
Seorang gadis kecil berjongkok di sudut ruangan kamarnya. Dia sedang memperhatikan sesuatu yang mengerikan di hadapannya. Terlihat seekor tikus yang dengan rakus sedang memakan tubuhnya sendiri, tapi tikus itu sama sekali tidak terlihat merasa kesakitan.
"Hi hi hi... hi hi hi," si gadis kecil tertawa melihat pemandangan di hadapannya.
"Kreek."
Suara pintu kamar terbuka yang membuat si gadis kecil tersebut terkejut dan seketika tikus malang yang ada di hadapannya terlihat mencicit kesakitan karena hampir separuh tubuhnya habis dimakan olehnya sendiri.
Si gadis kecil langsung berdiri menghadap ke arah pintu. Seorang pria tua dengan separuh uban di rambutnya, berpenampilan rapi memasuki kamar itu. Dia adalah salah satu pelayan yang bekerja di rumah besar tersebut.
"Tuan ingin bertemu dengan Nona," kata lelaki itu yang beberapa detik kemudian matanya tertuju ke arah sudut ruangan dimana tikus malang itu berada.
"Apa Ayah sudah memaafkanku?" tanya si gadis kecil pada si pelayan.
"Saya tidak tau Nona, sebaiknya Nona menemuinya."
Si gadis kecil keluar dari kamarnya berjalan melewati beberapa ruangan ditemani oleh si pelayan.
Setelah sampai di depan sebuah pintu besar, si pelayan membukakan pintu itu untuk si gadis kecil. Si gadis kecil pun memasuki ruangan dan si pelayan menutup kembali pintu itu, menunggu di luar.
Si gadis kecil berdiri di tengah ruangan yang cukup besar. Di hadapannya ada sebuah meja besar dan di balik meja itu terdapat sebuah kursi yang menghadap keluar membelakanginya.
Di kursi tersebut, duduk seorang laki-laki berwajah putih dan bersih. Orang-orang yang tidak tau mungkin akan mengira kalau usia laki-laki itu sekitar 30-an. Tapi siapa sangka ternyata dia sudah menjalani kehidupannya lebih dari setengah abad lamanya.
Laki-laki itu memandang jauh ke depan melalui jendelanya. Memandang pepohonan yang tumbuh mengelilingi sekitar rumahnya, memandang langit yang sangat cerah pagi itu.
"Apa kamu sudah menyadari kesalahanmu," kata laki-laki itu kemudian.
"Sudah Ayah, aku tidak akan melakukannya lagi. Aku sadar menyakiti mahluk hidup itu tidak baik," jawab si gadis kecil bersemangat.
"Kalau begitu, kamu boleh bermain di luar. Tapi jangan meninggalkan area rumah kita."
Si gadis kecil tampak terkejut mendengar ucapan ayahnya. "Ayah bilang kalau aku menyadari kesalahanku, aku boleh pergi ke kota dan sekolah seperti Alisa dan teman-temannya."
"Tidak sekarang," jawab ayahnya.
"TAPI SELAMA INI AKU TIDAK PERNAH KEMANA-MANA!" Si gadis kecil berteriak histeris dengan nafas memburu yang membuat dadanya naik turun dan wajahnya berubah mengerikan.
Sesaat kemudian, wajah si gadis kecil kembali tenang dan dengan sopan dia bertanya, "Lalu kapan aku bisa pergi ke kota dan bersekolah?"
"Jika kamu bersikap baik."
"TAPI AKU SUDAH BERSIKAP BAIK!" Si gadis kecil kembali berteriak.
Sepanjang percakapan mereka, si gadis kecil kadang berteriak kadang tenang seolah-olah ada dua kepribadian di dalam jiwanya dan dia tidak bisa mengontrolnya dengan baik.
Ayahnya berdiri dan mendekatinya. Si gadis kecil tersenyum manis padanya. Dalam keadaan seperti itu, dia benar-benar terlihat seperti seorang malaikat, cantik dan menggemaskan.
Si gadis kecil mengira ayahnya akan memeluknya dan membelai rambutnya seperti yang selalu ayahnya lakukan pada Alisa kakaknya. Tapi ternyata ayahnya melewatinya begitu saja menuju ke arah pintu keluar.
"Ayah tidak pernah menyayangiku kan?" kata si gadis kecil sedih.
"KAMU HANYA MENYAYANGI ALISA KAN!" teriaknya menatap ayahnya.
Seketika ayahnya merasa telinganya berdenging. Si gadis kecil berusaha masuk ke dalam pikiran ayahnya.
"LILY!" teriak ayahnya seraya memandang si gadis kecil dan seketika tubuh si gadis kecil terpental dan membentur dinding.
Ayahnya bergegas berlari berniat menolongnya, tapi di tengah perjalanan dia menghentikan langkahnya mengurungkan niatnya menolong si gadis kecil.
"Bowo...!" panggil ayahnya pada pelayan yang sedari tadi berdiri di balik pintu besar itu. Seketika pintu terbuka dan pelayan yang tadi mengantar Lily pun muncul. "Bawa dia kembali ke kamarnya."
Si pelayan mendekati Lily yang masih terus menatap ayahnya dan mengajaknya kembali ke kamarnya.
"Apa Nona baik-baik saja?" tanya si pelayan setibanya di kamar Lily dan dijawab dengan anggukan oleh Lily.
"Apa Bapak pernah pergi ke kota?" tanya Lily kepada si pelayan. Pelayan itu pun mengangguk.
"Kota itu seperti apa? Apa di sana ada banyak orang?" tanya Lily lagi.
"Di sana ada banyak sekali orang, terutama orang jahat. Karena itu, Tuan melarang Nona untuk pergi ke kota karena Tuan khawatir Nona akan diganggu oleh orang jahat," kata Pak Bowo berusaha menghibur Lily.
"Apa itu artinya Ayah menyayangiku?"
"Tentu saja, Tuan selalu bilang pada Bapak kalau dia sangat menyayangi Nona."
Mata Lily bersinar senang mendengar penuturan Pak Bowo. Tapi kemudian matanya berubah kembali dingin. "Tapi kenapa Alisa boleh pergi ke kota kalau di sana banyak orang jahat?"
"Itu..." Pak Bowo mencoba memikirkan sesuatu.
"Hah... aku tau," kata Lily kemudian sambil mengacungkan telunjuknya ke atas seolah-olah mendapat jawaban yang dicarinya. "Karena Ayah tidak menyayangi Alisa."
Lily menari-nari mengitari kamarnya sambil bersenandung bahagia tapi tiba-tiba dia berhenti. "Tapi jika Ayah tidak menyayangi Alisa, kenapa dia selalu memeluknya, kenapa dia selalu tersenyum dan membelai rambutnya?"
Lily memandang Pak Bowo yang membuat Pak Bowo berkeringat dingin. Jika dia salah dalam menjawab hal ini, bisa jadi dia akan berakhir seperti tikus yang dia lihat sebelumnya. Tikus yang memakan tubuhnya sendiri yang sekarang sudah terlihat kaku di sudut kamar itu, sepertinya dia sudah mati.
"Tuan hanya pura-pura menyayangi Nona Alisa, agar Nona Alisa tidak sedih," jawab Pak Bowo yang membuat Lily mengangguk-angguk dan kembali menari-nari sambil bersenandung mengitari kamarnya.
Pak Bowo bergegas meninggalkan kamar itu sebelum Lily berubah pikiran.
* * *
Vin memandang Veronika yang terkulai di lantai sambil memegangi perutnya yang sakit.
"Kenapa kamu melakukan hal ini padaku, padahal aku sudah menolongmu," kata Veronika pelan.
"Karena aku tidak suka denganmu," jawab Vin.
Veronika tersenyum sinis. "Biar aku tebak, kamu memberikan nomor kombinasi yang salah padaku kan?"
"Aku bahkan tidak tau nomor kombinasinya."
"Lalu bagaimana...," veronika tidak melanjutkan kata-katanya. "Deg... deg...," jantungnya berdegup kencang. Dia baru ingat sepertinya dia mendengar suaminya mengunci pintu kamar ini sebelum pergi. Lalu bagaimana caranya Vin bisa membukanya.
"Plop." Vin melempar sejumlah uang di hadapan Veronika. "Aku harap itu cukup untuk kamu meninggalkan kota ini."
"Aku akan bilang pada ayahmu kalau kamu yang mengambil uangnya."
"Bagaimana caranya aku mengambil uangnya?" kata Vin yang membuat Veronika bingung.
"Bagaimana caramu mengambil uangnya?" Veronika malah balik bertanya.
"Jika aku memberitahumu, maka aku harus membunuhmu," jawab Vin.
"Deg... deg... deg... " Veronika menjadi sangat takut. Ternyata benar apa yang dikatakan suaminya kalau Vin mempunyai aura yang mengerikan, dia baru menyadarinya sekarang. "Tapi Ayahmu akan melaporkanku ke polisi jika aku kabur."
"Dia tidak akan berani melaporkan hilangnya uang yang dia dapat dengan cara yang ilegal," kata Vin. "Tapi jika kamu mau tetap di sini, aku akan mengunci pintunya kembali."
Veronika segera mengemasi barang-barangnya dan membawa uang pemberian Vin. Dia segera pergi meninggalkan rumah itu. Dia tidak peduli bagaimana caranya Vin mengambil uang itu. Yang jelas, dia harus segera pergi dari kota itu dan menghilang.
Memang malamnya ketika Veronika dan ayahnya sedang tidur, Vin diam-diam masuk ke kamar mereka. Awalnya dia tidak yakin bahwa kekuatan itu bisa membuka sesuatu yang terkunci. Tapi kekhawatiran itu lenyap setelah dia berhasil membuka pintu kamar ayahnya yang terkunci.
Dia mengambil semua uang yang ada di brangkas ayahnya. Sengaja membiarkan brangkasnya terbuka agar ayahnya tau kalau uangnya sudah hilang pagi itu dan kembali mengunci pintu kamarnya agar Veronika yang menjadi tersangka.
Setelah Veronika meninggalkan rumah, Vin merusak jendela kamar ayahnya seolah-olah Veronika kabur dari jendela dan mengunci pintunya kembali.
Dia tidak mau kena sasaran kemarahan ayahnya ketika ayahnya pulang nanti karena telah melepaskan Veronika. Lagi pula dia tidak bisa melawan ayahnya dengan kekuatan barunya secara terang-terangan. Dia tidak mau ada seorang pun yang tau tentang kekuatan itu. Karena Vin tau benar, ketika ada satu orang yang tau, maka itu akan menimbulkan masalah baginya.
Vin bergegas kembali ke kamarnya dan bersiap-siap ke sekolah. Dia segera meninggalkan rumah dan berjalan cepat di jalanan yang biasa dilaluinya. Dia tidak sabar untuk menemui para begundal yang selalu mengganggunya selama ini dan membalas perbuatan mereka.
Dia berniat akan membuat mereka mengalami kecelakaan seperti kejadian motor terbang itu. Tapi kali ini dia tidak akan menggunakan motor, motor terlalu baik untuk mereka. Mungkin dia akan menggunakan bus, truk, kereta api atau pesawat terbang sekalian. Tapi lagi-lagi dia harus kecewa karena para begundal itu tidak ada di sana.
"Benar-benar menyebalkan," gumamnya.
Dia pun melanjutkan perjalanan menuju ke halte bus. Di tengah perjalanan, dia mendengar dua orang ibu-ibu sedang membicarakan sesuatu di belakangnya.
"Baguslah mereka mengalami hal itu, mereka sangat meresahkan warga sini," kata salah seorang ibu.
"Benar, aku dengar hanya satu yang selamat. Bahkan si botak yang sok sangar itu pun tewas," sambung ibu yang satunya.
"Itu namanya karma, orang jahat akan mendapat balasan yang jahat juga."
Vin merasa penasaran dengan obrolan ibu-ibu tersebut. Mungkinkah itu si botak yang sama yang selalu mengganggunya. Dia pun berbalik dan bertanya kepada mereka, "Maaf Bu, siapa yang barusan ibu bicarakan?"
"Oh itu, empat preman yang sering nongkrong di jalan sana," kata seorang ibu menunjuk ke suatu arah, "kemarin lusa mereka ditemukan di jalanan dekat bangunan tua dalam keadaan tewas. Hanya satu yang berhasil selamat."
"Benarkah," Vin tersenyum sinis, "siapa yang berani menyerang mereka?"
"Hantu," kata seorang ibu.
"Hantu?" tanya Vin.
"Benar, menurut orang-orang yang menolong mereka. Anak buah si botak yang selamat itu terus saja mengatakan mereka diserang oleh hantu. Hantu itu memukuli mereka hingga babak belur lalu terlihat pisau yang terbang sendiri dan menusuk teman-temannya."
"Hey sudahlah, mana mungkin hantu yang menyerang mereka. Lagi pula dia pasti dalam keadaan mabuk saat kejadian itu, jadi kata-katanya tidak bisa dipercaya," sanggah ibu yang satunya.
"Iya kamu benar, orang-orang di sana juga bilang dia sedang dalam keadaan mabuk."
Mata Vin terbelalak mendengar penuturan ibu-ibu itu. Hantu... pisau terbang... mungkinkah ada seseorang yang mempunyai kekuatan yang sama seperti dirinya.