
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang ditumbuhi pepohonan besar di kanan kirinya. Terlihat tiga anak berseragam sekolah tengah mengobrol di dalamnya.
"Ayahku meminta kita untuk memeriksanya," kata Alisa.
"Tidak perlu diperiksa, lagi pula mereka itu preman pasti banyak yang tidak suka dengan mereka dan berniat membalas dendam," kata Gilang yang duduk di kursi belakang.
"Bagaimana dengan pisau terbang itu?" sambung Arya.
"Menurut orang-orang yang ada di sana, mereka sedang dalam keadaan mabuk saat kejadian. Mereka pasti sedang berkhayal," tambah Gilang lagi.
"Bagaimana jika tidak?" sanggah Arya yang membuat Gilang terdiam.
"Aku dan Arya akan menemui korban yang selamat dari kejadian itu, apa kamu ikut?" kata Alisa.
"Ya baiklah aku ikut."
Mobil mereka melaju menuju rumah sakit tempat di mana preman yang selamat itu dirawat. Setelah hampir sejam, mereka pun sampai di rumah sakit dan Alisa bertanya kepada salah seorang perawat di mana kamar si korban yang selamat tersebut.
"Dia sudah pulang semalam," kata si perawat.
"Bisakah saya meminta alamatnya?" pinta Alisa.
"Maaf, kami dilarang memberikan alamat pasien pada siapa pun karena dia saksi pembunuhan."
Alisa memandang perawat itu. Dan beberapa detik kemudian, perawat itu memberikan alamat si korban pada Alisa.
Setelah mendapatkan alamat tersebut, mereka pun meninggalkan rumah sakit menuju alamat yang dimaksud.
"Kamu yakin di sini?" tanya Alisa setelah Arya menghentikan laju mobilnya.
"Sepertinya sih ia, aku juga kurang paham daerah sini," jawab Arya.
"Sebaiknya kita tanya pada mereka," kata Gilang menunjuk dua orang ibu-ibu dan seorang anak sekolah yang sedang mengobrol. Arya pun melajukan mobilnya ke arah mereka.
Vin dan dua orang ibu-ibu yang sedang mengobrol tersebut memandang mobil yang tiba-tiba berhenti didekat mereka.
Tak lama kemudian, mereka pun melihat Alisa, Arya dan Gilang turun.
"Maaf Bu, apa Ibu tau alamat ini di mana?" tanya Alisa menunjukkan kertas yang berisi alamat kepada salah seorang ibu.
"Dia korban yang selamat dari peristiwa pembunuhan kemaren lusa," tambah Arya.
"Oohh... si preman itu," kata ibu itu kemudian. "Tempatnya lumayan jauh dari sini, ke arah sana sekitar 10 menitan." Ibu tersebut menunjuk ke suatu tempat.
Vin memandang mereka penasaran mengapa mereka mencari alamat si preman.
"Ada urusan apa kalian mau ke rumah si preman itu?" tanya seorang ibu yang satunya yang sepertinya punya pemikiran sama dengan Vin.
"Dia adalah kerabat kami, karena itu kami ingin mengunjunginya," jawab Gilang.
"Bohong," batin Vin. Jika mereka kerabat, kenapa mereka tidak tau alamatnya.
"Masa kerabat gak tau alamat kerabatnya sendiri," kata ibu itu lagi yang lagi-lagi punya pemikiran yang sama dengan Vin.
"Ia, soalnya kami sudah lama tidak berhubungan dan baru tau saat melihat di berita kalau dia jadi korban peristiwa itu," kata Gilang mencoba berkelit.
"Kalau begitu terima kasih, kami permisi," kata Alisa buru-buru mengakhiri pembicaraan.
Vin benar-benar penasaran dengan tujuan mereka, lagi pula jika dilihat dari wajah mereka yang bersih, sudah pasti mereka adalah anak orang kaya. Mana mungkin mereka punya kerabat seperti si preman ceking itu. "Aku bisa mengantar kalian ke alamat itu jika kalian mau, alamat itu cukup sulit ditemukan."
"Benar, di sana banyak gang-gang kecil," tambah seorang ibu.
Untuk sesaat Alisa, Arya dan Gilang berpandangan.
"Tapi kamu bisa telat ke sekolah jika mengantar kami," kata Arya kemudian.
"Tidak apa-apa," jawab Vin.
Vin masuk ke dalam mobil bersama mereka. Gilang memandangnya dan melihat tag nama sekolah yang ada di lengan baju Vin.
"Kamu sekolah di SMA Bhayangkara," tanya Gilang.
"Ia."
"Aku juga sekolah di sana."
Vin memandang Gilang. Laki-laki berwajah lumayan, bertubuh sedang dengan rambut cepak. Tapi dia belum pernah melihat Gilang sebelumnya.
"Aku kelas tiga, kamu kelas berapa?" tanya Gilang lagi.
"Satu."
"Namamu siapa?"
"Vin."
"Namaku Gilang, dia Alisa dan dia Arya," kata Gilang memperkenalkan teman-temannya.
Setelah kurang lebih 15 menit, Vin meminta Arya menghentikan mobilnya. "Dari sini gak bisa pakai mobil, rumahnya masuk ke dalam sana, kita harus jalan."
Mereka pun turun dan memasuki jalan yang tidak begitu lebar, melewati rumah-rumah penduduk yang berdiri berjejalan di wilayah itu menuju rumah si preman ceking yang selamat.
Vin melirik Arya yang berjalan di sampingnya. Tubuh Arya yang tinggi dan gagah benar-benar menenggelamkan tubuhnya yang kecil.
"Apa masih jauh?" tanya Arya setelah mereka berjalan kurang lebih lima menit.
"Lumayan," jawab Vin.
Tak jauh dari tempat mereka berada, terlihat seorang gadis kecil yang sedang bermain di depan rumahnya tanpa mengetahui kalau bahaya sedang mengintainya. Sebuah reklame besar yang terpasang di area itu tampak bergoyang-goyang dan tiba-tiba jatuh mengarah tepat ke arahnya.
Arya yang melihat kejadian yang ada di hadapannya tersebut langsung berlari dan memeluk si gadis kecil sambil sedikit berjongkok.
Benda besar itu jatuh mengenai tubuhnya tanpa dia sempat menghindar.
Seketika orang-orang yang melihat kejadian itu berteriak histeris, mengira mungkin Arya dan si gadis kecil sudah tewas. Tapi ternyata Arya masih bertahan sambil memeluk gadis kecil itu. Mereka tidak terluka sama sekali, malahan besi penyangga reklame itu penyok seperti membentur sesuatu yang sangat keras.
Vin berdiri bengong dengan mulut sedikit terbuka melihat kejadian itu, begitu pun dengan orang-orang yang ada di sekitarnya yang merasa sangat heran melihat Arya tidak terluka sama sekali.
"Alisa!" teriak Arya yang membuat Alisa tersentak.
Seketika terdengar suara berdenging di telinga Vin. Suara seorang wanita. "Lupakan semua yang kamu lihat dan berpikirlah bahwa anak tersebut berhasil menghindar."
Suasana sunyi untuk beberapa detik. Kemudian terlihat seorang ibu berlari mendekati si gadis kecil diikuti dengan orang-orang yang melihat kejadian tersebut.
"Untung tidak kena," seru mereka.
Orang-orang dari dalam rumah keluar dan bertanya apa yang terjadi pada orang-orang yang melihat kejadian itu.
"Benda itu jatuh, hampir mengenai anak ini. Untung anak ini sempat menghindar, jika tidak entah apa yang akan terjadi padanya," kata seorang bapak.
"Aku sempat shok tadi saat melihatnya," tambah seorang ibu.
Vin masih bengong dan merasa aneh. Kenapa mereka tidak membahas soal Arya yang telah menolong anak itu. Laki-laki super yang bahkan tidak terluka sama sekali setelah tertimpa besi sebesar itu.
Vin memandang Arya yang berjalan mendekatinya, kemudian Arya mengangguk kepada dua orang temannya yang berada di belakang Vin.
"Vin, dari sini kami akan melanjutkan perjalanan sendiri," kata Arya. "Tempatnya sudah dekat kan?" Vin mengangguk.
"Sebaiknya kamu segera ke sekolah, nanti kamu telat," tambah Gilang.
Alisa, Arya dan Gilang meninggalkan Vin yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Vin mendekati salah seorang bapak di tengah-tengah orang yang masih berkerumun. "Maaf Pak, apa sebenarnya yang terjadi?"
"Anak itu hampir saja tertimpa besi, untung dia sempat menghindar."
"Dia tidak menghindar, ada laki-laki yang menolongnya. Apa Bapak tidak melihatnya?" kata Vin lagi.
"Laki-laki yang mana? Aku tidak melihatnya."
"Laki-laki berseragam sekolah yang tadi menolong anak itu yang tampan, tinggi dan gagah yang baru saja lewat," jelas Vin.
"Anak sekolah tadi?"
"Benar, Bapak ingat?"
"Ya Bapak tau ada anak sekolah yang lewat tapi dia tidak menolong anak kecil itu. "
"Ada apa," tanya seseorang.
"Ini, anak ini bilang ada laki-laki yang menolong anak kecil itu. Memangnya ada ya, apa aku saja yang pikun?" kata bapak itu ragu.
"Laki-laki yang mana, anak itu sempat menghindar sebelum reklame itu menimpanya, tidak ada yang menolongnya."
"Deg deg deg," jantung Vin berdegup kencang. Apa sebenarnya yang terjadi. Mengapa semua orang tidak ingat dengan apa yang baru saja terjadi.
Dan suara tadi, suara wanita yang tiba-tiba berdenging di telinganya itu.... apa?
* * *
Vin memutuskan tidak masuk sekolah karena dia sudah terlambat dan dia tidak mau berurusan dengan guru piket.
Sesampai di rumah, dia melihat rumah dalam keadaan berantakan. Sepertinya ayahnya mengobrak-abrik seluruh rumah untuk mencari uangnya yang hilang.
Vin pergi ke kamarnya yang sudah terbuka, sepertinya ayahnya mendobrak pintunya dan juga mengobrak-abrik kamarnya. Untung Vin sudah menyembunyikan uang itu di tempat yang aman yang tidak mungkin ditemukan oleh ayahnya.
Ayahnya sudah tidak ada di rumah, sudah pasti dia sedang mengejar Veronika yang dia kira mengambil uangnya.
Vin membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang berantakan. Mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Siapa anak-anak tadi, kenapa semua orang tidak ingat dengan kejadian itu dan kenapa Arya tidak terluka sama sekali setelah tertimpa besi sebesar itu.
Dan suara siapa yang berdenging di telinganya tadi. Suara itu seperti menghipnotis untuk melupakan apa yang dia lihat. Seketika mata Vin terbelalak, itu adalah suara wanita yang tadi bersamanya.
Alisa, dia bisa menghipnotis orang-orang yang ada di sekitarnya. Karena itu, orang-orang yang melihat kejadian itu tidak ingat dengan keberadaan Arya dan berpikir bahwa anak kecil itu berhasil menghindar dari tiang besi itu.
Lalu kenapa aku masih ingat, kenapa aku tidak lupa seperti mereka batin Vin.
"Benar," gumamnya, "karena aku punya kekuatan yang sama seperti mereka."
Lalu kenapa mereka mencari preman yang selamat itu? Apa urusan mereka dengannya? Dan siapa mereka sebenarnya?
Di saat Vin sedang sibuk dengan pikirannya, sebuah ketukan datang dari pintu rumahnya. Vin segera bangkit dan menuju pintu depan. Di sana dia bertemu dengan dua orang laki-laki bertubuh besar.
"Apa ini rumah Wisnu?" tanya salah seorang dari mereka.
"Benar," jawab Vin.
"Apa dia ada di rumah?"
"Tidak,"
"Kalau begitu, jika dia pulang bilang padanya kalau bos mencarinya."
Vin memandang mereka sejenak dan berkata, "Jika dia pulang, aku akan menghubungi kalian. Jadi berikan aku nomor yang bisa dihubungi."
"Itu lebih baik." Salah satu dari mereka memberikan nomornya pada Vin.
Vin tau benar ini pasti soal uang yang dia ambil. Mungkin ini saatnya memberi pelajaran pada ayahnya.