Hate And Heart

Hate And Heart
Kekuatan.



Sosok tak asing Dimata ku, sosok yang selalu muncul membawa masalah dan gundah dalam hatiku, siapa lagi kalau bukan singa gurun itu. Menunjukan sisi yang berbeda, apa Ini wajah aslinya? Mata lavende tampak lebih sayup dari biasanya. Berjalan dengan hentakan hebat, seakan ia ingin menghancurkan bumi dengan sekali hentak. Aku hanya berdiri dipojok ruangan mengawasinya dengan heran padahal ia tampak begitu murung, tapi gelagatnya sepeti orang kebakaran jenggot. Menikmati pemandangan wanita sexy dengan gaun hitam berenda putih, belahan dada montok terlihat begitu menggoda. Apa salahnya menikmati kelok tubuh musuh sendiri? Toh aku saat ini hanya sekedar sukma, dan Fey tidak akan melihat ku.


WANITA ANEH, ia mengayunkan pedang dengan sembrono, gila! Latihan pedang didalam kamar itu satu hal croboh, bahakan tapa perleangkapan keamanan. Aku sangat paham dan mengerti dengan permainan pedang, dari kecil aku menyukai seni perang, ikut perguruan dan sebagainya sampai semua itu dilarang keras ibuku, jadi aku cukup terampil menggunakan pedang. Dan yang dilakukan singa gurun saat ini itu hal bodoh, jika aku bisa pasi aku sudah memaki-maki orang ini sepuasnya.


Fey menghentikan permainan pedangnya, tubuhnya ambruk seketika dan tergeletak begitu saja terkulai lemas di lantai darah perlahan mengalir dari hidung. Paniak dan mendekat i nya, sayangnya aku hanya bisa memandang sambil berdiri kaku. Tak bisa berbuat apa-apa aku tidak bisa, padahal bisa saja menolong aku bisa menyentuh tubuh Fey, tapi ini ujungnya akan membuat bencana. Sedikit pun tidak bisa bergerak, darah yang keluar makin bayak, singa gurun yang biasa garang tak berdaya barah membuatnya kesulitan bernapas.


____________///_________


"Cih........ia masih manusia!" Gumamku, keadaan memaksa mendesakku, padalah ini beresiko tapi aku tidak sejahat itu, lalu aku segera mengangkat Fey ke ranjang yg ada di samping kiri pintu masuk. Aku seketika panik saat ia mulai kehilangan kesadaran, matanya terpejam namun masih sedikit terbuka, masih mengerakan bola matanya.


"Fey......Fey! " Berulangkali memangil namanya, dan Fey benar-benar tidak bergerak. Perasaan aneh, muncul hal-hal buruk terbesit dalam otak.Tanganku gemetaran" Fey Zalota !"Bisik ku ditelingnya, pikiran ku mengacau. Terbayang-bayang hal mengerikan tentang Fey, mencoba memeriksa nadinya.


Kacau, perasaan ku campur aduk. Seketika pikirku kosong. "Tuhan....." aku merasakan sesuatu yang salah dengan hatiku, aku ketakutan setengah mati, berfikir ini akhir hidup Fey bisa-bisanya aku berfikir negatif seperti tadi. Fey hanya pinsang, tapi aneh padahal kami musuhan tapi aku simpatik, dan lagi kenapa aku berpindah kemari, kenapa harus Fey. Kapan aku bisa mengandalkan kekuatan ini, kekuatan ini sangat aneh. Aku bertepotas namun tidak secara mungkin ini kesempatan yang baik, mungkin memang Fey tidak mendengar bahkan ku, namun aku masih bisa mengeggam tangannya.


"Fey..... ini Fyan, percayakah anda? Jika saya ingin hidup lebih baik, sejujurnya aku tidak ingin begini saya tidak tahu alasannya, mengapa setiap saat melihat anda, setiap sorot mata anda itu bagai sihir. Saya tidak seburuk yang selalu ada pikirkan, saya memang salah. Dulu saya selalu merasa besar kepala, saya merasa hebat dikelilingi banyak orang seolah-olah mereka banyak wanita yang selalu muncul mengatakan bahwa mereka mencintai saya. Anda itu berbeda, bukan-bukan aneh tapi sepesial sungguh sejak awal saya selalu senang berbincang lalu bertengkar dengan anda, itu menyenangkan. Dan anda begitu mempesona, anda berbeda dengan wanita-wanita itu, bisa kita berdamai dan kita jadi teman?" Mengelus kepala Fey, dulu aku selalu mengelusnya saat Fey mulai geram, sekarang boro-boro bercanda. Cewek satu ini selalu sinis dan aku hanyalah orang bodoh Dimata Fey.


Aku memejamkan mata, hawa selir kembali. Fey saya harus pergi ...... Entahlah, dalam hatiku aku merasa mulai mengandalkan kekuatan ini. Sepertinya aku telah kembali keragaku. Perasaan luar biasa, apa aku benar-benar mulai mengandalkan kekuatan anehku?


Mataku terbuka, saat semua orang rumah tepat didepan mataku. Keadaan raga yang kacau balau, pipiku basah tergenang air mata.


"Fyan.......nak"Ibuku memanggil namaku berlang kali dengan suara basah. Mendekap tubuh ku dengan sangat erat.


"Ada apa ini, kalian semua berlebihan !" Ucapku bingung, tapi satu hal yang aku sadari. Kejadian ini persis seperti dulu, waktu itu aku masih kecil aku belum sadar akan takdir ini, waktu itu tiba-tiba sukmaku keluar dan kupikir aku sudah mati, semua orang mencoba untuk menyadarakanku. Aku yang masih kecil itu menangis meraung-raung tapi tak soeorangpun mendengarnya. Saat aku bangun tanda aneh muncul dipunggung bawahku, samapai dewasa pun masih ada, tak ada cara menghilangkan itu.


"Aku baik-baik saja! Tadi kekuatan itu muncul, dan aku rasa bisa mengandalkan ini. Sungguh aku tak percaya ini !"Ucapku girang


"Kekuatan-kekuatan, Fyan jangan bicara omong kosong!"Bentak ibuku, kata-kata yang begitu singkat namun menyiksa. Kemarahan meruak dalam diriku, tak habis pikir kenapa, aku juga tidak berharap lahir dengan kekuatan ini. Tanganku meraih kunci motor dan HP dari atas meja, letaknya tepat di samping ranjang dengan keadaan marah lebih baik aku pergi lah, menyebabkan. Benar-benar kesal sampai menghiraukan Kaka dan Ayah mereka terus-terusan menghalangi jalanku, bahkan Kakaku nekat mengejar pakai motornya. "Cih masih mengejar....."Mana mungkin ia bisa mengajarku, Kakaku hanya pakai moto lama dan lagi motorku sudah dimodifikasi mesinnya.