Hate And Heart

Hate And Heart
Pahlawan kesiangan



Lapangan tempat biasa latihan, hanya berbatas pagar jaring dari kawat yang tidak cukup tinggi, pemandangan setiap Rabu sore tim basket dan tim futsal sedang berlatih.


"Sayang.......!!"-Ucap lembut Dila nenyandarkan tubuhnya di pundak ku.


"Hemmmm ?"Jawabku sambil sesekali mengawasi anak-anak latihan.


"Aku juga ingin ikut basket ,kelihatanya permainan itu menyenangkan."-Ujar Dila bibirnya sedikit maju,dia tampak sangat imut.


"Hemmmm.....jangan lah !"(mencari alasan)


"Hih...pasti karena Fey, diakan pernah deket sama kamu !"(Ngambek)


"Kamu tau kan itu cuman gosip.Lagina kamu itu satu-satunya ."Ucapku mencubit kecil pipi cabi Dila.


"Janjinya aku ikut basket !"-Dila


"Iya-iya......!"Timpalku yang sebenarnya aku tidak yakin.Entahlah sebenarnya karna aku harus menghadapi Fey, itu membosankan.


"Ok......aku pulang dulu.Janji tapi !!!"Mengacungkan kelingkingnya .


"Hemmm Janji"(Dengan senyuman )


"Ayo-ayo semangat...."Teriakku dari ujung lapangan langsung turut dan iku bermain.


Sedang asik bermain,tiba-tiba bola basket terpental melambung tinggi memasuki lapangan futsal, mengenai kepalaku.


"Bisa main nggak? Mendingan bubuar aja !"Ucapku lantang dan keras langsung marah-marah.


"Maaf......"Ucap Diana berlari mendekat kearah ku.


"Dasar....bodoh!"-Aku


"Kemarikan bolanya, kami tidak sengaja !"Sahut Fey


"Ambil aja sediri, ogah banget !"-Aku dengan nada menghina lalu melemparkan bola basket itu jauh-jauh kesisi lain lapangan.


"Fyan.....mau lo apa? Kami udah minta maaf, toh kena bola juga ngak sakit."Srobot Raka si kapten basket putra dengan nada marah pula.


Kita masih waras, percuma bicara dengannya !"-Fey mencoba menahan Raka untuk mengajarku.


"Dah.......dah....Raka !"Timpal Fey menarik lembut tangan Raka, mengajaknya kembali ke sisi lapangan basket.


"Seharusnya tadi aku langsung menghantam Raka itu, cuman cowok tengil.Sok jadi pahlawan, Fey juga seenaknya bilang aku bodoh, padalah mereka berdua itu bodoh"


Fikirku.


Ada dua golong cowok mereka yang pandai dan taat aturan mereka yang memotong rambut dengan model bros dan mereka yang hanya cari tenar. Sebenarnya aku tidak suka berpura-pura, aku hanya orang lemah yang gila pamor, tapi jika aku tidak begini ,pasti aku sudah jadi korban bullying.


"Hahah......"Tawa mereka cukup keras, membuatku mengalihkan pandangan, mengacaukan konsentrasi.


Para pemain basket itu mereka sedang istirahat ngaso dibawah pohon, ada sekitar 7 perempuan dan 5 laki-laki, mereka duduk saling melingkar bertukar cerita tentang kekonyolan hidup masing-masing, mereka tampak bahagia.


Tidak seperti kami(tim futsal) setiap lahitan, kerap terjadi pertengkaran.Saat istirahat di tengah-tengah latihan kami sibuk dengan ponsel, sibuk pacaran ,main ML, nonton vidio porno. Bahkan kami diam-diam ngrokok di belakang gedung sekolah, kami satu tim namun tidak ada ikan kerjasama ataupun persahabatan di antara kami.


Jika ditanya "Siapa mereka ?"Aku pasti menjawab bahwa mereka teman-temanku.Tapi kenyataan nya tidak sedemikian, kami tidak perduli satu sama lain. Saat kalah kami saling menyalahkan, kami tidak punya pendukung .Para supporter hanya akan mendukung saat kami menang, saat kami terpuruk akan kekalahan mereka akan menyalahkan tim lawan.


"Pemain lawan tinggi-tinggi "


"Huh.......curang ini tidak adil".


"Kipernya memenuhi gawang "


Seru mereka, bukanya menyemangati kami, sikap fanatik mereka hanya membuat malu.


Terutama pacarku ia selalu berdiri digaris depan untuk mendukungku namun,aku mengawasinya dia berfikir aku bodoh, Dila hanya sibuk selfi dengan teman-temanya, bertukar nomer dengan cowok lain .Saat timku kalah Dila akan menelfonku dan berbicara "Aku pulang duluan, ada urusan mendadak !"Dan selalu begitu.


Seharusnya aku cemburu, harusnya aku marah, aku tidak perdulu Dila dekat dengan siapa, bagaimana cowok-cowok itu medekatinya. Tapi tidak aku lebih mengasihani dirikku sediri kenapa aku memilihnya menjadi serpihan kecil hidupku.


Harus bagaimana kedepanya ? Aku sama sekai tidak mencinta Dila aku bosan dengan situasi ini.Aku sadar sepenuhnya namun aku tak tahu yang hatiku inginkan.


Hidupku seperti buku anak TK, sampulnya berwarna-warni, namun didalamnya hanya coretan-coretan berantakan .Kelihatannya aku bahagia punya banyak teman ,kenyataanya aku anggap mereka cuma benalu, mungkin istilah sekaran fake.


Sepertinya tuhan melarangku bahagian.