HELL WALKER

HELL WALKER
Bab 34 : Blood Rose



Di pintu masuk gedung kantor, Yahya Maulana keluar mengenakan jas dan sepatu kulit. Dia mengerutkan kening dan memandang Felix, bertanya, "Felix, apakah kamu datang ke sini untuk membuat kekacauan?" Felix mengertakkan gigi, memandang Yahya Maulana, dan berkata, "Om Yahya, Anda mengatakan bahwa siapapun dapat mengejar Amanda, jadi saya datang hari ini untuk menunjukkan keseriusan saya kepada Amanda, tetapi Amanda mengatakan kalau dia sudah punya pacar. Coba lihat, pria di sampingnya itu apakah layak untuk Amanda?" Yahya Maulana terkejut sejenak, lalu melihat ke sisi Amanda! Gevariel mengangkat bahu dengan pasrah.


Di mata Yahya Maulana, terlihat sedikit keterkejutan yang melintas, dan kemudian dia memandang Felix dan berkata, "Semua pria bisa mengejar Amanda setelah semua yang aku katakan, tetapi kamu tidak termasuk, jadi cepat pergi dari sini, kalau tidak aku akan meminta keamanan untuk mengusirmu!"


Felix "…..!"


Wajah Felix sedikit berubah. "Memangnya siapa kamu? Ayo keluar dari sini!" kata Yahya Maulana, lalu memandangi para penonton dan berteriak: "Mengapa kalian masih berdiri di sana? Apa kalian sudah bosan bekerja di sini?" Sekelompok besar orang bubar dengan cepat.


Yahya Maulana kemudian berkata: "Sekarang kamu sudah melihat kan? Amanda sudah punya pacar, jadi jangan pernah mengganggunya lagi. Amanda, naik ke atas bersamaku!" Senyuman di wajah Amanda menghilang dalam sekejap, dan dia melanjutkan berjalan menuju gedung kantor, memegang lengan Gevariel.


Gevariel terdiam, dan bergumam dalam hati “Anjaiii aku benar-benar dijadikan alat.”


Felix sudah pasti tidak berani bertindak anarkis di depan Yahya Maulana, tetapi ketika Gevariel melewatinya, dia berkata dengan wajah gelap, "Kamu akan berakhir!" Gevariel mengangkat bahu dengan acuh tak acuh dan mengikuti Amanda ke kantor.


Di lobi kantor, Yahya Maulana memandangi mereka berdua dan berkata, "Ahem, aku tidak menyangka kalian cepat sekali, tiba-tiba sudah pacaran .. ahaha.” Wajah Amanda sedikit memerah, dan saat dia hendak menjelaskan, Yahya Maulana berkata lagi: "Gevariel, jangan khawatir, aku sangat bahagia jika memiliki menantu sepertimu, segera cari hari yang baik. Aku akan mengatur pesta pernikahan untuk kalian!" Sudut mulut Gevariel berkedut beberapa kali, Yahya Maulana ini benar-benar ingin menjual putrinya.


"Ayah!" Amanda tersipu, dan dengan cepat melepaskan lengan Gevariel dan berkata, "Apa yang kamu bicarakan? Aku hanya tidak mau diganggu oleh Felix, jadi aku meminta Gevariel untuk membantuku mengatasinya."


"Ah, tidak juga. Sebenarnya, aku ditipu oleh Amanda" kata Gevariel tanpa terlalu terkejut.


Yahya Maulana terkejut, lalu menggelengkan kepalanya dan berkata, "Hei, aku memang sudah tua. Aku tidak mengerti dunia anak muda, aku tidak mengerti! Kalian silakan mengobrol berdua!" Saat dia berbicara, dia melihat Gevariel dan Amanda dengan penuh arti.


"Terima kasih!" Amanda berkata kepada Gevariel, "Sekarang kita impas." "Impas? Kamu sudah terlalu sering menyeretku ke dalam masalah dan sekarang kamu bilang impas?" Kata Gevariel sambil sedikit cemberut. "Kamu tidak tahu, aku sangat benci sama si Felix. Aku mengenalnya ketika aku masih kuliah, dan begitu seorang pria di sekitarku mendekatiku, dia akan mengancam dan memukuli mereka dengan brutal. Akibatnya, aku tidak punya teman laki-laki di sekitarku sekarang." Amanda berkata: "Aku melihatnya melakukan hal bodoh di bawah tadi, dan aku berpikir jika hanya kamu yang bisa membantuku saat ini.”


Kemudian, dia melengkungkan bibirnya dan menatap Gevariel dan berkata, "Oh ya, kemarin Monica memberitahuku jika ada beberapa pembunuh yang datang untuk membunuhku. Tapi kata Monica pada saat itu, kamu malah melarikan diri, jadi harunya kamu berutang budi padaku, dan sekarang kita impas.”


Gevariel tersenyum pahit di dalam hatinya, dia sudah malas, jadi dia tidak repot-repot menjelaskan apapun kepada Amanda, dia mengangkat bahu dan berkata: "Terserah kamu lah. Kalau sudah tidak ada urusan lain, aku mau pergi dulu.” "Kamu yakin ingin pergi? Felix dan yang lainnya masih di luar," kata Amanda.


Gevariel mengerutkan kening dan berkata, "Kalau begitu aku akan duduk sebentar sebelum pergi!"


"Hmph, kamu benar-benar pengecut, tidak heran kamu kabur kemarin.” Amanda memandangnya dan berkata dengan ekspresi aneh: “Tetapi apapun yang terjadi, kamu sudah membantuku, jadi malam ini aku akan mengajakmu makan malam, dan bertemu dengan temanku.. dia sangat cantik!"


Gevariel sudah pasti tidak akan lagi mempercayai omong kosongnya, tetapi untuk membantu Chesilia dan yang lainnya memastikan keselamatan Amanda, dia tetap setuju. "Oke, kalau begitu aku akan ikut kamu" ucap Gevariel dengan malas


"Kalau begitu kamu ikut masuk ke ruanganku dulu aja,” kata Amanda sambil menoleh.


...


Pada saat ini, di luar, Felix dan rombongannya pergi dengan wajah gelap.


Felix duduk di sana, dengan tangan kanannya memeluk seorang gadis seksi berwajah cantik! Pada saat ini, David membungkuk dan berkata, "Bang Felix, tenangkan dirimu, aku tahu Gevariel itu memang orang yang brengsek."


"Gevariel? Maksudmu cowok di sebelah Amanda? Apakah kamu mengenalnya?" Felix menatapnya dengan heran.


"Hmm!" David dengan sopan menyalakan sebatang rokok untuk Felix dan berkata, "Dia adalah mantan suami Pacar si Rio yang sekarang. Dua hari yang lalu, Pak Yahya mengadakan pesta dan Gevariel juga datang ke pesta itu."


Felix menggerakkan matanya dan berkata, "Ohhh… jadi Kamu dikeluarkan dari pesta oleh Om Yahya karena dia?"


"Ya, dan kemarin aku ingin memberinya pelajaran di bar milik Rofik.


Tetapi malam itu tiba-tiba Pak Yahya menelepon Rofik dan mengatakan jika Gevariel adalah temannya. Jadi bukan Gevariel yang dipukuli oleh Rofik, tetapi malah aku yang dipukuli!" ucap David dengan wajah kesal


"Jadi, dia sebenarnya tidak memiliki latar belakang apa pun di belakangnya?" Pandangan sinis melintas di mata Felix! Lalu dia meremas paha gadis disebelahnya! ...


Pada pukul empat sore, Amanda membawa Gevariel dan meninggalkan kantor lebih awal, walaupun sebenarnya itu belum waktunya untuk pulang kerja.


Tetapi perusahaan ini adalah milik ayahnya, jadi dia tidak peduli dengan aturan di kantor ini.


Saat ini, keduanya pergi menuju bandara. Di pintu keluar bandara, Amanda berdiri di sana dengan penuh harap, dia ngobrol dengan Gevariel yang berada di sebelahnya: "Jangan khawatir, aku tidak akan pernah mengecewakanmu. Kakak seniorku ini sangat cantik, bahkan dia bisa di bilang sebagai Primadona di Universitas Negri Kota B!" Gevariel bergerak dalam hatinya dan berkata, "Apakah kamu kuliah di Universitas Negri Kota B?"


"Jangan bilang jika kamu juga kuliah di sana?" Amanda bertanya dengan heran: "Lupakan saja, jika kamu juga kuliah di sana, mana mungkin kamu menjadi seorang kuli bangunan!" Sudut mulut Gevariel berkedut, dan dia tidak mau repot-repot menjelaskan sesuatu kepada Amanda.


Kota B hanyalah kampung halamannya! Tidak lama kemudian, orang-orang keluar dari pintu keluar satu demi satu. Amanda melambaikan tangan ke satu arah.


Pada saat ini, hati Gevariel tiba-tiba terkejut. Segera setelah itu, tatapannya dengan cepat terkunci pada seseorang. Itu adalah seorang wanita berbaju merah. Ketika dia keluar dari pintu keluar, dia menarik perhatian banyak pria.


Wanita itu mengenakan kacamata hitam dan pakaian yang sangat seksi, tingginya lebih dari 1,7 meter, dan memiliki perwakan tubuh yang sangat mempesona! Wanita itu sepertinya sudah terbiasa dengan penampilan seperti ini, jadi dia tidak peduli sama sekali dengan tatapan orang-orang di sekitarnya.


Dengan santai, dia menyeret sebuah koper dan berjalan melewati kerumunan.


Sudut mulut Gevariel menunjukkan sedikit cibiran dan berkata, "Tampaknya lelaki tua Erik Abian tidak bisa duduk diam karena kematian cucunya, Ezra Abian.


Blood Rose telah datang ke Kota M!" Gevariel sepertinya sudah mengenali siapa wanita itu, dia dikenal sebagai Blood Roses, pembunuh top dari Blood Lotus.


"Apa, cepat, ayo sini, aku akan meperkenalkan teman-temanku!" Amanda memanggil Gevariel.


Gevariel menutup matanya dan berbalik. Saat ini, ada tiga orang lagi di depannya, dua wanita dan satu pria! Saat mata Gevariel tertuju pada mereka, mata mereka juga melihat Gevariel, dan mata kedua orang itu tampak sedikit berubah! Segera setelah itu, tiga orang di seberang berkata pada saat yang sama: "Ini kamu?"