Going To Another World Only Relying On Five Senses

Going To Another World Only Relying On Five Senses
Chapter 9



"Shasha… bencilah kepada takdir karena membuatmu jadi berada disini."


"Hentikan, misi kita sudah selesai."


Orang bermantel yang memegang pisau dengan cepat menghilang dan muncul di depanku, begitu dia hendak menusuk ku temannya mulai berbicara dengan suara yang lumayan feminim. Tangan kanan orang yang mencoba menusuk ku berhasil ku tahan, walaupun dia mencoba menusuk ku tapi wajah nya malah menghadap ke arah temannya. 


"Kelakuan si tikus lah yang membuat dirinya sendiri terbunuh. Dosa dari kelakuan nya ini harus ditebus dengan kematian."


Selagi mereka berdebat, aku yang menahan serangannya sambil memegang tangannya membuatku bisa mengeluarkan indra perabaan ku. Data orang itu bermunculan, status nya lebih kuat dibanding aku, aku pasti langsung kalah. Tidak terduga yang membuatku tertarik adalah skill yang dia punya. Pria bermantel ini hanya mempunyai satu skill, [Ultra Senses]. Itu yang membuat indra miliknya lebih hebat dari orang lain. Benar-benar skill yang kubutuhkan. 


Merasa mempunyai celah, aku mengambil pisau ku dan mencoba menyerangnya. Sialnya walaupun dia terlihat sedang fokus kepada temannya, dia tetap bisa menghindari serangan ku dengan mudah. 


"... Menarik, tikus ini lebih suka menjadi ganas dari pada penurut dan mati dengan tenang. Shashasha… walaupun dia sudah tahu lawan nya adalah ular."


Gerakan nya yang cepat untuk menghindari serangan ku membuat kerudung mantel yang menutupi kepalanya terbuka. Terlihat pria kurus berdagu runcing dengan rambut dia potong mohawk, matanya tajam seperti ular dan mulut ujung kanannya terlihat seperti ada bekas jahitan sepanjang 3 sentimeter. 


"Aah… wajah buruk ku jadi dilihat olehnya… Kau tahu, di organisasi kami, aku itu selalu dianggap orang yang lemah, mereka anggap begitu hanya karena tahu aku tidak punya skill kuat untuk menyerang. Tapi mereka salah, pendengaranku, penglihatanku, dan penciumanku adalah senjata mematikan itu sendiri. 


Menyenangkan setelah melihat tikus-tikus itu mengetahui, jika makhluk kecil yang mereka lawan itu, sebenarnya adalah ular berbisa."


Sial, aku pasti mati jika terus berada disini. Jamiel, apa yang harus kulakukan. Jamiel? Apa kamu dengar sialan. 


Aku berlari memutar balik dengan kencang untuk kabur dari mereka. Setelah keluar gang, aku bisa mencari penjaga dan mengumpulkan bantuan. 


Pria itu cepat sekali. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi anehnya dia sudah ada di sampingku dan siap menendangku. Tendangan kencangnya membuatku terpental lagi ke tempatku berdiri sebelumnya. 


"Kan sudah kubilang, indra ku cukup bagus. Mengejarmu itu seperti tidak bergerak sama sekali."


"Kamu ini banyak sekali bicara, apa di tempatmu kamu tidak punya teman."


Aku mengatakan hal tersebut sambil mencoba berdiri. 


"... Biadab!"


Saat dia ingin melancarkan serangan terakhir nya untuk membunuhku, temannya berkata:


"Mundur."


"Huh?" 2x


Serangan nya berhenti. 


"Kamu pergilah ke posisi, dia biar aku yang urus."


Orang yang kerudung mantel nya masih tertutup itu berjalan ke arah kami. 


"Shashasha… akhirnya kamu ingin mencoba untuk membunuh yah. Aku tidak mau tahu jika nanti kamu ketagihan."


"Pergilah."


"Aku tahu, kamu tidak ingin pembunuhan mu yang perdana ini dilihat orang lain kan. Aku tahu betul. Kalau begitu aku akan pergi."


Pria mohawk itu meninggalkan kami berdua. Sepertinya dia sudah pergi jauh dari kami, aku bisa merasakannya lewat indra ku. 


Sambil jalan mendekat, orang bermantel itu berbicara dengan nada lembut:


"Kamu, lupakan wajah dia dan pergilah. Jika bertemu penjaga bilang ini ulah anggota revolusioner."


"... Apa kamu ingin mengadu domba mereka."


"Tentu saja tidak, kamilah anggota revolusioner itu sendiri."


"Orang baru lebih baik tidak tahu apa-apa… sialan!"


Saat kami sedang asik berbicara, dia telat sadar jika tanganku ingin mengeluarkan [Water Shot]. Akhirnya dia menyadari nya, tapi itu sudah terlambat. 


Orang itu mundur untuk menghindari serangan ku. Seranganku memang tidak melukai tubuhnya, tapi itu bisa membuat kerudung mantelnya sobek. 


Saat kerudung mantelnya terkoyak, rambut panjang keluar beterbangan. Sekilas seperti benang yang terbuat dari emas, dia kuncir kayaknya ekor unicorn yang berbulu emas. Sayangnya aku tidak bisa melihat warna matanya karena dia menggunakan kacamata goggle warna hitam. 


"Manusia ular tadi memang menakutkan, tapi gadis pirang. Kebaikanmu membuatmu tertangkap dengan mudah padahal kamu anggota penjahat. Kamu tidak cocok disana, serahkan diri pada penjaga dan jadilah penjaga toko."


"Penjaga toko, boleh juga. Tapi maaf, sekarang aku punya tugas yang lebih penting daripada mengucapkan 'Selamat datang di toko kami' di depan pintu."


Rambutnya perlahan berhenti dan membentang lurus sepinggang, rambut yang sangat panjang, dua sachet shampo tidak mungkin cukup untuk membersihkannya. 


Setelah semua rambutnya diam. Dia dengan sekali pijakan bergerak kearah ku, dia melompat ke depan bergerak dengan cepat dan memegang pegangan pedang yang ada di pundaknya. 


Gerakannya lebih lambat dari manusia ular, tapi gerakannya seperti sudah lama menggunakan pedang, terlihat sudah terlatih. 


Serangan pembukanya berhasil ku hindari, tapi tidak sampai situ, selanjutnya dia mencoba menebasku terus menerus. Aku lengah di serangan terakhirnya yang menyebabkan pipiku tergores pedangnya. 


Aku melompat dengan tinggi ke arah penjaga yang terluka, nafasnya berat dan darah sudah keluar lumayan banyak. Tiba-tiba badan nya bergetar mencoba bangun. 


Gadis pirang dengan goggle itu seketika mulai terlihat panik dan meneriaki ku. 


"Sudah, lakukan saja perkataan ku. Dan bawa juga penjaga itu ke rumah sakit secepatnya."


"Mengkhawatirkan korban perbuatan mu sendiri. Sudah kubilang kamu tidak cocok disana."


"B-berisik. Jika kita bertemu untuk kedua kalinya, aku akan langsung membunuhmu."


nada gadis itu mulai tidak beraturan dan terbata-bata, apa yang tiba-tiba membuatnya jadi panik begini?


"Seriusan?"


"Serius! Jangan banyak bicara dan cepat pergi."


Setelah meneriaki ku gadis pirang itu pergi. 


Penjaga yang berusaha sadar itu mulai membuka matanya sedikit dan berbicara. 


"Aku… diserang… dua orang… wajah tak terlihat…"


"Bicaranya nanti saja, aku akan menggendong mu sampai ke rumah sakit terdekat. Walaupun aku tidak tahu dimana rumah sakitnya."


Ini mungkin terlihat aneh karena sesama laki-laki, tapi aku tetap menggendong nya seperti putri. Berlari keluar gang dan bertanya ke orang sekitar dimana rumah sakit terdekat. Untungnya rumah sakit terdekat cuma berjarak 50 meter dari sana. Nyawanya terselamatkan.


Setelah mengantar penjaga yang terluka itu, aku langsung pergi ke pos penjaga di dekat sana. baru saja berjalan beberapa langkah, aku sudah melihat sesuatu yang mengejutkan.


Tepat di seberang jalan ku berdiri, gadis pirang yang tadi menyerang ku muncul lagi di hadapanku, tapi kali ini hanya aku yang sadar, dia belum melihatku.


Aneh, dia membaur dengan warga biasa, rambutnya dia tutup dengan mantelnya, tapi karena tadi ku rusak, rambut pirangnya jadi terlihat sedikit, namun bukan cuma rambutnya yang jadi ciri khas. Kacamata goggle nya masih dia pakai. Dari semua orang-orang di sekitar sini, hanya dia seorang yang menggunakan kacamata khusus musim salju itu.


Seperti nya pasukan revolusioner juga membaur dengan warga biasa, aku harus lebih waspada. Dan tentu saja peluang emas bertemu dia lagi tidak akan kulewatkan begitu saja.


Aku akan membuntuti nya dan menemukan markas anggota kelompoknya, setelah itu mengalahkan mereka semua. Atau memberitahu penjaga saja.


Yang jelas, bersiaplah menyambut ku saat sudah jadi penjaga toko. Pirang.