
Vin perlahan membuka matanya ketika matahari pagi menerobos masuk melalui jendelanya, menerpa wajahnya dan menyinari seluruh ruangan kamarnya yang tidak begitu luas.
Seketika kekecewaan hadir dari dalam dirinya. Dadanya terasa sakit dan sesak menyadari bahwa hari ini dia masih bisa bernafas, menyadari bahwa hari ini dia akan mengalami hari yang buruk sama seperti hari-hari sebelumnya.
Setiap malam sebelum tidur dia selalu berdoa agar pagi tidak pernah datang, bahwa dia akan mati dalam tidurnya dan mendapat kehidupan yang lebih baik di dunia yang lain. Tapi sepertinya doa itu belum juga terkabul hingga saat ini.
Padahal seingatnya dia sudah cukup lama berdoa. Ya... mungkin lebih dari sepuluh tahun ketika dia menyadari dunia ini sangat kejam, ketika dia menyadari bahwa tidak ada orang yang menginginkannya dan ketika dia menyadari bahwa tidak ada orang yang menyayanginya.
Dia hanya berbaring diam di tempat tidurnya sambil sesekali mengedipkan matanya. Tidak sedikitpun keinginan dalam dirinya untuk bangkit dari tempat itu. Tidak sedikitpun keinginan dalam dirinya untuk menjalani hari yang menyebalkan itu. Tapi sepertinya keinginan itu harus sirna ketika dia mendengar suara gedoran di pintu kamarnya.
"Bangunlah pemalas dan kerjakan tugasmu!" terdengar teriakan seorang laki-laki di balik pintu kamarnya.
Vin hanya diam dan tidak bergeming sedikitpun. Kejadian seperti itu sudah biasa baginya, sehingga dia tidak akan terkejut lagi saat mendengarnya.
Gedoran itu semakin lama semakin kuat, menggetarkan barang-barang yang ada di sekitarnya dan hampir merobohkan pintunya.
"Aku bersumpah akan membunuhmu saat kamu keluar!" teriak suara itu lagi sambil terus menggedor pintunya.
Vin bangkit dan membuka pintunya. Di hadapannya berdiri seorang laki-laki tinggi besar dengan sedikit jambang di dagunya, bermuka garang dan siap untuk menghajarnya habis-habisan.
"Ingin membunuhku, lakukan saja," kata Vin memandangnya dingin.
Seketika kepalan tinju mendarat di wajahnya. Membuat tubuh Vin terpental dan jatuh di lantai. Sepertinya tubuhnya yang kecil tidak sanggup untuk menahan pukulan sekuat itu. Pukulan dari seseorang yang tiga kali lebih besar darinya.
Ya.. tubuh Vin memang cukup kecil untuk anak yang berusia hampir 15 tahun. Dengan tinggi tidak sampai160 cm, kecil, kurus seperti anak yang kekurangan gizi. Atau mungkin memang kekurangan gizi karena selama ini dia tidak di urus dengan baik di keluarga itu. Atau mungkin karena jiwanya tertekan sehingga membuat pertumbuhannya lambat. Entahlah.
Tapi walaupun begitu, sebenarnya dia memiliki wajah yang cukup manis jika dia mau merawatnya dengan baik. Tapi sayangnya dia tidak menyadarinya atau memang tidak peduli.
"Hay hay sudahlah, nanti dia bisa mati," kata seorang wanita yang berada di suatu ruangan yang tak jauh dari kamar Vin.
"Bangun dan kerjakan tugasmu, SEKARANG!" teriak laki-laki itu.
Dengan perlahan Vin bangkit, berjalan menuju dapur dan membuat sarapan seperti yang dia lakukan setiap hari.
Seorang wanita muda menghampirinya dan berkata, "Aku heran, kenapa kamu selalu melawan ayahmu?"
"Dia bukan ayahku," jawab Vin tanpa menoleh pada wanita itu.
"Tapi dia pernah menikah dengan ibumu kan? itu berarti dia adalah ayahmu," sanggah wanita itu lagi.
Kali ini Vin tidak menanggapinya. Dia terlalu malas untuk berdebat dengan istri baru ayahnya itu. Istri yang baru ayah tirinya nikahi beberapa bulan yang lalu. Dia adalah wanita kelima yang dinikahi ayah tirinya setelah ibu kandung Vin meninggal. Wanita muda berusia sekitar 30-an, berwajah oval, bertubuh tinggi dan langsing serta berambut ikal sebahu.
Bisa dibilang dia wanita yang cukup cantik. Lalu kenapa dia mau menikah dengan ayah tiri Vin yang sudah berumur? itu karena dia bukan wanita baik-baik. Sama seperti wanita-wanita sebelumnya yang ayah tiri Vin nikahi. Vin yakin ini juga hanya akan bertahan beberapa saat dan ayah tirinya akan mencari penggantinya yang baru. Vin muak dengan hal ini. benar-benar muak.
"Apa kamu punya pacar?" tanya wanita itu lagi tapi Vin hanya diam. "Baiklah aku anggap itu tidak."
Wanita itu mendekatinya. "Kamu tau, sebenarnya kamu punya wajah yang cukup manis."
"Menjauhlah dariku." Vin memandangnya tajam.
Wanita itu tersenyum dan menjauh. "Aku hanya bercanda."
"Veronika sayang, kemarilah!" teriak Ayah Vin yang berasal dari ruang tamu yang tak jauh dari sana.
"Aku datang," jawab wanita itu sambil berlalu meninggalkan Vin.
"Oh ia," wanita itu berbalik, "tolong punyaku telurnya jangan terlalu matang karena aku tidak suka."
"Kamu tau," kata Vin memandang wanita itu, "sebentar lagi aku akan menendangmu dan baj*ng*n itu keluar dari rumah ini."
"Wah... aku sangat takut mendengarnya." Wanita itu tersenyum sambil menutup mulutnya seolah-olah mengejek Vin dan berlalu meninggalkannya.
Vin mengepalkan tangannya menahan kemarahannya.
Sesaat kemudian Vin sudah selesai dengan menu sarapannya. Dia meletakkan nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya serta kopi untuk ayahnya di meja makan dimana ayah dan istrinya sudah menunggu.
Vin bergegas pergi ke kamarnya bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Dimana di sekolah pun akan banyak kejadian yang tidak menyenangkan seperti hari-hari sebelumnya. Entah kenapa semua orang berusaha untuk menindasnya.
"Brakk!" Terdengar suara pintu depan tertutup saat Vin melewatinya.
"Apa dia sudah pergi?" tanya Ayah Vin pada Veronika.
"Aku rasa begitu," jawab Veronika sambil melongok ke pintu depan.
"Huh," Ayah Vin menghembuskan nafasnya dengan legah.
"Kenapa?" tanya Veronika memandang suaminya yang terlihat mengkhawatirkan sesuatu.
"Semakin lama anak itu semakin mengerikan,membuatku takut saja," keluh Ayah Vin.
Veronika melongo mendengar penuturan suaminya. "Kamu takut dengan anak kecil seperti dia? Apa kamu tidak malu dengan badanmu yang seperti seorang pegulat."
Memang cita-cita ayah Vin dulu ingin menjadi seorang pegulat. Karena itu dia memiliki tubuh yang kekar dan kuat. Walaupun kini cita-citanya tidak tercapai, tapi dia masih rajin berolahraga untuk menjaga bentuk tubuhnya.
"Apa kamu tidak menyadari kalau anak itu sangat mengerikan? Dia memiliki aura yang sangat jahat," kata Ayah Vin.
"Aku tidak menyadarinya, menurutku dia cukup manis," kata Veronika sambil menikmati nasi gorengnya. "Mungkin itu hanya ketakutanmu saja karena selama ini kamu selalu berbuat jahat padanya."
"Mungkin aku harus menyingkirkannya, sehingga aku bisa hidup dengan tenang," kata ayah Vin sambil menyeruput kopinya.
"Atau mungkin dia yang akan menyingkirkanmu duluan," kata Veronika yang membuat Ayah Vin memandangnya masih tetap dalam keadaan meminum kopinya. "Apa kamu tidak berpikir dia memasukkan sesuatu kedalam kopimu."
"BRUUTT!"
"SIIIALL!" teriak Veronika seraya bangkit dari tempat duduknya ketika suaminya menyemburkan kopi yang baru diminumnya tepat di wajahnya.
"Maaf-maaf." Ayah Vin segera bangkit dan mengelap wajah Veronika dengan tisu yang ada di meja.
* * *
Vin berjalan lambat di sebuah jalanan sepi yang tidak begitu lebar. Dimana di samping kirinya terdapat lapangan sepak bola yang cukup luas yang di kelilingi oleh pagar kawat dengan ketinggian kurang lebih 2,5 meter. Sedangkan di samping kanannya berdiri beberapa bangunan pertokoan yang masih dalam keadaan tertutup.
Dia menghentikan langkahnya dan matanya tertuju pada empat orang pemuda yang sedang nongkrong tak jauh dari tempatnya berada, mungkin sekitar 20 meter.
Mereka adalah para berandal yang selalu nongkrong di tempat itu. Pemuda-pemuda tanpa pekerjaan yang kerjanya selalu memeras orang-orang yang lewat di jalan itu.
Vin bisa saja mengambil jalan lain dan menghindar dari para berandal itu. Tapi dengan begitu, dia harus memutar cukup jauh hingga ke halte bus. Lagi pula menghindar bukanlah sifat Vin. Walaupun bertubuh kecil dan kurus, Vin adalah laki-laki yang berani. Dia tidak pernah menghindari masalah, dia tidak akan pernah lari dari pertarungan. Walaupun pada akhirnya dia yang akan berakhir dengan babak belur.
Vin melangkah mendekati para berandal itu. Salah satu dari mereka yang bertubuh ceking menoleh dan sambil berdiri dia berseloroh. "Teman-teman, coba lihat siapa yang datang." Seketika teman-temannyapun ikut menoleh dan tersenyum.
Beberapa detik kemudian Vin sudah berhadapan dengan mereka. "Minggirlah, kalian menghalangi jalanku."
"HA HA HA," para berandal itu pun tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Vin.
"PLAK!" Seketika pukulan mendarat di kepalanya dari seorang berandal berkepala botak. "Sudah dihajar berkali-kali masih saja berlagak. Berikan saja uangmu dan kami akan membiarkanmu pergi."
"Pergi saja ke neraka," jawab Vin.
"BUK!" Sebuah pukulan mendarat di perut Vin sesaat setelah dia selesai dengan ucapannya. Dan diikuti dengan beberapa pukulan yang lain. Vin mencoba melawan tapi dia malah mendapatkan pukulan yang lebih banyak lagi. Dia pun tersungkur dan memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Cukup, cukup," kata berandal berkepala botak yang sepertinya adalah bosnya. "Geledah dan ambil uangnya."
Mereka pun menggeledah tubuh Vin, mengeluarkan isi sakunya, tasnya dan melepas sepatunya. Tapi mereka tidak menemukan apa-apa.
"Tidak ada bos. Sepertinya dia memang tidak punya uang," kata salah satu dari mereka pada pria berkepala botak.
"Ya sudahlah biarkan dia pergi."
Vin meninggalkan tempat itu sambil kembali memakai sepatunya dan menaiki sebuah bus. Bus berjalan dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan yang lalu lalang serta orang-orang yang akan pergi bekerja.
Beberapa menit kemudian bus pun berhenti di sebuah halte yang tidak jauh dari sekolah Vin berada. Vin pun turun bersama para penumpang lain dan berjalan menuju ke sekolahnya.
Tak berapa lama kemudian dia sampai di gerbang sekolahnya, berjalan melewati lapangan yang cukup luas dan menaiki tangga menuju kelasnya yang berada di lantai dua.
Tapi lagi-lagi dia harus berhadapan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Tiga orang anak yang sering membullynya di sekolah terlihat sedang duduk-duduk di lorong yang menuju kelasnya.
Vin memandang mereka sejenak, begitu pun dengan mereka. Lalu dengan perlahan Vin berjalan mendekati mereka.
"PLAK!" Anak bertubuh tinggi dan besar memukul kepalanya.
Vin pun menoleh dengan marah, berniat melawan. Tapi dia mengurungkan niat itu, karena dia tidak mau lagi dipukuli. Sudah cukup banyak yang memukulinya hari ini dan tubuhnya terasa sangat sakit. Dia pun pergi meninggalkan anak-anak yang tertawa terbahak-bahak sambil mengatainya di belakangnya.
Suatu saat, aku akan membalas kalian semua. Semuanya. Batin Vin.
* * *
Suasana malam itu sangat cerah. Bulan bersinar dengan terang dan angin bertiup sepoi-sepoi menerpa wajah Vin ketika dia berjalan pulang dari tempat kerja paruh waktunya sekitar pukul 11 malam.
Memang sepulang dari sekolah dia selalu bekerja paruh waktu menjaga salah satu mini market di kawasan yang terletak tak jauh dari tempat tinggalnya.
Bekerja paruh waktu seperti itu sudah dilakukannya sejak usianya menginjak 7 tahun, karena dia tidak bisa mengandalkan ayahnya yang tidak pernah memberinya uang.
Setelah berjalan kurang lebih 15 menit, dia pun sampai di rumahnya. Vin merasa sangat legah ketika melihat dua orang yang tidak diharapkan di rumah itu tidak ada. Dia pun berharap mereka tidak akan pernah kembali ke rumah itu selamanya.
Vin memasuki kamar. Membaringkan tubuhnya yang kelelahan. Matanya sangat berat. Tapi Vin tidak ingin memejamkan matanya. Karena jika dia memejamkan matanya, maka pagi akan datang dengan cepat dan segalanya akan terulang kembali seperti roda yang berputar.
Yah... seperti roda yang berputar. Mungkin bagi orang lain ungkapan itu berarti suatu saat kita akan berada di bawah dan di saat yang lain kita akan berada di atas. Tapi bagi Vin ungkapan itu berarti kita akan menjalani hari-hari yang sama setiap harinya dan kembali lagi ke tempat sebelumnya. Berulang-ulang, berulang-ulang dan berulang-ulang.
Tapi Vin tidak bisa menahan kantuknya. Matanya pun mulai menutup. Dia berharap tidak akan bangun lagi keesokan harinya. Tidak mau bangun lagi.
"Tek tek tek." Bunyi jarum jam berjalan mendekati angka 12.
"Teng teng teng!" Jam ruang tengah berbunyi menandakan sudah pukul 12 tepat.
Tiba-tiba tubuh Vin bersinar, mengeluarkan cahaya berwarna merah terang yang menerangi seluruh kamarnya. Benda-benda yang ada di kamar itu pun melayang dan akhirnya jatuh berserakan di lantai seiring dengan hilangnya cahaya di tubuh Vin.