Going To Another World Only Relying On Five Senses

Going To Another World Only Relying On Five Senses
Chapter 10



Dengan berjalan seperti orang mencurigakan, aku mengikuti gadis dengan goggle itu dari belakang. Menjaga jarak sebisa mungkin agar dia tidak mengetahui keberadaan ku. Biarlah warga sekitar yang menatapku curiga seperti sekarang ini. 


Dia berjalan ke arah istana kerajaan, apa yang mau dia lakukan? Apa markas mereka ternyata berdekatan dengan istana, itu bahaya. Atau rencana mereka untuk kudeta akan dilakukan sekarang. 


Apapun itu, satu yang membuatku terkejut. 


"Besar nya itu istana."


Tanpa sengaja aku mengucapkan isi hatiku. 


'Tentu saja, ini kan ibukota.'


Brengsek, kamu baru muncul yah. 


'Jaga kata-katamu, mau bagaimana lagi. Aku harus lebih menghemat energi ku.'


Menghemat energi? 


'Dasar ingatan pendek. Kamu lupa yah aku disegel jadi tidak bisa keluar dari Linked Room ini.'


Ya ya aku tahu, tidak perlu menyebutku ingatan pendek. 


'Aku bisa berbicara denganmu sekarang karena sebagian manaku aku taruh di sana. Bagaimanapun aku tidak bisa mengirim orang asing yang belum tahu apapun tentang dunia yang mau dia tinggali sendirian. Aku harus memandumu, maka dari itu waktu yang kuperlukan untuk memulihkan manaku sekitar 5 tahun.'


… Hei, aku hanya penasaran, berapa lama sebenarnya waktu yang dibutuhkan jika aku tidak dikirim ke dunia ini. 


'Hm… mungkin 4 tahun 11 bulan.'


Hanya beda sebulan! 


'Yah, berbicara denganmu sekarang memang hanya memakan sedikit manaku, tapi jika terlalu sering, waktu yang diperlukan untuk mengirim mu kembali ke dunia asal mu jadi lebih lama dari 5 tahun.'


Rencanamu berantakan sekali. 


'Mau bagaimana lagi, cuma ini satu-satunya cara yang terpikirkan olehku.'


… Baiklah, kalau begitu bicaralah hanya saat aku bertanya padamu nanti. 


'Jangan bodoh, kita harus melakukan simbiosis mutualisme disini.'


Apa yang dibutuhkan dari orang yang sedang terkurung, bahkan dimensinya saja berbeda. 


'... Hehe, kamu akan tahu nanti.'


Cih, sok-sok membuat penasaran. Aku tahu itu belum terpikirkan olehmu kan.


'Ki-kita bicarakan itu nanti. Lihat, gadis rambut kuning itu berbelok.'


Saat Jamiel berbicara dengan nada panik itu, Aku juga melihatnya. Dia masuk ke sebuah gang, apa aku sudah sampai ke pintu markas nya. 


Aku menempelkan punggungku ke bangunan yang menjadi gerbang gang, berlindung agar bisa mengintip gadis itu dan tetap membuatku tidak ketahuan. 


Disana terparkir kotak karavan tanpa kuda. Dilihat dari model sepertinya gerobak itu milik bangsawan karena motif pada gerobak yang elegan. 


Gadis itu memegang kunci di tangannya dan memasukannya ke dalam lubang kunci pintu karavan. Saat pintu terbuka, karena posisi pintu berhadapan dengan gang jadi aku bisa melihat dalam karavan dengan jelas. Di dalam tidak ada siapa-siapa. 


Dia masuk dan mengunci pintu, gorden di dalam karavan menutupi jendela pintu. Sudah 20 menit aku menunggu tapi tidak ada pergerakan pada karavan tersebut. Jangan-jangan, aku lupa jika ini dunia fantasi, bisa saja di dalam karavan itu ada semacam portal antar ruangan, atau nama lainnya portal teleportasi.


Ya, itu mungkin terjadi, kenapa tidak terpikirkan olehku. Aku harus mendekati karavan itu, tidak, aku lupa aku punya kekuatan penglihatan super, kenapa tidak kugunakan. Begini jadinya jika mempunyai kekuatan lemah, terlupakan. 


Aku memfokuskan pandangan dan mencoba untuk melihat ke dalam gerobak bangsawan. Saat ingin menembus ke dalam, pintu karavan mulai bergerak. Gawat, ada seseorang yang akan keluar. Aku membatalkan kekuatan penglihatan ku. 


Dari dalam karavan keluar seorang wanita cantik dengan anggun menggunakan gaun bagaikan seorang putri. Berjalan perlahan menuruni karavan. Gaun putih berkelas, sepatu kaca, tiara perak, tidak, sepertinya itu terbuat dari emas putih. Pakaiannya membuat warga biasa langsung tunduk saat melihatnya. 


Apalagi rambut emasnya yang terurai dan matanya yang biru bagaikan batu safir dengan tambahan tahi lalat di bawah mata kiri membuat dia… tunggu, rambut pirang? Di dalam tidak ada siapapun lagi? Apa ini seperti yang kupikirkan. 


Wanita itu menutup pintu karavan dan berjalan ke arah gerbang istana. Karena penasaran aku mencoba mengintip dalam karavan dengan indra super penglihatanku, sudah ku pastikan di dalam kosong. 


Aku mengikutinya lagi, perasaan ku mulai tidak nyaman. Semoga saja yang kupikirkan ini tidak terjadi. 


Aku sudah sampai di tempat terakhir dimana aku bisa bersembunyi, di sekitaran istana seperti ini banyak sekali penjaga kerajaan, zirah mereka lebih lengkap dari penjaga biasa di kota. 


Wanita berjalan mendekati gerbang istana, penjaga disana membukakan gerbang dan berdiri tegak untuk menyambutnya. 


"Selamat datang kembali. Putri Naberus."


… 


Gawat! Tanpa sadar aku mengeluarkan apa yang dipikiranku lewat mulut. Semua pandangan penjaga disana tertuju padaku yang sedang berlindung di belakang karavan yang berkuda. 


Tak lama setelah aku tidak sengaja berbicara, karavan dengan kuda berjalan. Aku kehilangan satu-satunya tempat berlindung dan bersembunyi ku. 


Wanita yang dipanggil putri itu juga menatapku, mata kami saling bertemu, wajahnya mulai berkeringat dingin, seperti melihat sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. 


"Penjaga, langsung tangkap dia!"


Wanita itu dengan terburu-buru memerintah penjaga. 


Tubuhku merasakan bahaya, ada serangan yang sangat kuat menuju ke arahku. 


"Mati kau. Penguntit!"


"Uwaaa…!!!"


Aku berteriak sambil menghindar dari serangan palu besar yang seorang wanita berzirah lontarkan ke arahku. Aku berhasil menghindar, tanah yang kuinjak tadi retak dan hancur tertimpa palu yang bergerak vertikal dari atas ke bawah. 


"Anqa! Itu Grand Paladin Anqa! Semua, bantu nona Anqa!"


Seorang penjaga mulai berteriak dan kawanannya berlarian berusaha menangkap ku. Serangan wanita yang membawa palu besar itu datang lagi, kali ini vertikal dari bawah ke atas. Aku tetap bisa menghindarinya dengan mudah. 


Terlalu fokus dengan Grand Paladin Anqa, setidaknya penjaga tadi menyebutnya begitu. Aku tidak menyadari, lebih tepatnya terlambat menyadari serangan yang sangat cepat mengarah ke kepalaku. 


Saat aku melihatnya, cahaya panjang dan runcing itu sudah menabrak keningku sambil membuat kepalaku berputar ke atas beberapa derajat dan tubuhku sedikit terpental ke belakang. 


Setelah itu aku pingsan jadi tidak ingat lagi. 


 


Ruangan yang kecil, lembab, dan gelap. Toilet dan kamar tidur jadi satu, closetnya saja bau dan kasurnya keras. Pintu terbuat dari pipa-pipa besi. Kenapa, saat bangun aku sudah di dalam penjara busuk ini. 


Tak lama setelah aku bangun dan mengeluh nasib, pintu bagian luar terdengar dibuka seseorang dan kemudian muncul langkah kaki, dua orang sedang berjalan kemari. 


"Kamu bangun lebih lama dari perkiraan."


Suara yang terdengar tidak asing, aku tahu dia siapa, dia adalah. 


Seorang wanita dengan zirah berjalan melewati penjara ku, rambut hijau cerah, tetap cerah walaupun ruangan ini begitu gelap. Dengan rambut pendeknya yang sekitaran pundak masih tetap dia paksa berkepang, bahkan sampai dia buat rambutnya kepang dua, sungguh dipaksakan sekali. Tapi, walaupun bagian belakangnya lumayan pendek, poni nya panjang sekali sampai mata bagian kiri tertutupi rambut. 


Tidak, bukan suara itu bukan dari wanita berzirah ini. Dia mengambil kursi di ujung ruangan dan menaruhnya di depan penjara ku. Mengambil sapu tangan di saku rok pendeknya dan mengelapnya sampai bersih sekali, aku tidak kaget jika ada asap keluar saat dia sedang mengelap kursi dengan cepat dan kuat begitu. 


Setelah selesai mengelap, dia berdiri tegak di belakang kursi. 


"Apa yang kamu mau dengan mengikutiku. Tidak, kenapa bisa kamu menemukan ku lagi."


"... Selera pakaianmu buruk, setidaknya lepas saja kacamata besarmu itu. Apa di dunia ini tidak punya buku fashion."


Selanjutnya perempuan berambut pirang muncul dan duduk di kursi tersebut. Suara tidak asing itu dari dia. 


"... Ooh, tapi kenapa sekarang selera pakaianmu bagus."


"Di-diam! Aku tidak sedang meminta pendapatmu tentang pakaian."


Perempuan pirang itu berbisik ke wanita di belakangnya:


"Kan sudah kubilang, harusnya aku ganti pakaian dulu waktu mau kesini."


Walaupun rencana dia ingin berbisik, bisikan nya bisa di dengar olehku. 


"Tidak apa-apa putri, menggunakan pakaian apapun anda tetap cantik. Bukan berarti saya ingin melihat tubuh seksi anda lebih lama."


"Bukan itu masalahnya… tunggu, di akhir kamu bicara apa?"


"Bocah mesum! Apa yang kamu mau dengan mengikuti putri!"


Wanita berzirah itu tiba-tiba membentakku. 


Putri yang sedang duduk itu menatapku dengan tersipu malu, dari jendela besi di penjaraku terlihat jika sekarang malam hari, tapi dari pakaian si putri masih menggunakan daster baju tidur nya yang berwarna ungu. Kemungkinan dia baru selesai tidur. Jadi sekarang sekitaran subuh. 


"Sebelum itu, kenapa semua orang memanggilnya putri? Apa kamu mau bilang kalau dia seorang putri di istana ini."


"Tepat sekali, aku putri kedua dari Eus Trama. Bangsawan keturunan langsung sang pahlawan, keluarga yang memimpin negeri ini. Naberus vein Eus Trama. Sebut pirang lagi dan aku akan hukum mati kamu."


Aku tahu itu yang akan dia ucapkan, namun tetap saja. Apa-apaan ini, seorang putri kerajaan malah ikut organisasi penentang raja. Negeri ini sudah gila.