Hate And Heart

Hate And Heart
Keributan



Yang dilakukan Dila kali ini sangat lah, memalukan. Pacar ku yang tol*l ini menantang siang gurun, padahal aku saja tidak berani, aku aja selalu menghindar singa gurun. Apa ni orang mabok? Dila....Dial....kali ini bener-bener buat gua malu. Apa nggak nyadar. Fey itu cewek *****, galak pula.


"Dila......mulutnya di jaga !" Aku yang masih mencoba mengendalikan Dila.


"Apa an sih! Eh genit. Pokoknya gua nggak terima !"-Dial yang makin marah, berteriak seperti orang kesurupan. Membuat semua berkumpul, termasuk Roy dan anak-anak futsal mengerubungi kami.


"Eh ribut ,......wah..rame....siapa yang ribut!"Bisik orang yang mengrubun, 'mungkin ini tontonan seru bagi mereka.'


Dila yang makin menjadi-jadi "Eh....culun. Taukan gua ini terkenal, eh cuma cewek biasa ! Sadar diri! Awas aja. Pokoknya gua harus ikut basket.....kalo perlu gau kaptennya !"


Perkataan yang sangat lancang. Memang Fey hanya murit biasa, tapi wanita ini tidak perlu dukungan atau pun sorakan untuk membalas Dila. Mungkin dari segi pamor Dila nomer satu, atau mungkin tidak! Fey mungkin hanya diam. Yang ia benci aku, apa mungkin karena aku, Dila gagal seleksi.


"Anda dan pacar anda itu sama saja. Sama-sama orang bodoh.Anda itu payah, jika anada gabung klub itupun percuma, wanita yang hanya akan jadi beban!" Ktik Fey, seketika semauanya dalam. Bahkan mereka yang dari tadi bisik-bisik ikut membisu.


Aku mendengar jelas yang baru saja kelau dari mulut Fey, 'kenap aku nggak marah? Aku harus nya bela Dia', aku tidak berpihak pada siapapun, hanya penonton.


"Emang cewek anjin*......!"Gerakan tiba-tiba yang Dila di lakukan semakin membuat orang panik, mencoba bakau hantam dengan Fey, aku pun reflek menahan Dial kuat-kuat, maraih tubuh nya tanap gerakan terkontrol membanting tubuhnya ke tanah. Dila jatuh dengan posisi terduduk


"Yan......kok kamu kasar banget !"Bentak Dial, yang membuatku baru menyadari sepenuhnya yang baru saja ku lakukan.


Fyan :"Dial maaf ....!!!!!." lalu ku ulurkan tanganku


"Aduh......"Suara Fey terdengar kesakitan, aku yang awalnya menolong Dila untuk bangkit, menarik kembali tanganku, padahal Dila belum sempat meraih uluran tanganag dari ku, aku pun langsung berdir setalah mendengar suar Fey tadi. Rupa Dila langsung berubah tamang masam, mengerutkan kedua alisnya.


Ternyata Raka mengambil kesempatan untuk kabur, Raka menarik Fey untuk segera pergi, Namaun salah seorang adik kelas yang juga anak futsal menjegal kaki keduanya. Fey terjatuh menimpa tubuh Raka. 'Ah MATAKU JADI SAKIT MELIHAT INI !', dan mereka berdua masih saling menatap, semua orang menjadi terfokus pada mereka berdua.


"Sudah cukup adegan konyol ini..... !" Cakapku dengan nada dingin dan sedikit membentak.


Sorot mataku tajam pada Sam (adik kelas yang tadi menjegal kaki Raka)


"Bocah tengil.... minta maaf !"


"Tidak sudi......Fyan, kenapa Lo jadi nggak asik gini!" Semakin besar kepala anak itu, sangat lancang, aku tau Sam berpihak pada Dila, bagaimana pun bocah hanya anak ingusan yang bodoh, cari-cari celah untuk membuat Dila seolah benar. Bisa-bisanya memihak Dila aku yang pacar Dila ogah membebelanya. Ini bukan soal cinta, ini soal keadilan.


Dengan nada tinggi, kata kasar semua tak terkendali keluar begitu lancar dari kulutku.


"Dengar, yang salah Dila! Jelas-jelas tidak di terima basketball, Dila ngoto dan ngomong nglantur! Yang Fey suka sama Fyan, Fey itu pendendam.....bla-bla !"


"Fyan.....keanapa kamu belacewek anjing itu!!!"Dial menghampiri ku


"Udah jangan bawel !"Ucapku dingin lalu menampar Dila. Melihat yang baru saja ku lakukan, orang-orang kang gosip tadi pergi berhamburan. Termasuk Raka, Fey maupun Sam, lalu aku tanpa bicara menyeret Dila, kami duduk di teras depan lab.


Kali ini aku jadi orang dingin yang selalu bicara dengan nada datar.


"Ayo....putus saja! Saya nggak cinta sama anda. Sedari awal, sebenarnya cuman main-main!"