
Vin berjalan menuju sekolahnya setelah turun dari bus yang ditumpanginya. Dari kejauhan dia melihat sebuah mobil berhenti di depan pintu gerbang sekolahnya. Tak berapa lama kemudian, seorang laki-laki keluar dari dalam mobil tersebut.
"Gilang," gumam Vin.
Terlihat Gilang berbincang sebentar dengan Alisa yang berada di dalam mobil sebelum akhirnya mobil berlalu meninggalkan Gilang.
Vin bergegas mengikuti Gilang memasuki area sekolahnya. Vin yakin Gilang juga pasti memiliki kekuatan yang sama seperti teman-temannya. Vin ingin tau kekuatan apa yang dimilikinya.
Gilang menaiki tangga dan berjalan di sebuah lorong. Vin masih mengikutinya dari kejauhan.
"Plop." Sebuah tangan mendarat di pundak Vin.
"Kenapa kamu ada di sini?" Ternyata Hendi.
Vin memandang Hendi. Mungkin ini saatnya membalas perbuatan Hendi padanya selama ini. Vin melihat sekelilingnya, apa yang bisa dia gunakan untuk menghajar Hendi.
Tapi Vin tiba-tiba ingat kejadian waktu itu, ketika Hendi jatuh dari jendela karena pot terbang itu, Hendi mengadukannya kepada kepala sekolah. Jika sekarang Hendi terluka lagi ketika dia berada di dekatnya, Vin yakin Hendi akan menuduhnya lagi.
Mungkin kali ini dia harus menunda untuk memberi pelajaran pada Hendi.
Vin memandang Gilang.
Atau mungkin dia bisa memanfaatkan Hendi.
"Apa kamu ingin tau siapa temanku yang melempar pot padamu waktu itu?" kata Vin.
"Siapa?"
"Dia." Vin menunjuk ke arah Gilang.
"Kamu gak bohongkan?"
"Tentu saja tidak, mana berani aku bohong padamu."
"Jadi ternyata Gilang, berani sekali dia padaku," geram Hendi yang sepertinya mengenal Gilang.
Hendi mengajak dua temannya menemui Gilang. Terlihat mereka berbincang sesaat, kemudian Hendi mulai mendorong-dorong bahu Gilang begitu pun dengan dua temannya. Vin menyaksikan hal itu sembari sembunyi di balik dinding dari kejauhan.
"Ayolah ayo, tunjukkan kekuatanmu," gumam Vin.
Hendi menepuk-nepuk wajah Gilang kemudian menamparnya, tapi Gilang tidak membalas. Lalu Hendi memukul perut Gilang namun Gilang tetap tidak membalas.
"Bodoh," gumam Vin.
Beberapa detik kemudian, terlihat wajah Hendi menoleh ke kiri dan ke kanan dengan sendirinya, seperti sedang dipukul oleh seseorang. Lalu tubuh Hendi terpelanting seperti ditendang dengan kuat, begitu pun yang terjadi pada dua temannya. Mereka dihajar habis-habisan oleh seseorang. Seseorang yang tidak terlihat.
Mata Vin melotot melihat kejadian itu dan berpikir mungkin Gilang yang melakukannya. Tapi pikiran Vin berubah ketika dia melihat wajah Gilang yang juga terlihat bingung sama seperti dirinya.
Tiba-tiba Vin merasa mendengar sesuatu. Suara langkah kaki yang sangat pelan. Semakin lama semakin mendekat padanya. Tapi dia tidak melihat siapa-siapa selain Hendi dan teman-temannya yang masih merintih kesakitan dikejauhan yang sekarang malah ditolong oleh Gilang.
"Deg deg deg."
Jantung Vin berdegup dengan kencang ketika dia merasa ada seseorang yang berdiri di sampingnya menghembuskan nafas yang sangat pelan di telinganya.
Seketika Vin berlari meninggalkan tempat itu menuju kelasnya. Jantungnya masih berdegup kencang. Mungkinkah itu hantu, atau seseorang yang memiliki kekuatan yang sama seperti dirinya.
Jika orang tersebut memiliki kekuatan yang sama seperti dirinya, artinya orang tersebut bisa membuat tubuhnya tidak terlihat.
Mungkinkah dia yang membunuh para preman itu. Sebenarnya ada berapa banyak orang yang seperti dirinya.
* * *
Malam semakin larut, jalanan sudah tampak sepi oleh orang-orang yang lalu lalang. Begitu pun dengan mini market tempat Vin bekerja, tidak banyak orang yang keluar masuk ke mini market tersebut sejak terjadinya peristiwa pembunuhan para preman beberapa waktu yang lalu.
"Kerincing." Terdengar pintu mini market terbuka.
"Vin, kamu di mana?"
Vin melongok ke pintu depan setelah mendengar seseorang memanggilnya. Didekat meja kasir terlihat dua orang laki-laki muda dan tinggi. Yang satu berwajah lumayan dan satunya berwajah garang dan berkulit hitam.
Vin menghentikan pekerjaannya dan menemui mereka.
"Kakak butuh sesuatu?" tanya Vin pada laki-laki berwajah lumayan.
Laki-laki itu adalah Heru, anak dari pemilik mini market tempat Vin bekerja. Karena itu, Vin sudah mengenalnya dengan baik.
"Tidak," jawab Heru. "Kami ke sini ingin bertanya sesuatu padamu."
"Soal apa?"
"Sebelumnya perkenalkan dulu ini rekan Kakak namanya detektif Gibran." Vin memandang laki-laki berwajah garang tersebut untuk sesaat.
"Selasa malam, kamu ada di sinikan saat kejadian pembunuhan para pemuda itu?" lanjut Heru.
"Maksud Kakak para preman itu?"
"Ya benar."
"Ya aku di sini, aku tidak pernah bolos kerja."
"Ya Kakak tau kamu anak yang rajin," kata Heru. "Lalu jam berapa kamu pulang?"
"Tentu saja tidak, kami hanya mengumpulkan bukti-bukti, jadi kami bertanya pada semua orang yang ada di lingkungan ini. Lagi pula tempat ini lumayan dekat dengan tempat kejadian," jelas Heru.
"Kenapa Kakak bersusah payah, bukannya si preman ceking selamat dari kejadian itu. Kenapa Kakak tidak bertanya padanya saja?"
"Dia sudah tewas kemarin malam, seseorang membunuhnya setelah pulang dari rumah sakit."
"Wah! itu kabar yang sangat bagus," seru Vin.
"Hey nak, jaga bicaramu. Kami bisa saja memasukkanmu ke penjara karena ucapanmu itu," kata Gibran.
"Kalau begitu kamu harus memasukkan semua orang yang ada di lingkungan ini karena mereka semua bersyukur atas tewasnya para preman itu," sanggah Vin.
"KAMU!" bentak Gibran.
"Hey sudahlah," kata Heru menenangkan rekannya. "Vin, Kakak minta kerja samamu dalam hal ini. Jadi, jam berapa kamu pulang malam itu?"
"Seperti biasa, aku pulang jam 11."
"Artinya dia masih di sini saat pembunuhan itu terjadi," kata Gibran pada Heru.
"Apa kamu tidak mendengar sesuatu, mungkin ada orang yang mencurigakan lewat atau bahkan mampir ke tempat ini?"
"Tidak," jawab Vin cepat.
"Pikirkan dulu sebelum menjawab!" bentak Gibran.
"Coba kamu pikirkan dulu, apa kamu melihat seseorang yang mencurigakan di sekitar sini, mungkin saat kamu pulang?" tambah Heru.
"Aku bilang tidak. Dan walaupun aku tau siapa pembunuhnya, aku tidak akan memberi tau kalian."
Gibran naik darah dan ingin memukul Vin sebelum Heru menangkap tangannya.
"Sudahlah, sebaiknya kita pulang. Kita lanjutkan pekerjaan ini besok."
Heru memandang Vin sebelum meninggalkan mini market. "Vin, hati-hatilah. Mungkin pembunuhnya masih berkeliaran di sekitar sini."
"Benar-benar anak yang kurang ajar, seharusnya kita membawanya ke kantor polisi. Dari ucapannya sepertinya dia tau siapa pembunuhnya atau mungkin dia kaki tangannya," gerutu Gibran setelah keluar dari mini market.
"Sudahlah, anaknya memang begitu. Satu-satunya orang yang dia hormati hanyalah Ayahku,"
Mereka pun pergi mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu sedangkan Vin melanjutkan pekerjaannya.
Setelah pukul 11 malam, Vin menutup mini market dan pulang ke rumahnya. Ketika sampai di rumah, dia mendapati ayahnya sudah ada di rumah dan sedang menelpon seseorang.
"Tolonglah, hanya beberapa hari saja," kata Wisnu pada seseorang yang ada di saluran telp.
"Ia, ia, aku ke sana sekarang." Wisnu menutup telponya dan bergegas ke kamar mengemasi barang-barangnya.
Vin ke luar dari dalam rumah dan mengeluarkan handphone barunya yang dia beli dengan uang yang dia ambil dari ayahnya.
"Ayahku sudah pulang," kata Vin kepada seseorang yang ada di saluran telpon.
Vin masuk kembali ke dalam rumah dan duduk di sofa. Wisnu tidak mempedulikan keberadaan Vin dan bergegas menuju ke pintu depan dengan membawa tas berisi barang-barangnya.
"GREK GREK." Wisnu berusaha membuka pintu depan tapi tidak bisa.
"Ada apa dengan pintu ini," gumam Wisnu.
Wisnu menarik paksa pintu tersebut tapi tetap tidak bisa dibuka.
Wisnu bergegas menuju pintu belakang tapi lagi-lagi pintu tidak bisa dibuka. Wisnu menjadi berang dan menendang-nendang pintu itu. Kemudian dia menuju kamarnya berniat untuk keluar dari jendela yang dia pikir dirusak oleh Veronika waktu itu.
Buru-buru Vin memandang pintu kamar dan seketika pintu kamar tertutup. Wisnu berusaha membukanya tapi tidak bisa. Wisnu merasa heran dan memandang Vin yang sedang duduk di sofa. Vin pun memandangnya.
"Tok tok tok, Wisnu kami tau kamu ada di rumah," terdengar suara seseorang dari balik pintu.
Wisnu geragapan mencoba lebih keras membuka pintu kamarnya.
Vin memandang pintu depan dan seketika pintunya terbuka. Terlihat dua orang laki-laki yang kemarin datang tengah berdiri di sana. Mereka memandang Wisnu yang wajahnya sudah pucat.
"Kamu mau kabur!" teriak sesorang dari mereka seraya mendekati Wisnu.
"Bukan begitu," kata Wisnu.
"Bos ingin uangnya?"
"Ya aku tau, ini juga aku baru mau menemui bos," kilah Wisnu.
"Ya sudah, kalau begitu ikut dengan kami."
Mereka pun membawa Wisnu bersama mereka. Tapi ketika sudah berada di luar, Wisnu mendorong mereka dan melarikan diri.
"Tunggu!" teriak mereka mengejar Wisnu.
Vin berdiri, menutup pintu depan, menuju kamarnya dan tidur.
Sepertinya dia akan tidur nyenyak malam ini, karena dua orang yang tidak diharapkan di rumah itu tidak akan pernah kembali lagi.