Going To Another World Only Relying On Five Senses

Going To Another World Only Relying On Five Senses
Chapter 3



'Iky, Iky. Apa kamu membawa senjata? pisau? '


Tentu aku tidak bawa benda berbahaya seperti itu. Aku kan ingin pergi kerja, bukan berburu. 


30 menit aku berjalan menelusuri hutan ini. Jamiel bilang kalau waktu tempuh dari tempatku bangun dan kota terdekat sekitar 1 jam, seperti yang kuduga, tentu saja aku kelelahan dan kelaparan. Walaupun tubuhku sudah beradaptasi menjadi lebih kuat, tapi untuk stamina mau dimanapun tetap tidak pernah berubah.


Dari kecil aku memang lemah di stamina, aku tidak mempunyai penyakit apapun di bagian jantung atau paru-paru, mungkin keturunan. 


Anehnya sudah setengah jam aku berjalan, sama sekali tidak terlihat makhluk apapun yang melewati ku. Kemana perginya mereka padahal aku sudah di sarang mereka.


'Ah, Iky. Di sana ada batang pohon yang lumayan besar. Gunakan itu dulu saja.'


Ah benar juga, aku sendiri juga harus berjaga-jaga. Tunggu, kenapa kamu bisa tahu disitu ada batang pohon?


'Ya karena melihatnya dong, walaupun matamu fokus ke depan. Aku tetap bisa melihat bagian pinggir-pinggir nya dengan jelas.'


Oh, begitu yah. Baiklah. Biar terdengar aneh aku tetap menerimanya, dari awal datang ke dunia ini hal-hal aneh sudah menjadi wajar bagiku. 


Aku mengambil batang tersebut dan mengayun-ayunkan nya seperti pemukul bola kasti.


"Sip, siapapun lawannya maju sini."


Aku mengatakan hal keren sambil melakukan kuda-kuda siap tempur dengan keren juga. 


Tak lama hal aneh terjadi, semak-semak di dekatku bergoyang kuat. Kuda-kuda ku menjadi berantakan dan tubuhmu sedikit gemetar. 


"A-apa itu?"


Aku menelan ludahku dan mendekatinya dengan perlahan. Makhluk itu tiba-tiba keluar dari semak dan membuatku melompat ketakutan. Aku minta maaf, aku sebenarnya tidak hebat dalam berantem. 


Seekor kelinci berbulu putih dan bermata biru keluar dari semak-semak tersebut. Besarnya seperti kucing dan taringnya lebih menonjol daripada kelinci di bumi. Ekornya juga panjang dan tanpa bulu seperti tikus, apa dia makhluk mutasi. 


Aku memegang dadaku dan bernapas lega. Sekali lihat juga aku sudah tahu, jika kelinci ini tidak berbahaya. 


Perutku berbunyi tanda kelaparan. Momen nya pas sekali karena sumber makanan sudah ada di depanku, tidak perlu ribet saat mengolahnya, aku hanya perlu membakarnya. Aku dulu pernah ikut pramuka. 


'Bodoh, apa yang kamu lakukan. Itu Gamma Bunny, jangan mendekatinya secara langsung.'


Jamiel mulai berbicara setelah aku berjalan mendekati Gamma Bunny dengan tangan yang siap menerkam nya. 


"Pus pus pus… jangan lari kamu."


'Itu bukan kucing oi!'


Aku mengabaikan perkataan Jamiel dan melompat seperti harimau yang ingin menangkap mangsanya. 


Keempat kaki kelinci itu mengeluarkan api dan melompat lalu menendang keningku sebelum aku berhasil menangkapnya. 


"Aduduh. Apa-apaan makhluk lemah itu. Dia tiba-tiba jadi kuat dong."


Keningku panas, kelinci itu berlari atau melompat aku tidak tahu, dengan sangat cepat. Jejak kaki nya mengeluarkan api, aku mencoba mencarinya dengan melihat sekeliling tapi tidak ketemu. 


'Kan sudah kubilang. Gamma Bunny mempunyai skill, Paw Heat. Mengeluarkan api kecil di sekitar telapak tangan dan kakinya. Ini kesempatan bagus Iky, coba kalahkan dia dan dapatkan skill nya. 


Manusia setengah dewi ini berbicara dengan gampangnya. Aku juga sedang mencobanya demi nyawa dan perutku. 


Tanpa sadar kepekaan ku dengan bahaya juga terasah. Aku tahu jika kelinci itu ingin menyerangku dari belakang. 


Aku langsung menghindar, tebakanku benar. Beberapa kali kelinci itu menyerangku, tapi aku sudah mulai terbiasa untuk menghindari serangannya. 


'Kenapa kamu hanya menghindar. Serang dia cepat.'


"Diam! Aku sedang mencoba menguasai tubuh baruku."


Setelah mulai menguasainya aku langsung memukul kelinci tersebut dengan batang pohon yang ku pegang. Kepalanya hancur dalam sekali pukul. 


Hebat, apa sekarang aku sekuat itu. 


'Dasar, kenapa lama sekali… kalau begitu coba langsung masukan tubuh kelinci itu ke mulutmu.'


Masukan? Semua? Kamu mau membuat rahang ku patah?! 


'Bukan bodoh, beberapa helai bulunya saja sudah cukup. Ingat, jangan sampai kamu telan.'


Aku menjepit bulu kelinci tersebut dengan ibu jari dan telunjuk ku yang ditekuk, lalu menariknya. Beberapa bulu tercabut namun aku masih terdiam melihat bulu yang kucabut dengan tatapan penuh kecurigaan. 


Apa ini aman? 


'Setidaknya itu tidak beracun.'


Bagaimana jika setelah ini aku mati? 


'Tidak akan! Sudah kubilang itu tidak beracun.'


Dengan perlahan aku memasukan bulu itu ke mulutku. Tangan gemetaran dan mata ditutup kuat-kuat. Setidaknya dari semua skill yang ku punya, yang satu ini sedikit menjanjikan. 


Aku menaruh bulu itu tepat di tengah-tengah lidah dan langsung menutup mulut. 


Apa aku benar-benar hanya perlu menaruh beberapa tubuh monster tersebut ke mulut untuk mendapatkan skill nya? 


'Ah, ada yang lupa ku beritahu. Selain di telan, di muntahkan juga menggagalkan pengambilan skill. Dan, sekali kamu gagal mengambil skill monster tersebut, kamu tidak bisa mengambilnya lagi.'


Oh, begitu… brengsek, kenapa kamu… 


'Huh?'


Dengan polos Jamiel terheran tanpa rasa bersalah. Aku sudah lelah dengan kebiasaan nya yang selalu telat memberitahu sesuatu yang penting. 


Bodoh, kalau tahu begitu harusnya kita mencobanya saat sudah di kota saja. Apa kamu lupa hutan ini berbahaya. 


'Hmph!'


Oi, kenapa tiba-tiba jadi pura-pura marah dan merajuk seperti itu. Seriusan, ada apa dengan isi kepalamu. 


'... Aku tidak mau berbicara dengan orang yang menyebutku bodoh.'


Si tolol berbicara begitu padahal dia yang nyebut ku begitu di awal… sialan, kalau sudah begini aku harus menutup mulutku sambil berjaga-jaga jika ada monster menyerang lagi. 


Karena memberi perhatian lebih kepada Jamiel, aku lupa dengan perut lapar ku. Dia mulai berbunyi lagi dan aku hanya bisa mendengar tanpa memberikan apa-apa. Mulutku sudah terisi sesuatu lebih dulu. Maaf aku mengabaikanmu dan bertahanlah, perutku. 


Aku mulai berjalan lagi dan makin lama pohon-pohon di sekitarku menjadi lebih banyak. Terus berjalan tiba-tiba hutan nya jadi dikelilingi kabut. Apa aku sudah dekat dengan kota? 


Setelah melawan kelinci kira-kira aku sudah berjalan sekitar 20 menit, mungkin kota yang ku tuju memang sudah dekat. Aku juga harus menunggu 40 menit lagi agar bisa memuntahkan bulu di mulutku ini. Cepatlah selesai dan aku ingin makan. 


'Awas, Iky!'


Di tengah kabut sebuah batang pohon yang besar dan melengkung menyerang bagian kananku secara horizontal. Aku tidak menyadari ada bahaya dan setelah terkena serangan yang kuat, aku terpental mengikuti ayunan serangan tersebut, dari kanan ke kiri. Dan berakhir dengan tertabrak pohon di sana.  Tabrakan nya yang kuat membuat mulutku otomatis terbuka dan bulu di mulutku keluar semua.


Duduk dan bersandar di pohon bekas ku tabrak, apa ini akhir buatku?


Sebuah pohon besar yang sepertinya menyerangku tadi dengan wajah yang seram berdiri di hadapanku. Akarnya yang keluar tanah digunakan sebagai kaki dan batang-batang nya digunakan sebagai tangan.


Kakiku agak sulit digerakkan karena terkena serangan tadi. Aku ingin menanyakan ini kepada Jamiel namun dia sedang marah kepadaku.


Apa jika aku mati di dunia ini, masih bisa di pergi ke bumi?