
Seorang laki-laki paruh baya tampak gelisah di suatu ruangan di kantor polisi. Peluh pun mengalir dari pelipisnya yang sesekali disekanya.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka dan seorang wanita memasukinya.
"Apa salah saya, kenapa saya ditangkap?" kata Dani kepada wanita tersebut.
"Karena Bapak telah memberi keterangan palsu pada polisi," jawab Sandra menghampiri Dani.
"Keterangan palsu apa?" tanya Dani gugup. "Saya sudah mengatakan apa yang sebenarnya."
"Bapak bilang bahwa korban menghubungi Bapak ketika dia tidak masuk kerja karena dia tidak enak badan?"
"Memang begitu."
"Tapi menurut info dari seseorang, Bapak menyuruh korban pergi ke suatu tempat pada hari itu. Kemana Bapak menyuruhnya?"
Dani tampak terkejut mendengar penuturan Sandra. "Tidak, saya tidak pernah menyuruhnya kemana-mana. Siapa yang bilang begitu?"
"Saya tidak bisa bilang siapa orangnya. Katakan saja ke mana Bapak menyuruhnya?"
"Saya tidak pernah menyuruhnya ke mana-mana. Dia menelepon saya tidak bisa masuk kerja karena tidak enak badan." kata Dani bersikukuh dengan kata-katanya.
Sandra mulai kehilangan kesabaran dan dengan geram dia berkata pada Dani, "Sebaiknya Bapak katakan yang sebenarnya pada saya, ke mana Bapak menyuruh Citra pergi dan menemui siapa?"
"Maaf Bu, tapi Ibu sudah memojokkan saya. Saya bisa mengajukan tuntutan keberatan jika begini."
Sandra diam sejenak dan berpikir mungkinkah Yuni berbohong padanya. Tapi Dani tampak gelisah seperti orang bingung, seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu. Bukan Yuni yang berbohong, tapi Dani.
"Apa Bapak punya anak?" tanya Sandra kemudian. "Bagaimana jika kejadian yang menimpa korban terjadi pada anak Bapak?"
"Tapi bukan saya yang membunuh Citra!" seketika Dani berteriak.
Sandra memandang Dani tapi Dani memalingkan wajahnya berusaha menghindari kontak mata dengan Sandra. "Ketika saya kembali, saya mau Bapak mengatakan yang sebenarnya." Sandra berlalu meninggalkan Dani sendirian di ruangan tersebut.
Sandra berjalan menuju ruang kerjanya dan di sana dia bertemu dengan Arya dan Alisa yang sudah menunggunya.
"Loh, kalian ada di sini?" tanya Sandra yang membuat Alisa dan Arya bangkit dari duduknya.
"Kami butuh bantuan Kakak," kata Alisa.
"Soal apa?"
Alisa mendekati Sandra dan berbisik, "Keluarga Abraham."
"Oh ia soal itu," kata Sandra mengangguk-angguk. "Jadi, apa kalian sudah menemukannya?"
"Belum," jawab Alisa. "Kami sudah menanyai semua anak di sekolah Gilang tapi sepertinya dia tidak ada di sana."
"Mungkin dia memang tidak sekolah di sana," kata Sandra.
"Kami juga berpikir begitu," kata Arya. "Karena itu kami ke sini untuk meminta bantuan pada Kakak untuk menemukan orang tersebut."
"Aku sebenarnya ingin membantu kalian, tapi aku sedang menangani kasus yang sangat penting. Jadi, bisakah aku serahkan tugas ini pada kalian?"
"Tapi kami tidak tau harus mulai dari mana," jawab Arya bingung.
"Baiklah, aku akan memberi tau pada kalian dari mana harus memulai, ikut denganku."
Arya dan Alisa mengikuti Sandra berjalan di lorong kantor polisi melewati orang-orang yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tak lama kemudian, Sandra memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi kardus dan kertas-kertas. Untuk beberapa saat Sandra memilah-milah tumpukan kertas tersebut dan menarik sebuah dokumen.
"Kalian tau kalau korban adalah preman kan?" Sandra memandang Arya dan Alisa, mereka pun mengangguk.
"Aku menduga ini adalah balas dendam dari orang-orang yang pernah berselisih dengan mereka. Jadi mulailah dari sini," Sandra menyodorkan dokumen tersebut pada Alisa, "tanyai orang-orang yang berselisih dengan mereka."
Alisa mengambil dokumen yang disodorkan Sandra kemudian membukanya bersama dengan Arya. Mereka melihat foto dan daftar nama orang-orang yang pernah berselisih dengan para korban.
Sandra memandang Alisa. Mungkin dia bisa meminta tolong pada Alisa agar membuat Dani membuka mulut. Sandra tau ini dilarang tapi mungkin dia bisa membujuk Alisa.
"Alisa, apa kamu bisa membantuku?"
"Bantuan apa Kak?"
"Kakak sedang menangani kasus pembunuhan. Ada seorang tersangka yang sudah kami tangkap, tapi dia tidak mau membuka mulut. Bisakah kamu membuatnya bicara?"
"Ya aku tau, tapi ini berbeda. Korbannya adalah wanita yang masih sangat muda dan meninggalkan neneknya yang sudah tua sendirian. Aku hanya ingin memberinya keadilan. Jadi kali ini saja, aku mohon," paksa Sandra.
Alisa diam sejenak dan menundukkan wajahnya tidak berani memandang Sandra kemudian dia berkata, "Maaf kak, aku tidak bisa melakukannya."
Sandra tersenyum sinis mendengar jawaban Alisa. "Jadi kalian lebih memilih mencari keadilan untuk para preman itu dari pada gadis muda yang telah diperlakukan dengan tidak adil ini?"
"Maaf Kak," sanggah Arya, "kami tidak mencari keadilan untuk para pemuda itu. Kami hanya mencari keturunan Abraham yang mungkin membunuh para pemuda itu. Dan jika ternyata bukan dia yang membunuh mereka, maka kami tidak akan ikut campur."
"Ya aku rasa kamu benar, aku yang salah," tukas Sandra. "Tapi jika aku punya kekuatan seperti Alisa, kekuatan yang bisa mempengaruhi pikiran manusia, aku pasti sudah berhasil mengungkap semua kejahatan dan memasukkan mereka semua ke penjara. Memberi keadilan untuk para korban, agar mereka bisa hidup tenang di alam sana."
Suasana hening untuk sesaat, kemudian Alisa memberanikan diri untuk berkata, "Kakak tidak lupa kan kalau kita pengikut Orang Suci?"
Sandra memandang Alisa yang membuat Alisa kembali menundukkan wajahnya. "Ya... kamu benar, kita memang pengikut Orang Suci," kata Sandra menepuk bahu Arya dan berlalu meninggalkam mereka.
"Kenapa Kak Sandra bersikap seperti itu?" tanya Alisa ketika mereka meninggalkan kantor polisi.
"Mungkin karena pekerjaannya," jawab Arya. "Setiap hari dia harus berurusan dengan kasus pembunuhan dan tidak semua kasus tersebut bisa diselesaikan. Karena itu, mungkin dia merasa tertekan."
"Ya..., mungkin kamu benar," desah Alisa.
* * *
Sandra kembali ke ruangan di mana Dani berada dan kembali mengintrogasinya. Tapi hingga malam tiba, Dani tidak juga membuka mulutnya.
"Saya ingin menghubungi pengacara," kata Dani yang terlihat lelah dengan pertanyaan Sandra yang itu-itu saja.
"Tidak, tidak perlu. Bapak boleh pulang sekarang," kata Sandra sangat kesal.
"Jadi saya benar-benar boleh pulang?" tanya Dani kegirangan.
"Ya silakan."
Dani bergegas meninggalkan kantor polisi mengendarai mobilnya. Sandra mengikutinya, Sandra pikir Dani akan menemui seseorang, tapi ternyata Dani kembali ke restorannya.
Sandra mengeluarkan ponselnya. "Aku butuh bantuanmu, sekarang," katanya pada seseorang di saluran telepon.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil tampak berhenti di bawah cahaya lampu jalan yang temaram. Seorang laki-laki berbadan besar turun dari mobil tersebut, berjalan menghampiri mobil Sandra dan masuk ke dalamnya.
"Bantuan apa?" tanya Gibran.
"Kamu harus membantuku menangkap seseorang," jawab Sandra.
"Siapa?"
"Tersangka pembunuhan tempo hari, pemilik restoran itu." Sandra menunjuk restoran yang ada di seberang jalan.
"Ya sudah ayo kita ke sana, kamu bawa surat perintahnya kan?"
"Sudah ditangkap tadi tapi dia gak mau buka mulut, kita harus pakai cara lain."
"Lalu apa rencana kita?" tanya Gibran.
"Kita akan membawanya bersama kita. Kita tunggu hingga dia pulang."
Mereka pun menunggu di dalam mobil sambil memakan makanan siap saji.
"Kamu gak bilang ke Heru kan, aku menyuruhmu ke sini?" tanya Sandra sambil terus mengunyah makanannya.
"Enggak, aku bilang mau pulang."
"Baguslah, kalau dia tau dia pasti berusaha menghalangiku."
Sekitar satu jam kemudian, restoran di tutup. Para pekerja mulai keluar dan pulang ke rumahnya masing-masing. Namun belum ada tanda-tanda kemunculan Dani. Baru setengah jam kemudian, dia keluar dari restoran dan menuju ke mobilnya. Buru-buru Sandra dan Gibran mendekatinya.
Gibran memegang lengan Dani dan mendorong tubuh Dani masuk ke kursi belakang diikuti oleh Sandra yang langsung menutup wajah Dani dengan sebuah kantung dan memborgol tangannya. Mobil pun berjalan meninggalkan daerah tersebut.
"Apa mau kalian? Kalian mau menculikku," kata Dani panik. "Bukankah kalian polisi?"
Gibran dan Sandra diam saja yang membuat Dani semakin panik.