
Dari awal aku sudah tahu, beradaptasi dengan lingkungan baru itu benar-benar tidak mudah. Memaksakan dirimu sendiri dengan berpura-pura sudah terbiasa hanya akan membuatmu tambah tersiksa dan menambah beban pikiran.
Aku tidak menyarankan untuk mudah menyerah, tapi ketahuilah batasanmu, ini bukan dunia fiksi dimana pemeran nya dengan mudah melampaui batas kekuatan mereka.
Kuberitahu satu hal, mencoba melampaui batas di dunia nyata itu sama dengan bunuh diri.
…
'Ayolah, Iky. Cepat bangun dan pergi dari sini, seseorang tanpa kekuatan [Batin] tidak akan bisa melukainya.'
Wahai teman pikiranku, aku tahu ini pertemuan yang singkat, tapi saat bertemu seseorang yang baru. Lebih ramah lah kepadanya.
'Hah? Ngomong ngelantur apa sih kamu. Cepat kabur atau serangan dia yang berikutnya akan benar-benar melukaimu… tunggu, apa kamu pikir serangan tadi membuatmu terluka? Bodohnya, harusnya kamu tahu tubuhmu sudah lebih kuat. Kepalamu hanya terbentur pohon di belakang mu saja.'
Huh?
'Apa kamu merasa kesakitan?'
Tidak, normalnya jika aku kena serangan sampai membuatku terpental jauh seperti itu pasti mati.
'Aa! Sungguh kepala udang. Sekarang berdiri.'
Aku… tidak jadi mati?
'Aah, tidak bergunanya! Inilah yang terjadi jika aku tidak mengawasimu 5 menit saja… sial, serangannya datang.'
Begitu kesadaranku kembali, monster pohon itu sudah meluncurkan batang nya yang berujung lancip secara lurus ke arahku. Sial, aku tidak akan sempat menghindar. Aku akan mati.
Sambil ketakutan aku menutup kedua mataku kuat-kuat karena terlalu takut batang itu menusukku. Sudah hampir 5 detik aku menutup mata, tapi aku belum terasa tertusuk juga. Apa serangannya meleset.
Aku pelan-pelan membuka mataku lagi. Ujung batang pohon itu sudah ada di depan kening ku, jaraknya hanya sekitar 1 senti. Anehnya itu hanya terdiam disana, tubuh monster pohon itu juga ikut terdiam selayaknya pohon sungguhan.
Setelah itu monster tersebut tiba-tiba tumbang dan kabut di sekitarku juga perlahan menghilang. Sinar matahari akhirnya muncul setelah ditutupi kabut, pandangan sekitar jadi terlihat jelas.
Saking jelasnya aku malah melihat sesuatu yang mengejutkan. Dengan mulut yang terbuka aku melihat seorang perempuan membawa tongkat hitam dengan menggunakan topi caping berlukis bunga teratai dan pakaian hanfu model sederhana dengan warna atasan ungu gelap dan bawahan hitam. Rambut nya coklat sepundak namun di kuncir samping di bagian sebelah kanannya.
(Hanfu \= Pakaian tradisional China.)
(Topi caping \= topi kebun, berbentuk kerucut tumpul.)
Dia berdiri menginjak monster pohon sambil menaruh ujung tongkat yang dia pegang ke bawah. Setelah sinar matahari menyinari kami berdua, mata kami bertemu.
Beberapa detik kami saling bertatapan, perempuan itu lalu memiringkan kepalanya terheran dan melompat untuk turun lalu mendarat di depanku.
"Kamu bisa berdiri?"
Perempuan dengan caping itu mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri. Malu diperlakukan seperti orang lemah, aku mencoba bangun sendiri sambil berkata, "Makasih." Lalu aku meraba dan melihat tubuhku yang terkena serangan monster tadi.
Benar-benar tidak terluka, apa aku terlalu berlebihan. Sial, kata-kata bijak diawal jadi terasa percuma.
"Apa yang sedang kamu lakukan di hutan ini, terlalu berbahaya memasuki Hutan Nesamulu seorang diri."
Perempuan caping merasa heran dengan keberadaanku disini, aku juga bingung harus cerita mulai dari mana.
"Ya, sudahlah. Kamu mau kemana?"
"Kota dekat sini, kamu tahu dimana."
"Oh, di depan sana ada kota bernama Kota Edman… kebetulan aku juga ingin masuk kesana, mau pergi bersama?"
"O-oke."
Perempuan caping itu lalu mendekati monster tadi, membacakan beberapa mantra dan mengetuk mayat pohon yang tadi dia bunuh dengan tongkatnya. Tak lama monster itu berubah menjadi abu dan menghilang terhempas angin.
Perempuan itu menghadapku dan menatapku, tiba-tiba berjalan mendekatiku dan memajukan wajahnya ke arahku, wajah kita terlalu dekat. Dengan wajah yang datar dia menunjuk bibirnya dengan tangan.
Wow, apa ini. Kita baru saja bertemu dan dia sudah main kode-kode. Alasan dia menunjuk bibir dengan tangan juga masih belum jelas. Yang aku tahu itu bukan kode morse… walau begitu, dilihat sekilas juga tahu, maksud dari dia melakukan itu adalah untuk…
"Aku tidak tahu kamu habis makan apa, tapi bulu makananmu masih tertempel di bibir."
Dia berkata begitu sambil mundur beberapa langkah. Aku yang mulai sadar ada hal aneh di bibirku langsung dengan kasar menggosok-gosoknya dengan tangan, itu pasti milik Gamma Bunny tadi. Sial, bukan dapat skill miliknya, malah membuat malu diriku.
Tuh kan benar, benar kan apa yang kupikirkan, itu pasti maksud dia sebenarnya, aku tidak mungkin berpikiran hal-hal aneh. Hei, apa yang terjadi hati, kenapa kamu terasa kecewa, sedih, dan malu di saat bersamaan. Sungguh hati yang serakah.
Setelah itu aku membuang ludah beberapa kali ke tanah dan mengelap bibir dengan telapak tangan, seperti nya sekarang sudah bersih. Kami berjalan bersama melewati hutan.
'Wow! Kehidupan mu disini baru mulai dan kita sudah dapat seseorang dengan kemampuan Batin, terlebih dia seorang [Exorcist].'
Wah, akhirnya aku mendengar suara Jamiel lagi. Kukira dia masih marah karena kata-kataku waktu itu. Mood dia cepat sekali berubah.
Oh iya, dari tadi kamu mengatakan sesuatu seperti [Batin] atau [Exorcist], sebenarnya apa itu?
'Aduh, inilah yang terjadi jika kamu sering tidur di kelas. Akan ku jelaskan dari awal kalau begitu. Monster di dunia ini terbagi dari 2 tipe, Physic dan Astral. Seperti namanya, Physic adalah monster hidup yang memiliki tubuh fisik, sedangkan Astral roh jahat yang biasanya masuk kedalam suatu benda untuk mendapatkan tubuh fisik sementara.
Orang biasa seperti mu tidak bisa membunuh monster Astral tanpa kekuatan Batin atau seseorang yang berketurunan Exorcist. Kalau kamu melawannya, kamu hanya bisa mengalahkan mereka tanpa membunuhnya, setelah itu mereka akan mencari tubuh baru lagi.
Tapi perempuan itu sangat unik. Dia mempunyai kekuatan Batin tapi juga berasal dari keturunan Exorcist. Siapa dia sebenarnya.'
Siapa peduli dengan Batin atau Exorcist. Yang ku tahu dia adalah perempuan aneh, apapun yang dia lakukan ekspresi nya akan selalu datar. Matanya juga terlihat lesu-
'Itu namanya mata sayu bodoh, apa kamu tidak bisa membedakan nya. Inilah yang terjadi jika kamu sering tidur di kelas.'
Heh… entah kenapa di sekitarku jadi banyak perempuan aneh.
"Oh, ngomong-ngomong. Aku Rizky, Rizky Santosa. Temanku biasa memanggilku, Iky."
Aku memperkenalkan diriku setelah kita berdua keluar dari hutan.
"Iky? Nama yang aneh. Namaku… Andra, Andra Maltakanni."
Setelah selesai memberitahu namanya, bibirnya agak sedikit naik. Apa dia tersenyum, sepertinya tidak… aku, sama sekali tidak mengerti.