Going To Another World Only Relying On Five Senses

Going To Another World Only Relying On Five Senses
PROLOG



Pagi hari lainnya, seperti biasa aku bangun dan bersiap kerja. Berangkat, absen, mulai kerja, istirahat, lanjut kerja, lalu pulang. Setiap hari hanya mengulangi kegiatan tersebut.


Menjadi budak korporat membuatku berpikir jika aku sudah berubah menjadi robot. Di satu sisi itu menyenangkan karena tidak perlu terlalu keras untuk terus bertahan hidup. Tapi di sisi lain itu menyebalkan karena tubuhku seperti dikekang sesuatu. 


Bangun pagi itu adalah musuh terbesarku. Bukannya aku pemalas, tapi terlalu susah untuk bangun bersamaan dengan matahari apalagi menduluinya. 


Layaknya suami istri, matahari bangun sambil ditemani olehku karena harus berangkat pagi selama aku masih menjadi budak korporat. 


Dengan menggunakan kemeja coklat rapih aku berangkat ke tempat kerja. Jalan sebentar lalu berhenti karena lampu penyeberangan berwarna merah.


Ngantuk. Sangat ngantuk. Aku tidak bisa mengubah pola bangun ku bagaimanapun caranya. 


Lampu berwarna hijau dan aku mulai jalan kembali. Melewati zebra cross sendirian. Sendirian? Ada apa ini, orang-orang masih diam dan hanya menatapku dengan wajah terkejut. Apa yang mau mereka tunggu, lampunya kan sudah berwarna hijau. 


Aku melihat lampu sekali lagi untuk memastikan saja. Benarkan lampunya berwarna merah… merah? Tunggu, aku yakin tadi sudah berganti warna, apa yang terjadi? Perubahan warnanya cepat sekali, atau mungkin dari awal memang tidak berganti warna. Mustahil, jelas sekali aku lihat lampu sudah berwarna hijau tadi. 


Dan. Kenapa orang-orang menatapku dengan wajah panik… kenapa mobil sedan hitam itu berjalan sangat cepat… kenapa aku tertidur di jalanan… kenapa di sekitarku banyak darah… ah, karena tiba-tiba banyak hal-hal aneh aku jadi terasa pusing. Aku jadi mengantuk… tidur di jalanan tidak buruk juga, selamat tidur.


---- #### ----


Tentu saja itu hanya nama pena. Singkat cerita saja, awal aku hanya ingin menaruh prolog pada awal cerita tapi aku bingung dimana tempat untuk menaruh prolog tersebut, makanya berakhir berada di episode satu ini.


Dan saat aku ingin menyerahkannya, ternyata perlu berisi 500 kata atau lebih, karena bingung harus di apakan makanya menuliskan beberapa curhatan saja. Ini masih aman kan?


Sebagai catatan saja, jika bagian ini membosankan bisa langsung di next.


Aku ini seorang yang pemalu di dunia sosial. Entah kenapa saat ingin mengirimkan sesuatu ke sosial media membuat ku berpikir sampai tiga kali empat kali. mungkin karena kata-kata yang selalu aku ingat, yaitu 'Jika kamu mengirimkan sesuatu ke sosial media, itu akan menjadi publik dan akan ada selamanya.' kata 'akan ada selamanya' itu membuatku keringat dingin saat ingin menekan tombol enter pada keyboard.


Satu-satunya caraku agar berani adalah membuat akun kedua agar bersifat anonymous, tapi setelah menggunakan bisa membuatku menjadi lupa diri. Siapa aku sebenarnya.


Bicara soal dunia 'pernovelan' juga begitu. sudah banyak sekali novel dan cerpen yang ku tulis. Tapi selain sifat optimis ku dengan mengirimkannya langsung penerbit, entah kenapa aku belum siapa jika tulisan ku dibaca orang.


Jujur aku kurang suka membaca tapi tertarik membuat cerita. Tidak pandai menggambar jadi tidak bisa membuat komik. Tidak bisa membuat animasi dua dimensi karena tidak bisa nya menggambar itu. Begitu juga dengan tiga dimensi, spesifikasi alatku masih belum bisa menjalankan aplikasi tersebut. Tentu saja aku serius dan sungguh-sungguh mencoba. Apakah seni mau sekeras apapun berusaha tetap harus memerlukan bakat?


Maaf banyak yang melantur. Semoga kamu suka ceritaku.