HATRED

HATRED
Keluarga Abraham



Sebuah mobil berhenti tak jauh dari sebuah sekolah. Tampak seorang laki-laki dan wanita turun dari mobil tersebut dan berjalan menuju gerbang sekolah.


"Kamu yakin akan melakukannya? Terlalu banyak anak di sini, itu akan menguras energimu," kata Arya.


"Aku tau. Tapi jika memang dia ada di sini, ini adalah cara yang paling cepat untuk bisa menemukannya bukan?" kata Alisa.


"Kamu benar," kata Arya. "Kalau begitu, ayo kita masuk."


"Tidak," cegah Alisa. "Aku akan masuk sendiri, aku tidak mau mereka menyadari kehadiranmu."


"Baiklah, aku akan menunggumu di sini. Jika ada apa-apa, langsung panggil aku." Alisa mengangguk.


Alisa mendekati pintu gerbang, dia berbincang sejenak dengan satpam yang ada di balik pintu tersebut. Tak lama kemudian, satpam itu pun membuka gerbangnya dan mengizinkan Alisa masuk.


Alisa berjalan memasuki sekolah tersebut dan masuk ke salah satu kelas. Sekitar lima menit kemudian, dia keluar dari kelas yang barusan dia masuki dan masuk ke kelas lainnya. Dia lakukan itu berulang-ulang.


Arya terus memperhatikan jam tangannya, sebentar lagi istirahat tiba. Jika anak-anak keluar kelas, itu akan menyulitkan Alisa melakukan tugasnya.


* * *


Vin mengetuk-ngetukkan jemarinya di meja, memikirkan kejadian yang dia alami dengan orang tak terlihat semalam.


Jika memang orang yang menyerangnya semalam adalah orang yang sama dengan orang yang menghajar Hendi waktu itu, artinya orang itu ada di sekolah ini. Dan mungkin saja orang itu mengenalnya. Jika orang itu mengenalnya, artinya orang itu tau kekuatan yang dia miliki. Gawat pikir Vin, dia harus menemukan orang itu.


"Tap tap tap." Tiba-tiba seorang wanita cantik bermata sayu, berambut panjang memasuki kelasnya.


Semua orang yang ada di kelas itu pun memandang ke arah wanita tersebut dengan heran termasuk Vin.



"Alisa," batin Vin. "Ngapain dia di sini."


Kemudian Vin mendengar suara di telinganya. "Abaikan kehadiranku." Seketika anak-anak serta guru yang memandang Alisa melanjutkan pelajaran tanpa mempedulikan kehadirannya.


Alisa berkeliling di ruang kelas dan bertanya sesuatu pada seorang anak. Dari anak yang satu dia berpindah keanak yang lain, tapi hanya anak laki-laki yang dia tanya. Hingga sampai ke giliran Vin.


Alisa memandang Vin sejenak, Vin sangat gugup. Alisa ingat kalau dia pernah bertemu dengan Vin sebelumnya. Kemudian Alisa bertanya, "Apa kamu keturunan keluarga Abraham."


"Bukan," jawab Vin seketika. Vin terkejut, kenapa mulutnya berbicara sendiri padahal tidak dia perintahkan.


Setelah mendengar jawaban dari Vin, Alisa pun meninggalkan Vin dan melanjutkan ke anak yang lain. Dia terus bertanya apa mereka keturunan keluarga Abraham.


Setelah semua anak di tanya termasuk guru laki-laki yang mengajar, Alisa meninggalkan kelas tersebut.


Siapa itu keluarga Abraham, kenapa Alisa mencarinya? pikir Vin. Karena penasaran, Vin pun keluar kelas dan mengikuti Alisa dari kejauhan.


Alisa berjalan menaiki tangga menuju area kelas tiga. Kemudian dia masuk ke salah satu kelas. Tak berapa lama kemudian, dia keluar dari kelas itu dan berjalan menuju kelas yang lain.


Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki keluar dari kelas yang barusan dimasuki oleh Alisa. Laki-laki itu pun mengikuti Alisa dan bersembunyi di balik dinding.


"Jessie," gumam Vin. "Apa yang dia lakukan?"


Vin terus memperhatikan Jessie. Terlihat sesekali Jessie memegang perutnya dan meringis kesakitan.


Tak berapa lama kemudian, bel istirahat berbunyi. Terlihat Alisa buru-buru keluar dari dalam kelas yang membuat Vin dan Jessie geragapan mencari tempat sembunyi.


Alisa menemui Arya, mereka pun segera masuk ke dalam mobil.


Arya memandang wajah Alisa yang sedikit pucat. "Kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja," jawab Alisa.


"Apa kamu menemukannya?"


"Tidak, sepertinya dia tidak ada di sini."


Sesaat kemudian, sebuah ketukan datang dari pintu mobil, Alisa pun membukanya.


"Gimana?" tanya Gilang. "Kalian menemukannya?"


"Tidak," jawab Alisa. "Aku tidak menemukannya."


"Kamu sudah tanya sama semua laki-laki yang ada di sekolah ini kan?" tanya Gilang lagi.


"Aku sudah masuk kesemua kelas termasuk ruang guru tapi aku tidak menemukannya."


"Tentu saja," jawab Gilang yakin. "Anak yang dihajar kemarin tubuhnya sangat besar dan langsung terpental dipukulnya, jadi mana mungkin dia perempuan."


"Mungkin ada anak yang tidak masuk sekolah," kata Alisa.


"Atau mungkin dia memang tidak ada hubungannya dengan sekolah ini," tambah Arya. "Mungkin dia orang luar yang waktu itu masuk ke sekolah ini."


"Bisa jadi," kata Gilang.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Alisa. "Jika memang dia yang membunuh para pemuda itu, kita harus menemukannya sebelum dia berbuat hal yang lebih buruk lagi."


"Kenapa kita gak tanya sama kak Sandra saja," cetus Gilang. "Dia adalah seorang detektif, dia pasti tau apa yang harus dilakukan."


"Kamu benar. Kalau begitu, kita ke kantornya sekarang." kata Arya.


"Apa aku ikut?" tanya Gilang.


"Gak usah," jawab Arya. "Sebaiknya kamu perhatikan orang-orang yang ada di lingkungan ini, bagaimanapun juga dia pernah muncul di sini. Mungkin dia orang dekat."


"Baiklah."


Arya dan Alisa pun bergegas menuju kantor polisi untuk menemui Sandra.


* * *


Jessie berniat kembali ke kelasnya sebelum dia melihat Vin dari kejauhan yang berjalan mendekatinya.


Vin memandang tangan Jessie yang sedari tadi terus memegangi perutnya. Seketika Jessie langsung menurunkan tangannya.


Vin tersenyum sinis. "Jadi..., itu kamu?"


"Apa maksudmu?" kata Jessie.


"BAK!" seketika Vin menendang perut Jessie.


"AH AH!" Jessie berteriak kesakitan sambil memegangi perutnya yang mengeluarkan darah.


"Beraninya kau menyerangku semalam," geram Vin sambil menoleh ke kiri dan ke kanan seperti sedang mencari sesuatu.


"Apa maksudmu, aku tidak mengerti," kata Jessie lagi sambil melangkahkan kakinya menjauhi Vin.


Vin memandang paku yang tertancap di dinding. Seketika paku itu bergerak-gerak sendiri dan terlepas. Paku itu pun melayang-layang di hadapan Jessie.


"Walaupun paku ini sangat kecil," kata Vin, "tapi jika aku memusatkan tenagaku ke dalamnya, aku yakin paku ini bisa menembus jantungmu."


Jessie tampak panik dan mundur beberapa langkah, matanya melirik ke kiri dan ke kanan berusaha mencari celah untuk kabur dari Vin. Tapi Vin terus mengawasinya, dia tidak akan membiarkan Jessie kabur lagi kali ini.


Vin bersiap-siap menembakkan paku itu ke tubuh Jessie sebelum terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah mereka.


"Sial," kata Vin. Seketika paku yang melayang itu pun jatuh.


Tak berapa lama kemudian, Gilang muncul dari balik dinding dan memandang ke arah mereka. Matanya tertuju pada perut Jessie yang mengeluarkan darah.


"Kenapa dengan perutmu?" tanya Gilang.


Jessie tidak mempedulikan pertanyaan Gilang dan menggunakan kesempatan itu untuk berlari secepatnya meninggalkan Vin. Tapi dia tidak berlari menuju kelasnya, melainkan menuju tempat parkir dan mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan hingga hampir menabrak anak-anak yang ada di sana.



"TIN TIN TIN!" Jessie membunyikan klaksonnya berkali-kali yang memaksa seorang satpam buru-buru membuka gerbangnya.


Gilang jadi heran dengan sikap Jessie, lalu dia bertanya pada Vin, "Apa yang terjadi dengannya?"


"Aku tidak tau," jawab Vin.


"Lalu kenapa kamu ada di sini?"


"Memangnya gak boleh," jawab Vin sambil berlalu meninggalkan Gilang.


Jessie mengendarai mobilnya sambil terus memegangi perutnya yang mengeluarkan darah. Tak lama kemudian, dia berhenti di sebuah rumah besar dan bergegas memasukinya.


Jessie masuk ke salah satu kamar dan memeriksa lukanya. "Sial, bagaimana dia bisa tau kalau itu aku?" gumamnya sambil membuka perbannya dan menggantinya dengan yang baru.