HELL WALKER

HELL WALKER
Bab 44 : Gevariel, ayo menikah lagi!!



"Dia baru saja bercerai, dan dia tinggal bersama seorang dokter yang sangat cantik. Ini orang yang terlalu aneh.


Nevan menundukkan kepalanya, tidak peduli seberapa enak makanannya, itu tidak berasa baginya. Bagaimana tidak, Nevan tidak bisa pamer di hadapan para gadis-gadis, bahkan dia melihat Gevariel menyelesaikan masalah yang tidak bisa dia selesaikan sama sekali, seperti saat dia mencoba mengeluarkan banyak uang untuk membayar pak Suman tetapi dia malah diusir oleh asistenya.


Sangat menyedihkan, wajahnya terlihat cemberut saat ini. Dalam suasana yang aneh, hidangan di atas meja habis dengan cepat! “Lihat!” pada saat ini, Nevan merasa sudah waktunya dia pamer dan menunjukkan kekayaannya, jadi dia melambaikan tangannya dan memanggil pelayan.


Lalu Amanda buru-buru berkata, "Kak Nevan, biar aku saja yang membayar semua tagihannya, kalian kan tamu di sini, jadi bagaimana bisa aku membiarkan seorang tamu membayar tagihan makanan seperti ini? Biarkan aku yang membayarnya!"


Nevan tersenyum pada Gevariel dan berkata, "Bukankah Gevariel yang akan membayar?" Ketika dia baru saja datang ke sini, dia mendengar cerita Amanda. Kalau harga makanan di sini bisa dikatakan mahal, bahkan sangat mahal. Walaupun tempatnya tidak mewah seperti di Grace City Hotel, namun harganya bisa dianggap setara dengan harga makanan di lantai atas hotel tersebut.


Untuk satu porsi makanan di sini, yang paling murah harganya 1 jutaan, dan hari ini banyak sekali hidangan yang dikeluarkan, jadi paling tidak total harganya hampir 20 jutaan, atau mungkin bisa lebih. Tentu saja, harga ini sepadan dengan kualitas rasa masakan di sini.


Tetapi dia tahu, pasti Gevariel tidak akan mempunyai uang sebanyak itu untuk membayar tagihan ini, jadi dia sengaja melakukan ini semua hanya untuk membuat Gevariel merasa malu.


Gevariel melengkungkan bibirnya dan mengabaikannya. Melihat Nevan, dia berkata dengan ringan, "Sepertinya aku dari tadi tidak mengatakan apa pun!" Nevan setengah tersenyum, mencibir dan berkata, "Hahaha, sudah aku duga, kamu pasti tidak memiliki uang untuk membayar makanan di sini. Lupakan saja, biar aku yang membayarnya... dasar kuli!"


Pada saat ini, Janu keluar, dan dia berkata dengan sopan kepada Gevariel: "Gevariel, tuanku sangat berterima kasih padamu… dan untuk makanan ini, ini adalah ucapan rasa terima kasih kami kepadamu, tidak perlu membayar, semuanya gratis, jika kamu ingin makan, datang saja kapan pun kamu mau... untukmu geratis selamanya!" Mendengar ini, mata Amanda dan Monica menunjukkan rasa iri.


Amanda buru-buru berkata, "Gevariel, lain kali kamu harus mengajakku kalau kamu mau datang ke sini."


Gevariel tersenyum, berdiri, dan berkata, "Kalau begitu aku akan berterima kasih kepada Om Janu dan Pak Suman." Setelah itu, semua orang pergi meninggalkan tempat makan, dan Amanda bertanya, "Kita akan pergi ke Gunung Biru, apakah kalian berdua juga mau ikut?" Gunung Biru adalah objek wisata lain di Kota M.


"Aku bebas hari ini, lagi nggak ada kerjaan," kata Monica, dan kemudian mereka melihat ke arah Gevariel lagi. Nevan mengerutkan kening. Jelas, dia tidak ingin mengajak Gevariel. “Aduh, aku masih ada urusan sore ini, jadi aku tidak ikut... kapan-kapan aja ya," ucap Gevariel kepada mereka.


Nevan menghela nafas lega di dalam hatinya, dan berkata , "Nah, gitu dong, ganggu aja!" Pada saat itu, Gevariel mendekat arah Monica dan berbisik: "Hati-hati saat di luar."


Ada dua aspek dari apa yang dikatakan Gevariel kepada Monica agar tetap berhati-hati. Pertama adalah kemungkinan serangan dari orang-orang Blood Lotus yang mengincar Amanda, dan yang kedua adalah mungkin Rofik dan Candra akan mencari masalah dengan Monica. Tentu saja, Hell Walker pasti diam-diam mengirim seseorang untuk menjaga Amanda. Monica dan Amanda relatif aman saat mereka bersama.


Setelah beberapa orang pergi, Gevariel berjalan ke arah rumah. Begitu dia tiba di gerbang komplek, ponsel Gevariel berdering, dia mengambil ponselnya dan melihat bahwa itu adalah panggilan telepon dari Akness.


Akness sebenarnya menunggunya saat ini. Ketika dia berada di gerbang komplek tadi, dia juga mengetahui jika Akness secara kebetulan melihatnya di dalam mobil bersama Monica. Dia tersenyum, lalu menghubungkan telepon, dan berkata dengan tenang, "Halo!"


Di ujung lain telepon, Akness berbicara dengan isak tangis: "Di mana kamu? Ayo keluar dan aku ingin ketemu sama kamu!" "Enggak, maksudku, aku punya sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu!" Akness berkata dengan suara yang terdengar terburu-buru, "Aku sudah ada di luar sekarang, bagaimana kalau di Caffe depan komplek?"


“Anjirr, apes banget aku hari ini." Gevariel dengan cemberut. Akness menggertakkan giginya lagi dan berkata: "Gevariel, ayo menikah lagi. Aku berjanji akan setia sama kamu, dan aku akan berusaha menjadi istri yang baik. Dan juga selama kita menikah, kamu bahkan belum pernah menyentuhku sama sekali, bagaimana kalau kita malam ini menghabiskan waktu bersama, terserah kamu mau di mana aku nurut sama kamu. Ayo, kita harus segera mempunyai anak."


"Cukup!" Gevariel melambaikan tangannya dengan cepat dan berkata! Pada saat ini, Akness menangis, dia menatap Gevariel dan berkata, "Gevariel, aku benar-benar sudah tidak punya apa-apa. Apa kamu tega meninggalkanku seperti ini?"


Di gerbang Komplek Alam Indah Regency, rambut Akness sedikit berantakan, dengan air mata di wajahnya, dia menatap Gevariel dengan tatapan menyedihkan! Sangat berbeda jauh dengan penampilannya kemarin, saat itu dia masih terlihat angkuh dan sombong saat bertemu Gevariel, tetapi saat ini, dia benar-benar menyedihkan.


Dalam beberapa hari, sikapnya sangat berbeda, ini adalah fakta yang harus diterima dari seorang Akness.


"Gevariel, kenapa kamu sangat tega denganku?" Akness menatap Gevariel dan berkata dengan nada yang hampir memohon.


Gevariel merinding di seluruh tubuhnya. Tidak masalah jika yang mengatakannya adalah cewek lain, tetapi saat ini yang mengatakannya adalah Akness.


"Sudah, cukup," Gevariel berkata dengan tenang. "Pernikahan kita adalah sebuah kesalahan. Aku kehilangan ingatanku saat itu. Dan untuk membalas kebaikan ayahmu, aku terpaksa mengiyakan permintaan ayahmu untuk menikah denganmu. Jadi sebenarnya pernikahan kita itu hanya sekedar formalitas, yang tanpa perasaan cinta di dalamnya!"


Ya, itu adalah kesalahan bagi mereka untuk menikah. Jika Gevariel tidak kehilangan ingatannya saat itu, dia tidak akan menyukai gadis pemuja uang seperti Akness. Jika selama tiga tahun terakhir, Akness dan Ratna memperlakukannya dengan baik, mungkin itu tidak masalah baginya. Tetapi ibu dan anak ini kelakuannya sangat kejam!


"Dan yang kedua, apa kamu ingat bagaimana kamu memperlakukanku dalam tiga tahun terakhir? Aku pikir semua ini sudah cukup, aku juga sudah memberikan rumah yang aku beli kepadamu," Gevariel berkata dengan ringan.


"Dan yang ketiga, meskipun pernikahan kita hanya pernikahan formalitas, tetapi lihat, kamu berselingkuh dengan Rio, dan aku tetap sabar menerima, bahkan aku tidak ada niat untuk membalasmu. Ini adalah batas kesabaran yang bisa aku tanggung. Saat ini, ketika kamu mengetahui bahwa ternyata aku kaya, dan ketika Rio sudah tidak mau lagi denganmu, kamu sekarang mencariku dan ingin menikah lagi denganku? Kamu menganggapku apa, cadanganmu?" Nada bicara Gevariel sangat datar!


Kata-katanya sangat kasar, tetapi juga benar. Akness menangis dan berkata, "Aku tahu, aku tahu, ini semua karena kesalahanku sendiri, tidak bisa menjadi istri yang baik selama ini, aku benar-benar salah, aku mohon..beri aku kesempatan satu kali lagi!"


Gevariel berkata dengan acuh tak acuh: "Dengarkan baik-baik, mulai sekarang kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, sekarang dan seterusnya aku tidak akan pernah perduli lagi dengan apa yang terjadi dalam hidupmu, jangan pernah menggangguku lagi, terutama ibumu. Jika dia tetap pergi ke perusahaanku untuk membuat masalah lagi, jangan salahkan aku karena bersikap kasar."


Akness tertegun. Dia, Ratna, dan Anita mengira Gevariel pasti masih menyukainya. Tetapi apa yang ditunjukkan Gevariel sekarang sudah jelas.


Pada saat yang sama, dia tersenyum kecut di dalam hatinya dan berkata, "Ya, semua wanita di sekitarnya cantik-cantik tidak kalah dengan penampilanku. Sekarang dia kaya, dan dia pasti bisa menemukan wanita yang lebih baik dariku. Dia pasti akan meremehkanku."


Akness berbicara dalam hati. Gevariel tidak memperhatikan Akness, berbalik, dan kembali ke rumahnya. Akness berdiri mati rasa di depan gerbang komplek, melihat punggung Gevariel, dia merasa sedikit bingung! Dalam beberapa hari, hidupnya berubah drastis.