Going To Another World Only Relying On Five Senses

Going To Another World Only Relying On Five Senses
Chapter 2



Suara air berjatuhan, air terjun? Semak-semak yang bergoyang terserempet makhluk kecil, kelinci? Tanah yang empuk beralaskan rumput tipis. Walaupun hembusan angin terasa sejuk, tapi sinar matahari yang mengenai ku terasa begitu hangat. Biarpun mataku masih tertutup aku tetap tahu, jika aku sedang berada di tengah-tengah hutan. 


Aku membuka mataku dan hal pertama yang kulihat adalah langit cerah tanpa awan. Berawal terjatuh di gerbang tanpa dasar, dan berakhir tidur telentang di dalam hutan. 


Aku bangun dan melakukan peregangan, melihat sekitar dan membaca situasi. Apakah ini benar-benar di tengah hutan? Terlihat tidak normal karena disampingku berdiri ada aliran sungai dan di dekatnya ada air terjun sedang, ukuran nya seperti kulkas dua pintu. 


Dilanjutkan dengan aku mendekati aliran sungai dan mengambil air dengan kedua tanganku, melihat air dengan teliti apakah jernih dan tidak berbau. Saat kupikir tidak apa-apa, aku mencuci muka dengan air tersebut sambil dibarengi dengan meminumnya sesekali. Semoga tidak berbahaya jika ku minum. 


Kemeja coklat dan celana bahan hitam ku masih bersih, tubuhku malah terasa lebih ringan dan penglihatanku lebih jernih. 


Bentuk rumput dan daun pohonnya agak aneh, apa aku masih di bumi?


'Hei cepatlah sadar, kan sudah kubilang kamu ku kirim ke Gazpadia.'


Huh? Siapa itu? 


'Aku, aku. Kenapa kamu bisa lupa secepat itu.'


Aku, aku siapa? Kenapa suaranya ada di dalam kepalaku.


'Sudah kubilang cepat sadar. Ini aku. Aku loh.'


Oh, aku tahu. Setelah itu kamu bilang jika kita teman satu sekolah dulu dan kamu sekarang sedang di tilang polisi, memintaku untuk mentransfer sejumlah uang. 


'Jamiel oi! Aku jamiel! Wanita cantik yang berbicara denganmu di Linked Room beberapa waktu lalu. Dan kenapa kamu berbicara seolah sedang menerima panggilan.'


Dia mengatakan kepada dirinya sendiri 'wanita cantik'... Oh aku ingat, jadi itu bukan sekedar mimpi. 


'Aku menyelamatkanmu dari kematian dan kamu masih bilang mimpi. Biarlah. Bagaimana kondisi fisikmu setelah masuk ke dunia Gazpadia? Harusnya seluruh tubuhmu jadi 2x lebih kuat karena fisikmu saat di bumi mulai beradaptasi disini.'


Maksudnya? 


'Coba saja melompat.'


Aku mengikuti perintahnya. Mengejutkan, lompatanku 2x lebih tinggi dari terakhir kali aku melompat, itulah kenapa tubuhku terasa ringan sekarang.


'Simpan rasa penasaran kekuatan tubuhmu nanti. Sekarang aku mau melanjutkan ceritaku setelah pindah ke Linked Room.'


'Setelah tiba-tiba berada di Linked Room, aku mengetahui bahwa ada dunia selain Gazpadia, dan itu adalah bumi. Selama 5 tahun aku mempelajari isi bumi sambil mengisi energi. Aku bahkan tahu jika organisasi U-'


Stop! Stop! Bagian itu jangan dilanjutkan atau kamu bisa kena masalah.


'... Masalah? Ehem. Intinya selama 5 tahun aku juga memikirkan bagaimana caranya keluar dari situ. Setelah sudah cukup energi, aku mencoba untuk kembali kesana, tak lama aku baru ingat jika aku sekarang hanya sebuah jiwa, aku tidak memiliki tubuh. Jika kembali kesana itu hanya akan membawaku ke surga.'


Surga? Bukannya itu malah bagus. 


'... Tidak, belum. Aku belum bisa kesana. Ada satu hal yang harus aku selesaikan dahulu… makanya aku memikirkan suatu cara, bagaimana jika aku membawa tubuh manusia bumi kesana dan memasuki tubuhnya.'


Tunggu, kenapa harus manusia bumi? Memangnya tidak bisa manusia dari duniamu. 


'Tentu awalnya aku ingin membawa manusia dari duniaku kesini. Tapi saat kucoba, ada sebuah penghalang yang membuat mereka tidak tembus kesini. Anehnya penghalang itu tidak ada di bumi.'


Oke, untuk bagian penghalang mau bagaimana lagi. Tapi masalahnya, kenapa aku? Dari banyaknya manusia kenapa harus aku?! 


'Itu murni ketidaksengajaan, awalnya aku ingin membawa orang yang lebih hebat dan berguna daripada kamu. Lokasi dia ada didekat tempat kamu tertabrak. Saat aku ingin membawanya, aku melihatmu yang sedang sekarat di tengah jalan raya, kamu tidak akan selamat jika menunggu ambulan. Sebagai orang yang berhati baik dan suci, tentu aku tidak bisa mengabaikanmu. Akhirnya aku malah membawamu dan menyembuhkanmu. Setelah itu kamu bangun, kamu sudah tahu sisanya.'


Lebih hebat dan berguna daripada aku? Siapa orang sombong itu?! 


'Rasa terima kasih? Bagaimana dengan terima kasih setelah aku menyembuhkanmu?'


Kami berbicara dalam hati. 


Aku yang sedang duduk bersila di pinggir sungai akhirnya berdiri setelah selesai mendengar cerita Jamiel. 


"Baiklah, sekarang bagian utamanya. Jelaskan padaku apa yang terjadi dengan tubuhku setelah masuk dunia ini?"


'Bagian utama? Jadi ceritaku yang sedih dan menyentuh hati itu bukan bagian utamanya?!'


Aku mencoba melompat lagi beberapa kali, hasilnya tetap tinggi luar biasa. Kecepatan lari ku juga bisa sampai 2x bahkan lebih.


'Setelah kamu sampai ke dunia ini, tubuhmu mulai beradaptasi. Kondisi planet bumi dan Gazpadia sangat berbeda. Aku sampai heran, kalian bisa hidup di planet yang seperti itu. Hasilnya saat kamu berada disini, panca indra mu menjadi sangat kuat.'


Wow, apa aku sangat kuat disini. 


'Jika dilihat dari kondisi fisik, seperti itu. Sayangnya kekuatan mu yang sekarang belum bisa mengeluarkan sihir. Coba kita gunakan kekuatan panca indramu satu persatu.'


Sihir? Di dunia ini ada hal seperti itu. 


'Baiklah, pertama indra perabaan mu dulu. Coba ambil benda di dekatmu dan fokuskan kekuatanmu ke bagian tangan.'


Aku mengambil selembar daun yang sudah gugur dari pohon dekat ku berdiri. Aku tidak paham apa yang dia katakan, bagaimana caranya memfokuskan kekuatan. Dicoba dulu deh. 


Setelah beberapa detik aku memegang daun, muncul tulisan yang mengambang diatas daun tersebut bertuliskan [Daun] berwarna ungu cerah. 


Setelah berbicara sendiri aku mencari barang lain di dekatku, kali ini ada sebuah batang pohon yang sudah patah. Aku melakukan hal sama seperti sebelumnya dan muncul hal yang sama pula.


'Kekuatan indra perabaan adalah mengetahui nama benda apa pun yang kamu raba atau sentuh.'


Setelah Jamiel selesai mengatakan hal tersebut, aku juga selesai membaca tulisan [Batang Pohon] di atas batang pohon yang kupegang.


"Sial! Tidak berguna!"


Aku berteriak dengan putus asa dan lutut mencium tanah karena saking kecewanya kakiku jadi lemas dan tidak bisa berdiri.


'Tenang, tenang. Kita masih ada empat lainnya. Bagaimana sekarang langsung ke yang selanjutnya. Indra penglihatan. Saat kamu memfokuskan kekuatanmu ke mata, kamu bisa melihat dengan jelas bahkan dari jarak yang sangat jauh.'


Aku mengikuti setiap perkataan nya. Tapi saat kucoba malah jadi tidak bisa melihat apa-apa. Di Awal lancar-lancar saja, cara kerjanya seperti teropong. Namun jika pandanganmu terhalang sesuatu seperti pohon yang sedang menghalangiku ini, kamu hanya akan melihat kulit pohon dengan sangat dekat. 


"Bajingan! Tidak berguna lagi!"


Aku putus asa kembali.


'Hm… sepertinya matamu belum mempunyai skill tembus pandang. Jangan khawatir, ini berhubungan dengan kekuatan indra selanjutnya. Indra pengecapan, kamu bisa mengambil skill apapun dari semua makhluk. Namun syarat nya kamu harus memasukan bagian tubuh makhluk tersebut ke dalam mulutmu selama satu jam tanpa ditelan.'


"Jorok! Sudah tidak berguna, jorok lagi!"


Aku tidak bisa mencobanya karena tidak ada makhluk hidup apapun di sekitarku, jika ada juga sepertinya akan aku tolak. 


'Kalau begitu lanjut ke indra selanjutnya. Indra pendengaran, kamu bisa mendengar apapun dari jarak yang sangat jauh. Untuk sekarang radius nya hanya satu kilometer, jaraknya sama seperti indra penglihatan tadi.'


Dan seperti biasa, aku mengikuti perintahnya. Aku menutup mata agar lebih fokus ke bagian telinga. Belum sampai satu detik, telingaku rasanya mau meledak, suara yang kudengar mengerikan dan tidak beraturan. Suara orang? Hewan? Tanaman? Rasanya seperti ketiga suara itu jadi satu. 


Ku tekan kedua telingaku kuat-kuat, berharap tidak mendengar suara seram itu lagi. Disitu juga fokusku membuyar dan telingaku kembali normal. Walaupun begitu aku hanya bisa tertidur di tanah sambil menutup kedua telinga. Aku mendapatkan trauma baru. 


'Haha… sepertinya kamu belum bisa membuat pendengaran mu hanya ke satu makhluk saja, ya semakin kamu berlatih semakin kamu akan menguasainya. Kekuatan mu yang sebelumnya juga begitu.'


"Haha! Apanya yang haha! Gendang telinga ku hampir pecah dan kamu bisa-bisanya bilang Haha!"


'Ma-maaf, bagaimanapun juga akhirnya kamu tinggal mencoba indra terakhir. Apa kamu siap? Selanjutnya indra penciuman, kamu bisa mencari sesuatu dari jarak yang jauh sekalipun hanya dengan mencium baunya saja. Cobalah.'


Lagi-lagi mengikuti perkataannya, menutup mata kembali dan mulai menarik napas pendek namun kuat beberapa kali, mencoba mencium sesuatu. Fokus ku terpecah kembali, bau yang kucium sangat menyengat dan membuat otak ku seperti tertusuk-tusuk. Harum, busuk, basi, dan amis menjadi satu. 


"Aku sudah tahu, lagi-lagi kekuatan yang tidak berguna."


Aku berbicara dengan suara cempreng bergetar karena hidungku sedang ditekan dengan tangan. 


'Lagi-lagi yang ini juga harus rajin-rajin berlatih. Kalau begitu sudah aku beritahu semua kekuatan yang kamu punya.'


Dan hampir semuanya tidak berguna. 


'Apa saat di bumi kebiasaan mu juga mengeluh. Benar juga, pantas saja kamu masih belum sukses. Tanpa mempunyai kekuatan melihat masa depan pun aku akan tahu jika kamu selamanya akan menjadi budak. Dasar budak korporat!'


Jamiel berbicara dengan nada mengolok-olok, kenapa dia jadi sekesal itu. 


Ah, itu mengingatkan ku. Saat kamu menendangku masuk gerbang kamu menyebut namaku kan. Aku kan belum memberitahumu, bagaimana bisa? 


'Aku kan sudah bilang, setelah kamu masuk Linked Room aku jadi bisa membaca pikiranmu, seperti sekarang ini. Aku tidak bisa melihat pikiranmu lebih jauh lagi, tapi setidaknya aku tahu… Nama, Iky. Nama lengkap, Rizky Santosa. Umur, jalan 20 tahun. Tinggi, 168 sentimeter. Rambut, hitam pendek. Durasi ejakulasi, 3-'


Stop! Stop! Stop!!! Oi! Kamu mau mempermalukan ku atau gimana?! 


'Mempermalukan? Ke siapa?'


Sudahlah, aku paham. Jadi dimana tempat kamu disegel. Aku mau cepat selesaikan ini dan menunggu 5 tahun ku dengan tenang. 


'Kamu ngomong apa. Kita sedang ada di Hutan Nesamulu, reruntuhan tempat ku disegel ada di daerah Baratta.'


Jadi? 


'Jaraknya mungkin seperti Sabang ke Merauke kurang lebih.'


"Huh?"


'Tenang, aku akan selalu menuntunmu. Tujuan kita sekarang ke timur, keluar hutan ini dulu dan pergi ke kota Ed-'


"Tenang tenang dengkulmu! Aku ini bukan Panji yang suka berpetualang! Sabang ke Merauke! Itu jarak antar ujung Indonesia woi! Bukan seperti dari pangkalan ojek ke pasar! Kamu memintaku melakukan hal itu dengan semua kekuatan ku yang tidak berguna ini! Gila! Makhluk payah ini benar-benar gila!"


Aku meluapkan semuanya. 


'... Sudah selesai teriak-teriaknya? Kalau gitu cepat ke timur, tujuan berikutnya, Kota Edman.'


"Dicuekin! Amarahku dicuekin! Lacur satu ini."


Setelah kejadian ini, hanya sedikit, sedikit saja aku berpikir. Aku merasa tidak buruk juga mati dengan tenang saat di bumi daripada di bawa ke dunia gila ini.