HATRED

HATRED
Tidak Perlu Menungguku Lagi



Seorang wanita renta tengah menangis histeris di sebuah ruangan rumah sakit meratapi mayat cucunya yang berada di hadapannya.



Pemandangan yang akan membuat semua orang miris melihatnya tak terkecuali Sandra. Walaupun sudah puluhan kasus pembunuhan yang dia tangani, walaupun sudah puluhan peristiwa serupa yang dia lihat, tetap saja tidak membuat hatinya menjadi kebal.


Sandra mendekati laki-laki paruh baya yang datang bersama wanita renta tersebut.


"Bisa kita bicara di luar Pak?" Laki-laki itu pun mengangguk dan mengikuti Sandra keluar ruangan meninggalkan si nenek yang masih terisak memeluk mayat cucunya.


"Bapak siapanya korban?" tanya Sandra.


"Saya tetangganya Buk."


"Apa tidak ada keluarga korban selain neneknya?"


"Setau saya tidak ada Buk, mereka hanya hidup berdua. Orang tuanya sudah meninggal sejak dia masih kecil."


"Nama Bapak siapa?"


"Saya Ali Buk."


"Bisa Pak Ali ceritakan bagaimana keseharian korban selama ini?"


"Dia anak yang sangat baik Buk, suka membantu orang lain. Selama ini dia yang bekerja untuk menghidupi neneknya," jelas Ali.


"Dia kerja di mana?"


"Di restoran Kereta Kencana Buk."


"Pukul berapa biasanya dia pergi dan pulang?"


"Setau saya kalau pergi dia agak siang, karena restorannya baru buka pas waktu makan siang tapi kalau pulangnya kurang tau saya, mungkin neneknya tau."


Sandra melihat nenek korban yang masih terisak. Untuk saat ini sepertinya tidak mungkin meminta keterangan dari wanita renta tersebut.


"Apa Bapak merasa ada yang aneh pada korban beberapa hari belakangan sebelum peristiwa ini terjadi?"


Ali tampak mengingat-ingat sejenak dan kemudian berkata, "Setau saya tidak ada Buk, dia tetap ceria seperti biasanya."


"Begitu," gumam Sandra.


"Maaf Buk, sebenarnya apa yang terjadi pada Citra?" tanya Ali.


"Maaf Pak, untuk saat ini saya belum bisa mengatakan apa-apa sebelum kasus ini benar-benar jelas."


"Baiklah, saya mengerti," kata Ali. "Lalu, apa kami boleh membawa mayatnya pulang?"


"Bapak boleh membawanya pulang, tolong dimakamkan dengan baik ya Pak."


"Baik Buk."


"Mungkin saya akan menemui Bapak lagi untuk meminta keterangan lebih lanjut."


"Ia Buk, saya siap membantu kapan pun dibutuhkan."


Setelah melepas kepergian korban dengan ambulance, Sandra bergegas kembali ke kantor. Dia kembali membuka sebuah amplop yang dia terima dari rumah sakit tadi pagi.


"Tok tok."


Sebuah ketukan datang dari pintu ruangannya. Di sana berdiri seorang laki-laki yang tidak lain adalah Heru.


"Mau makan siang bareng?" tanya Heru.


"Enggak," jawab Sandra yang sibuk dengan kertas-kertas yang ada di genggamannya.


"Jadi apa hasilnya?"


"Namanya Citra, akibat kematian overdosis alkohol dan terdapat tanda-tanda kekerasan seksual di tubuhnya," kata Sandra tanpa menoleh pada Heru. "Baj*ng*n ini, aku akan mengirimnya ke tiang gantungan."


Heru memandang Sandra. Jika sudah begini, dia tidak akan berhenti sebelum menemukan pelakunya.


Sandra beranjak dari duduknya dan bergegas meninggalkan ruangannya.


"Kemana," tanya Heru.


"Tempat kerjanya," balas Sandra.


Sandra mengendarai mobilnya menuju restoran Kereta Kencana. Setelah memasuki restoran, dia menemui seorang laki-laki berbadan pendek dan tambun yang merupakan pemilik restoran tersebut. Laki-laki tersebut sangat terkejut mendengar soal kematian Citra.


"Bagaimana dia bisa meninggal?"


"Saya tidak bisa menceritakan penyebab kematiannya, yang jelas saya butuh izin untuk meminta keterangan pada semua orang yang bekerja di sini."


Laki-laki tersebut masih terlihat shok dengan kabar yang disampaikan Sandra.


"Boleh saya tau nama Bapak?"


"Dani Anggoro."


"Pak Dani, apa korban masuk kerja kemarin?"


"Tidak, dia tidak masuk kerja kemarin."


"Apa Bapak tau alasan dia tidak masuk kerja?"


"Ia, dia menelepon saya dan meminta izin tidak masuk kerja karena tidak enak badan."


"Bisa Bapak ceritakan bagaimana perilaku korban selama bekerja di sini?"


"Dia anak yang rajin dan sangat baik. Para pelanggan sangat menyukainya karena keramahannya," jelas Dani.


"Apa akhir-akhir ini Bapak melihat keanehan pada diri korban?"


"Tidak ada Bu, dia sama seperti biasanya."


"Baiklah," kata Sandra. "Kalau begitu, bolehkah saya meminta keterangan dari para pegawai Bapak?"


"Tentu, tentu."


Sandra meminta keterangan dari para pegawai yang bekerja di restoran tersebut. Dan mereka semua mengatakan bahwa Citra memang tidak masuk kerja kemarin dan perilakunya tidak ada yang aneh akhir-akhir ini.


* * *


Hari mulai beranjak malam, Sandra mengendarai mobilnya menuju kediaman Citra. Dia ingin meminta keterangan pada nenek Citra, dia berharap nenek Citra sudah sedikit tenang sekarang.


Pintu rumah tidak tertutup, terlihat nenek Citra duduk di tikar di dalam rumah ditemani oleh seorang ibu dan Ali yang tadi mengantar nenek Citra ke rumah sakit.


Ali bergegas menyambut Sandra ketika melihatnya. "Silakan masuk Buk."


Sandra mengikuti Ali memasuki rumah kecil tersebut.


"Kenalkan Buk, ini istri saya," Kata Ali menunjuk wanita yang yang duduk di samping nenek Citra.


"Saya Ratih Buk," kata wanita tersebut berdiri dan menjabat tangan Sandra.


"Saya Sandra Bu."


Sandra duduk di hadapan nenek Citra yang tampak lemas. Sepertinya tenaganya sudah habis karena menangisi nasib cucunya yang malang.


"Maaf Nek, saya butuh bertanya beberapa hal pada Nenek. Apa Nenek bisa membantu?" tanya Sandra dan dijawab anggukan oleh nenek Citra.


"Apa kemarin Citra pergi bekerja Nek?"


"Ia," jawab nenek Citra dengan suara lemah.


Sandra diam sejenak. Rekan-rekan kerja korban bilang korban tidak masuk kerja kemarin, tapi neneknya bilang dia pergi bekerja. Itu artinya korban berbohong pada neneknya dan pergi ke suatu tempat atau mungkin ada yang menculiknya ketika dia hendak pergi bekerja.


"Apa akhir-akhir ini ada yang aneh yang nenek rasakan terhadap sikap Citra?"


"Tidak ada Buk, tidak ada yang aneh dia anak yang baik."


"Apa Citra pernah mengeluh sesuatu mungkin soal pekerjaannya atau yang lainnya?" lanjut Sandra.


"Tidak Buk, tidak pernah. Dia itu anak yang tidak pernah mengeluh, walaupun hidupnya susah selama ini dia tidak pernah mengeluh." jelas nenek Citra dengan tatapan hampa menatap dinding rumahnya.


"Jam berapa biasanya Citra pulang kerja Nek?"


"Jam 10 lebih."


"Apa nenek belum tidur jam segitu?"


"Belum Buk, saya tidak bisa tidur sebelum Citra pulang. Saya khawatir jika terjadi apa-apa padanya." Nenek Citra mengusap air matanya yang menetes dan melanjutkan perkataannya, "Dia selalu bawain saya makanan saat pulang, karena tau saya belum tidur. Dia bilang, "Lain kali Nenek tidak perlu menungguku lagi, aku baik-baik saja."."


Suasana hening untuk sesaat ketika wanita renta itu kembali terisak mengingat cucunya.


Beberapa saat kemudian, Sandra kembali melanjutkan pertanyaannya, "Apa Citra pernah tidak pulang sebelumnya?"


"Tidak pernah Buk, dia selalu pulang ke rumah karena saya sendirian di rumah."


"Apa Citra punya pacar?"


"Gak punya Buk."


Sandra memandang Ali dan berkata, "Apa benar Pak?"


"Sepertinya sih ia, ia kan Buk?" tanya Ali pada istrinya.


"Ia, saya juga gak pernah liat dia bawa laki-laki ke sini. Waktu itu saya sempat tanya apa dia sudah punya pacar. Dia bilang gak mau mikirin pacaran, dia cuma mau bahagiain neneknya," kata Ratih.


"Malangnya nasibmu Nak Nak," Tiba-tiba nenek Citra menangis histeris sambil memukul-mukul lantai, "dari kecil ditinggal mati orang tuamu dan sekarang harus pergi seperti ini, hu hu hu hu."


"Dosa apa, dosa apa!" teriaknya.


Ratih dan Ali berusaha menenangkan nenek Citra yang menangis tersedu-sedu.


Sandra hanya diam melihat pemandangan di hadapannya, hatinya benar-benar iba melihat wanita renta yang tengah menangis pilu di hadapannya. Walaupun tidak pernah merasakannya, tapi dia tau benar apa yang dirasakan nenek Citra sekarang. Rasa sakit kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang dimilikinya.


"Bapak bisa menjaga nenek Citra kan?" tanya Sandra pada Ali sebelum pergi.


"Tentu Buk, kami sudah menganggapnya seperti orang tua kami sendiri." Sandra mengangguk dan meninggalkan rumah tersebut.


Sandra berjalan menyusuri gang menuju mobilnya.


"Bu," seseorang memanggilnya dari belakang. Sandra pun menoleh dan melihat seorang wanita muda mendekatinya. Sandra ingat dia adalah rekan kerja Citra di restoran yang sempat dia mintai keterangan tadi.



"Kamu rekan kerja Citra yang tadi kan?" tanya Sandra.


"Benar Bu, saya Yuni."


"Ya benar Yuni," kata Sandra mengangguk-angguk. "Ada apa?"


"Saya mau bilang sesuatu pada Ibu, saya tidak bisa mengatakannya di restoran tadi," kata Yuni.


"Soal apa?"


"Sebenarnya kemarin saat Citra gak masuk kerja, saya sempat meneleponnya. Dia bilang disuruh pak Dani pergi ke suatu tempat, jadi dia gak akan ke restoran," kata Yuni.


"Benarkah, disuruh ke mana?"


"Saya gak tanya Bu, saya bilang ya sudah kalau gitu."


"Apa kamu bisa jadi saksi atas kasus ini, mungkin aku akan menangkap Pak Dani?"


"Buuuu, saya gak berani," kata Yuni panik. "Saya butuh banget pekerjaan ini, saya gak mau dipecat. Saya juga punya keluarga yang harus saya urus."


"Baiklah," kata Sandra. "Menurutmu mungkinkah Pak Dani selama ini menyukai korban?"


"Kalau itu saya tidak tau Bu. Tapi setau saya, Pak Dani itu bukan orang yang seperti itu. Dia itu orang yang bertanggung jawab dan sangat menyayangi keluarganya. Sikapnya dengan Citra pun wajar-wajar saja selama ini layaknya bos dan bawahan," jelas Yuni.


"Lalu apakah Pak Dani kemarin ada di restoran?" tanya Sandra lagi.


"Dia ada Bu."


"Apa dia sempat meninggalkan restoran barang sebentar?"


"Tidak Bu, dia tidak pernah meninggalkan restoran, dia ada sampai restoran tutup."


"Kamu yakin?"


"Ia Bu, soalnya dia itu selalu mengawasi kami saat bekerja jadi saya tau kalau dia gak ke mana-mana."


"Kalau begitu, pukul berapa restoran tutup kemarin?"


"Seperti biasa, kami tutup jam 10 malam."


Sandra terdiam sejenak, korban ditemukan pukul 12.30 malam. Dan diperkirakan korban sudah meninggal empat jam sebelumnya yang artinya korban meninggal sekitar pukul 8 lebih. Jika memang Dani tidak meninggalkan restoran kemarin dan pulang pukul 10, artinya bukan dia yang membunuh korban. Tapi dia menyuruh korban pergi ke suatu tempat. Kemana korban pergi?