
Cahaya lampu remang-remang menerangi ruangan di sebuah rumah besar. Empat orang laki-laki paruh baya terlihat sedang duduk mengitari sebuah meja besar yang ada di ruangan tersebut. Sepertinya mereka tengah membicarakan sesuatu yang sangat serius.
"Gilang yakin kalau itu adalah keturunan keluarga Abraham," kata seorang laki-laki bertubuh sedang.
"Mungkinkah itu Bastian?" tanya laki-laki bertubuh besar.
"Entahlah, bisa jadi itu dia, keturunannya atau kerabatnya," tambah laki-laki bertubuh sedang lagi.
"Siapapun dia, kita harus menemukannya," kata laki-laki berwajah bersih.
"Aku sudah tidak sanggup lagi, tubuhku sekarang sudah sakit-sakitan. Aku tidak sesehat kalian," kata laki-laki bertubuh sedang.
"Guntur benar, sebaiknya kita serahkan masalah ini pada anak-anak kita. Sudah saatnya mereka meneruskan apa yang menjadi tugas kita selama ini," kata laki-laki bertubuh jangkung, "Adrian, sebaiknya kamu memanggil mereka."
"Baiklah," kata lelaki berwajah bersih seraya bangkit ke arah pintu ruangan tersebut.
Lelaki itu membuka pintunya dan melihat tiga orang anak yang sedari tadi menunggu di luar ruangan tersebut yang tidak lain adalah Alisa, Arya dan Gilang.
"Masuklah, kami ingin bicara dengan kalian,"
Mereka pun masuk ke ruangan tersebut mengikuti Ayah Alisa.
"Apa kami bisa menyerahkan tugas ini pada kalian? Seperti yang kalian ketahui, kami sudah terlalu tua untuk mengemban tugas ini lagi," kata Guntur.
"Aku akan melakukannya Ayah," jawab Gilang.
"Arya?" tanya laki-laki bertubuh besar.
"Tentu Ayah," jawab Arya.
Adrian memandang Alisa.
"Aku akan berusaha sebaik mungkin Ayah," kata Alisa.
"Sandra juga akan ikut membantu, aku akan menemuinya setelah pulang dari sini," kata laki-laki bertubuh jangkung.
"Sebaiknya sekarang kita pulang ke rumah, tubuhku yang tua ini sudah sangat lelah. Ayo Gilang," kata Guntur.
"Kalau begitu kami juga akan pulang, ayo Arya," kata laki-laki bertubuh besar.
Mereka pun pergi keluar dari ruangan itu meninggalkan laki-laki bertubuh jangkung dan Adrian.
"Aku permisi Ayah, Paman," pamit Alisa pada mereka.
"Bagaimana keadaan Lily sekarang?" tanya laki-laki bertubuh jangkung pada Adrian.
"Aku tidak mengenalinya lagi," kata Adrian.
"Jangan terlalu keras padanya, dia masih anak-anak." Laki-laki tersebut menepuk-nepuk bahu temannya dan berlalu meninggalkan ruangan itu.
"William," panggil Adrian pada laki-laki bertubuh jangkung, "apa yang harus aku lakukan?"
William terdiam sejenak kemudian menoleh dan berkata, "Mungkin kasih sayang bisa membuatnya berubah."
William berlalu meninggalkan Adrian yang terdiam mendengar ucapannya. Setelah sampai di pintu depan, tubuhnya menghilang berganti dengan cahaya kebiruan yang melesat ke atas.
* * *
Kelap-kelip lampu mobil bertuliskan "POLISI" tampak menerangi sebuah wilayah yang ditumbuhi oleh rerumputan liar di sekitarnya. Beberapa polisi terlihat sedang hilir-mudik mengerjakan sesuatu.
Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti dan seorang wanita muda keluar dari mobil tersebut bergegas menuju ke sebuah lokasi.
"Di mana?" tanya wanita itu pada seorang polisi.
"Di sana," jawab seorang polisi seraya mengantarkan wanita tersebut ke suatu tempat.
Wanita itu berhenti sejenak ketika dia melihat sesosok mayat seorang wanita meringkuk di semak-semak.
Wanita itu mendekatinya, mengamati wajah si mayat. Wajah mayat itu masih sangat muda, mungkin usianya sekitar 19 atau 20 tahun.Untuk sesaat wanita itu memeriksa tubuh mayat wanita malang tersebut. Kemudian dia berkeliling di sekitar area kejadian.
"Bawa dia ke rumah sakit, aku ingin hasil otopsinya ada di mejaku sesegera mungkin."
Para polisi pun membawa mayat wanita malang tersebut.
"Siapa yang pertama kali menemukannya?" tanya wanita itu pada seorang polisi.
"Dia ada di sana, aku antar ke sana,"
Wanita itu pun bertemu dengan seorang laki-laki paruh baya berpakaian lusuh dan badan kotor.
Wanita itu mengulurkan tangannya pada laki-laki tersebut. "Perkenalkan Pak nama saya Sandra. Saya detektif yang akan menangani kasus ini." Laki-laki tersebut menjabat tangan Sandra untuk sesaat.
"Siapa nama Bapak?"
"Saya Udin buk."
"Pak Udin bisa ceritakan bagaimana Bapak menemukan tubuh si korban? Saya tau Bapak sudah menceritakan pada rekan-rekan saya, tapi saya ingin mendengarkan penuturan dari Bapak secara langsung."
"Begini Buk," Udin memulai ceritanya, "Seperti biasa, saya sedang mulung di jalanan terus saya kebelet pipis lalu saya masuk ke semak-semak. Pas saya sedang pipis, saya melihat onggokan sesuatu di kejauhan, karena penasaran saya dekati. Eh.. ternyata mayat, terus saya langsung lari dan teriak-teriak, terus orang-orang pada datang."
"Bapak masih mulung tengah malam begini?"
"Iya Buk, mau bagaimana lagi. Mulung siang malam saja masih belum cukup memenuhi kebutuhan keluarga. Anak saya lima buk dan semua butuh biaya."
"Baiklah," kata Sandra, "Apa pada saat Bapak menemukan mayat korban, Bapak melihat ada orang lain di sana?"
"Gak tau saya Buk, saya langsung lari saat melihat mayat itu, saya gak liat ke mana-mana."
"Baiklah. Kalau begitu, boleh saya minta alamat Bapak?"
"Kenapa Buk, apa saya akan di tangkap? Dari tadi saya gak boleh pulang."
"Tidak Pak, mungkin kami butuh informasi tambahan dari Bapak di kemudian hari."
"Jika Bapak mengingat sesuatu, tolong hubungi saya di nomor ini." Sandra memberikan kartu namanya.
Udin bergegas meninggalkan lokasi kejadian.
"Tunggu Pak." Sandra mengejar Udin merogoh sakunya dan memberikan sesuatu padanya.
Udin melihat sejumlah uang di tangannya. "Ini apa Buk?"
"Untuk beli makanan buat anak-anak Bapak."
"Terima kasih Buk, terima kasih," kata Udin sambil mencium tangan Sandra.
"Sama-sama Pak, sama-sama," kata Sandra merasa tidak enak.
Udin pun meninggalkan Sandra dengan wajah bahagia karena besok dia bisa memberikan makanan enak buat anak-anaknya.
"Selalu dermawan," terdengar suara seseorang di belakang Sandra. Sandra menoleh dan melihat seorang laki-laki berdiri di sana.
"Heru, ngapain kamu ada di sini?"
"Cuma melihat-lihat."
"Tumben sendirian mana si Gibran?"
"Dia sudah pulang dan tidur dengan istrinya. Begitulah enaknya kalau punya istri."
Sandra diam saja, hari ini dia sedang tidak berkenan menanggapi candaan Heru.
"Pembunuhan lagi?"
"Begitulah, seorang wanita yang masih sangat muda."
"Akibat kematian?"
"Entahlah, aku harus menunggu hasil otopsinya terlebih dahulu," kata Sandra. "Bagaimana dengan kasusmu?"
"Tidak ada kemajuan, satu-satunya saksi yang selamat juga terbunuh kemarin malam."
"Sudah pasti itu balas dendam, cek saja orang-orang yang pernah mereka sakiti."
"Aku rasa kamu benar, masalahnya terlalu banyak yang mereka sakiti. Bahkan orang-orang di lingkungan itu bersyukur atas kematian mereka." Sandra tersenyum mendengar penuturan Heru.
"Ya sudah mau ke mana sekarang? Mau pulang bareng?" tanya Heru.
"Aku bawa mobil sendiri, sepertinya aku akan kembali ke kantor. Masih banyak yang harus dikerjakan."
"Pulanglah sebentar dan tidur, kamu butuh istirahat."
"Aku tidak bisa tidur sebelum aku menyelesaikan pekerjaanku," kata Sandra.
"Ya sudah aku duluan, sampai ketemu besok di kantor."
Heru mengendarai mobilnya dan melambai pada Sandra sebelum pergi.
"Dia laki-laki yang baik ya."
"Aahh." Sandra tersentak ketika tiba-tiba seorang laki-laki setengah baya bertubuh jangkung sudah berdiri di sampingnya.
"Ayaaah, bisakah kalau datang gak ngagetin!" teriak Sandra.
William terkekeh melihat putrinya yang cemberut.
"Dari mana Ayah tau aku ada di sini?"
"Dimana ada kejadian di sana pasti ada kamu kan?" jawab William. "Pembunuhan lagi?"
"Ya, seorang wanita muda."
"Sepertinya dunia ini memang tidak akan pernah damai," desah William.
"Selama orang jahat masih hidup di dunia ini, dunia tidak akan pernah damai," kata Sandra.
"Orang jahat itu seperti apa?"
"Apa maksud Ayah bertanya seperti itu? Tentu saja orang yang menyakiti orang lain, orang yang mengambil nyawa orang lain."
"Ya, aku rasa kamu benar," kata William.
"Ngomong-ngomong Ayah ngapain ke sini?"
"Sepertinya keluarga Abraham sedang berulah. Arya, Alisa dan Gilang sedang menyelidikinya, sebaiknya kamu membantu mereka bagaimanapun juga ini merupakan tanggung jawab kita."
"Apa yang dia lakukan?"
"Pembunuhan para pemuda yang terjadi beberapa hari yang lalu."
"Maksud Ayah para preman itu, jadi itu ulah keluarga Abraham?"
"Kami belum yakin, menurut saksi yang sempat selamat sebelum akhirnya dia juga terbunuh, mereka diserang oleh Hantu. Hantu identik dengan kekuatan yang dimiliki oleh keluarga Abraham yang bisa membuat tubuh mereka tidak terlihat. Kemudian Gilang mendapati di sekolahnya ada keturuanan keluarga Abraham. Jadi bisa jadi itu dia."
"Mungkin mereka memang pantas mati," celetuk Sandra, "sudah terlalu banyak orang yang mereka sakiti. Berkali-kali aku melihat mereka keluar masuk penjara tapi mereka tidak jera."
William memandang Sandra lalu berkata, "Kalau begitu si pembunuh itu adalah orang baik, walaupun dia mengambil nyawa orang lain?"
Sandra terdiam mendengar perkataan ayahnya.
"Kita kadang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Baik dan buruk itu hanya persepsi manusia semata. Ketika seseorang merasa diuntungkan oleh suatu kejadian, maka dia akan berkata itu baik. Tapi ketika seseorang dirugikan oleh suatu kejadian, maka dia akan berkata itu buruk."
"Aku tidak mengerti maksud Ayah," kata Sandra.
"Kamu tidak harus mengerti. Tapi satu hal yang pasti," William memegang bahu anaknya dan menatapnya tajam, "membunuh tetaplah membunuh walaupun yang dibunuh itu adalah sampah sekalipun."