
Aku dan Anqa jalan bersama di koridor istana yang sangat panjang.
Ini mengejutkan ku, aku baru tahu jika di dalam istana itu sepi seperti ini, atau mungkin karena ini masih sangat pagi jadi orang-orang di istana masih bersatu dengan kasur mereka masing-masing.
Berbicara tentang kasur membuatku mengantuk lagi, aku jadi menguap dan langsung menutup mulutku dengan tangan kiri.
Kalau diingat lagi, ini adalah pertama kalinya aku bangun pagi di dunia baru ini. Dan kesunyian ini membuatku penasaran.
"Disini sepi sekali yah, apa para penjaga juga ikut tidur?"
"Malam sampai pagi hari, para penjaga hanya berjaga di bagian luar istana. Coba kamu bayangkan, jika penjaga yang berpakaian tempur lengkap mondar-mandir di dalam istana."
Jika dipikir-pikir lagi…
"Gesekan pakaiannya akan mengganggu orang di dalam istana yang sedang tidur."
"Yap, setidaknya kamu bukan cuma bocah mesum biasa."
Wanita ini bodoh atau memang tidak sadar, yang sebenarnya mesum disini adalah dia. Dasar wanita aneh, dan berhenti menyebutku bocah mesum… aku bukan bocah.
Kami berhenti bicara selama beberapa detik karena kehabisan topik, namun tiba-tiba Anqa mulai bicara duluan kepadaku.
"Hei, aku punya penawaran untukmu. Emm…"
"Iky."
"Benar! Iky! Apa kamu tertarik menjadi penjaga istana?"
Hebat! Akhirnya dia memanggilku dengan benar. Apa itu artinya dia ingin merekrut ku, tawar yang menarik, tapi sayang aku sudah punya tujuan lain.
"Kenapa tiba-tiba mengajakku?"
Anqa terdiam sejenak, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
"Kemarin, kamu bisa menghindari serangan ku. Sepertinya kamu punya kemampuan yang lumayan. Besok akan menjadi hari tragedi, sungguh ironis disaat hari yang seharusnya menyenangkan, malah menjadi hari yang menakutkan. Apapun yang terjadi, aku akan melindungi raja dan melindungi tahtanya."
Kedengaran ku saja atau memang bicaranya sedikit aneh, apa sebenarnya yang diinginkan Anqa.
"Jadi sebenarnya, kamu itu ada dipihak putri atau dipihak raja?"
"Kita mungkin baru bertemu, tapi aku akan menceritakanmu sebuah kisah."
"Waduh mulai lagi…"
…
Sekitar 4 tahun yang lalu, ada seorang anak kecil yang sedang membetulkan atap rumah, gadis kecil itu sedang melakukan tugasnya yang seorang tukang bangunan.
Akhir-akhir ini cuaca di Eus Trama sedang buruk, angin yang sangat kencang membuat rumah-rumah di pinggiran kota Edman banyak yang hancur. Apalagi rumah-rumah disana terbuat dari bahan seadanya dan wilayah disana tergolong sangat kumuh.
Walaupun mendapat upah yang sedikit, cuaca buruk ini bisa menjadi sumber rezeki untuk gadis kecil yang seorang tukang bangunan.
Seorang pria tua yang sedang ada di dalam rumah berteriak kepada anak kecil yang sedang memukul genteng dengan palu.
"Hei Anqa! Setelah selesai dengan atapnya, tolong betulkan juga jendela yang di dekat pintu. Itu juga hancur karena badai angin kemarin."
Anak kecil itu tidak menjawab ucapan pria tua, tapi pria tua itu tidak mempermasalahkan nya, sepertinya dia tahu anak kecil itu akan tetap membetulkan jendelanya.
Sejujurnya, anak kecil itu mulai kesal dengan keadaannya ini. Terpaksa menjadi tukang bangunan karena orang-orang di pinggiran kota Edman semuanya sangat egois. Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri, menyalahkan raja dan para bangsawan atas kondisi mereka yang miskin, padahal itu karena kebodohan dan kemalasan mereka sendiri dalam berkembang.
Sampai suatu ketika, kumpulan penjaga istana datang kesana dan bermaksud untuk menggusur wilayah disana atas perintah raja.
Penjaga istana sudah menjelaskan jika wilayah pinggiran kota Edman ini akan digusur dan mereka yang tinggal di sana akan mendapatkan tempat tinggal baru, sebuah rumah susun di selatan kota Edman yang baru selesai dibangun.
Bangunan pada rumah susun itu sudah pasti kokoh, dan lingkungannya tidak mungkin kumuh seperti tempat ini.
Walaupun begitu, anehnya para penduduk pinggir kota malah melawan para penjaga istana. Mereka memilih untuk menjaga rumah mereka yang jika terkena badai sekali lagi, rumah itu kemungkinan akan roboh.
Perselisihan ini tidak bisa dipahami oleh anak kecil itu. Jelas sekali jika ini diuntungkan untuk para penduduk pinggiran kota Edman, tapi kenapa mereka malah menolaknya.
Akhirnya perselisihan itu sampai puncaknya dan para penduduk pinggiran harus merelakan rumah mereka.
Dari situ si anak kecil mulai berpikir, jika seperti ini terus dia akan menjadi bodoh seperti para penduduk pinggiran itu, dia harus berubah. Setelah dia dipindahkan ke rumah susun, kehidupannya menjadi nyaman, tempat tinggalnya menjadi aman dari bencana alam.
Satu tahun setelah pindah, si anak kecil yang mulai remaja itu memutuskan untuk ikut pelatihan menjadi penjaga kota. Dia ingin melindungi kota sebagai rasa terimakasih kepada raja karena sudah memberikannya rumah yang layak. Dia juga bersumpah untuk melindungi raja.
"Hoo…"
Ucapku setelah selesai mendengar cerita Anqa.
Serius! Entah kenapa akhir-akhir ini aku sering mendengar kisah masa lalu orang lain. Itu terlalu berbelit-belit, kenapa mereka tidak langsung saja memberitahu inti dari cerita tersebut.
"Jadi sebenarnya kamu mau memberitahukan, jika raja itu tidak sejahat yang Naberus katakan. Kalau begitu, jika besok kamu bertemu Naberus di medan tempur, apa kamu akan melawannya?"
"Bodoh! Aku ini mencintai putri dari luar sampai dalam. Tentu saja aku tidak bisa melawannya. Tapi aku tidak akan membiarkan rencana pasukan revolusioner berhasil."
"... Jadi, apa yang mau kamu lakukan?"
Karena masih ada hal yang harus kami bicarakan, kami pun mulai berdiri saling berhadapan.
"Itu mudah. Aku akan melawan semua pasukan revolusioner selain putri. Maka dari itu, jika kamu menolak juga tidak apa, tapi jika kamu orang yang suka ikut campur, bantulah kota Edman dengan kemampuanmu."
Anqa mengulurkan tangannya ke arahku.
"Kuhargai tawaranmu. Tapi maaf, ada urusan lain yang harus kulakukan."
Anqa menarik kembali uluran tangannya.
"Jadi begitu, maaf juga telah mencoba menyeretmu."
"Yang lebih aku khawatirkan adalah dirimu. Bagaimana kamu bisa mengalahkan pasukan revolusioner sedangkan kamu tidak bisa melawan Naberus. Dia kan kunci pada penyerangan ini."
"Lelucon apa yang kamu katakan. Putri itu bukan kunci, dia bidadari."
Selagi Anqa berkata yang tidak jelas, pintu mulai terbuka. Cahaya dari luar mulai masuk ke dalam istana tempatku berdiri.
"Tenang saja Iky. Selain aku, ada dua penjaga lagi yang sangat kuat. Pasukan kerajaan bukan berarti tanpa kekuatan."
"Kalau begitu aku bisa tenang. Sampai jumpa lagi, Anqaneh..."
"Panggil aku dengan tambahan 'neh' lagi dan kepalamu akan kupukul palu."
Aku akhirnya berhasil keluar istana.
Tempat pertama yang kutuju setelah keluar sudah pasti serikat petualang. Apa yang terjadi pada Andra disaat aku tidak ada?
Aku berlari, terus berlari hingga akhirnya sampai di serikat. Andra ada di sana, dia sedang menunggu berdiri di samping pintu masuk serikat.
"Andra!"
Teriakku sambil berlari mendekati nya.
"Iky, kebetulan sekali kamu datang. Aku juga baru datang."
Aku mengatur napas dulu karena kehabisan setelah berlari. Selesai mengambil napas, aku mulai bertanya kepada Andra.
"Gi-gimana?"
"Jadi begini ceritanya…"
"Tidak usah bercerita lagi! Aku sudah lelah mendengar cerita orang-orang. Intinya saja."
Andra bingung mendengar perkataanku, tapi dia dengan cepat menghiraukan lalu mulai menjelaskan.
"Kemarin sore saat kamu minta aku tunggu disini, aku terus menunggumu sampai tengah malam."
"... Maaf…"
"Tidak apa-apa. Karena kamu belum datang juga, aku putuskan untuk tidur disini saja."
"... Maaf… gimana?"
"Tapi tiba-tiba Margaret datang menemuiku dan mengajakku untuk menginap dirumahnya. Aku lalu ikut Margaret dan setelah bangun pagi, aku berencana untuk menunggumu lagi disini. Baru juga beberapa detik aku sampai, kamu sudah datang."
"Margaret? Siapa itu."
"Kamu pasti mengenalnya. Dia adalah resepsionis serikat yang sering membantu kita pada keperluan misi."
Ouwh… jadi nama resepsionis itu adalah Margaret. Untung saja dia mengenal Andra. Saat bertemu lagi aku harus berterima kasih kepadanya.
"Andra, ini mungkin mendadak. Tapi ada perubahan rencana, kita akan meninggalkan kota Edman hari ini. Jadi kemasi barang-barangmu."
"Tidak bisa."
"Kita akan mengambil satu misi lagi-huh?"
Apa yang aku dengar tadi?
"Aku tidak bisa."
"Ti-tidak bisa! Situasi di kota sedang gawat darurat, jika tidak ingin terlibat kita lebih baik pergi secepat mungkin."
"Tapi aku sudah janji dengan Margaret."
"Janji!"
"Ya, kami berdua akan pergi ke festival bersama besok."
"Festival!"
Kenapa tidak ada yang memberitahuku tentang festival. Kenapa orang-orang di kota ini, bahkan sang putri sekalipun malah memberitahuku soal penyerangan pasukan revolusioner bukannya sebuah festival.
Penyerangan disaat ada acara besar. Kota ini semakin tidak sehat untuk akalku.