
"Dasar Iky, sini biar ku suapi, buka mulutnya. Aaaa~"
…
"Jangan malah menyuruhku 'Aaaa~' dong. Apa kamu gak paham tentang situasi yang aku katakan kemarin."
Andra menjulurkan tangannya ke depan mulutku sambil memegang garpu plastik yang sudah tertusuk makanan.
Karena keegoisan Andra akhirnya kami jadi menetap di kota lebih lama, hari ini sedang diselenggarakan sebuah festival untuk memperingati dibuatnya kota Edman. Lahan yang sangat luas ini menjadi padat dan sempit karena banyak orang dan stand-stand jualan entah itu makanan atau stand yang berisikan permainan.
Aku dan Andra sedang duduk di salah satu kursi taman yang ada di sana. Baru juga 10 menit kami datang ke festival ini, Andra sudah banyak membeli-mungkin lebih tepatnya memborong banyak makanan. Kami duduk sambil dipisahkan oleh plastik besar berisikan makanan di tengah-tengah
Itu adalah makanan dari hasil uang yang kami kumpulkan pada misi kemarin, uang itu seharusnya untuk bekal di perjalanan kami ke kota selanjutnya, khusus hari ini sepertinya tidak apa-apa jika ingin boros, banyaknya stand jualan disini memang akan membuat siapapun khilaf.
Kembali pada kasus penyerangan pasukan revolusioner, Naberus mengatakan jika gerakan terorisme nya tidak akan melibatkan warga biasa. Jika benar begitu, seharusnya aku hanya perlu bertingkah seperti warga baik pada umum nya dan aku akan selamat.
Tapi ada yang aneh, sekarang sudah siang hari tapi tidak ada sekalipun bunyi ledakan, apa rencana mereka gagal? Atau mungkin ada perubahan rencana? Apapun itu, semoga ketenangan ini bisa bertahan seterusnya.
"Emmm… Iky, ini gawat!"
"Gawat? Gawat kenapa!?"
"Tanganku… pegal…"
Tangan kanan Andra masih di posisi ingin menyuapi ku.
Aku akhirnya memakan bola-bola berwarna merah seukuran bola golf yang diberikan Andra.
Wow, ini sangat enak. Bola-bola lembut yang berwarna merah, didalamnya terdapat isian krim manis berwarna putih, dan pada bagian luar bola-bola itu diberikan biji wijen, tampilannya seperti onde-onde tapi berwarna merah.
Enak sekali, makanan apa ini?
'Hehe! Enak bukan. Itu namanya [Kue Gigska] makanan yang hanya dijual tiga kali saja dalam setahun.'
Kenapa tiba-tiba kamu merasa bangga begitu? Tapi tiga kali dalam setahun! Apa di dunia ini minim ilmu bisnis.
'Ini bukan tentang uang, ini tentang budaya. Selain hari ini, kue gigska hanya dijual saat Haiween dan tahun baru saja.'
Jamiel terus menjelaskan bahkan sampai ke asal-usul kue tersebut, kenapa dia tidak menggunakan pengetahuannya itu pada saat-saat genting sih.
Budaya yah… memang sih di manapun dunianya kamu harus tetap memilih, ingin kaya dengan uang atau kaya dengan budaya. Tapi kesampingkan dulu itu.
"Ingat Andra, kita harus benar-benar pergi dari kota ini nanti sore, kamu paham kan."
"Tapi nanti malam akan ada parade disini, aku ingin melihatnya."
"Parade! Sekarang alasannya parade! Kenapa kamu tidak bilang itu kemarin."
Andra memakan kue gigska dulu satu buah, mengunyahnya setelah itu menelannya sebelum akhirnya berbicara.
…
"Ini enak sekali!"
"Jangan dikacangin woi!"
Dari kejauhan terdengar seseorang sedang memanggil kami.
"Andra! Iky! Aku berhasil mendapatkannya, pertunjukannya!"
Orang yang memanggil kami adalah Margaret, seorang wanita yang bekerja sebagai resepsionis di serikat petualang. Karena dia warga asli kota Edman, hari ini dia libur sebagai resepsionis dan menjadi pemandu kami dalam menikmati festival. Anehnya walaupun sedang libur, pakaian yang dia pakai masih seragam resepsionis yang biasa dia kenakan.
Margaret melambaikan tangannya ke arah kami, setelah Andra membalas lambaiannya, Margaret berjalan ke arah kami.
"Pertunjukan? Pertunjukan apa?"
Heran ku.
"Nih."
Margaret menunjukan tiga lembar kertas yang merupakan sebuah tiket.
"Sebuah teater dengan judul [Petualangan Pahlawan Bijak, Putri Halpha] pertunjukan ini hanya ada khusus untuk hari ini saja."
Lanjut Margaret.
'Gak tahu!'
Loh kok marah?
'Aku gak marah!'
Ya sudah, aku juga tidak peduli siapa dia. Tapi apa aku benar-benar tidak boleh menceritakan penyerangan itu kepada Margaret.
'Jangan dong bodoh. Cerita ke Andra tidak apa-apa karena dia bukan warga kota Edman, tapi jika warga asli kota ini tahu kalau bagian dalam kota sedang kacau, akan muncul kepanikan pada diri mereka. Kamu sudah katakan itu kepada Andra bukan.'
Bilang apa?
'Bilang agar jangan beritahu ke siapa-siapa juga.'
Kamu kan harusnya sudah tahu.
…
"Iky. Gawat!"
"Kali ini gawat kenapa?"
"Aku mules, mau buang air."
"Hei Andra, apa harga diri kamu sebagai wanita sudah hilang?"
Kataku setelah mendengar ucapan Andra yang blak-blakan.
"Mau gimana lagi kalau begitu. Aku akan mengantar Andra ke toilet dekat sini, pertunjukan teater nya juga masih lumayan lama. Kamu tunggu dulu disini saja, Iky."
"Oke deh. Tolong yah, Margaret."
Saat mereka berdua pergi, aku tiba-tiba jadi ingin mencicipi kue gigska lagi. Seingatku stand yang menjual kue gigska ada di sekitar sini. Lebih baik aku mencarinya segera karena barang khusus atau langka seperti itu biasanya cepat habis.
Tidak ada. Disini tidak ada! Disana tidak ada! Disitu tidak ada! Loh? Tidak ada sama sekali, keberadaan stand penjual kue bagaikan mitos. Apa kue itu sudah benar-benar habis?
Tolong bantu aku, bukannya kamu mengetahuinya, Jamiel?
'Aku memang arwah, tapi tidak gentayangan, mana aku tahu dimana tempat penjualnya sedangkan aku hanya diam disini.'
Sialan… tamatlah sudah. Aku harus menunggu sampai datang festival yang lain, itu juga kalau aku ada di sekitar kota ini.
Wajar sih jika kue itu cepat habis, lihat saja sekelilingku, banyak sekali manusia dan bukan manusia disini. Mereka menikmati kegembiraan ini tanpa tahu apa yang terjadi di dalam kota ini. Jarak istana dengan festival entah kenapa diadakan lumayan jauh, letaknya bagaikan dari ujung sampai ke ujung.
Aku merasa kasihan kepada orang-orang yang tinggal di dekat istana, mereka harus jalan jauh dulu sampai ke tempat ini, atau mungkin mereka tidak ada yang datang kesini karena terlalu malas, lagipula orang yang tinggal di daerah sana orang kaya semua, apakah mereka yang tinggal di sana adalah bangsawan? Kasihan sekali Naberus tidak bisa menikmati festival ini.
"Ayo! Ayo! Kue gigska tinggal sedikit lagi! Ayo dibeli!"
Huh?!
Tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke sumber suara.
"Bang! Kuenya satu!"
"Mas! Kue gigska satu!"
Aku mengenali suara perempuan yang berteriak di waktu bersamaan denganku. Kami yang ada di samping satu sama lain saling menghadap secara bersamaan.
"Kenapa kamu ada disini? Nabe-"
Perempuan itu tiba-tiba menutup mulutku.
"Sheeeesh!!"
Loh? Kenapa Naberus disini? Kenapa dia masih menggunakan jubah yang kemarin dia gunakan? Apa yang terjadi dengan penyerangannya? Apa festival ini juga salah satu tempat penyerangan itu? Entah kenapa aku jadi malas menanyakan hal-hal tersebut kepada Naberus, saat mulutku terbuka aku akan langsung mengatakan ini ke dia.
Tolong jangan ganggu kedamaianku!
#########
Makasih buat 50 like nya. 👏👏👏
Btw, 5 komentar di chapter ini \= next chapter (maybe 😋)