HELL WALKER

HELL WALKER
Bab 46 : Menyelamatkan Monica



Dulu saat dia menjalankan tugas, Gevariel memiliki sahamnya sendiri di banyak perusahaan besar. Lima persen saham itu tidak terlalu banyak, dan tentunya tidak terlalu sedikit.


"Kalau begitu kamu bisa masuk kapapun kamu mau!" kata Yahya di telepon.


Setelah itu Gevariel menutup telepon, dan sepanjang hari tidak ada kegiatan apapun, hanya menonton anime seharian.


Keesokan harinya, Gevariel tidak bangun sampai jam sepuluh. Setelah sedikit sarapan, dia pergi untuk memanggil taksi dan pergi ke perusahaan Yahya Maulana. Ketika tiba di kantor Heliyo Grup, Gevariel langsung pergi menemui Yahya Maulana. Di dalam ruangannya, Yahya Maulana terlihat sangat sibuk, tetapi setelah mengetahui Gevariel telah datang, dia tiba-tiba meletakkan semua pekerjaannya dan berjalan menghampiri Gevariel.


“Ternyata kamu!" ucap Yahya Maulana sambil tersenyum. Gevariel pun duduk di sofa dengan santai. Tak lama setelah itu, Yahya Maulana bertanya, "Ngomong-ngomong, kemarin Amanda mengatakan jika kamu adalah pacarnya, aku sebenarnya sangat senang mendengarnya. Kenapa? Lagian aku merasa kalau kalian itu sangat serasi. Amanda juga cantik, dan meskipun sifatnya terkadang agak aneh, sedikit perbedaan adalah hal biasa dalam berumah tangga..."


Gevariel merasa pusing. Orang tua ini sepertinya sangat khawatir kalau putrinya tidak menemukan jodoh! Gevariel memilih untuk tidak menanggapi omongannya.


Yahya Maulana membawanya ke departemen personalia untuk sekedar formalitas, dan kemudian membawanya ke kantor Amanda. Dia mengetuk pintu dan membukanya! Di kursi kantor, Amanda sedang duduk di sana. Gadis ini terlihat begitu dingin saat sedang serius dengan sesuatu, seperti saat pertama kali mereka bertemu dulu.


"Amanda, aku membawakan asisten baru untukmu nih!" kata Yahya Maulana sambil tersenyum.


Amanda meletakkan dokumen di tangannya dan melihat ke atas. Ketika dia melihat Gevariel, matanya sedikit menyala. Melihat reaksi Amanda, Yahya Maulana tersenyum dan berkata, "Haha... Kamu terlihat begitu senang rupanya!"


"Senang apaan sih!" ekspresi licik muncul di wajah Amanda. "Halah... nggak usah malu-malu... Haha... ya udah, aku tinggal dulu ya, kalian ngobrol aja."


Setelah Yahya Maulana selesai berbicara, dia mengedipkan mata pada Gevariel, keluar dari kantor, dan menutup pintu di belakangnya.


Di kantor, Amanda melepas kacamatanya, berdiri, dan menatap Gevariel dari atas sampai bawah dengan setengah tersenyum, seolah-olah berkata "Kamu akhirnya jatuh ke tanganku".


Agar tidak merasa terganggu, Gevariel  memilih untuk melihat ke belakang.


Amanda memperhatikan tatapan Gevariel, menatapnya, dan berkata, "Apa yang sedang kamu lihat? Hadap sini!"


Tingkah Gevariel sedikit aneh, berjalan ke samping, lalu duduk.


Amanda tersenyum dan berkata, "Oke, kamu adalah bawahanku sekarang. Jadi saat ini aku memerintahmu untuk menceritakan bagaimana kamu menyelamatkan ayahku saat itu, dan juga, bagaimana Kak Kalya dan Kak Nevan bisa bilang kalau kamu pernah melakukan kejahatan? Ayo... Ceritakan dengan sejujur-jujurnya!"


Gevariel terdiam, lalu menatap Amanda dan berkata, "Ayahmu pernah dalam bahaya, dan aku menyelamatkannya. Adapun apa yang dikatakan Nevan, kamu juga melihatnya, bukan? Dia sangat membenciku kan? Tetapi memang benar, aku pernah di penjara tetapi semua itu terjadi karena aku telah difitnah."


"Yang detail dong, masang kayak gitu doang?" kata Amanda sambil menatapnya.


Gevariel tidak menjawabnya, tetapi mengerutkan kening dan bertanya, "Ngomong-ngomong, apa yang dilakukan Kalya dan Nevan di sini?"


Gevariel berhasil mengubah topik pembicaraan, dan itu membuat Amanda sedikit kecewa, "Mereka di sini untuk memberiku undangan pernikahan mereka, dan sekalian untuk berlibur."


Gevariel merenung, dan tidak berbuat banyak, berbaring di sofa dan menutup matanya!


"Howeeee!" Melihat Gevariel berbaring, Amanda buru-buru berteriak, "Kamu di sini untuk menjadi asistenku, bukan malah aku yang menjadi asistenmu, sekarang turun dan belikan aku segelas kopi. Aku ingin kopi panas."


Gevariel mengabaikannya dan tetap menutup matanya. Amanda menghentakkan kakinya dengan marah, menatap Gevariel dengan tajam, lalu berjalan kembali ke mejanya, mengambil dokumen dan mulai membacanya. Gevariel menyipitkan mata padanya dengan tenang dan menyadari bahwa dia bekerja dengan baik. Ketika Gevariel sudah tertidur dengan lelap, dia merasa seseorang mendekatinya dengan cepat, sehingga dia membuka matanya secara tiba-tiba, dan ternyata... "Ahhh!"


Di depannya, Amanda terkejut melihat Gevariel yang tiba-tiba bangun, membuatnya terkejut hingga jatuh dan terduduk di tanah. Melihat orang yang mendekat itu adalah Amanda, dia merasa sedikit lega. "Apa yang kamu lakukan!" Amanda duduk di tanah, memelototi Gevariel dan berkata, "Kenapa kamu tiba-tiba duduk, kamu membuat jantungku serasa mau copot."


Gevariel menggaruk kepalanya dan berkata, "Lagian kamu tiba-tiba mendekatiku seperti itu, aku pikir ada orang lain yang akan menyerangku. Lagian, kamu ngapain sih?"


Di tempat lain, di sebuah warnet yang pintunya terbuka, terdengar suara memohon, "Tolong, tolong, tolong aku!"


Amanda melihat ke HP-nya, ternyata Monica mengirimkan pesan suara melalui WhatsApp. “Tolong aku, Rofik dan yang lainnya datang kesini untuk membalas dendam,” mendengar itu, Gevariel melihat Amanda dengan tatapan dingin.


"Rofik?" Amanda berkata dengan cemas, "Kemarin, setelah kita pulang bermain, aku sudah mengatakan masalah ini kepada ayahku dan ayahku juga sudah menghubungi Om Iwan. Tetapi kenapa mereka masih ingin balas dendam?"


"Aku akan pergi mencari ayahku sekarang." Amanda berkata sambil mengertakkan giginya!


Gevariel meraih tangan Amanda dan berkata, "Target orang yang bernama Candra itu adalah Monica, dan kamu bilang, ayahmu sudah menelpon Iwan kemarin, berarti peringatan dari ayahmu sudah tidak lagi berpengaruh bagi mereka."


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Amanda berkata dengan ekspresi ingin menangis.


"Pergi dan beritahu ayahmu untuk terus menghubungi Iwan." Gevariel menjilat bibirnya dan berkata, "Aku akan pergi ke warnetnya Monica."


"Mereka pasti membawa banyak orang, dan mungkin mereka juga membawa senjata tajam atau semacamnya," Amanda berkata dengan khawatir.


"Jangan khawatir, selama mereka belum pergi dari sana dan membawa Monica, aku pasti akan menyelamatkannya," lalu Gevariel berkata, "Beri aku kunci mobilmu."


Amanda mengangguk dengan cepat, berlari ke meja, dan melemparkan kunci mobil ke Gevariel. Gevariel menoleh untuk menatapnya, dan berkata: "Ngomong-ngomong, apa pun yang terjadi, jangan pernah pergi dari sini."


Amanda mengangguk, lalu segera pergi mencari ayahnya.


Gevariel buru-buru turun, lalu langsung pergi menuju warnet Monica!


Sepuluh menit kemudian, di pintu masuk warnet, masih ada tanda tulisan “Tutup” di pintu warnet. Ada dua orang yang berdiri di sana, bersandar ke dinding, terlihat bodoh.


Melihat pemandangan ini, Gevariel menghela nafas lega. Masih ada orang Rofik yang berjaga di depan pintu, yang berarti Monica belum di bawa pergi dari sini. Dia keluar dari mobil dan dengan cepat berlari masuk ke dalam warnet!


Segera ketika dia hendak masuk, dua orang yang bersandar di depan pintu mengangkat tangan dan berkata, "Bro, apa kamu tidak bisa membaca? Sudah ada tulisan 'Warnet tutup', cari warnet lain saja!"


Gevariel mengangkat alisnya, lalu dengan santai mengangkat lengannya. Hampir seketika, mereka berdua merasakan sesuatu mengenai bagian belakang leher mereka. Segera setelah itu, keduanya jatuh lemas di tanah.


Dari awal hingga akhir, mereka bahkan tidak melihat bagaimana Gevariel bergerak.


Gevariel kemudian berjalan langsung ke lantai dua melalui tangga samping!


Setelah itu, terdengar suara dari lantai dua, "Kamu mengirim WhatsApp ke Amanda, apa menurutmu dia bisa menyelamatkanmu? Aku sudah bilang padamu, kalau Yahya Maulana tidak akan pernah bisa membantumu menangani masalah ini. Sekarang aku minta, segera hubungi Gevariel, suruh dia datang ke sini!"


Suara itu adalah suara Rofik. Dia menggertakkan giginya dan berkata, "Bajingan kecil ini sudah menamparku dan membuatku berlutut di depannya. Hari ini, aku tidak akan membunuhnya. Tapi aku akan membuatnya menyesal karena telah dilahirkan di dunia ini!"


"Aku tidak punya nomor teleponnya."


Suara Monica juga terdengar, "Tolong, jangan lakukan ini, aku minta maaf!"


Gevariel menarik napas lega.


Rofik mengerutkan kening, lalu melihat ke samping dan berkata, "Om Can, ada kamar di belakang, kenapa tidak membawanya ke belakang dulu dan menikmatinya? Masak iya, Om Candra mau menunggu kita selesai berurusan dengan bajingan kecil itu?"


Om Can tertawa, "hahaha Jangan khawatir! Kan aku sudah bilang, aku ingin anak itu berlutut di depanku. Biarkan dia melihat aku menikmati cewek ini di atas kasur dengan mata kepalanya sendiri."


Pisau, tongkat bisbol, bahkan ada yang membawa pipa baja...


Ketika Gevariel muncul di depan pintu, semua orang tiba-tiba memalingkan pandangan mereka secara serentak.


"Gevariel, apa yang kamu lakukan di sini!" Terdengar suara Monica tidak jauh dari tempatnya berdiri, dia saat ini diikat di kursi dan tidak bisa bergerak sama sekali. Dengan panik, dia berteriak, "Gevariel, cepat lari dari sini!"


"Apa? kamu mau lari?" ucap Rofik dengan senyuman jahat, "Jika kamu ingin kabur sekarang, silanak kabur! tapi sayangnya itu sudah terlambat! Karena kamu sudah ada di sini, kita tidak perlu repot-repot mencarimu."


Gevariel menggosok hidungnya dan melihat ke arah mereka semua. Di atas meja tak jauh dari situ, ada dua orang yang duduk, salah satunya adalah Candra dan yang lainnya adalah seorang laki-laki paruh baya...


Tanpa ragu, Gevariel menyadari orang itu pasti Iwan.


Tiba-tiba, telepon Iwan berdering sepanjang waktu. Gevariel berjalan mendekati mereka dan melihat HP yang berdering itu, terlihat nama penelpon Yahya Maulana.


“Ponselmu berdering tuh,” bisik Gevariel.


Ketika Iwan mendengar kata-kata Gevariel, dia sedikit terkejut! Dia tidak berharap Gevariel bersikap begitu tenang dalam situasi seperti ini. Dia memandang Gevariel dan berkata, "Yahya tidak boleh ikut campur dalam masalah ini. Aku tidak menjawab telepon itu karena aku ingin menjaganya agar tidak mendapat masalah yang lebih serius lagi. Apa kamu tahu dengan siapa sekarang kamu berurusan? Bahkan seorang Yahya Maulana pun tidak akan bisa melawan orang yang sedang berurusan denganmu saat ini!" ucap Iwan sambil menatap Candra di sebelahnya.


"Waow, apakah dia begitu kuat?" tanya Gevariel sambil menatap Iwan.


Melihat Gevariel yang tenang, Iwan mengerutkan kening, tetapi tidak berbicara.


Candra mengangguk dan berkata, "Oke, jangan membunuhnya. Aku harus membiarkan dia menyaksikan bagaimana aku menikmati gadis kecil ini!"


Rofik menjilat bibirnya dan mendekati Gevariel dengan tongkat bisbol di tangannya. Namun, Gevariel tetap tak bergerak, dia menyipitkan mata dan melihat pergelangan tangan Candra, di sana terdapat tato yang terlihat tidak asing bagi Gevariel.


Bagi orang lain, mungkin akan menganggap tato itu sebagai tato biasa. Berbentuk bunga teratai dengan belati kecil di tengahnya yang sulit dilihat dengan mata telanjang. Namun, Gevariel tahu betul bahwa tato itu adalah lambang organisasi misterius "Blood Lotus"!


Organisasi pembunuh ini terkenal di dunia bawah tanah dan mengendalikan banyak orang kaya di seluruh dunia. Orang-orang Blood Lotus datang ke Kota M dengan maksud menyerang Yahya Maulana, tetapi mereka begitu rapi dan tertutup sehingga informasi tentang pergerakan mereka hanya sedikit yang diketahui, bahkan Hell Walker pun sulit untuk menelusuri mereka di kota ini.


Gevariel tidak menyangka Candra adalah anggota dari Blood Lotus.


Iwan mungkin mengetahui sesuatu, sehingga dia tidak berani mencari masalah dengan Candra.


Memang, orang-orang Blood Lotus bukanlah lawan yang bisa dihadapi oleh orang-orang biasa seperti Iwan atau bahkan Yahya Maulana.


Organisasi ini adalah rumah bagi para pembunuh terbaik di dunia. Jika orang biasa seperti mereka berniat melawannya, itu adalah hal yang mustahil.


Selain itu, anggota Blood Lotus juga mengendalikan banyak pengusaha kaya, dan ketika kekuatan ekonomi digabungkan, itu adalah kekuatan yang menakutkan.


Sementara Gevariel berpikir, Rofik mendekatinya dengan senyumannya yang jahat dan berkata, "Apakah kamu melihat pipi kananku? Lihat! Sekarang masih bengkak."


"Ya, aku melihatnya. Kamu semakin terlihat tampan," balas Gevariel dengan tenang, tanpa rasa takut.


Di sampingnya, ekspresi Monica benar-benar di luar kendali, dan dia berteriak, "Gevariel, lari, aku tidak akan menyebutmu pengecut lagi. Cepat lari!"


Rofik memandang Gevariel dengan mencibir, "Kamu ingin lari? Larilah jika kamu bisa."


Rofik mengguncang tongkat bisbol di tangannya, sambil memandang tajam ke arah tangan Gevariel. "Hemm, tanganmu kemarin sudah digunakan untuk memeluk Amel dan menamparku. Oke, mari kita patahkan dulu tangan sialan ini!"


Wajahnya tiba-tiba berubah ganas, saat dia mengangkat tongkat bisbol dan memukulkannya ke lengan Gevariel dengan seluruh kekuatannya.


Cahaya dingin tiba-tiba berkedip di mata Gevariel. Wajah Iwan dan Candra berubah hampir bersamaan, dia berteriak, "Stop!"


Namun, sudah terlambat. Ketika Rofik mulai menyerang, Gevariel tiba-tiba meninju dada Rofik.


"Blengggg!"


Rofik terlempar dan mendarat tepat di depan meja Candra dan Iwan.


"Pfftff!"


Dia membuka mulutnya, dan darah mengalir seperti air.


"Bajingan… Apa yang kamu lakukan?"


"Dasar bajingan, kami akan membunuhmu!"


Dalam sekejap, sekelompok orang berteriak keras.


Wajah Iwan berubah dengan marah, dia berdiri dari kursinya, berlari ke arah Rofik, dan berkata, "Rofik, apa kamu bisa mendengarku?"


Cahaya dingin meletup di matanya, dan dia menatap Gevariel dengan marah. "Nak, beraninya kamu menyakiti keponakanku! Sebelumnya, dia menendang dan menamparku beberapa kali, tapi aku tetap diam saja," Gevariel menyentuh hidungnya dan berkata, "Aku sudah memberinya dua kesempatan, tapi dia tidak menghargainya. Tetapi ketika aku membalas satu kali, dan dia sekarat, masak iya itu adalah salahku? Dasar konyol."


Dia menatap Iwan dan berkata, "Sebenarnya aku ingin tahu, Yahya Maulana sudah memberitahumu agar tidak mencari masalah denganku, tapi kamu mengabaikan semua omongan Yahya Maulana. Kamu bilang tidak boleh mencari masalah dengan orang botak itu, tetapi kamu malah berani mencari masalah sama aku!"


Wajah Iwan menjadi suram selama beberapa saat. Ketika Yahya Maulana terakhir kali menghubunginya, dia tidak menjelaskan latar belakang Gevariel, dia hanya mengancamnya agar tidak mencari masalah dengan Gevariel. Maka, tanpa disadari, dia berpikir bahwa Yahya Maulana adalah backingannya Gevariel!


Kali ini, Candra terlibat dalam masalah ini. Meskipun dia tidak ingin memiliki masalah dengan Yahya, dia tidak berani menghadapi Candra, jadi dia berencana mengabaikan Yahya terlebih dahulu, lalu meminta maaf dengannya setelah masalah ini selesai.


Menghadapi puluhan orang, Gevariel tetap sangat tenang. Dia menatap Iwan dengan tenang dan berkata, "Karena kamu memiliki hubungan yang baik dengan Yahya, aku akan membiarkanmu pergi kali ini dan tidak akan menyentuhmu sedikit pun. Tetapi ada syaratnya. Biarkan orang botak itu tetap di sini, dan kalian semua akan selamat."


Candra mengerutkan kening. Sebenarnya, di mata orang biasa, dia sudah dianggap sebagai seorang ahli, tapi dia bisa merasakan bahwa kekuatannya tidak sebanding dengan Gevariel! Dia telah membawa begitu banyak orang ke sini, jadi dia beranggapan, seberapa kuat Gevariel pasti akan tumbang juga jika harus melawan puluhan orang seperti ini, apa lagi mereka semua membawa senjata.


Namun, faktanya adalah bahwa Gevariel tetap angkuh. Dan sekarang, menghadapi begitu banyak orang, dia malah mengancam mereka.


Jika Iwan benar-benar pergi karena ketakutan dan membiarkan dia dan Gevariel berdua, mungkin dia tidak akan bisa mengalahkannya.


Mendengar perkataan Gevariel, dia menatap Iwan dengan cemoohan dan berkata, "Pikirkanlah, apa yang akan terjadi jika kamu membuatku marah!"


Iwan menghela nafas, menatap Gevariel, dan berkata, "Hmph, aku tidak peduli dengan latar belakangmu, tapi di Kota M, Kota ini adalah milikku, daerah kekuasaanku, kamu telah menghajar keponakanku di depanku, maka kamu harus memberi penjelasan."


Gevariel menyeka hidungnya dan berkata, "Baiklah, aku beri penjelasan untukmu. Jika kamu tidak membawanya ke rumah sakit dalam dua jam, maka dia akan mati!"


"Apa!" Wajah Iwan tiba-tiba berubah! Dia cepat-cepat mengangkat tangannya dan berkata, "Kalian berdua, cepat bawa Rofik ke rumah sakit!"


Dua orang datang dan mengangkat Rofik, lalu buru-buru pergi. Namun, Gevariel tidak menghentikan mereka, dia tetap berdiri di sana dengan tenang, bahkan berkedip pada Monica.