarnya selama ini Rio hanya ingin meniduri Akness dan setelah itu dia akan meninggalkannya, tetapi untuk saat ini rencananya itu akan dia kubur dalam-dalam.


"Gadis ini sangat menyedihkan!"


"Ya, playboy saat ini benar-benar keterlaluan..."


Orang-orang di sebelahnya juga banyak yang bicara. Tetapi juga banyak orang yang kontra terhadap Akness.


Bahkan satpam komplek yang berada di antara kerumunan juga berkata "He..apa kalian tahu seperti apa mantan suami Cewek itu? Sebenarnya dia juga tinggal di komplek ini. Jika kalian tahu, mantan suaminya itu bekerja keras sebagai kuli bangunan, dia selalu pulang dengan pakaian compang-camping setiap malam, tetapi kemudian cewek itu menemukan laki-laki anak orang kaya, lalu dia menceraikan suaminya yang menyedihkan itu, bahkan dia dan ibunya tega mengusir suaminya itu."


"Benar sekali, aku juga melihat ibunya beberapa kali memarahi mantan suaminya itu dengan kata-kata kasar. Orang kejam sepertinya memang pantas mendapatkan karma seperti itu!" suara ibu-ibu lain di dalam kerumunan.


Mata Gevariel berkedut, beberapa kali, ternyata masih ada orang yang simpatik dengan dirinya selama ini.


Dia memang berdebat dengan Ratna beberapa kali di gerbang komplek, tetapi dia tidak berharap penjaga keamanan dan beberapa warga mengingat semuanya.


Akness duduk di tanah dan menangis.


Dan Rio mengabaikannya, masuk ke mobil, menginjak pedal gas, dan mobil melaju pergi.


Monica memandang Akness yang sedang duduk di tanah, mengerutkan kening, dan bertanya, "Kamu benar-benar tidak peduli?"


"Ayo..ayo..udah jangan melihatnya, aku lapar," kata Gevariel.


Monica mengerutkan kening, dia memandang Gevariel, dan berkata, "Hee..kamu ngak boleh kejam seperti ini, walau bagaimanapun juga dia adalah mantan istrimu!"


"Kalau saja kamu tahu seperti apa perlakuan dia dan ibunya saat aku masih menjadi suaminya, mungkin kamu tidak akan ngomong seperti itu sama aku." Gevariel berkata, "Ayo cepat jalan!"


Melihat apa yang dikatakan Gevariel, Monica tidak mengatakan apa-apa lagi, dia menyalakan mobil, dan mobil itu melaju perlahan.


Mobil melaju perlahan melewati pintu masuk komplek, Gevariel duduk di dalam dan tidak memandang Akness yang sedang duduk di tanah.


Namun, Akness, yang sedang duduk di tanah, secara tidak sengaja melihat Gevariel, dan dia sedikit terkejut.


Dia melihat Gevariel lewat, dan juga melihat Monica yang sedang mengemudi di dalam mobil.


Setelah perceraian, dia berpikir bahwa dia akan memiliki kehidupan yang lebih baik, menikah dengan Rio, dan menjalani kehidupan sebagai istri yang kaya raya! Dan Gevariel tetaplah Gevariel yang tetap hidup sebagai kuli bangunan!


Tetapi situasi setelah perceraian benar-benar berbeda dari yang dia bayangkan.


Rio berbeda dari imajinasinya, sekarang Dia bahkan kehilangan Rio.


Adapun Gevariel, dia memiliki perusahaan dan menjadi orang kaya.


Dari Amanda hingga yang ada di dalam mobil, semua gadis di sampingnya tidak lebih buruk dari penampilannya!


Ada celah besar di hatinya. Melihat Gevariel yang akan pergi, dia bangkit, merapikan rambutnya, dan berlari menuju Blok Rumahnya dengan linglung!


Monica mengemudi sebentar, lalu menemukan tempat parkir di pinggir jalan dan berhenti. Dia membawa Gevariel ke gang kecil di sebelahnya.


"Apakah ada tempat makan di sini?" Gevariel bertanya dengan heran, "Jangan bilang kamu kesini untuk menculikku."


Monica berkata tanpa rasa malu.


"Mati saja kamu!" Monica memarahi Gevariel sambil memukul bahunya pelan. "Aku tidak tertarik dengan pria yang sudah menjadi duda sepertimu!"


"Ini adalah rumah koki Grace City Hotel. Tetapi sekarang sudah pensiun, dan sekarang dia membuka sebuah rumah makan kecil di sini, tetapi karena usia dan cedera tangannya, hidangan yang dia masak setiap hari sangat terbatas. Jadi tempat makan ini tidak terlalu banyak menerima tamu, mudah-mudahan kita beruntung untuk bisa makan di sini," kata Monica.


Mata Gevariel berbinar, makanan di Grace City Hotel memang enak-enak.


Keduanya jalan di gang, dan tak lama setelah itu, mereka sampai di sebuah tempat makan yang tempatnya tidak terlalu besar, bahkan hanya ada beberapa meja kayu di tempat terbuka, tidak mewah, tapi bersih!


Saat ini, sudah ada beberapa orang di tempat tersebut.


"Amanda!" Monica terkejut secara tiba-tiba, dia lalu berseru, "Mengapa kamu di sini?"


Ya, orang-orang di tempat itu adalah Amanda dan Kalya.


Amanda berbalik, dan ketika dia melihat Monica dan Gevariel, dia berkata dengan heran, "Mengapa kamu bersama Gevariel?"


Kalya sedikit terkejut, tetapi tanpa mengatakan apapun, Nevan mendengus dingin. Berkata di dalam hati: "Anak ini benar-benar ada di mana-mana!"


Segera setelah itu, dia mengeluarkan ponselnya, menemukan kontak Whatsapp Felix, mengirim lokasi, dan kemudian mengetik: "Gevariel ada di sini!"


Monica tersenyum dan berkata, "Dia pergi ke warnetku untuk bermain game, lalu membantuku menyelesaikan masalah. Jadi aku mengajaknya untuk makan siang di sini. Aku harap Pak Suman bisa memasak untuk kita!"


Kemudian, dia melihat ke dalam dan bertanya, "Di mana Pak Suman?"


"Kudengar Amanda membawa teman-temannya ke tempatku hari ini, dan aku akan memasakkan makanan enak untuknya.?" Pada saat ini, suara marah terdengar. Segera setelah itu, seorang lelaki tua dengan rambut beruban tetapi wajah kemerahan mendorong pintu keluar dari ruangan di sebelahnya.