Going To Another World Only Relying On Five Senses

Going To Another World Only Relying On Five Senses
Chapter 7



Pertama, aku harus menanyakan kabarnya terlebih dulu. Kurang sopan jika aku menanyakan hal-hal lain tanpa bagian pembuka. Kami berdua bertatapan dalam diam menunggu siapa yang memulai percakapan lebih dulu. Tapi seperti biasa, Andra masih berwajah tanpa ekspresi bahkan di situasi aneh seperti ini. 


Beberapa penonton mulai melemparkan uang koin mereka yang bernilai 1.000 Upir per koin ke dalam topi caping, ada juga yang pergi setelah hanya memberikan tepuk tangan. 


Saat semua penonton pergi, hanya tersisa aku dan Andra di area panggungnya. Orang-orang mulai berjalan biasa seolah penampilan tadi tidak ada. 


"... Ha-hai… bagaimana kabarmu, Andra."


"... Bukannya kita baru bertemu tadi siang, kabarku tidak berubah."


Andra merespon heran dengan pertanyaan normal ku. Apa dia menganggap kegiatannya beberapa waktu lalu itu yang tidak sengaja bertemu denganku ini tidak membuatnya canggung. 


"Be-benar juga yah… haha…"


Setelah membenarkan perkataan Andra, di suasana lapangan kota yang lumayan ramai aku bisa mendengar gemuruh perut tanda seseorang kelaparan. 


"Aku lapar, apa kita bisa ngobrol sambil cari makan?"


Andra berbicara sambil menunduk lalu melihat dan memegang perutnya yang tadi berbunyi. 


Kami lalu duduk di meja kecil dengan dua kursi di dalam sebuah restoran sederhana, kami memesan [Spicy Steak Gamma] yang dari namanya aku tahu itu terbuat dari daging apa, dan juga minuman. Kami duduk berhadapan. 


Makanan pun datang, sambil memotong daging di depan kami masing-masing, aku bertanya ke Andra. 


"... Jadi, Andra. Sebenarnya apa yang kamu lakukan di kota ini?"


Andra mengunyah daging dengan sopan dan menelannya, lalu berkata:


"Aku sedang mencari sesuatu."


"Sesuatu? Sebuah benda."


"Bukan, lebih tepatnya monster. Monster legenda yang mengutuk keluargaku dari zaman dahulu. Monster yang membuat desa ku mengalami kemiskinan."


"Desa mu?"


"Ya… aku seorang kepala desa."


Wah, kenyataan yang mengejutkan.


"Karena kecerobohan leluhurku, dia dan keturunan nya diberi kutukan oleh jin, bernama 'Ganyuk'. Kutukan itu membuat daerah kekuasaannya mengalami kemiskinan. Tanah menjadi tidak subur, air susah di dapat, hewan ternak jadi rentan terserang penyakit atau mati tanpa sebab. Cara agar kutukannya menghilang adalah dengan membunuh jin tersebut."


Wow, tidak heran kekuatannya untuk melawan monster astral sangat kuat. Tapi ceritanya barusan membuatku terheran akan sesuatu. 


"Tapi, jika kutukan itu terjadi pada zaman dahulu sekali. Kenapa desa tempatmu tinggal masih ada sampai sekarang."


Andra terlihat berat untuk mengatakannya. 


"... Seperti yang kukatakan, kutukan ini hanya terkena pada keluargaku saja."


"Jangan bilang..."


"Setelah leluhurku terkena kutukan, orang yang terkena kutukan tersebut akan pergi meninggalkan desa untuk mencari dan membunuh jin tersebut. Ajaibnya, saat orang yang terkena kutukan itu pergi meninggalkan desa, desa itu tiba-tiba menjadi makmur kembali. Tanah jadi subur, air mudah di dapat, hewan ternak menjadi sehat dan berenergi."


"Sialan, itu artinya mereka mengusir mu."


"Jangan bicara seperti itu. Saat kutukannya masih dimiliki ayahku, warga desa memperlakukanku dengan baik. Saat aku pergi dari desa juga begitu, mereka menyambut kepergian ku dengan hangat. Mereka tidak jahat, yang jahat adalah monster yang bernama 'Ganyuk' itu. Makanya aku bepergian mengelilingi Gazpadia untuk mencarinya, membunuhnya dan menghancurkan kutukan ini."


Hei, Jamiel. Kamu mendengar pembicaraan ku dengan Andra kan. 


Aku mencoba berbicara dengan Jamiel setelah kami selesai makan malam. Andra sedang menungguku di luar restoran ditemani cahaya lampu malam sedangkan aku sedang membayar makanan kami ke pemilik restoran. 


'Aku dengar. Tapi aku tidak, atau belum bisa berbicara soal masalah itu kepada kalian. Kutukan milik Andra sebenarnya dibuat oleh seorang dewa sama sepertiku. Yang bisa kuberi tahu sekarang, tujuan Andra sama denganmu… Baratta.'


Aku menghampiri Andra yang menungguku di depan restoran. Aku memberitahunya jika kemungkinan monster atau jin yang dia cari ada di tempat yang sama dengan tempat yang ingin aku tuju.


"Benarkah? Kalau begitu aku akan ikut denganmu."


Tanpa menanyakan alasan aku bisa tahu darimana, Andra langsung meminta untuk bergabung menjadi rekan petualangan ku. 


"Apa kamu percaya dengan omonganku?"


"Apa kamu berbohong?"


"Tidak, tentu saja tidak."


"Kalau begitu aku percaya."


Negosiasi singkat itu terjadi di depan sebuah restoran sederhana. Aku pun berjalan untuk kembali ke penginapan, Andra mengikuti. 


"Kalau begitu, besok kamu harus mendaftar sebagai seorang petualang juga. Aku akan mengantarmu ke Serikat Petualang."


"Tapi…"


"Baiklah, tapi aku minta maaf jika nanti menghambat mu."


"Kamu ini bicara apa, kamu kan kuat sampai bisa mengalahkan monster pohon yang menyerang ku di hutan tadi siang."



"Ngomong-ngomong, apa dari tadi kamu hanya mengikutiku, Andra."


Aku mulai heran karena Andra dari tadi mengikutiku berjalan, pergerakan jalannya tidak seperti orang yang ingin ke suatu tempat, dia hanya bergerak sama seperti orang disampingnya, yaitu aku. 


"Aku tidak punya tempat untuk bermalam, jadi aku tidak tahu harus kemana."


"Ya, jika hanya mengandalkan uang dari pertunjukan mu tadi, menyewa kamar tidak akan cukup."


"Jadi aku akan ikut denganmu. Ke kamarmu."


"Huh?"


Gawat, harusnya aku bekerja lebih keras agar tidak tinggal di tempat kumuh itu. Aku tidak menduga jika akan membawa wanita pada hari pertamaku di dunia ini. Apa tembok kamar ku tidak terlalu tipis, semoga kasurku tidak berdecit.


Sialan, saat melihat Andra lagi tiba-tiba aku merasa jika dia sangat cantik.


Kami akhirnya sampai di penginapan, aku sedang terduduk kaku diatas kasur menunggu Andra yang sedang mandi. Suara air yang jatuh disebabkan oleh gayung terdengar sampai ke telingaku. Apa yang membuatku sampai panik begini, dia hanya menginap. 


Suara air yang jatuh berhenti, pintu kamar mandi terbuka oleh Andra yang masih menggunakan pakaian hanfu nya. Yang beda hanya rambutnya yang terurai dan sedikit basah. 


"Sudah lama aku tidak mandi, menyegarkan… huh? apa yang kamu lakukan, Iky?"


"Ti-tidak! Tidak ada. Ini cuma yoga sebelum tidur."


Andra heran melihat cara duduk ku yang kaku. Setelah itu dia melihat pakaiannya sendiri. 


"Kamu pasti merasa aneh dengan pakaianku tidur. Hanya ini baju yang aku punya, jadi aku tidak punya baju ganti seperti baju tidur. Untungnya saat disini, setelah lama tidak bisa mencuci akhirnya aku bisa mencuci pakaian dalamku."


"Pa-pakaian dalam?"


"Ya, mereka sedang ku jemur di dalam kamar mandi."


Gawat, gawat, gawat. Sifatnya yang acuh seperti ini malah yang membuat nafsuku semakin naik. 


"Ti-tidak! Tidak apa-apa. Kita akan membeli pakaianmu besok."


"Benarkah.Terima kasih, Iky."


Andra tersenyum tipis. Manis! Dia sangat manis! Kenapa dia tiba-tiba berbicara tentang pakaian. Ada dia minta ku serang, apa aku boleh langsung menyerang nya. 


Andra lalu mengambil koran di atas meja kecil lalu membentangkan nya ke lantai. Tunggu? Apa yang ingin dia lakukan. 


"Andra, kamu sedang apa?"


"Ini. Menyiapkan tempat tidurku. Sejak pergi dari desa aku sudah terbiasa tidur beralaskan koran seperti ini. Oh, jangan pedulikan aku, aku hanya meminjam kamarmu saja karena terakhir aku tidur di luar, kaki dan tanganku digigit nyamuk."


Caranya mencoba tidur membuat nafsuku hilang dan berubah menjadi rasa kasihan. Aku seperti melihat seekor hewan malang. 


"Tidak! Tidak boleh, jika tidur di sana paginya badanmu akan sakit."


"Tenang, aku sudah biasa. Lagipula kasur mu hanya untuk satu orang saja."


"Maaf! Maafkan aku karena tidak bekerja keras."


Tanpa sebab aku meminta maaf kepada Andra karena berani membawanya ke kamar yang rusak seperti ini. 


"Kenapa tiba-tiba…"


"Biar aku yang tidur di sana, kamu bilang kamu sudah terbiasa bukan. Kalau begitu izinkan aku mencobanya, agar suatu saat aku juga terbiasa."


"... Kamu yakin?"


Akhirnya aku tidur di lantai beralaskan koran, sedangkan Andra tidur di kasur. Sebenarnya apa yang kulakukan, kami kan sudah menjadi rekan. Kenapa pikiranku bisa sekotor itu. Maaf Andra, sebelumnya aku lepas kendali. 


'Apa-apaan ini. Akhirnya kamu gagal menjadi Pria Dewasa.'


Berisik! Harusnya kamu ingatkan aku jika dari tadi melihatnya. 


Andra yang tidur di kasur melihatku dan berkata dengan lembut:


"Iky, kamu seperti hewan peliharaan."


"Berisik!"