HATRED

HATRED
Ada yang Aneh



Sebuah ambulance bersirine nyaring memasuki halaman sebuah sekolah. Tampak beberapa anak tengah menggotong tubuh seorang laki-laki yang tak sadarkan diri dengan kepala berlumuran darah menghampiri ambulance tersebut.


Petugas kesehatan dengan cekatan keluar dari ambulance dan membantu mereka meletakkan laki-laki tersebut ke dalamnya.


“Dasar bodoh,” gumam Vin yang melihat Gilang turut membantu Hendi.


Dengan segera ambulance membawa tubuh Hendi meninggalkan sekolah menuju ke rumah sakit.


“Sebaiknya kalian hubungi keluarga Hendi,” kata Gilang pada teman-teman Hendi. Mereka pun segera meninggalkan Gilang dan bergegas ke rumah Hendi.


Gilang mengeluarkan ponselnya. “Dia ada di sini, cepatlah,” kata Gilang pada seseorang di saluran telepon, kemudian dia pun menutup pintu gerbangnya.


Vin yang memandang Gilang dari atap sekolah merasa heran kenapa Gilang tidak pergi dan malah menutup pintu gerbangnya. Tapi rasa heran Vin terjawab setelah sebuah mobil berhenti di depan pintu gerbang yang di naiki oleh Arya dan Alisa.


“Sial,” gumam Vin yang buru-buru mencari tempat sembunyi.



Arya dan Alisa segera menghampiri Gilang.


“Dia baru saja menyerang seorang anak,” kata Gilang membuka pintu gerbang.


“Kamu yakin itu dia?” kata Arya memasuki pintu gerbang.


“Aku tidak tau, tapi tiba-tiba sebuah batu jatuh dari atas tepat ke kepala anak yang kemarin sempat dihajarnya.”


Alisa memandang wajah Gilang yang babak belur, kemudian dia bertanya, “Kenapa dengan wajahmu?”


“Nanti aku ceritakan,” kata Gilang. “Kita harus mencarinya dulu, mungkin saja dia masih ada di sini.”


Untuk sejenak Arya mengamati lingkungan sekolah itu. Sekolah tersebut dikelilingi tembok yang cukup tinggi, jadi jika memang dia masih ada di sini, pasti akan sulit buatnya melarikan diri. Tapi masalahnya dia tidak terlihat, pasti akan sulit menemukannya.


“Alisa, kamu tunggu di sini. Jangan sampai dia pergi lewat pintu gerbang. Aku dan Gilang akan mencarinya ke dalam." Alisa pun mengangguk.


“Jika kamu merasa ada yang mencurigakan, berteriaklah,” tambah Arya lagi memandang Alisa. Alisa kembali mengangguk.


Arya dan Gilang perlahan memasuki area sekolah.


“Apakah kita harus berpencar?” tanya Gilang.


“Sebaiknya begitu, tapi hati-hatilah. Sepertinya orang ini berbahaya.” Gilang pun mengangguk.


Vin yang melihat mereka mulai mengelilingi sekolah segera berlari mencari tempat sembunyi. Dia berlari menuruni tangga dan membuka pintu sebuah ruangan, tapi pintu itu terkunci, dia berpindah ke pintu yang lain tapi semua pintu yang ada di sekolah itu sudah dikunci.


Vin kebingungan, jika mereka sampai masuk ke gedung di mana dia berada, maka tamatlah riwayatnya karena di sana benar-benar tidak ada tempat sembunyi.


“Bodoh bodoh bodoh.” Vin memukul-mukul kepalanya. “Seharusnya aku tidak menolong Gilang tadi, seharusnya aku biarkan saja dia dihajar Hendi.”


Vin mengintip dari sebuah jendela yang ada di pojokan. Terlihat Arya menuju gedung tampatnya berada.


“Gawat gawat gawat.” Vin lari pontang-panting menaiki tangga kembali ke atap.


Benar-benar tidak ada tempat sembunyi di atap. Vin membalikkan badannya menghadap ke pintu. Tidak ada cara lain pikir Vin, jika Arya muncul maka dia harus menghadapinya.


Vin memandang bangku yang ada di atap, bangku itu pun melayang. Dia akan menggunakannya untuk menghajar Arya.


Tapi seketika Vin ingat kejadian waktu itu, saat besi reklame menimpa Arya dan dia tidak terluka sama sekali. Jadi bagaimana mungkin bangku seperti ini bisa merobohkannya. Nyali Vin langsung menciut dan bangku yang melayang itu pun terjatuh.


Vin terdiam merapat ke dinding, dia hanya bisa pasrah jika tiba-tiba Arya datang dan menemukannya. Memangnya apa yang akan mereka lakukan jika menangkapnya.


Tidak mungkin mereka akan membunuhnya kan. Lagi pula mereka tidak mencarinya mereka mencari orang tak terlihat. Dia hanya harus pura-pura bodoh jika mereka menemukannya pikir Vin.


Vin memandang Alisa yang ada di depan pintu gerbang. Untuk sesaat dia terdiam memikirkan sesuatu. Mereka mencari orang tak terlihat, artinya mereka juga tidak tau orang tersebut masih ada di sini atau tidak. Dia harus membuat seolah-olah orang tersebut sudah pergi. Jadi mereka akan meninggalkan sekolah ini dan dia bisa melarikan diri.


Vin memandang pintu gerbang dan seketika pintu gerbang tersebut terbuka.


Arya yang melihat hal itu langsung melompat dari jendela di lantai dua dan berlari menuju pintu gerbang. Begitu pun dengan Gilang, tubuhnya melayang secepat kilat menuju pintu gerbang. Mereka bergegas mencari orang tak terlihat di luar pintu gerbang karena mereka berpikir orang tak terlihat itu sudah keluar.



“Benar-benar menyusahkan jika harus mencari orang yang tak terlihat,” keluh Gilang setelah mereka berlari ke sana-sini tanpa tujuan.


“Kamu benar,” tambah Arya.


“Semoga saja tidak ada yang melihatku terbang tadi,” kata Gilang lagi seraya menoleh ke kiri dan kanan, tapi tempat itu sepi, tidak ada orang selain mereka.


Mereka pun berjalan kembali ke sekolah. Gilang memegangi wajahnya yang kesakitan karena dihajar Hendi tadi.


“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Arya pada Gilang.


“Sebenarnya aku tadi sedang di hajar Hendi habis-habisan ketika tiba-tiba sebuah batu jatuh dan menimpa kepala Hendi.”


“Hendi anak yang waktu itu memukulmu juga kan?”


“Ya benar.”


“Kenapa kamu selalu berurusan dengannya?”


“Karena tadi di sekolah, dia mengganggu seorang anak dan aku menegurnya. Lalu Hendi menantangku berkelahi sepulang sekolah. Dengan terpaksa aku ladeni, jadi beginilah keadaanku sekarang.”


“Artinya dia menolongmu?” kata Arya.


“Siapa?” tanya Gilang.


“Orang tidak terlihat itu.”


“Benar,” kata Gilang. “Ini sudah kedua kalinya dia menolongku. Aku jadi merasa bersalah karena berniat menangkapnya.” Arya hanya diam.


“Aku harap bukan dia yang membunuh para preman itu.”


“Ya semoga demikian,” kata Arya. “Mungkin kamu juga harus berdoa agar anak yang tertimpa batu itu tidak mati. Karena jika tidak, walau pun bukan dia yang membunuh para preman itu, dia juga akan tetap mendapat hukuman yang sama, karena sama-sama membunuh.”


“Kamu benar, semoga Hendi tidak apa-apa.”


Arya pun masuk ke sekolah dan menghampiri Alisa.


“Ada apa?” tanya Arya yang melihat Alisa terus memandang sekeliling sekolah itu.


“Ada yang aneh,” kata Alisa. “Seharusnya aku bisa merasakan kehadirannya saat dia berada di dekatku, tapi aku tidak merasakan apa-apa ketika dia membuka pintu gerbang itu.”


“Mungkin karena dia berjalan sangat pelan,” kata Arya.


“Entahlah, aku hanya merasa tidak ada yang membuka gerbang itu.”


“Maksudmu gerbang itu terbuka sendiri?” tanya Arya lagi.


“Sepertinya begitu.”


“Apa menurutmu kita harus mencarinya di sekolah ini lagi?” tanya Arya.


“Teman-teman bisakah kita pergi?!” teriak Gilang yang menunggu di dekat mobil. ”Aku ingin ke rumah sakit melihat keadaan Hendi dan mengobati lukaku.”


“Bagaimana?” tanya Arya lagi pada Alisa.


“Mungkin aku salah, sebaiknya kita pergi saja," jawab Alisa.


Mereka pun berjalan menghampriri Gilang dan pergi meninggalkan tempat itu.


Vin memandang mobil mereka yang menghilang dikejauhan.


“Jadi... itu kekuatanmu Gilang,” gumam Vin tersenyum.