
Vin terpaksa mengakui kalau dia yang mendorong tubuh Hendi dari jendela, agar tidak ada seorang pun yang curiga soal pot terbang itu. Dia bilang tidak sengaja menabrak Hendi ketika lewat di lorong.
Ya walaupun dia sengaja menabrak Hendi pun, sepertinya tubuh Hendi tidak akan bergeming karena perbedaan besar tubuh mereka. Tapi anehnya, kepala sekolah percaya begitu saja dengan penjelasan Vin dan meminta Vin membawa walinya untuk datang ke sekolah keesokan harinya.
Beruntung bagi Vin karena Hendi dan teman-temannya mengira kalau ada seseorang yang melempar pot itu ke tubuh Hendi. Mereka berpikir Vin mengakui perbuatan itu untuk menyelamatkan temannya yang sudah membantunya.
Mereka sama sekali tidak berpikir bahwa Vin yang telah melakukannya. Ya tentu saja mereka tidak berpikir sejauh itu karena itu adalah hal yang tidak masuk akal.
Malam semakin larut. Vin berjalan pulang menuju rumahnya setelah selesai dari kerja paruh waktunya.
Dia bermain-main dengan kerikil yang dilaluinya dengan kekuatan barunya. Kerikil itu pun melayang-layang di udara di sekitarnya.
Vin sangat senang mendapatkan kekuatan itu. Dia tidak peduli dari mana kekuatan itu datang, mengapa dia bisa mendapatkannya dan untuk apa dia mendapatkannya. Yang jelas sekarang dia memilikinya dan bisa dia gunakan untuk melindungi dirinya dari orang-orang yang selama ini telah berbuat jahat padanya.
Seketika kerikil-kerikil yang melayang itu pun jatuh di saat dia ingat bahwa besok dia harus mengajak walinya ke sekolah. Dia jadi pusing memikirkan siapa yang akan ke sekolah bersamanya, yang tentu saja itu bukanlah ayahnya.
Vin memikirkan siapa yang dia kenal, tapi dia tidak mengenal siapa pun. Tiba-tiba dia teringat Veronika.
"Benar Veronika," ucapnya.
Vin bergegas kembali ke rumahnya, berharap Veronika ada di rumah ketika dia pulang. Ini berbanding terbalik dengan hari-hari sebelumnya ketika dia sangat tidak ingin Veronika berada di rumahnya. Dan ternyata Veronika memang berada di rumah. Vin jadi legah.
Veronika berbaring di sofa ruang tengah sambil menonton TV.
"Kemarin kamu ke mana, ayahku mencarimu?" sapa Vin berbasa-basi.
Veronika bangkit dari tidurnya melihat ke kanan dan ke kiri lalu memandang Vin. "Kamu bicara padaku?"
Vin sangat jengkel dengan tingkah konyol Veronika. "Tentu saja aku bicara padamu, memangnya ada siapa lagi di sini?"
"Mukjizat," kata Veronika seraya mengangkat kedua tangannya ke atas, "setelah lima bulan kita tinggal bersama, akhirnya seorang Vin yang sangat membenciku mau bicara padaku."
Vin sangat geram dan hampir saja melemparkan gelas yang ada di meja ke kepala Veronika dengan kekuatan barunya.
"Besok waliku disuruh datang ke sekolah. Aku ingin kamu yang mewakilinya," kata Vin yang tidak mau lagi berbasa-basi sambil berlalu menuju kamarnya.
"Oh... ternyata ada maunya," kata Veronika kembali berbaring di sofa.
"Aku akan memberi tau nomor kombinasi brangkas ayahku jika kamu mau melakukannya!" teriak Vin dari dalam kamar.
Veronika langsung bangkit dari sofa dan menuju ke kamar Vin. "Kamu tau nomornya?" Vin mengangguk.
"Berapa?" tanya Veronika bersemangat.
"Lakukan dulu tugasmu, baru aku akan memberi taumu."
"Deal," balas Veronika dengan penuh semangat. Dia tau benar dalam brangkas Ayah Vin terdapat uang yang sangat banyak. Dia sering melihatnya ketika Ayah Vin membukanya.
Ayah Vin bilang itu bukanlah uangnya, melainkan uang bosnya. Tapi Veronika tidak peduli itu uang siapa. Dia akan mendapatkannya dan pergi menjauh dari kota yang busuk ini.
* * *
Pagi harinya ternyata Ayah Vin sudah ada di rumah. Tapi dia masih tertidur lelap ketika Vin dan Veronika pergi meninggalkan rumah. Mereka pun berjalan melewati rumah-rumah penduduk menuju halte bus.
"Di mana kamu menemukan pakaian itu?" tanya Vin saat melihat Veronika memakai kemeja putih dibalut dengan blezer hitam dan rok hitam.
"Bagus kan, aku terlihat seperti wanita karir," kata Veronika sambil melihat penampilannya. "Aku menemukannya di lemari Ayahmu. Mungkin ini milik mantan istri-istrinya dulu."
"Oh ya, ngomong-ngomong apa yang kamu lakukan sehingga walimu harus datang ke sekolah?" tanya Veronika.
"Aku tidak sengaja menabrak seorang siswa ketika lewat di lorong dan dia jatuh dari jendela," jawab Vin.
"Apa anak itu mati?" tanya Veronika lagi.
"Sayangnya tidak," kata Vin kesal.
Veronika memandangnya dan berkata, "Kamu sengaja menabraknyakan?" Vin hanya diam.
"Hah...," desah Veronika, "dulu aku juga sering di bully di sekolah karena aku miskin dan asal-usulku yang tidak jelas. Aku bahkan tidak tau siapa ayahku yang sebenarnya," wajah Veronika tampak sedih, "hidup itu benar-benar mengerikan."
Vin berhenti ditengah-tengah keluh kesah Veronika.
"Ada apa?" tanya Veronika.
"Tidak ada." Vin melanjutkan jalannya diikuti oleh Veronika. Dia benar-benar kecewa karena para berandal itu tidak ada di tempat biasanya. Padahal Vin berniat memberi pelajaran pada mereka hari ini.
Mereka pun menaiki sebuah bus yang biasa Vin naiki setiap harinya.
"Nanti di sekolah bilang saja kalau kamu adalah kakakku. Bilang kalau orang tua kita sudah meninggal dan iyakan saja apapun yang dikatakan kepala sekolah," kata Vin memandang Veronika yang duduk di sampingnya.
"Baiklah, aku mengerti," jawab Veronika.
Setelah beberapa menit, mereka pun tiba di sekolah dan menuju ruang kepala sekolah. Mereka menunggu di ruangan itu beberapa saat hingga kepala sekolah tiba.
"Jadi Anda adalah Walinya Vin?" tanya kepala sekolah kepada Veronika sesaat setelah memasuki ruangan.
"Vin, kamu bisa kembali ke kelasmu. Bapak akan bicara dengan Kakakmu."
Vin pun menuruti perintah kepala sekolah dan pergi dari ruangan itu. Tapi sebelum pergi dia sempat memandang Veronika dan Veronika mengedipkan sebelah matanya.
Di dalam kelas, Vin merasa tidak tenang. Dia takut Veronika akan berkata hal-hal yang tidak berguna dan malah memberatkan hukumannya. Berkali-kali dia melihat keluar melalui jendela kelasnya, kalau-kalau Veronika sudah keluar.
Sekitar setengah jam kemudian, Veronika terlihat berjalan di lapangan menuju gerbang sekolah. Vin melempar kertas ke arahnya. Veronika mendongak ke atas melihat Vin ada di jendela dan dia pun mengangkat dua jempolnya ke atas sambil tersenyum.
* * *
Veronika melihat Ayah Vin yang sedang membuka brangkas simpanannya. Dia melihat uang itu masih ada di dalamnya.
"Kamu belum tidur?" tanya Ayah Vin sambil mengunci brangkasnya lagi.
"Sebentar lagi, aku mau nonton film kesukaanku dulu," kata Veronika sambil berlalu keluar kamar.
"Aku akan tidur duluan, jangan lupa mengunci pintu kamar saat kamu tidur nanti," kata Ayah Vin. "Aku tidak mau anak itu masuk ke kamarku saat aku sedang tidur dan membunuhku."
"Ya," jawab Veronika.
Beberapa menit kemudian, Ayah Vin terlihat sudah tertidur pulas. Veronika kular-kilir di ruang tengah sambil sesekali memandang jam dinding. Sudah pukul 11 malam lebih tapi Vin belum juga pulang. Dia ingin menagih janji Vin yang akan memberikan nomor kombinasi brangkas suaminya.
"Kreek..." terdengar pintu depan terbuka. Veronika langsung berlari pelan menghampirinya. Dia tidak mau membangunkan Ayah Vin yang sudah tidur.
"Berapa?" tanya Veronika pelan setelah dekat dengan Vin.
"Katakan dulu, apa yang dikatakan kepala sekolah," kata Vin.
"Dia bilang kali ini dia memaafkanmu dan memintaku untuk mengawasimu. Tapi jika lain kali kamu melakukan kesalahan lagi, dengan terpaksa dia akan mengeluarkanmu dari sekolah."
"698939," kata Vin kemudian yang membuat Veronika senang.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah mendapat uang itu?"
"Tentu saja meninggalkan si tua bangka itu," bisik Veronika.
"Kamu akan mengambilnya sekarang?"
"Apa kamu menyuruhku mati, tentu saja tidak. Aku akan mengambilnya besok setelah Ayahmu pergi kerja." Veronika berlalu meninggalkan Vin menuju kamarnya, menutupnya dan menguncinya.
Sebelum tidur, Veronika memandang brangkas itu. Dia tersenyum membayangkan sebentar lagi uang itu akan menjadi miliknya.
Pagi harinya Veronika terbangun dan melihat Ayah Vin masih tertidur. Dia pun kembali melihat brangkas yang akan menjadi miliknya itu. Tapi ada yang aneh, brangkas itu sedikit terbuka. Karena penasaran, dia pun mendekati brangkas itu dan benar saja, brangkas itu tidak tertutup rapat.
Dia pun semakin penasaran dan membuka brangkas itu. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat brangkas itu sudah dalam keadaan kosong. Uang bertumpuk-tumpuk yang masih dia lihat semalam ketika suaminya membukanya sebelum tidur, sudah tidak ada.
"Apa yang kamu lakukan?" terdengar suara dari belakangnya. Sepertinya Ayah Vin sudah bangun.
"Deg deg deg." jantung Veronika berdegup kencang.
"Di mana uangku!" teriak Ayah Vin melompat ke arah brangkasnya.
"Bukan, bukan aku yang mengambil," kata Veronika gemetaran.
Ayah Vin melihat sekeliling kamarnya kalau-kalau ada yang masuk ketika mereka sedang tidur. Dia mengecek pintu dan jendela kamar tersebut tapi masih dalam keadaan terkunci. Tidak ada tanda-tanda orang masuk sedikit pun.
Ayah Vin memandang Veronika dan berkata, "Kamu yang mengambilnyakan?"
"Bukan, bukan... Aahhh." Ayah Vin menjambak rambut Veronika dan membenturkannya ke lemari.
"Di mana kamu menyembunyikannya!" teriak Ayah Vin disela-sela bunyi pukulan berkali-kali di wajah Veronika.
"Aku tidak tau, aku tidak tau!" teriak Veronika histeris.
Ayah Vin mengobrak-abrik seisi kamar berusaha mencari uang yang dia kira disembunyikan oleh Veronika.
Vin yang sedari tadi mendengar keributan itu dari kamarnya, sama sekali tidak peduli dan melanjutkan tidurnya.
"Aku ingin uangku kembali saat aku pulang nanti dan jangan coba-coba kabur jika kamu tidak ingin aku laporkan ke polisi," ancam Ayah Vin mengunci pintu kamar dan meninggalkan Veronika berada di dalamnya.
"Hiks... hiks..." terdengar isakan tangis Veronika dari dalam kamarnya.
Vin keluar saat tau ayahnya sudah pergi. Dia berjalan mendekati kamar Veronika dan seketika kamar yang terkunci itu pun terbuka.
Veronika terkejut, berpikir suaminya kembali lagi tapi ternyata Vin yang berdiri di depan pintu kamarnya.
Vin memandang Veronika yang duduk terkulai di lantai dengan wajah lebam dan mulut berdarah. Seketika dia tersenyum.
Senyum yang lebih mirip seperti seringai.
Seringai yang mengerikan.