Going To Another World Only Relying On Five Senses

Going To Another World Only Relying On Five Senses
Chapter 8



Aku bangun saat sinar matahari sudah banyak sekali masuk ke dalam lewat jendela. Sudah lama aku tidak bangun di siang hari, selain hari minggu. Ya, walaupun beberapa badanku ada yang terasa sakit. Tapi bangun siang memang yang terbaik. 


Pintu kamarku terbuka, seseorang masuk ke dalam. 


"Oh, kamu sudah bangun, Iky. Karena pagi tadi kamu tidak bangun, aku jadi pergi sendirian ke Serikat Petualang. Lihat, aku pulang hanya ingin memberitahumu tentang gelang ini."


Andra datang dengan pakaian biasanya, yang beda hanya gelang perak di pergelangan tangan kirinya. Aku melihat dia dengan mata yang masih sipit, sambil menggaruk-garuk mata kiri ku, aku mencoba untuk mengingat sesuatu. Disaat itu juga mataku langsung melebar dan bersujud ke arah Andra. 


"Maafkan aku!"


"Tidak apa-apa. Itu juga salahku karena tidak tega membangunkan mu yang tertidur pulas. Aku kesini hanya ingin menunjukan mu gelang nya saja. Ayo kita mulai mencari misi."


Aku bersiap-siap untuk berangkat ke Serikat Petualang. 


---


Aku dan Andra sedang melihat papan misi untuk mencari misi pertama kita sebagai rekan hari ini, karena uang dari misi akan dibagi dua jadi aku memutuskan untuk memilih misi dengan uang yang lumayan banyak. 


Hm… Kira-kira misi apa yang sempurna untuk kita hari ini? 


'Bagaimana kalau yang itu.'


Jangan berbicara seolah tanganmu bisa dilihat. 


'Itu, misi membunuh golem batu. Skill golem batu bagus untuk bertahan dari serangan musuh, uang yang didapatkan juga lumayan.'


Aku melihat sebuah poster kertas yang bertuliskan Kalahkan Golem Batu. Ini mungkin terlambat, tapi aku baru sadar walaupun tulisan dari dunia ini sangat aneh, entah kenapa aku tetap bisa membacanya. Tulisan seperti simbol aneh ini seperti alfabet di mataku. 


Ambil Inti Golem sebagai bukti misi selesai dikerjakan. Hadiahnya 500.000 Upir untuk satu golem batu. Party yang disarankan 3-4 orang, apa ini tidak apa-apa? 


'Tidak apa-apa, santai saja. Dengan [Water Shot] mu, tubuh golem itu akan berlubang dengan mudah. Dan lagi sekarang kita punya Andra.'


Setelah mencari misi yang sempurna, akhirnya aku selesai memutuskan nya. Aku menyarankan misi tersebut kepada Andra, tapi dia terlihat ragu-ragu. 


"... Apa kita tidak bisa melawan monster pohon yang kemarin saja?"


"Sayangnya membunuh monster astral tidak ada di misi Serikat Petualang karena mereka tidak mempunyai fisik, mereka hanya berdiam di benda biasa tanpa nilai. Paling biasanya ada misi saat warga mulai diganggu dan kita disuruh mengusirnya dari sana."


"... Aku kurang percaya diri jika melawan monster selain tipe astral."


'Aneh, harusnya kekuatan golem batu tidak jauh beda dengan monster pohon, malah bisa dibilang berada di bawahnya. Kenapa dia begitu khawatir.'


Jika benar monster itu levelnya di bawah pohon bergerak kemarin, kita tidak perlu khawatir. 


---


Kami sampai di lokasi. Disini sepi, hanya ada bebatuan dan rumput hijau, beberapa malah ada yang hanya dialasi tanah. Misi kedua ku sekaligus misi pertama kami sebagai tim, dimulai. 


"Iky…"


Andra memanggilku dengan mata tanpa berkedip melihat ke monster besar terbuat dari batu di depannya. Ukuran golem itu 3 meter dan matanya berwarna biru, sekilas terlihat mirip berlian. Wajahnya hanya mata, tanpa mulut, hidung, ataupun telinga. Monster itu muncul dari dalam tanah seperti zombie dari kuburan. 


Bagian dadanya terukir seperti pola batik. Mata birunya sekejap menyala setelah seluruh badannya selesai keluar dari dalam tanah. 


"Akhirnya muncul, habisi dia, Andra!"


Setelah mendengar teriakan ku, Andra berlari dikejar golem batu itu. Berlari tanpa rasa ketakutan, tidak, dia ketakutan namun wajahnya masih tenang seperti biasa. Kenapa dia tidak melawan nya? 


Mereka terus saling mengejar dan dikejar, dengan napas yang sedikit berat karena berlari, Andra berkata kepadaku:


"... Iky, kakiku sudah lelah."


"Kalau begitu minta tolonglah!"


Dengan kerja keras, aku akhirnya membunuh golem yang mengejar Andra menggunakan skill yang ku punya, menembak [Water Shot] tepat ke dadanya. Aku menyentuh mayat golem itu dan muncul sebuah tulis tentang identitas dan daftar skill milik golem. [Pengerasan Tubuh], [Earth Spike], dan [Earth Trap].


Sepertinya benar golem ini mempunyai skill yang berguna, apa aku harus memakan batu dari bagian golem ini. Aku mengambil serpihan golem batu dan menaruhnya di kantong celana. Aku akan makan setelah di penginapan saja.


"Tapi, kenapa kamu tidak melawannya, Andra."


"... Sebenarnya…"


Lalu Andra memberitahu kenyataannya. Sebenarnya dari kecil dia sudah dilatih untuk melawan berbagai monster astral karena persiapan untuk menghadapi kutukannya. Karena itu dari dulu sampai sekarang dia terus menerus hanya melawan monster tipe astral saja. Singkat nya dia tidak tahu cara melawan monster physic. Kekuatan dia juga tidak berguna terhadap monster tipe physic. 


'Oh, jadi itu rasa aneh dalam pikiranku karena mengetahui kekuatan Andra yang mempunyai Batin tapi memilih menjadi Exorcist.'


Apa artinya dia manusia yang ditakdirkan hanya untuk melawan hantu? 


'Sepertinya begitu.'


Oi, oi. Sekarang aku tahu, alasan dia dari awal tidak masuk ke Serikat Petualang padahal punya kekuatan. 


"Gimana?"


"Gimana apanya?"


"Apa kamu akan mengeluarkan ku sebagai rekan."


"Benarkah, kamu tidak perlu memberiku uang. Hanya antarkan saja aku ke lokasi Ganyuk berada. Bagaimana jika malam ini aku saja yang tidur di koran."


"Itu tidak akan terjadi lagi, malam ini kita pindah ke penginapan yang lebih layak."


"... Pastikan penginapan selanjutnya punya lantai yang mulus."


"Kita akan tidur di kasur! Jangan pikir untuk tidur di koran lagi."


Saat sedang berdebat dengan Andra, satu golem batu lain muncul di sekitar kami. Kami langsung membuat kuda-kuda. 


"Tenang, Iky. Aku punya sebuah rencana. Kita-"


Andra belum selesai berbicara, dia sudah masuk ke dalam [Earth Trap] yang dikeluarkan golem batu itu. 


Saat kedua tangan golem itu meninju tanah, tanah di bawah Andra menjadi berlubang dengan sekejap dan berkedalaman 3 meter.


Sekali lagi, aku bekerja keras mengalahkan golem batu itu. 


---


Aku dan Andra kembali ke kota Edman dengan masing-masing membawa Inti Golem. Batu berwarna biru muda yang menyala seukuran kepala manusia. 


Baju Andra lebih kotor dari punyaku, tapi dia terlihat tidak memperdulikan kebersihan nya sendiri. 


Kami menemui resepsionis Serikat dan memberi Inti Golem. Setelah diperiksa, aku diberi amplop coklat berisikan uang 1.000.000 Upir. Hasil yang kudapat selama sehari penuh. 


"Ayo kita pergi, Andra."


Aku mengajak Andra ke suatu tempat. Dia heran dan menanyakan tujuan ku. 


"Kemana?"


"Sudah jelas kan, beli baju untukmu."


"... Kamu tetap ingin membelikannya."


"Kita kan sudah janji, lagipula tidak baik jika hanya mempunyai satu baju saja. Mungkin kamu tidak sadar, tapi bau baju yang sudah lama tidak dicuci itu sangat menyengat."


"... Aku terkejut, kamu dengan gampang menghinaku di tempat umum."


"Aku hanya bicara kenyataannya saja. Ayo berangkat."


Kami berjalan ke toko baju, sambil jalan Andra sesekali mengendus ketiak kirinya dari dekat. Toko yang ku datangi sama seperti kemarin, tempatku membeli jubah dan pelindung tangan. 


Penjaga tokonya yang kekar juga sudah semakin akrab denganku, jadi mudah berbicara dengannya. Terlebih tempat ini lengkap, menyediakan alat tempur dan baju kasual di satu tempat. 


"Makasih telah belanja!"


Teriak penjaga toko saat kami keluar dari toko. Belanja kali ini lumayan banyak, aku sampai membawa tas belanja besar untuk membawa baju-baju Andra. 


"Iky, biar aku saja yang bawa barangnya."


"Tidak perlu, soalnya aku ingin kamu belikan sesuatu untuk makan malam kita nanti."


"Oh, apa itu."


Aku ragu ingin menanyakan ini, tapi layak untuk dicoba dulu. 


"... Apa disini ada yang namanya nasi?"


"Huh? Sepertinya ada. Akan aku tanya pada orang-orang sekitar."


"Baguslah, di negaraku jika belum makan nasi sama saja dengan belum makan apapun."


"... Aku sudah setahun tidak makan nasi, apa itu artinya aku belum makan selama setahun?"


"Tidak, itu sudah beda konsep."


Lalu aku dan Andra berjalan terpisah. Aku meminta Andra untuk tunggu di Serikat Petualang jika selesai berbelanja karena setelah mengambil beberapa barang di penginapan lama, aku akan menyewa yang baru dengan fasilitas lebih bagus. 


Loh? Apa ini gang jalan menuju tempat penginapan ku, atau gang di depannya lagi, aku lupa. Lebih baik aku mencoba masuk gang ini dulu. 


Setelah masuk gang tersebut, aku mendengar suara teriakan laki-laki, teriakan orang yang kesakitan. Aku langsung berlari menghampiri suara itu, sepertinya dia dalam bahaya. 


Di belokan saat aku menelusuri gang, aku berhenti berlari karena sudah sampai ke tempat teriakan itu muncul. Seorang penjaga kota sedang duduk bersandar di tembok dengan luka tusuk di pundak depan bagian kanan, pisaunya masih tertancap dan kedua pelindung pundaknya lepas. 


Di depan penjaga yang terlihat pingsan itu ada dua orang dengan menggunakan mantel kerudung berwarna coklat muda yang lusuh sehingga muka dan tubuh mereka tidak dapat dilihat. 


Salah satu orang bermantel sedang memegang pisau. Sadar jika aku sedang melihat kejadian itu, mereka melihat ke arahku, lamun aku tidak bisa melihat wajah mereka karena tertutup mantel. 


"Shashasha… menyedihkan, ada satu tikus yang sudah melihatku."


Ah, gawat. Sepertinya aku mulai ikut campur dalam konflik kota ini.