HATRED

HATRED
Pandangan Tajam



Jessie... Jessie...


Riuh suara wanita mengiringi pertandingan bola basket di lapangan sebuah sekolah. Tampak laki-laki tampan di lapangan dengan mahirnya memainkan bola basket melewati lawan-lawannnya.


Dia adalah Jessie, laki-laki sempurna dan kaya yang menjadi idola para wanita di sekolahan tersebut.


"I love you Jessie...!" terdengar seorang wanita berteriak.


"Jessie jadilah pacarku!" tambah yang lainnya.


Tidak ada malu-malunya para wanita terus meneriakkan kata-kata seperti itu. Kemudian laki-laki yang namanya terus dielu-elukan tersebut melambai pada mereka sehingga membuat mereka berteriak histeris.



"Cih..." terdengar suara dari mulut Vin. Dia yang sedari tadi melihat pemandangan itu dari jendela di depan kelasnya merasa sangat kesal. Bukannya dia iri, lagi pula dia juga tidak terlalu peduli dengan wanita. Hanya saja menurutnya pemandangan seperti itu menyebalkan.


Vin memandang Jessie dan berpikir untuk memberi Jessie sedikit pelajaran yang akan membuatnya malu di depan para penggemarnya.


Jessie menggiring bola dan melemparkannya ke keranjang, tapi tiba-tiba bola berubah arah sehingga membuat tembakannya meleset.


Jessie bersiap menangkap bola yang dioper oleh temannya, tapi lagi-lagi bola tersebut berubah arah dan jatuh ke pemain lawan.


Kejadian itu terus berulang-ulang hingga membuat Jessie kelihatan kesal.


"Rasakan ini," gumam Vin.


Seketika bola melayang dengan kuat dan mengenai wajah Jessie hingga membuatnya tersungkur dan hidungnya berdarah. Teman-temannya bergegas menolongnya.


"Aku baik-baik saja," kata Jessie.


Jessie bangkit dan melihat sekeliling, seolah-olah mencari sesuatu. Pandangannya pun terhenti ketika dia melihat Vin ada di jendela lantai dua. Jessie memandang Vin sejenak.


Vin merasa heran, kenapa Jessie memandangnya seperti itu. Bukannya mustahil jika Jessie tau kalau itu adalah perbuatannya.


Kemudian Jessie meninggalkan lapangan, sepertinya dia tidak berminat lagi untuk melanjutkan pertandingan tersebut.


"Vin,"


Vin menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya dan mendapati Gilang sudah berdiri di belakangnya. Ngapain Gilang ada di sini pikir Vin.


"Ada apa?" tanya Vin.


"Aku ingin bertanya soal peristiwa pot melayang yang membuat Hendi jatuh dari jendela waktu itu." kata Gilang.


"Pot melayang apa? Hendi jatuh karena aku tidak sengaja menabraknya waktu itu, tidak ada pot melayang."


"Jika kamu yang menabrak Hendi, kenapa kamu bilang kalau aku adalah orang yang melempar pot itu pada Hendi?" kata Gilang yang membuat Vin terdiam. "Hendi sudah cerita semuanya kalau pot itu tiba-tiba melayang dan mengenai tubuhnya."


Vin memandang Gilang, mungkinkah Gilang tau kalau itu perbuatannya.


"Apa kamu tau siapa orang yang melempar pot itu?" tambah Gilang.


Vin jadi legah ternyata Gilang tidak berpikir kalau itu adalah dia. "Aku tidak tau siapa orang itu."


"Jika kamu tidak tau siapa orang itu, kenapa kamu mencoba melindunginya?"


"Aku tidak melindungi siapa-siapa," jawab Vin.


"Jika kamu tidak melindungi siapa-siapa, kenapa kamu mengakui kalau itu perbuatanmu?" cecar Gilang.


"Hendi menuduhku yang melakukannya. Jika aku bilang ada pot yang tiba-tiba melayang sendiri, apa kamu pikir kepala sekolah akan percaya?"


Gilang terdiam sejenak, kata-kata Vin ada benarnya juga. "Lalu kenapa kamu bilang pada Hendi kalau aku yang melakukannya?"


"Agar Hendi tidak terus menggangguku. Berhubung kamu yang ada di hadapanku waktu itu, jadi aku bilang itu kamu."


"Tapi itu tidak baik."


"Lalu apa maumu, membuat perhitungan denganku?" tanya Vin.


"Tentu saja tidak," jawab Gilang. "Aku hanya berpikir mungkin kamu tau siapa yang melempar pot itu, karena itu aku bertanya."


"Kenapa kamu ingin tau siapa orang itu?"


Gilang bingung, tidak mungkin dia bilang ke Vin soal orang tak terlihat itu.


Vin memandang Gilang yang kebingungan. Vin tau pasti ini ada hubungannya dengan orang tak terlihat yang telah menghajar Hendi dan teman-temannya kemarin.


"Apa Hendi melakukan sesuatu padamu?" Tanya Vin kemudian mengganti topik pembicaraan.


"Oh... tidak ada," kata Gilang. "Kalau begitu, sampai ketemu lagi."


Vin heran kenapa Gilang harus berbohong padanya. Jelas-jelas Hendi dan teman-temannya sempat memukulinya kemarin. Lagi pula jika dipikir-pikir, kenapa tidak ada berita apa-apa soal kejadian kemarin. Padahal Hendi dihajar habis-habisan oleh orang tak terlihat tapi anak-anak tidak ada yang membicarakannya.


Terserahlah pikir Vin. Dia pun berniat pergi le kantin untuk makan siang. Tapi di perjalanan dia bertemu Hendi.


"Bukankah kemarin sudah aku beri tau hah," kata Vin kesal.


"Kapan? kamu belum memberi tau kami."


Vin diam sejenak, melihat wajah Hendi dan teman-temannya yang masih lebam-lebam."Lalu kenapa wajah kalian babak-belur jika bukan temanku yang menghajar kalian kemarin?"


"Ini karena kemarin kami jatuh saat naik motor, bukan karena dihajar oleh seseorang."


Vin memandang Hendi dan teman-temannya yang sepertinya memang lupa akan kejadian kemarin. Sudah pasti ini ulah Alisa pikirnya.


"Baiklah, aku akan memberi tau siapa temanku yang melempar pot itu padamu."


"Siapa, siapa?" tanya Hendi tidak sabar.


"Dia." Vin menunjuk Jessie yang sedang minum di sisi lapangan.


Hendi dan teman-temannya berpandangan lalu berkata, "Kamu bohongkan?"


"Kenapa aku harus bohong padamu, sebaiknya kalian hajar dia sekarang," kata Vin.


Hendi memandang teman-temannya sesaat, terlihat teman-temannya menggeleng. Kemudian mereka pun pergi menjauh dari tempat itu.


"Hey!" teriak Vin. "Kalian mau kemana? Kalian gak akan menghajarnya?"


"Sial, ternyata mereka takut sama Jessie." gumam Vin.


Vin melanjutkan perjalanannya menuju kantin dan lewat di depan Jessie. Tapi lagi-lagi Jessie memandangnya tajam. Vin pura-pura tidak memperhatikannya dan terus berjalan. Tak lama kemudian, Vin menoleh. Dia ingin tau apakah Jessie masih memandangnya atau tidak, tapi ternyata Jessie masih memandangnya.


"Ada apa dengan anak itu," batin Vin.


* * *


Malam semakin larut, suasana mini market tampak kosong oleh pelanggan. Karena itu, Vin menggunakan kekuatannya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Barang-barang pun beterbangan menuju tempatnya masing-masing.


"Krincing," terdengar suara pintu depan terbuka. Vin menghentikan pekerjaannya dan melongok ke pintu depan, tapi tidak ada siapa-siapa.


Vin berpikir mungkin orang tersebut sudah masuk, karena itu dia berkeliling mencari di sekitar ruangan mini market tapi tetap tidak ada siapa-siapa.


"EGGH... " Tiba-tiba Vin merasa lehernya seperti dicekik oleh seseorang.


Vin memegang lehernya dan merasakan ada tangan yang mencekiknya. Vin mencoba melepas tangan tersebut tapi tidak berhasil.


Tubuh Vin terdorong hingga membentur dinding dan sedikit terangkat. Vin memukul-mukul tubuh orang yang tidak terlihat di hadapannya, tapi tidak berguna.


Wajah Vin mulai pucat, cekikan itu semakin kuat di lehernya sehingga membuatnya sulit bernapas.



"Krincing," suara pintu mini market terbuka. Seketika cekikan di leher Vin lepas.


"Hah hah hah." Vin mengambil napas dan segera berlari ke pintu depan.


"Kenapa lari-lari?" tanya seorang laki-laki yang ada di meja kasir.


"Tidak apa-apa," kata Vin. "Kakak beli apa?"


"Ini." Laki-laki itu meletakkan soda dan makanan ringan di meja kasir. Vin memasukkannya ke kantung dan memberikannya pada pelanggan tersebut.


Sesaat setelah pelanggan tersebut pergi, Vin pun keluar dan berlari meninggalkan mini market. Dia sangat takut dengan orang yang tak terlihat yang baru saja menyerangnya.


Vin terus berlari sambil sesekali melihat ke belakang, takut kalau orang tersebut mengejarnya. Setelah berlari sekitar lima menit, dia pun berhenti.


"Tunggu dulu, host host," gumamnya ngos-ngosan. "Kenapa aku berlari seperti seorang pengecut? Dia bukan hantu, dia manusia sama seperti aku. Hanya saja, dia tidak terlihat. Lalu apa yang aku takutkan?"


Vin berdiam diri sejenak memandang mini market yang dia tinggalkan di kejauhan. Kemudian dia memantapkan hati untuk kembali ke sana.


"Apa kamu masih ada di sini?" kata Vin memasuki mini market dengan perlahan. "Kamu mau main-main denganku?"


Mata Vin melirik ke kiri dan ke kanan. Dia yakin orang tersebut masih ada di dalam mini market. Kemudian dia melihat tumpukan paku yang ada di sudut ruangan dan seketika ribuan paku tersebut beterbangan memenuhi ruangan mini market.


"Mungkin tubuhmu tidak terlihat," kata Vin. "Tapi aku yakin, benda-benda ini akan tetap bisa melukaimu, BENAR KAN!" Seketika paku-paku tersebut terlempar ke setiap sudut ruangan dan menancap di mana-mana.


Suasana hening, tidak ada tanda-tanda kalau orang tak terlihat itu masih ada di dalam mini market. Vin berjalan perlahan mengelilingi ruangan mini market.


"BUAKK... " Pukulan mendarat tepat di perut Vin hingga membuat tubuhnya terpental.


"Tap tap tap." Suara langkah kaki berlari menuju pintu depan. Dengan sigap Vin memandang tumpukan pisau yang tak jauh dari tempatnya berada.


"SWING... " Pisau-pisau beterbangan mengarah ke pintu depan dan terpental di jendela kaca seiring dengan terbukanya pintu. Sepertinya orang tak terlihat tersebut sudah keluar dari mini market.


Vin berdiri sambil memegangi perutnya yang sangat sakit menuju pintu depan, dia benar-benar marah dan berniat mengejar orang tersebut. Tapi tiba-tiba dia melihat banyak darah berceceran di lantai.


"Jadi..., dia kena," gumamnya.