Going To Another World Only Relying On Five Senses

Going To Another World Only Relying On Five Senses
Chapter 11



"Semua ini dimulai 5 tahun yang lalu, hari dimana ayahku mulai menjadi raja baru untuk negeri ini. Sebagai anak tunggal, sudah takdir dia untuk menjadi raja menggantikan kakekku yang tiba-tiba meninggal karena serangan jantung. 


Sebelum menjadi raja, ayahku adalah orang yang murah senyum. Setiap kali aku bertemu dengannya, entah itu saat mendapat penghargaan atau membuat kesalahan, dia selalu tersenyum lembut kepada ku.


Tapi saat menjadi raja, dia jadi tidak pernah tersenyum lagi. Wajahnya selalu suram, suka sekali melamun, mudah dimanipulasi oleh para menteri kerajaan dan mengabaikan daerah pinggiran.


Dia bukan ayahku lagi, dia bukan ayah yang kukenal. Sejak saat itu aku berjanji, akan mengembalikan ayahku kembali.


1 tahun lalu secara kebetulan aku bertemu dengan ketua, dia orang yang bisa diandalkan, berjiwa kepemimpinan tinggi, dan yang terpenting, murah senyum. Ketua adalah pemimpin dari anggota revolusioner.


Setelah aku mengikutinya, dia memberitahuku jika ingin mengambil tahta kerajaan dan memberantas semua bangsawan dan menteri kotor. 


Setelah mendengar itu, aku jadi berpikir. Jika raja dipindahkan kepada ketua, mungkin kota-tidak negeri ini akan menjadi lebih baik. Dan terlebih lagi, jika tahta kerajaan berpindah, maka ayah menjadi warga biasa lagi. 


Aku harap saat ayahku sudah menjadi warga biasa, dia akan kembali menjadi ayah yang kukenal."


… 


"Oke! Oke! Aku tidak peduli."


Keluhku setelah mendengar ceritanya yang ternyata seorang anak papa. Selama beberapa menit aku dipaksa mendengarkan cerita masa lalunya yang jelas-jelas tidak akan membuat hidupku jadi lebih baik. 


"Woi bocah! Jaga sikapmu pada putri! Bukankah dia sangat menawan disaat terlalu serius bercerita sedangkan kita berdua tidak ada yang peduli!"


Bentak Anqa sambil memukul jeruji besi yang ada didepanku. 


Mendengar perkataan Anqa membuat putri yang bernama Naberus ini menunduk dalam kesedihan. 


"Tidak usah berlama-lama, langsung saja ke intinya. Apa yang harus kulakukan agar bisa lepas dari sini."


"Jawab dulu pertanyaanku yang tadi."


 Putri itu kembali normal, seolah kesedihan tadi tidak ada. 


"Aku khilaf, aku tidak ada maksud untuk ikut campur dalam konflik kota ini. Sebentar lagi juga aku akan meninggalkan kota. Tentang identitasmu sebagai anggota revolusioner pasti tidak akan aku beritahu siapapun. Aku berani sumpah."


Masalah ini jadi menyeret ku lebih dalam. Aku hanya khawatir dengan Andra, setelah aku menyuruhnya menunggu di depan serikat petualang, aku belum kembali lagi bahkan sampai menjelang subuh. Jika itu Andra, aku takut dia malah akan terus menunggu ku dan tidur di depan serikat dengan beralaskan koran. 


Putri Naberus menatapku dengan serius, kedua alisnya sampai dia kerutkan, aku yakin sekarang dia sedang berdebat dengan pikirannya sendiri. 


Tak lama Naberus kemudian menghela napas panjang, sepertinya perdebatan itu sudah selesai. 


"Baiklah. Lagipula aku sudah tidak peduli jika identitasku sebagai anggota revolusioner terbongkar."


Setelah berkata seperti itu, Naberus meminta Anqa untuk membuka pintu penjara agar aku bisa keluar dengan cara melihat Anqa lalu melirikan matanya ke arah pintu. 


"Tidak peduli? Memangnya kenapa?"


"Tadi malam ketua menghubungiku. Dia memberitahuku jika penyerangan akan dilakukan besok."


Eh? 


"Besok tuh… Besok! Benar-benar besok! Setidaknya tunggu aku pergi dari kota dulu. Apa kota ini akan menjadi lautan api?"


"Tidaklah bodoh. Apa kamu lupa, kita hanya ingin mengganti raja saja, tidak perlu mengorbankan warga. Tapi mungkin akan ada beberapa ledakan kecil. "


Setelah selesai menjelaskan, Anqa pergi mengambilkan barang-barangku seperti jubah, pisau, dan batu dari pecahan golem. Selesai mengenakan jubah, aku mulai bertanya kepada Naberus. 


"Jangan harap putri akan menjawabnya bocah mesum. Cinta pertama, berat badan, ukuran sepatu, ukuran bra, tanggal pertama menstruasi. Aku sudah sering menanyakan hal tersebut kepada putri, tapi beliau tidak pernah menjawabnya. Dia hanya-"


*PLAK! 


"Menendang kepalaku. Seperti ini…"


Kepala Anqa masuk ke dalam jeruji penjara, hanya kepalanya saja. Itu terlalu cepat jadi aku tidak tahu kenapa kepalanya bisa masuk. 


"Apa kamu harap aku akan menjawab sebuah pelecehan!"


Aku harus membuatnya kembali kepada topik. 


"Selain aku, siapa lagi orang yang mengetahui identitasmu sebagai anggota revolusioner?"


"Hanya kamu dan Anqa. Kasus Anqa adalah karena kelalaianku. Hari itu aku lupa menaruh buku diary ku kedalam lemari, jadi saat ingin membangunkanku. Dia malah membuka buku itu dan mengetahui identitas asli ku."


Aku jadi heran, siapa yang bodoh disini. Normalnya kamu tidak akan menuliskan rahasiamu di dalam buku. Setidaknya mereka akan menulisnya dengan nama samaran. 


"Tenang saja putri. Walaupun buku diary anda ada di dalam lemari, saya tetap bisa membukanya karena saya sudah punya kunci duplikatnya."


"Oh begitu… gimana?!"


Dengan mudah Anqa membengkokkan jeruji besi menggunakan kedua tangannya agar kepalanya bisa lepas. Tidak heran jika saat ingin memukulku waktu itu, tanahnya sampai pecah dan terbelah. 


"Kalau begitu pertanyaan terakhir. Sebenarnya sinar apa yang membuat aku pingsan kemarin?"


"Oh! Itu adalah kekuatanku. Aku ini seorang [Sword Master] jadi aku juga bisa mengeluarkan sihir pedang. Sihir pedang yang bisa kubuat adalah elemen es, kegelapan, dan cahaya. Yang mengenai kepalamu itu sihir pedang cahayaku, aku menamainya [Hell Sword]. Tenang saja, sihir itu hanya membuatmu pingsan."


"Kamu ternyata punya kekuatan seperti itu. Kukira kamu hanya seorang anak papa."


"An-anak papa!"


Menetap di kota lebih lama lagi akan berbahaya untuk aku dan Andra. Saat keluar istana, aku langsung menemui Andra dan mengambil misi terakhir kami di kota ini, uang pada misi itu akan digunakan untuk menyewa kereta kuda.


Persiapan ku untuk pergi sudah selesai. 


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Maaf telah membuatmu curiga dengan mengikutimu."


Naberus mengangguk tanda jika dia sudah menerima permintaan maafku. 


"Anqa! Tolong antar dia sampai ke gerbang istana."


"Siap putri!"


Lantang Anqa. 


"Dan Anqa! Berikan kunci lemariku."


"Siap putri…"


Lesu Anqa. 


Setelah memberikan kunci ke Naberus, aku dan Anqa berjalan keluar dari sel istana. Aku berharap semoga jalanku untuk meninggalkan kota ini dilancarkan.