
Mobil Dani yang dikendarai Gibran terus melaju di keheningan malam, meninggalkan keramaian kota dan memasuki halaman sebuah bangunan tua bekas pabrik yang sudah tidak terpakai.
Gibran dan Sandra membawa Dani masuk ke dalam bangunan dan mendudukkanya di sebuah kursi. Gibran menyalakan lampu elektrik yang dia bawa untuk menerangi ruangan tersebut, kemudian membuka kain penutup wajah Dani.
"Aku akan menuntut kalian atas hal..."
"BRAKKKK...!" sandra menggebrak meja yang ada di hadapan Dani yang membuat Dani tersentak. "Katakan, ke mana kamu menyuruh Citra pergi!" teriak Sandra yang membuat Dani geragapan.
"Sudah aku bilang, aku tidak menyuruhnya ke mana-mana."
Sandra mengangkat tangannya bersiap memukul Dani. Dengan cekatan Gibran menangkap tangan itu kemudian menggeleng pada Sandra.
Sandra menjauh dari Dani dan duduk di sebuah bangku yang ada di sudut ruangan, berusaha mengontrol emosinya yang tidak stabil.
Beberapa saat kemudian dia berkata pelan seolah bergumam. "Dia masih sangat muda, bertahan hidup hanya dengan nenek yang sudah tua sejak ditinggal orang tuanya. Anak yang mungkin tidak pernah bahagia sepanjang hidupnya dan sekarang harus mati seperti ini, sungguh malang."
Dani menunduk mendengar penuturan Sandra.
"Satu hal yang bisa kita lakukan hanyalah memberi keadilan padanya, agar dia bisa hidup tenang di alam sana. Dan untuk itu...," Sandra bangkit dari duduknya dan mendekati Dani, "untuk memberi keadilan padanya, aku tidak akan pernah berhenti. Cara apa pun akan aku lakukan."
Sandra memandang Gibran dan mengangguk. "Besok kami akan kembali lagi, jadi malam ini renungkanlah semuanya."
Gibran dan Sandra berniat meninggalkan Dani di ruangan tersebut sebelum tiba-tiba Dani berkata, "Waktu itu Adam menelepon saya."
Sandra bergegas mendekati Dani. "Siapa Adam?"
"Dia adalah salah satu pegawai Bapak Agung Laksono," jawab Dani.
"Agung Laksono?" tanya Gibran. "Yang Bapak maksud bukan Agung Laksono pengusaha besar itu kan?"
"Ya, Agung Laksono yang itu," kata Dani.
"Adam bilang mereka sedang menjamu orang penting, jadi Adam meminta saya untuk mengirimkan salah satu pegawai wanita yang masih muda dan berpenampilan menarik ke kediaman Pak Agung untuk membantu mereka. Lalu saya tanya apa mereka juga butuh makanan, Adam bilang tidak, mereka sudah punya chef pribadi."
"Dan Bapak menyuruh Citra ke sana?" tanya Sandra.
"Ya."
"Saya heran," kata Sandra. "Ketika dia hanya meminta karyawan Bapak yang ke sana tanpa memesan makanan bukankah itu mencurigakan?"
"Saya dan Adam sudah kenal lama dan mereka memang sering memakai jasa kami jika ada acara. Jadi saya tidak merasa curiga," jelas Dani.
"Lalu, apa Bapak sempat menghubungi Adam setelah kejadian ini?"
"Ya. Setelah Bu Sandra datang waktu itu, saya langsung menghubunginya. Dia bilang waktu itu acaranya sudah selesai dan Citra sudah pulang dari sore hari. Dia minta saya tidak menyebut-nyebut soal mereka atas kasus kematian Citra karena itu tidak ada hubungannya dengan mereka.
Hampir setengah jam Sandra dan Gibran mengorek informasi dari Dani. Dan setelah dirasa tidak ada lagi yang harus ditanyakan, mereka pun meninggalkan bangunan tersebut dan kembali ke tempat sebelumnya.
"Jika mereka menghubungi Bapak, beri tau saya," kata Sandra sebelum Dani pergi. Dani pun mengangguk dan berlalu meninggalkan Sandra dan Gibran.
"Apa kamu tau?" kata Gibran, "kalau Agung Laksono pernah tersandung kasus pelecehan seksual beberapa tahun yang lalu."
"Ya, aku pernah mendengarnya," jawab sandra. "Tapi bukankah, korbannya terbukti berbohong dan malah menjadi tersangka karena pencemaran nama baik?"
Gibran tersenyum kemudian berkata, "Karena dia punya pengacara yang hebat, yang bisa membuat yang salah menjadi benar dan benar menjadi salah."
"Maksudmu, dia memang bersalah atas kasus itu."
Gibran mengangguk dan memandang Sandra. "Jika memang dia ada dibalik semua ini, kamu harus punya bukti-bukti yang sangat kuat sebelum menangkapnya. Jika tidak, itu akan menjadi bumerang bagimu."
* * *
Vin berjalan menuju kantin sekolahnya sambil sesekali melihat lingkungan di sekitarnya. Sudah seminggu ini dia mencari Jessie tapi tidak ada tanda-tanda kehadirannya.
"Buk, nasi goreng satu," pesan Vin.
Tak lama seorang ibu memberikan pesanan Vin. Vin pun membawanya ke sebuah meja.
"PLAK!" Sebuah pukulan mendarat di kepala Vin disertai bunyi cekikikan. Tanpa menoleh pun, Vin tau benar kalau itu adalah perbuatan Hendi dan teman-temannya.
Segera Hendi dan teman-temannya duduk bergabung dengan Vin.
“Mana temanmu itu? Sudah lama dia tidak masuk sekolah.” Tanya Hendi.
Vin tau benar yang Hendi maksud adalah Jessie. Jadi selama ini Hendi tidak mengganggunya karena dia pikir Vin berteman dengan Jessie. Dan ketika Jessie tidak masuk sekolah, Hendi kembali mengganggunya.
Tanpa mempedulikan Hendi dan teman-temannya, Vin melanjutkan makannya. Namun tiba-tiba Hendi meludah di piringnya. Vin terdiam menahan amarahnya.
Seorang laki-laki yang sedari tadi melihat kelakuan Hendi berjalan menghampirinya dan menegurnya, “Berhentilah mengganggunya.”
Hendi dan teman-temannya menoleh ke asal suara dan mendapati Gilang berdiri di sana. “Hey Gilang, gak usah sok jadi pahlawan kamu dan pergilah dari sini.”
“Aku akan mengadukanmu ke kepala sekolah jika kamu terus mengganggunya,” Jawab Gilang.
“Dasar pengecut, beraninya cuma mengadu,” Kata hendi.
“Orang yang lebih pengecut adalah orang yang sukanya main keroyokan,” sanggah Gilang.
“Ok, kalau kamu mau satu lawan satu, akan aku layani.” Hendi berdiri dan mendekati Gilang.
“Gawat,” batin Gilang. “Mana bisa dia mengalahkan tubuh Hendi yang sebesar itu.”
Hendi berbisik di telinga Gilang, “Sepulang sekolah, aku tunggu kamu di belakang sekolah." Hendi pun pergi meninggalkan Gilang setelah sekali lagi memukul kepala Vin.
“Mungkin kita harus mengadukannya ke kepala sekolah,” kata Gilang duduk di depan Vin.
“Kenapa tidak kamu lawan saja dia?” kata Vin.
“Hey ayolah, tubuhnya sebesar itu, aku tidak akan bisa mengalahkanya.”
“Kalau begitu, mungkin kamu perlu memanggil temanmu itu, teman supermu yang bahkan...” Vin mendelik dan tidak melanjutkan kata-katanya. Hampir saja dia keceplosan berbicara soal Arya, teman super Gilang yang bahkan tidak terluka setelah tertimpa besi sebesar itu.
“Teman super yang mana?” tanya Gilang memandang Vin tajam.
Vin tampak kebingungan. “Maksudku temanmu yang waktu itu, yang badannya besar. Dia pasti bisa mengalahkan Hendi kan, jadi aku bilang dia super.”
Gilang tertawa mendengar ucapan Vin yang seperti orang meracau. “Maksudmu Arya?”
“Oh ya Arya.”
“Aku tidak bisa meminta bantuannya untuk urusan seperti ini.”
“Memangnya kenapa?” tanya Vin.
“Karena itu di larang," kata Gilang.
“Siapa yang melarang?”
“Orang...” Gilang mendelik, hampir saja dia bilang Orang Suci.
“Siapa yang melarang?“ tanya Vin lagi penasaran.
“Orang-orang di rumahnya, terutama ayahnya. Ayahnya akan marah jika tau dia berkelahi.”
Vin memandang Gilang, dia tau benar kalau bukan itu yang ingin Gilang katakan tadi.
“Sepertinya aku terpaksa melawan Hendi sendirian, bagaimanapun juga aku kan laki-laki,” kata Gilang tersenyum.
Sepulang sekolah, Hendi sudah menunggu Gilang di belakang sekolah. Tak berapa lama Gilang pun datang.
“Bernyali juga kamu,” kata Hendi.
“Gak usah banyak omong, majulah,” kata Gilang.
Hendi pun murka melihat kesombongan Gilang dan segera menyerangnya. Ternyata Gilang cukup gesit dan berkali-kali menghindari pukulan Hendi.
Vin terus saja menyaksikan peristiwa itu dari atap gedung sekolahnya berharap Gilang akan menggunakan kekuatannya untuk menghajar Hendi.
“BUK!” Gilang berhasil memukul perut Hendi. Tapi pukulannya tidak cukup kuat untuk bisa menumbangkan tubuh Hendi.
“BUAK!” Hendi memukul balik. Pukulan yang membuat Gilang langsung tersungkur. Gilang bergegas bangkit sebelum Hendi melancarkan serangan kedua. Namun telat, kepalan tinju Hendi kembali mengenai wajahnya dan dia pun kembali tersungkur.
“BAK BUK BAK!” Gilang hanya bisa pasrah menerima pukulan dari Hendi yang membabi buta.
“HA HA HA HA HA!" Hendi tertawa terbahak-bahak di hadapan Gilang yang sudah tak berdaya.
Vin benar-benar geram melihat pemandangan itu, bukan saja geram melihat Hendi yang menghajar Gilang habis-habisan, namun juga geram melihat kebodohan Gilang. Dia pun tidak tahan lagi.
“Sudah cukup,” gumamnya.
Seketika sebuah batu melayang dan mendarat tepat di kepala Hendi. Teriakan yang sangat keras pun keluar dari mulut Hendi bersamaman dengan darah yang mengucur deras dari kepalanya.
“Selamat tinggal... Hendi,” Vin pun tersenyum.