HATRED

HATRED
Bastian



Vin sedang menyusun barang-barang yang ada di mini market ke dalam raknya masing-masing ketika dia merasa ada seseorang yang membuka pintu dengan sangat pelan sehingga membuat lonceng di pintu tidak berbunyi.


Vin segera merapat ke dinding dan memandang pisau yang ada di dalam mini market. Seketika pisau-pisau itu pun melayang-layang di sekitarnya seolah-olah membuat tameng.



“Aku datang dengan damai,” seketika terdengar suara seorang laki-laki.


“Jessie,” geram Vin. “Berani sekali kamu datang ke sini. Apa kamu benar-benar mau mati.”


“Ayolah, aku bilang aku datang dengan damai."


“Tidak ada kata damai!” teriak Vin melemparkan pisau ke arah suara Jessie.


“GEDUBRAK.” Rak bergoyang dan menjatuhkan barang-barang yang ada di dalamnya seolah ditabrak sesuatu.


“Apa kamu gila!” teriak Jessie. “Apa kamu benar-benar ingin membunuhku!”


“Bukankah kamu yang ingin membunuhku!” Pisau-pisau pun kembali beterbangan dan menancap di mana-mana.


“Ayolah aku tidak berniat membunuhmu,” kata Jessie, “aku hanya ingin memberi pelajaran padamu karena kamu sudah mempermalukanku di depan anak-anak waktu itu.”


“Dari mana kamu tau kalau itu adalah aku?” tanya Vin.


“Waktu itu, waktu kamu diganggu oleh Hendi, aku berniat membantumu tapi tiba-tiba aku melihat pot itu melayang sendiri. Kemudian, kamu ada di sana saat aku bermain basket. Karena itu, aku yakin kalau itu adalah kamu,” jelas Jessi.


“Krincing.” Seorang laki-laki memasuki mini market. Mereka pun menghentikan percakapan.


Vin bergegas ke meja kasir melayani pelanggan tersebut. “Terima kasih, datang kembali,” kata Vin sebelum pelanggan itu pergi.


Vin bergegas kembali ke pojokan dan membentengi dirinya dengan puluhan pisau.


“Jessie, kamu masih ada di sini?” tanya Vin.


“Aku masih ada di sini,” jawab Jessie. “Bisakah kamu menurunkan pisau-pisau itu? Sudah aku bilang aku datang dengan damai.”


“Kamu pikir aku percaya padamu, pada seorang pembunuh sepertimu?”


“Apa maksudmu?” tanya Jessie.


“Kamu yang membunuh para preman itu kan?”


“Bukankah itu kamu?” Jessie malah menuduh Vin.


“Jangan asal menuduh kamu,” kata vin.


“Bukankah kamu yang menuduhku duluan,” balas Jessie.


“Lalu apa maumu? Kenapa kamu ke sini?” tanya Vin.


“Aku ingin kita melupakan apa yang terjadi, aku ingin kita tidak saling mengganggu lagi.


“Kederannya itu bagus,” kata Vin. “Tapi dari mana aku tau kalau kamu tidak akan meyerangku tiba-tiba seperti yang pernah kamu lakukan?”


“Aku tidak akan melakukannya, aku janji,” kata Jessie. “Jadi, turunkanlah pisau-pisau itu.”


“Baiklah, aku akan menurunkannya tapi perlihatkan dulu dirimu.”


“Aku tidak bisa,” kata Jessie.


“Kenapa tidak bisa? Kamu berniat menyerangku diam-diam kan?”


“BUKAN ITU BODOH!” teriak Jessie kesal.


“Beraninya kamu menyebutku bodoh,” geram Vin. “Jangan harap kamu bisa keluar dari tempat ini dengan selamat sebelum kamu menunjukkan dirimu.”


“Baiklah-baiklah,” kata Jessie. “Sebaiknya kita ke belakang.”


“Kenapa harus ke belakang? Kenapa tidak di sini saja?”


“DIAMLAH!" teriak Jessi. "Ikuti saja.”


Vin pun menuju ke belakang dengan terus merapatkan badannya ke dinding dan membentengi dirinya dengan pisau. Pintu ruangan belakang terbuka sendiri sepertinya Jessie yang membukanya.


“Masuklah,” kata Jessie.


“Kamu akan menyerangku di sana kan?" kata Vin yang benar-benar tidak percaya dengan Jessie.


“Tidak, aku tidak akan menyerangmu. Aku bersumpah, aku bersumpah dengan seluruh ketampanan yang aku miliki.”


“Itu cukup meyakinkan,” kata Vin.


“SIIIALL!” teriak Vin ketika dia melihat tubuh Jessie tanpa busana. Seketika tubuh itu pun kembali menghilang.


“Kamu sudah melihat tubuhku kan? Jadi sekarang kita damai,” kata Jessie.


“Kenapa kamu tidak memakai pakaian?”


“Karena aku tidak bisa membuatnya menghilang bersama tubuhku," Jawab Jessie.


“Begitu,” kata Vin.


“Aku penasaran,” kata Jessie, “dari mana kamu tau kalau waktu itu aku yang menyerangmu?”


Vin tersenyum, tentu saja dia tau kalau yang menyerangnya waktu itu adalah Jessie. Karena waktu itu Jessie tidak terpengaruh ketika Alisa menghipnotisnya dan malah mengikuti Alisa.


“Karena kamu terkena pisauku waktu itu. Lalu aku melihatmu selalu memegangi perutmu. Aku cuma menebak, ternyata memang benar,” kata Vin yang tidak mau memberitahu soal Alisa.


“Begitu.”


“Masuk akal,” kata Vin kemudian. “Pisau yang membunuh para preman itu melayang sendiri, karena kamu tidak bisa membuatnya menghilang bersama tubuhmu kan?”


“Sudah aku bilang bukan aku yang membunuh mereka,” geram Jessie kesal.


“Terserahlah,” tukas Vin. “Aku juga tidak peduli. Mulai sekarang kita tidak perlu saling mengganggu."


Jessie kembali menampakkan tubuhnya dan berjalan mendekati Vin. Dia mengulurkan tangannya, Vin pun menerimanya. Kemudian Jessie berkata, “Kita jaga rahasia kita masing-masing."


***


Gilang berjalan menaiki tangga menuju ruangan ayahnya yang berada di lantai dua. Tak berapa lama, dia pun sampai di depan sebuah pintu dan mengetuknya.



“Ada apa?” tanya Guntur saat Gilang masuk.


“Kami gagal Ayah,“ kata Gilang. “Tadi dia muncul lagi di sekolah tapi kami gagal menangkapnya.”


“Bukan salah kalian, keluarga Abraham memang sangat sulit untuk ditangkap.” Guntur meletakkan buku yang dibacanya kembali ke dalam rak, “bahkan sampai sekarang kami tidak bisa menangkapnya.”


“Siapa maksud Ayah?”


Guntur duduk perlahan di sebuah kursi dan menyandarkan punggungnya. “Namanya Bastian. Dulu Ayah, Ayahnya Alisa dan Ayahnya Arya berteman dengannya di bangku SMA.”


“Dia orang yang sangat baik, dia selalu membantu anak-anak yang tertindas di sekolah. Setiap hari yang dia bicarakan hanya soal kedamaian, kebenaran dan keadilan."


Guntur menarik nafasnya sejenak dan kemudian melanjutkan ceritanya. “Setelah lulus SMA, dia pun memutuskan untuk menjadi seorang polisi dengan tujuan menangkap semua penjahat dan menciptakan kedamaian di muka bumi ini.”


Guntur memandang Gilang. “Tapi kamu tau, menciptakan kedamaian di muka bumi adalah hal yang mustahil.”


“Beberapa tahun berlalu, peristiwa-peristiwa aneh mulai bermunculan. Banyak orang tiba-tiba mati mengenaskan dan pelakunya tidak pernah di temukan.”


“Sebagai polisi, William pun menyelidikinya dan merasa curiga dengan juniornya yang bernama Bastian. Karena itu, William meminta Adrian untuk menanyakan hal ini pada Bastian.”


“Kami pun menemui Bastian dan Bastian tidak merasa curiga sama sekali karena kami adalah teman lama.”


“Dan ternyata benar, setelah Adrian menanyainya, Bastian mengakui semuanya. Bastian mengatakan bahwa dia adalah keturunan Abraham dan dia terpaksa membunuh orang-orang tersebut karena dia tidak bisa membuktikan kejahatan mereka.”


“Kami pun berusaha menangkapnya tapi tiba-tiba tubuhnya menghilang dan kami tidak bisa menemukannya sampai sekarang.”


“Mungkinkah dia yang ada di balik semua ini? Yang membunuh para preman itu?” tanya Gilang.


“Entahlah,” jawab Guntur. “Tapi keluarga Abraham itu banyak. Ada kakaknya, adiknya, anaknya, cucunya, sepupunya, sama seperti kita. Jadi dia bisa siapa saja.”


Guntur kembali berdiri dan mengambil sebuah buku. Kemudian dia memandang Gilang yang sepertinya ragu untuk mengatakan sesuatu.


"Ada apa?"


"Aku hanya ingin tau, jika kita berhasil menangkap orang itu, bisakah kalian memaafkannya?” tanya Gilang.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”


“Karena dia sudah berkali-kali menolongku.” jawab Gilang.


Guntur terdiam sejenak kemudian berkata, “Jika dia menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi, maka kita akan memaafkannya.”


“Aku jadi legah,” kata Gilang. "Kalau begitu,aku permisi Ayah.” Gilang pun pergi meninggalkan Guntur dengan tersenyum.


“Tapi masalahnya, mereka tidak akan pernah menyadari kesalahannya." Batin Guntur.