FeishSya

FeishSya
bagian 13



Dan ... Bruk.


Dua orang berguling, kejadian itu sungguh sangat cepat. Semua warga yang mendengar dan melihat kejadian itu langsung menyusul ketempat dua orang yang tergeletak.


Sebagian dari mereka langsung memberhentikan beberapa kendaraan yang masih ingin melaju.


Para warga membentuk lingkaran mengelilingi kedua orang yang tertabrak.


***


Felisha mengerjap, indra penglihatannya menangkap selang yang terpasang di tangannya.


Disamping kiri terlihat Nesya dan Arisha tertidur, masih mamakai seragam sekolah. Diluar sudah gelap sudah sepatutnya mereka tertidur.


Felisha mendesis, kepalanya tiba-tiba sakit.


Pintu terbuka. Menampakkan beberapa orang yang ia yakini adalah pembina dan orangtuanya.


"Felisha! Kamu udah bangun? Ada yang sakit? Biar mami panggilkan dokter ya nak?" tanya mami Felisha.


Felisha menggeleng, ia kemudian mengisyaratkan pada mamahnya untuk diam, dan melirik Arisha dan Nesya yang tengah tidur nyenyak.


Pembina, mami, dan papinya mengangguk. Mereka kemudian mendekati Felisha.


"Fei, karena kedua orangtuamu sudah ada, ustadzah pulang dulu. Udah malam, asrama nggak ada yang jaga." kata Nurul--pembinanya. "Nesya sama Arisha ...."


"Biarin aja ustadzah, mereka kelihatan capek," potong Felisha cepat.


Nurul merasa tidak enak, detik selanjutnya papi Felisha mengangguk. Akhirnya Nurul undur diri, tanpa mengganggu dua santrinya yang sedang tidur nyenyak.


***


Esok harinya, semua teman Fei dari pondok datang secara bergantian, Menjenguknya.


Mereka langsung membicarakan semua kejadian yang terjadi di pondok setelah Nesya dan Arisha pergi kala itu, apalagi saat para warga melaporkan jika ada dua santri yang kecelekaan.


Semua orang langsung panik, ada yang beranggapan itu adalah Nesya dan Arisha. Dan ada juga yang tidak.


Tapi semua pertanyaan terjawab ketika, ustadz Ilham telah pergi memeriksa.


Dua santri yang kecelekaan adalah satu santriwati dan dan satu santriwan.


Nesya yang mendengar jika ucapannya ternyata ditanggapi dengan serius hanya bisa tersenyum samar.


Harapan Arisha tak jadi kenyataan, tapi yang menjadi pertanyaan bagi seluruh temannya adalah, siapa santriwan itu?


Felisha hanya diam, enggan untuk memberi tahu.


Setelah semua temannya pergi, papinya juga turut pergi, ada urusan.


Sedangkan maminya tetap di rumah sakit sampai Felisha keluar dari sini.


Ruangan mendadak senyap, beda dengan tadi yang ribut oleh canda tawa teman-temannya.


"Felisha, yang kemarin ...."


"Assalamualaikum." Suara laki-laki terdengar di depan pintu rawat Felisha.


"Waalaikumsalam," jawab mami Felisha, sambil mebukakan pintu, yang memang ingin keluar.


Terlihat dua orang memakai peci dan sarung berdiri di depan mami Felisha, mereka langsung menyalimi tangannya. "Maaf bu, apa benar ini ruangan Felisha?"


"Iya, ini ruangan anak saya."


"Kalau begitu, saya mau kasih ini bu, semoga Felisha lekas sembuh." seorang dari mereka menyerahkan kresek berwarna putih.


"Ooo makasih nak, tapi nggak mau mapir dulu sebentar."


"Ehm, nggak usah bu," tolaknya ramah.


"Ya udah, sekali lagi makasih yah nak."


"Iya bu."


Setelah mami Felisha turut pergi, Nesya langsung bertanya, "Yang tadi kak Adrian, Sama gus Asyraf bukan sih?"


"Kayaknya iya deh," balas Arisha.


Sedangkan Felisha langsung tersenyum lebar, membuat kedua sahabatnya merasa curiga.


Nesya kemudian teringat dengan ucapannya yang sempat terpotong oleh kedatangan dua orang tadi, "Fei, yang kemarin nolongin kamu itu siapa?"


Felisha lantas menoleh ke sumber suara yang memutuskan lamunanannya. "Ha? Apa? Gue nggak dengar."


Nesya menggeleng, kemudian kembali mengulang pertanyaannya tadi.


"Menurut lo, siapa?" balas Felisha setelah mendengar kembali pertanyaan Nesya.


"Menurut aku sih, santriwan itu kakak kelas kita yang barusan datang," tebak Arisha yang sedari tadi hanya diam.


Felisha kaget, begitupun Nesya.


"Lo kok tau sih, kalau yang nyelamatin gue waktu itu kak Adrian?"


"Tebak aja." Arisha merasa puas dengan jawabannya sendiri. Dan langsung membuat Felisha mengatakan dengan sendirinya.


Felisha melongo, sadar dengan apa yang telah dia katakan, 'Benar juga sih, Arisha kan cuma bilang kakak kelas yang baru datang. Kenapa gue langsung bilang sih. Adduh.'


"Jadi kamu senyum-senyum dari tadi itu karena kak Adrian yah?" Nesya beratanya dengan polosnya,"Berarti kamu suka dong sama kak Adrian?" lanjutnya.


Felisha hanya mengangguk mendengar penuturan Nesya.


"Kadang aku heran sendiri, Nesya itu kalau banyak orang atau sama yang lain pasti jadi anak pendiam, imut, nggak banyak tanya, lah, sekarang kalau kita cuma bertiga Banyak tanyanya keluar," heran Arisha sambil memangkukan dagu ditangan kanannya.


Felisha tertawa, "Benar sekali, lo tau nggak pernyataan ini yang dari la gue pikirkan." sambil menatap Nesya dengan diselangi dengan cekikannya.


"Aku malu," Nesya membalas dengan cara menunduk, sudah dipastikan wajahnya kembali memerah.


Nah, sudah dibilangkan, Nesya itu pendiam, bahkan sekarang saja sulit untuk mengungkapkan perasaannya.


Felisha semakin tertawa, dan memegangi perutnya. "Ya ampun, gue sampai nggak bisa tahan lihat tingkah malu-malu kucingnya Nesya." Felisha menghapus air matanya.


"Kamu nangis Fei?"


"Nggak lah, ini gara-gara ketawa sampai-sampai air mata gue keluar. Oh iya, sahabat kita yang satu itu kok jadi pendiam sih." Felisha menunjuk Arisha yang sedang duduk, terlihat lagi memikirkan sesuatu.


"Sha, kamu mikirin apa."


"Bukan apa-apa kok."


"Yaudah kalau bukan apa-apa cerita dong!" Felisha berseru dari atas ranjangnya, kini ia sudah duduk cantik ingin mendengar cerita Arisha.


Arisha tampak berpikir lalu mengagguki ucapan Felisha. "Mmm sebenarnya memang bukan apa-apa, jangan ada yang ketawa, oke." Felisha dan Nesya mengiyakan, "aku cuma mikir tentang gus Asyraf. Biasanya gus Asyraf jarang sekali keluar, kecuali memang harus. Terus tadi dia datang bareng kak Adrian, terlebih lagi, gus Asyraf dan kak Adrian kan bukan teman yang di mana ada kak Adrian disitu ada gus Asyraf, atau sebaliknya."


"Mmm, iya juga sih. Kok gus Asyraf belain datang kesini yah." Pikir Felisha


"Mmm, bisa jadikan itu karena kak Adrian minta ditemani, dan juga mungkin saat itu nggak ada yang bisa diajak kecuali gus Asyraf," terang Nesya.


"Bisa juga. Eh, kok malah bicarain gus Asyraf sih."


"Ngapain bingung, kan tadi lo sendiri yang cerita tentang pemikiranmu."


Semuanya tertawa melihat tingkah lucu Arisha. 


⚪️


⚪️


⚪️


Gue seketika tersenyum ketika mengingat kembali hari itu.


Hari di mana ungkapan rasa sukaku terungkap, dan di mana kecurigaan tentang gus Asyraf yang tiba-tiba datang dan Arisha yang juga tiba-tiba memikirkan hal itu.


"Ah, itu sangat lucu. Sepertinya gue sangat curiga dengan hubungan kedua orang itu, apa sebenarnya Arisha menyukai gus Asyraf? Ataukah gus Asyraf yang sebenarnya menyukai Arisha hingga rela datang ke rumah sakit?" gumamku