HATRED

HATRED
Jadi itu... Bukanlah Kebetulan



Di wilayah yang terletak di luar perkotaan, jauh dari kebisingan dan diselimuti oleh pepohonan di sekitarnya, berdiri kokoh sebuah rumah megah bergaya kuno dengan dua lantai.


Rumah tersebut memiliki pintu dan jendela berukuran besar serta halaman depan yang sangat luas yang ditumbuhi oleh rerumputan hijau di atasnya.


Di salah satu jendela depan rumah tersebut yang berada di lantai dua, tampak berdiri seorang gadis kecil berusia sekitar 10 tahun, bermata sayu dengan rambut hitam panjang tergerai memandang ke depan ke arah pintu gerbang rumahnya yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya berada.



Dia memandang seorang gadis remaja berseragam sekolah yang sedang berdiri di pintu gerbang tersebut.


Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil berwarna merah berhenti di hadapan gadis remaja itu dan seorang laki-laki yang memakai seragam sekolah yang sama dengannya pun keluar dan menghampirinya.


"Gilang belum datang?" tanya lelaki itu.


"Belum," jawab si gadis.


Lelaki itu memandang ke arah jendela depan rumah tersebut dan dia melihat gadis kecil yang sedari tadi terus memandang mereka. "Adikmu di hukum lagi?"


"Ya, kemarin dia membunuh seekor kucing," jawab gadis itu. "Kucing itu membenturkan kepalanya berkali-kali hingga dia mati."


"Aku rasa..., " laki-laki itu tidak meneruskan ucapannya dan memegang kepalanya. "Alisa... dia mencoba memasuki pikiranku."


Alisa menoleh ke arah adiknya dan memandangnya. Adiknya pun memandangnya. Terlihat alis Alisa berkerut begitupun dengan adiknya. Tapi sesaat kemudian, adiknya tersentak.


"Baj*ng*n kau Alisa," gumamnya sambil berlalu meninggalkan jendela kamarnya.


"Arya, kamu baik-baik saja?" tanya Alisa sambil memegang bahu laki-laki itu.


"Aku baik-baik saja," jawab Arya.


Dari kejauhan terlihat seorang laki-laki dengan kecepatan penuh mendekati mereka. Dari jauh mungkin orang-orang akan mengira dia sedang mengendarai sebuah kendaraan atau apa, tapi ternyata tidak. Tubuhnya melayang di udara, dia terbang.


Dia berhenti di hadapan dua orang yang sedang menunggunya dari tadi. "Wow...!! Kalian lihat, aku sekarang bisa terbang dengan kecepatan 200 km perjam!" teriaknya senang sambil memutar-mutar tubuhnya di udara.


"Kamu gak takut jika ada orang yang melihatmu?" kata Arya.


"Hey ayolah, siapa yang akan lewat di tempat antah-berantah seperti ini," jawab Gilang sambil terus melayang-layang di udara.


"Turunlah. Masuk kedalam mobil sekarang, kami sudah terlambat."


Gilang pun menuruti perintah Arya dan masuk ke dalam mobil. Mobil melaju kencang melewati jalanan yang di kanan kirinya ditumbuhi oleh pohon-pohon besar menuju sekolah mereka yang berada di pusat kota.


* * *


Vin bangkit perlahan setelah mendengar suara gedoran di pintu kamarnya. Sudah sedari tadi gedoran itu berlanjut dan jika dibiarkan beberapa menit lagi, mungkin pintu kamar itu akan jebol dibuatnya.


"Bangun!" teriak Ayah Vin dengan marah. "Buka sekarang!"


Vin membuka pintu kamarnya dan memandang sang ayah yang matanya sudah memerah.


"Mana Veronika, kenapa dia tidak ada di rumah?" Vin hanya diam mendengar pertanyaan ayahnya.


Ayah Vin mencengkeram kerah lehernya. "Aku tanya dimana Veronika!"


"Aku tidak tau," jawab Vin.


"Hyaah!" Ayah Vin mendorong tubuh Vin hingga terpental dan pergi menuju pintu depan.


"Mungkin kamu bisa mencarinya di tempat dulu kamu menemukannya," kata Vin.


Ayahnya berbalik dan berlari ke arahnya. Vin bangkit dan segera menutup pintu kamarnya.


"Tamat riwayatmu saat aku pulang nanti!" teriak Ayah Vin sambil menendang pintunya.


"BRAAKK!" Pintu depan dibanting dengan sangat kuat. Vin mengintip dari lubang kunci memastikan ayahnya sudah pergi.


Vin melihat sekeliling kamarnya. Dia baru menyadari kalau kamarnya sangat berantakan. Buku-buku berserakan dimana-mana begitu pun dengan pakaiannya. Dia pun membereskannya dan bersiap berangkat ke sekolah tanpa merasa curiga sedikit pun.


Vin melewati jalanan yang biasa dilaluinya setiap hari. Dan seperti biasa, para berandal itu pun sudah nongkrong di sana. Vin benar-benar heran, padahal dia sengaja berangkat lebih pagi agar tidak bertemu dengan para berandal itu tapi ternyata mereka sudah ada di sana.


Vin benar-benar sudah lelah dipukuli, belum lagi tubuhnya masih terasa sakit akibat pukulan yang dia terima kemarin.


Dia pun berniat berputar arah sebelum sebuah motor melintas di sampingnya dan perlahan mendekat ke arah para berandal itu.


Tiba-tiba saja motor itu melaju dengan kecepatan penuh seperti terlempar ke udara ke arah para berandal itu. "AAHH...!!!" terdengar teriakan si pengendara motor.


"BRUUKK...!!" Motor menabrak pagar kawat yang mengelilingi lapangan bola.


Vin tersentak melihat kejadian itu. Hal itu terjadi saat dia memikirkan hal itu.


Si pengendara motor terlihat kesakitan dan mencoba menyingkirkan motor yang menindihnya.


"Apa kamu mencoba menabrak kami hah!" terdengar suara si botak yang sempat menghindar saat motor tersebut mengarah kepadanya.


"Ampun bang... motor saya tiba-tiba terbang," kata si pengendara motor.


"Kamu mencoba menipuku. Mana ada motor terbang!" teriak si botak lagi.


Ketika para berandal itu sedang sibuk dengan si pengendara motor, Vin pun menyelinap melewati mereka.


Sepanjang perjalanan ke sekolah, Vin masih saja memikirkan apa yang baru saja terjadi. Mungkinkah itu kebetulan atau jangan-jangan dia yang melakukannya. Tapi bukankah itu tidak mungkin.


Vin berjalan melewati taman sekolah dan menaiki tangga menuju kelasnya.


Lagi lagi... lagi lagi... Tiga anak pengganggu yang selalu membullynya di sekolah itu sudah nongkrong di lorong menuju kelasnya. Sepertinya mengganggu Vin sebelum pelajaran dimulai merupakan kegiatan wajib bagi mereka.


Vin memandang mereka, begitu pun dengan mereka. Vin berjalan melewati mereka.


"PLAK... !" Lagi lagi anak bertubuh tinggi dan besar itu memukul kepalanya.


Vin naik darah dan berniat membalas anak itu. Tapi dua anak yang ada di belakangnya langsung memeganginya.


"PLAK PLAK!" Kepala Vin dipukul berkali-kali oleh si besar.


Beberapa anak lain yang juga lewat di lorong itu hanya bisa memandang Vin yang sedang diganggu. Mereka tidak berani menolong Vin. Mereka juga tidak mau berurusan dengan geng si besar. Mereka hanya lewat, pura-pura tidak melihat.


Si besar mengeluarkan gunting dari sakunya. "Kamu tau, rambutmu terlalu panjang. Aku akan merapikannya."


Vin berusaha berontak, tapi dua anak yang lain semakin kuat memeganginya. Si besar mendekatkan gunting ke rambutnya. Vin panik dan menggerak-gerakkan kepalanya berusaha menghindari gunting tersebut.


Vin ingat kejadian yang baru saja dia alami dengan motor terbang itu. Mungkin saja itu bukan kebetulan pikirnya. Jika memang bukan kebetulan, lalu apa yang harus dilakukan.


Vin menoleh ke kanan. Di sana, di ujung lorong dia melihat sebuah pot yang cukup besar yang ditanami pohon palm. Vin memandang pot itu, seolah-olah memegangnya dan melemparnya ke arah si besar. Dan benar saja, pot itu terbang dan terlempar ke tubuh si besar dengan sangat kuat. Membuat tubuh si besar terhuyung ke belakang dan... "AAHHH..!!" si besar pun terjatuh dari jendela yang terbuka di lorong itu.


Teman-teman si besar melepaskan Vin dan melihat ke bawah. Terlihat si besar tengah mengerang kesakitan. Mereka pun meninggalkan Vin yang sedang bengong tidak percaya dengan apa yang barusan dia alami.


* * *


Vin duduk diam di sofa ruang kepala sekolah. Tubuhnya dicondongkan sedikit ke depan dan kedua tangannya bertumpu pada pahanya sehingga membuat rambutnya menjuntai ke bawah menutupi sebagian wajahnya.



Di hadapannya terdapat sebuah meja kerja yang tidak begitu besar dan di balik meja itu duduk seorang laki-laki yang agak tua bertubuh sedang yang tidak lain adalah kepala sekolah.


Di samping kiri Vin di sofa yang sama berjarak kurang lebih lima jengkal darinya, duduk tiga orang anak yang tadi mengganggunya. Rupanya si besar tidak terluka cukup parah dan melaporkan kejadian itu kepada kepala sekolah.


"Jadi...," tanya kepala sekolah yang ditujukan pada Vin, "apa benar kamu yang mendorong tubuh Hendi hingga dia terjatuh dari jendela?"


Vin diam saja, dia masih bingung dengan apa yang terjadi. Dia bahkan tidak mendengar ketika kepala sekolah bertanya padanya. Jadi itu memang benar, jadi itu bukanlah kebetulan. Itulah yang Vin pikirkan berkali-kali.


"Benar Pak, dia yang mendorongku. Dia mencoba membunuhku. Kalau Bapak tidak percaya, tanya saja pada mereka," sahut Hendi dengan menunjuk kedua temannya.


"Apa benar itu?" tanya kepala sekolah pada teman-teman Hendi.


Teman-teman Hendi tampak kebingungan. Mereka tau benar kalau bukan Vin yang mendorongnya. Melainkan ada seseorang yang melemparkan pot itu ke tubuh Hendi hingga dia terjatuh dari jendela. Tapi Hendi memandang teman-temannya dan mengangguk.


"Benar pak, Vin yang mendorong Hendi. Kami melihat dengan mata kepala kami sendiri," kata salah satu teman Hendi yang diiakan oleh teman yang satunya.


"Jadi Vin, kenapa kamu mendorong Hendi?" tanya kepala sekolah lagi kepada Vin. Tapi Vin masih tertunduk dan tidak menjawab sama sekali.


Vin melihat tali sepatunya. Dia mencoba berkonsentrasi dan seketika tali sepatunya bergerak-gerak sendiri.


Kepala sekolah mejadi geram dan beranjak mendekati Vin yang sedari tadi hanya diam. "Dengar nak. Jika kamu hanya diam, itu artinya kamu mengakui bahwa kamu yang melakukannya. Dan kamu tau, bapak akan memberikan hukuman yang sangat berat padamu karena ini sudah termasuk tindak kriminal."


Tiba-tiba bahu Vin bergerak-gerak. "He he he... He he he," terdengar dia tertawa pelan. Tawa yang membuat orang-orang yang ada di ruangan itu bergidik mendengarnya.