
Pukul 12.30 Istirahat ke 2.(Yha sekolah ini agak beda, kita harus disiplin, setiap hari pulang sore, untung istirahat 1 jam.Bisa mati aku terlalu lama duduk di kelas.
Seperti anak lelaki pada umum mending main bola di lapangan, tapi hari ini ada janji dengan Johan(anak grunth) ia anak sahabat ayahku, jadi secara tidak langsung Johan juga sahabatku. "Hemmm tapi ajak Dila nggak ya? Nggak usah malah repot."Batinku
Johan
Untuk menghindari Dila aku harus ambil jalan memutar untuk ke perbatasan di sana zona bebas, anak gruna maupun grunth bebas berkeliaran. Toh hanya tanah lapang kosong banyak pepohonan dan kolam buatan luas, temat ini memang favorit untuk kumpul-kumpul. Makannya perbatasan yang kesini dominan cowok.
Tapi tiba-tiba ditengah jalan nggak sengaja kertemu singa gurun itu,ia tampak beda! Duduk beralaskan rerumputan dibawah pohon rindang, membawa alat gambarnya menyendiri, biasanya juga kumpul sama gengnya. "Aku harus ambil jalan lain, Ah bomat lewat tinggal lewat !"Gumam ku...bimbang akhirnya aku memutuskan nanti gua lari sekencang mungkin.'Tapi mana mungkin Fey perduli, aku yang terlalu banyak mikir aneh-aneh'
Fey itu terlalu hebat ia bisa menguasai banyak hal dalam berbagai bidang, hanya satu yang ia tidak bisa Fey itu sangat buruk dalam menyanyi, setiap ada praktek pasti bolo.
Kaki gemetar, lari secepat-cepatnya,"Buk..."Aku terjatuh tepat didepan Fey, aduh malu banget!
Jatuhnya nggak sakit malunya.Dengan sigap lalu berdiri seolah tidak terjadi apa-apa.'Hancur sudah reputasi gua !'
"Heh...bodoh !" Sindir Fey
"Banyak omong, hilih dasar tulul !"Ucapku dengan nada ninyir pula.
"Terserah."Memutar bola mata.
"Bay, dasar Fey tolo*."Langsung lari setelah merampas gambarnya.
Emang gua yang suka bikin ribut, dah lama nggak ribut ama ni singa. Aku menghentikan langkahku perlahan mulai melamban. Ternyata Fey tidak mengejar 'Sial kenapa sih? rasanya kok aneh. Kok dia nggak ngejar, harusnya dia marah,"
Rasanya semua aneh, aku selaku bertingkah aneh, sesuatu yang aku perbuat tidak berakhir sesuai keinginan. Seolah tidak ada wanita lain yang bisa menandingi Fey dimataku, kenapa Fey itu! Bagiku Fey itu sepesial tapi baginya aku sangat bodoh dan tidak berguna.Jika aku punya keberanian meminta maaf, apa mungkin semua jadi seperti dulu? Aku terlalu banyak berfikir mana mungkin, sekarang semua sungguh berbeda, aku terlalu naif.
/..........\ΠΠΠΠΠΠ/............
Johan pasti sudah lama nunggu gua, dari kejauhan Johan duduk diatas batang kayu tua ditepi kolam, dengan seseorang yang juga berseragam grunth duduk di sampingnya, 'mungkin Johan ajak teman'. Aku segera menghampirinya.
Fyan :"Hey......."
Johan :"Ni dia orang nya !"
"Kenalin, temen gua nama nya Fano !" Sambungan Johan
Sangat tampan, tinggi, misterius. Itu yang ada dalam beanakku saat itu
"Oy kok bengong, kesambet ya lo !"-Sela Johan
"Enggak lah !Lo jangan terlalu formal, lagian kita belum tua-tua amat, ini bukan acara pesta membosankan bapak-bapak pebisnis !"-Ucapku.
Keluarga Nawindara, keluarga seniman. Satu lukisan saja bisa terlelang ratusan juta.
"Maaf...." Fano sambil tersenyum kecil.
Dalam hatiku "Aduh, kok canggung. Mungkin karna baru kenal !"
"Eh....yan kok elo nggak ajak pacar lo yang tepo* itu ?"- Johan
"Nggak, ribet. Mana mau di ajak ketempat ini banyak alesan, yang becek, yang banyak serangga." Respon ku menghela nafas.
"CEWEK LO ALAY" Sahut Fano tertawa kecil
Fyan :"Yah emang, lo inget nggak Jho ?! Waktu di bazar buku !"
Johan :"Yang dia nangis kejatohan ta*burung ?"
Fyan :Hemmm.Ah habis itu beli baju tapi kegedeaan semua !"
Fano menyela" Wkw...kwk. Kok bisa ?"
Tawanya begitu lepas, kukira akan canggung. Ternyata anaknya receh banget.
"Ngambek minta putus, malemnya minta balikan !" Johan tertawa terpingkal pangkal.
"Aduh dasar cewek lo yan. Uhuk-uhuk , malu banget kalo gua jadi dia!"Fano yang tertawa samapai batuk-batuk. .
"Haha....haa..." Kami juga sampai tertawa terpingkal-pingkal.
Rasanya lega, terkadang cinta itu bukan nomer satu, pertemanan sejati , seorang teman yang saling mengerti, tertawa bersama. Satu lagi teman dalam hidup saya, baru sekejap saya menemukan Fano rasanya punya hidup baru. Ternyata orang yang sudah lama kita kenal bukan berati orang paling dekat dengan kita. Orang yabg baru datang dalam hidup saya, murah senyum, jujur.
Keluarga, Cita-cita , Rey, Johan , Fano ,Fey, dan 5pilar. Mereka berharga, jujur Dila sama sekali tidak penting untukku. Kami punya hubungan dan aku hanya mencoba berperan sebagai pacar yang baik, aku ingin segera jujur bahwa aku tidak mencintainya.