
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 08.50, Arisha berpamitan kepada Nesya untuk kembali ketempat acara. "Nesya, aku duluan yah. Nanti jangan lupa kesana, lima menit sebelum acara semua sudah harus ada di aula," pesan Arisha.
Nesya ikut beranjak dari tempatnya duduk. "Iya, aku juga mau balik. Sekaligus mau liat Fei, tadi aku nitip buat beli makanan sama dia, tapi kok nggak balik-balik yah?"
"Ehm, mungkin dia makan di sana, terus kembali ke aula. Lupa deh sama pesanan kamu," ucap Arisha.
Nesya berjalan mendekati Arisha. "Mungkin juga sih, kalau gitu nanti liatin yah, siapa tau dia memang ada di aula. Aku mau kantin beli minum, haus dari tadi muroja'ah terus."
"Iya."
Mereka pun berpisah. Tak lupa Nesya menutup pintu mushallah sebelumnya.
◾
◾️
Arisha berjalan masuk ke dalam aula tempat acara akan dimulai 1 jam 10 menit, mulai dari sekarang.
Matanya menyapu seluruh ruangan, terlihat indah. Setelah dibersihkan dan didekorasi sedikit, aula seakan menjadi bangunan baru.
Tasya--wakil pengurus memberi 2 dos air dan roti kepada Adrian--ketua pengurus untuk di bagikan kepada panitia santri putra.
Terlihat panitia-panitia santri putra langsung mengerumuni Adrian. mereka sangat haus, untung air sudah datang.
Mereka seperti takut kehabisan, saling merebut, tertawa akan tingkah mereka yang seperti anak-anak. Ada yang dengan santainya berjalan, Ada juga dari mereka yang langsung berlari dengan cepat mengambil 2 roti, tanpa disadari oleh Adrian. Dan ada yang duduk diam menyaksikan.
Sama halnya dengan santri putri, mereka duduk di pojok aula sambil tertawa menyaksikan tingkah santri putra yang saling merebut, mendorong, dan bermain-main.
Sungguh kebersamaan yang sulit diartikan. Hanya hal kecil, tapi itu dapat membuat mereka tersenyum, tertawa, dan bahagia. Meski jauh dari rumah, keluarga, dan orang tua, mereka tetap senang karena mereka selalu bersama.
Segalanya dilakukan bersama, dari bangun hingga kembali tidur, teman-temanlah yang selalu ada di dekat. Mereka sudah menganggap semua yang berada di pondok sebagai keluarga kedua setelah keluarga inti.
Setelah memberikan makanan dan minuman kepada Adrian, Tasya dan beberapa temannya kemudian membagikan kepada panitia santri putri. Yang sangat beda dengan lawan jenisnya, ketika santri putra saling merebut, santri putri hanya duduk manis, menunggu hingga giliran mereka.
Semua panitia lalu beristirahat, sembari memakan roti yang dibagikan.
Para panitia lomba terlihat letih, tapi ketika mereka melihat hasil kerja keras mereka bersama, letih seperti sirna begitu saja, terbayar akan keindahan jerih payah masing-masing.
Setelah pekerjaan selesai, banyak panitia yang keluar dari aula, entah itu kembali ke asrama atau pergi ke tempat lain. Tak sedikit pula yang tetap tinggal, menunggu acara dimulai.
"Berhubung acara masih lama, bagaimana jika ada yang menyumbangkan bakat yang ada dalam diri, dengan cara menampilkannya diatas panggung," kata Adrian membuka suara.
Santri putra bersorak mengiyakan, sementara santri putri menggeleng, mereka malu, apalagi disaksikan oleh santri pura.
Karna santri putri tidak ada yang mau, Adrian kemudian menyuruh santri putra saja yang memberikan persembahan.
Tidak lama kemudian, zidan naik dengan pedenya, memberi salam dan menyuggingkan senyum lebar hingga memperlihatkan lesun pipinya yang membuat santri putri terpana untuk sesaat dan buru-buru beristigfar.
Zidan naik dan menyanyi, temannya menyoraki dirinya karna menyannyi dengan suara sumbang. Dia pun turun setelah lagu berakhir.
Sekarang gantian Adrian yang menyanyi, suaranya merdu. Tidak lama kemudian gus Asyraf juga ikutan naik keatas panggung dan mulai tilawah, suaranya 2 kali lebih merdu dari Adrian. Semua orang terkesima, baru kali ini gus Asyraf mau mengikuti hal seperti ini, entah apa yang tiba-tiba membuatnya ikut?
Ketika telah selesai, matanya tidak sengaja bertubruk dengan manik cantik seorang gadis, dia tersenyum takkala melihat gadis itu langsung menundukkan kepala saat tak sengaja mata mereka beradu.
Gus Asyraf turun dengan senyum indah, bukan karna telah bertilawah tapi karna gadis itu juga menatapnya.
Lalu tidak ada lagi yang tampil, Adrian kemudian meminta Alfaris untuk mempersembahkan sesuatu, Alfaris menolak. Adrian tidak menyerah dia kembali menyuruh Alfaris, teman-temannya juga mendorong dirinya untuk maju, tak mau menolak terus-terusan permintaan kakak kelasnya dia kemudian naik, dan mempersembahkan sebuah puisi.
▪◽️◼️⬜️*⬜️◼️◽️▪
"Arisha!" panggil Nesya, ketika melihat sahabatnya ada di kamar.
Arisha berbalik saat mendengar namanya dipanggil. "Eh Nesya, ada apa?"
"Kamu udah lihat Fei nggak?" tanya Nesya.
"Nggak," ucap Arisha, sambil menggelengkan kepalanya, "emang si Fei belum ketemu?"
"Belum, aku tadi juga sempat ke aula, karna di semua tempat dia nggak ada. Ku pikir kamu lagi sibuk, jadi aku langsung aja kesana, Tapi disana dia juga ngga ada, Fei kayak ngilang gitu." ungkap Nesya.
"Aduh, maaf yah Sya, aku lupa tanya kamu kalau Fei nggak ada di aula," ucap Arisha penuh penyesalan.
"Nggak apa-apa kok, aku juga senang kok karna kesana waktu itu."
"Senang karena waktu itu?" Arisha penasaran.
"Iya—karna ... bisa liat aula yang sudah disulap jadi indah. Gitu." Nesya tersenyum canggung.
Arisha hanya ber-oh, tidak ingin kembali bertanya.
"Arisha, kita cari Fei yah, aku tiba-tiba khawatir, apalagi dia nggak kelihatan sejak tadi. Aku sempat tanya mbok di katin, tapi ternyata dia nggak liat Fei, anak-anak yang kutemui juga," terang Nesya.
Perkataan Nesya membuat Arisha membulatkan matanya, sepintas bayangan lewat di benaknya. Kejadian seperti ini, seakan pernah terjadi. "Jangan-jangan ... Fei mimpi lagi."
"Mimpi!" pekik Nesya, perasaannya langsung tidak enak, pikirannya sudah kemana-mana.
Arisha mencoba berpikir tenang, dia tidak boleh panik. "Sya, kamu beneran udah cari keseluruh tempat?"
"Iya!"
"Di seluruh tempat?" tanya Arisha lagi.
"Iya!!"
"Beneran nggak ada?" Arisha masih mencoba memastika.
"iya Arisha!!!"
Nesya kesal sendiri pada gadis di hadapannya.
"Kayaknya nggak ada pilihan lain, kita harus keluar pondok. Ayo, kita minta izin dulu sama ustadzah."
Nesya mengangguk, mereka pun pergi meminta izin untuk keluar pondok.
Nesya dan Arisha diberi waktu 45 menit untuk keluar karna waktu acara tinggal 50 menit lagi, itupun dengan alasan membeli keperluan acara.
Jadi mau tidak mau, tugas membeli kue untuk para juri diambil alih oleh Arisha, agar dapat dengan cepat keluar pondok.
"Kita beli barang dulu atau cari Fei?" tanya Nesya. Mereka sudah berada di luar pondok.
"Cari Fei dulu," putus Arisha.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=