
Siang hari yang cerah, sambil membawa ember berisi sedikit air dan beberapa ikan aneh yang berasal dari dunia ini didalamnya, aku sedang berdiri di pinggiran Danau Abto.
Ikan bersisik biru ini adalah umpan untuk memancing Great Rajungan ke tepi danau. Karena seluruh tubuh ikan ini beracun untuk manusia, jadi koki terhebat di kota pun tidak mungkin bisa mengolahnya. Di dekat danau ada gubuk kayu dengan kakek tua yang menjual ikan ini. Ikan ini adalah makanan untuk Great Rajungan.
"A-apa ikan aneh itu bisa memunculkan monster danau?"
Aku kesulitan mencari kata-kata karena saat matahari berada di puncak, cuaca jadi benar-benar panas sekali.
Ikan yang kulempar ke tepi danau sedang menggeliat dan melompat-lompat mencari air. Sudah 1 menit aku melemparnya, belum ada hawa keberadaan kepiting buruanku muncul.
Gelembung muncul dari dalam air dekat ikan dan akhirnya keluar juga Great Rajungan yang kucari. Seekor rajungan bercangkang duri seukuran kambing dewasa mendekati ikan yang kulempar dengan jalan menyamping. Cangkang itu terlihat familiar.
"Ouh, akhirnya muncul juga."
Aku mengeluarkan pisau yang ku pinjam dari Serikat Petualang. Dengan cepat berlari mendekati monster itu.
'Bodoh, jangan mendekat langsung begitu. Hei bodoh, dengar tidak!'
Bodoh, bodoh, berisik! Kamu sendiri padahal yang bilang kalau tidak suka kata itu.
'Itu beda lagi jika keluar dari mulutku.'
Manusia setengah dewa brengsek.
Aku berlari ke arah monster rajungan itu untuk langsung mengalahkannya. Tapi saat dia melihatku capitnya langsung bergerak horizontal dan air berbentuk bulan sabit tertidur keluar dari capitnya lalu melesat ke arahku. Aku bisa menghindarinya.
'Kan sudah kubilang, amatir. Skill miliknya, [Water Cutter] dan [Water Shot] tidak bisa dianggap remeh. Tusuk bagian mata atau dalam mulutnya karena hanya itu bagian yang lunak.'
…
"Huh, lelahnya."
Aku duduk dengan kedua tangan dibelakang dan kaki diluruskan setelah selesai membunuh Great Rajungan yang ada disampingku. Mata kirinya sudah tertancap pisau yang tadi kubawa.
'Tidak buruk, sekarang patahkan kakinya dan taruh dagingnya ke mulut. Jangan sampai kamu muntahkan seperti monster yang pertama.'
"Aku tahu!"
Aku mencabut kakinya yang paling kecil.
Hei, Jamiel. Apa boleh aku memasaknya dulu?
'Tidak. Bagian tubuh yang sudah tidak alami membuat skill jadi tidak bisa diambil.'
Benarkah? Baiklah… setidaknya dicocol saus-
'Cepat masukan!'
Sambil menunggu skillnya terambil aku beristirahat di bawah pohon dekat danau.
Walaupun sudah 1 jam, aku tidak merasakan ada yang berbeda dari tubuhku. Apa kekuatan indra pengecapan ku ini benar-benar berfungsi? Di dalam mulutku juga sudah tidak karuan lagi. Kenapa aku punya kekuatan yang jorok seperti ini.
Hei, hei, Jamiel. Apa sudah boleh kumuntahkan?
'Silahkan. Jadi, bagaimana?'
Aku, tidak tahu. Apa skillnya sudah terambil?
'Cara pakainya mudah, hanya perlu dua kata, fantasi dan imajinasi. Tapi kamu harus melatihnya dulu agar terbiasa, kira-kira 2-3 jam berlatih. Yah, manusia payah amatiran sepertimu sepertinya lebih lama lagi. Whahaha...'
Jamiel tertawa dengan puas, perkataan nya membuat emosiku naik. Aku akan membuatnya sadar siapa rajanya disini. Aku mengambil ikan di dalam ember dan melemparnya.
'Aa! Kamu sedang apa. Sembrono sekali mencobanya dengan makhluk hidup. Cepat ambil dan gunakan lagi saja pisaumu.'
Satu Great Rajungan muncul lagi... Fantasi dan Imajinasi, hmph! lihat saja. Aku luruskan jari dan tangan kananku, membuatnya menjadi tangan yang runcing. Lalu menebasnya dari kiri ke kanan secara horizontal. Sambil aku mengucapkan "Water Cutter." Air bulan sabit seperti serangan Great Rajungan yang pertama keluar dari tanganku, dengan cepat membelah kedua capit Great Rajungan yang baru datang.
'He-hebat…'
Cih, jangan kagum dulu bedebah.
Selanjutnya aku mengulur tangan kananku lurus ke depan dengan telapak tangan dihadap ke depan juga. Gumpalan air muncul di depan telapak ku dan saat aku mengucap "Water Shot." Gumpalan itu melesat dengan tekanan yang kuat sampai aku sedikit terguncang, seakan aku sedang memegang pistol. Gumpalan air itu mengenai mata kanan Great Rajungan sampai masuk ke kepalanya. Seketika Great Rajungan itu mati.
… Fantasi dan Imajinasi.
Abaikan saja si Jamiel yang aneh itu. Intinya aku sudah mempunyai skill yang kuat. Akhirnya, walaupun mulutku terasa aneh tapi itu berhasil. Aku punya kekuatan yang berguna.
Aku mengalahkan Great Rajungan yang terakhir dengan mudah. Misi mengalahkan 3 Great Rajungan, selesai.
"Tapi, entah kenapa aku pernah melihat cangkang ini sebelumnya."
'Tentu saja, cangkang ini dipakai sebagai zirah oleh para penjaga kota.'
"Oh, pantas saja terasa familiar."
Aku sedang mengikat ketiga bangkai Great Rajungan untuk dibawa lalu dikirim ke Serikat Petualang dan mengambil bayarannya. Bayaran hari ini dipotong karena aku meminjam pisau dari serikat. Aku membawa ketiga monster rajungan seperti membawa tas ransel.
…
"Terima kasih untuk misi hari ini, karena ada potongan dari pembelian Pisau Petualang bayaran hari ini jadi, 130.000 Upir."
Wanita resepsionis cantik memberikan uang kertas yang dibawa menggunakan nampan kecil kepadaku. Rajungan yang kubawa sudah diambil para pegawai serikat.
"Anu… apa di dekat sini ada penginapan yang murah?"
"Hm… seberapa murah?"
"Uang yang kamu kasih tadi akan dibagi jadi biaya pakaian dan penginapan ku."
"... Sepertinya hari ini kamu akan tidur di kandang."
"Tidak, tidak tidak! Apapun asal jangan kandang kuda."
"A-aku tidak bilang kandang kuda."
Setelah menanyakan tempat penginapan kepada wanita resepsionis, aku menemukan satu dengan biaya cuma 50.000 Upir per malam. Aku belum melihat tempatnya, sepertinya akan kurang nyaman. Terima saja untuk hari ini, Iky.
Aku sampai setelah berjalan 5 menit dari serikat. Kamar dengan lantai kayu yang sudah banyak lubang, atap dipenuhi sarang laba-laba, kasur dengan beberapa bagian sudah robek dan kapas sudah keluar, selimut kecoklatan, di dalam kamar hanya ada kasur, meja kecil dan pintu kamar mandi. Setidaknya kamar mandi ada di dalam.
"Yah, yang penting aku sudah punya tempat untuk istirahat."
Selanjutnya aku pergi ke toko peralatan untuk membeli pakaian dari dunia ini, berjalan menggunakan kemeja selalu di lirik orang-orang.
Aku menutupi kemejaku dengan jubah panjang berwarna biru tua dan kedua tangan memakai pelindung besi untuk menahan serangan musuh.
Mahal! Ini terlalu mahal! Jubah dan sepasang pelindung tangan saja sudah memakan biaya 60.000 Upir. Bagaimana untukku makan nanti.
Karena uang yang terbatas, aku hanya membeli kedua barang itu saja. Tak terasa sekarang sudah sore hari, warna langit sudah menjadi jingga dan burung-burung mulai terbang ke barat. Aku sedang berjalan di tengah kota.
Waktunya sisa uangku dihabiskan untuk makan malam. Makanan apa yang kenyang hanya dengan 20.000 Upir.
'Isi energimu Iky, besok kita juga harus mencari rekan untuk ke Baratta.'
Rekan yah, bicara itu jadi mengingatkan ku ke Andra.
'Benar, kira-kira sedang apa ya dia sekarang.'
Aku yakin dia sudah mendapatkan rekan yang kuat juga, sama seperti dia. Mungkin sekarang dia sedang menjalankan misi tingkat tinggi.
*Prok, prok, prok…
Tiba-tiba aku mendengar suara orang-orang bertepuk tangan. Banyak orang sedang mengerumuni sesuatu di tengah lapangan kota yang ramai. Tepukan itu membuatku penasaran, apa yang mereka lihat. Dari ramainya aku yakin ini atraksi yang keren.
Huh?
"... A-a-andra…"
Di tengah para warga aku melihat Andra sedang memutar-mutar tongkatnya dengan indah seperti pertunjukan atraksi sebuah sirkus. Topi caping yang selalu dia pakai kali ini sedang berada di bawah lantai menjadi wadah tempat orang-orang melempar uang mereka.
Kami saling bertatapan. Andra berhenti memutar tongkat nya. Kepalaku jadi dibanjiri banyak pertanyaan. Apa yang harus kutanyakan lebih dulu.