FeishSya

FeishSya
bagian 4



Sayup-sayup terdengar suara adzan yang begitu merdu, dari mesjid besar yang sering ditempati santri putra untuk sholat.


Arisha bangun, dia sudah merasa sehat. Kejadian tadi malam jangan sampai diketahui oleh orang lain. Cukup dirinya dan Nesya saja yang tahu, jangan sampai orang suruhan Amira mendengarnya.


Sebenarnya mengapa Arisha mencegah Nesya turun dan mengambil obatnya adalah dia takut orang suruhan Amira tahu akan kejadian itu dan dia lebih takut jika Nesya sampai membaca jenis obat yang dia pakai.


Hari ini Arisha tidak bangun sholat tahajjud, ia tertidur pulas setelah bergelut dengan nyeri didadanya kemarin malam.


Setelah melaksanakan sholat shubuh secara berjamaah di mushallah santri putri, maka dilanjutkan dengan pengajian yang sudah menjadi rutinitas setiap selesai sholat shubuh dan maghrib, disini.


"Berhubung hari ini ustadz Ilham tidak dapat hadir membawa pengajian, maka kita isi dengan sholawat penenang jiwa dan hati," kata ustadzah Inna yang hadir dalam pelaksanaan sholat shubuh berjamaah.


اللهم صلي على سيدنا محمد # طب القلوب ودواءها


وعافية الأبدان واشفاءها # ونور الأبصار وضياءها


وعلى آله وصحبه وسلم


◽️


◽️


Mentari pagi yang hangat, menyambut hari yang cerah. Menandakan pengajian akan segera di akhiri.


Dan sebagai tanda kesyukuran kepada Sang pencipta siang dan malam, para santri yang telah berjuang untuk mempertahankan kelopak mata yang rasanya seberat 5 kg. Agar tidak tertutup, begegas berdiri untuk memulihkan diri dengan mengambil air wudhu demi kesempurnaan ibadah.


Lalu kemudian melakukan gerakan-gerakan sholat yang rasanya seperti olahraga, kemudian mengalirkan darah ke otak dengan cara bersujud sebagai tanda ketaatan dan kerendahan diri di depan sang pencipta.


Dan tanpa mereka sadari, ibadah itu telah memberikan banyak manfaat kepada mereka dan telah memberatkan timbangan amal mereka ....


◽️◼️⬜️*⬜️◼️◽️


"Ba'dakii! (setelahmu[pr])," seru Hannah didepan pintu kamar mandi.


"Man?(siapa?)," sahut yang didalam.


Hannah kemudian menyebutkan namanya, setelah itu dia pergi.


Tidak lama kemudian Arisha datang. Lalu berseru, "Wc satu, man ba'daki?"


"Hannah."


Arisha pun mengetuk kamar mandi diseblahnya, tapi setelah orang itu juga ada.


Arisha kembali mencoba, terus hingga di wc ke empat, tapi tetap ada saja setelahnya.


Dia menghela napas, biasanya ia tidak mengantri seperti ini, karna dirinya selalu mandi sebelum sholat shubuh, tapi sekarang ... Tidak.


"Ternyata begini rasanya mengantri, mana setiap wc yang dipakai sudah ada setelahnya lagi. Kalau aku tunggu mereka semua selesai apa masih bisa? Nanti keburu waktu, lagi." batin Arisha.


Tak ingin menunggu terlalu lama, Arisha kemudian mencari Hannah, agar setelah Hannah adalah dirinya.


Lima menit sebelum jam pelajaran dimulai semua santri sudah harus berada di kelas.


Arisha yang mengingat hal itu, langsung buru-buru memakai pakaian seragamnya dan pergi ke kelas.


"Assalamualaikum, aku nggak tertambatkan." Arisha mengatur deru napasnya, tadi ia sempat berlarian dari asrama hingga ke kelas sebab takut terlambat. Bukan hukuman yang ditakuti seorang Arisha, tapi perkataann! Yah perkataan, dia takut dikatakan oleh guru sebagai murid yang tidak tepat waktu, terlambat. Tidak apa jika yang mengatakan itu adalah seorang santri seperti dia, tapi untuk seorang guru, arisha sangat takut.


"Wow, seorang Arisha baru saja sampai di kelas? Sungguh rekor terbaru dalam sejarah." Felisha bergurau.


"Hampir!! Tinggal 1 menit 38 detik pelajaran dimulai," sahut Jingga.


"Alhamdulillah," ucap Arisha, kemudian duduk ditempatnya tanpa melakukan apapun lagi, menunggu hingga pelajaran dimulai.


Felisha mengap, kenapa Arisha tidak menanggapi gurauannya?


▪◽️◼️*◼️◽️▪


Hari ini sama dengan hari biasanya, tidak ada yang istimewa pada hari ini. Tapi urung bagi Felisha, hari ini kedua sahabatnya begitu aneh. Keduanya tidak bicara ataupun sekedar menyapa. Ada apa sebenarnya?


Tidak ada jawaban, dan itu membuat Felisha jengah dengan tingkah laku keduanya sejak shubuh tadi. Apalagi melihat reaksi Arisha tadi pagi, ia tidak memperdulikan apa yang Felisha katakan.


Tapi cacing-cacing di perut sudah minta jatah, jadi dia memilih untuk pergi ke kantin pondok. "Kalau kalian nggak mau keluar, yaudah. Gue pergi dulu yah, perurutku udah keroncongan nih." sambil memegang perutnya yang rata.


Felisha kemudian melenggang pergi, dengan sangat cepat, tanpa menunggu jawaban keduanya, toh, pasti nggak akan dijawab.


Dan benar saja, Nesya dan Arisha tetap pada pergelutan pikiran mereka, tidak ada yang ingat istirahat, bahkan tidak ada yang menjawab ucapan Felisha.


Setelah makan, Felisha kembali dengan senyum indah, tadi dia tidak sengaja melihat Adrian--santri putra yang ia kagumi sedang membantu ustadz ilham mengecat dinding kantin.


Semua temannya tahu, jika Felisha menyukai kakak kelasnya itu.


Bagaimana tidak!! jika Felisha menulis nama Adrian hampir disemua tempat dimana ia sering berada, bahkan dikitabnya juga!


Tapi senyum indah itu luntur ketika masuk ke dalam kelas dan melihat para sahabat yang masih saja terdiam, memikirkan kejadian tadi malam.


"Hei kalian berdua! Gue perhatiin hari ini kalian lagi mogok bicara, ada apa sih?" tidak ada yang menanggapi pertanyaan Felisha, "Cerita dong, jangan diam mulu napa?"


Hening ...


Tidak sahutan dari manapun.


"Kalian kenapa sih!!!" teriak Felisha. Banyak pasang mata yang melototinya, menyuruhnya agar diam tapi tetap saja orang yang diajak bicara, tidak ada respon.


Karena merasa teriakannya juga tidak digubris oleh Nesya dan Arisha, dia pun menggebrak meja dihadapan keduanya.


Brak!!


"Astagfirullah!" istigfar Nesya dan Arisha bersamaan. Tak luput dari para santriwati yang berada dikelas kala itu.


Arisha memegang dadanya, "Aku kaget," ucap Arisha, sedangkan Nesya mengangguki ucapannya.


"Ada apa sih Fei, kamu bikin kita kaget," ujar Nesya.


"Kalian nggak dengar dari tadi aku bicara?" tanya Felisha dengan raut wajah yang sulit diartikan.


Keduanya menggeleng.


"Nggak tau ah, gelap." Felisha langsung pergi dari dalam kelas, meninggalkan Nesya dan Arisha yang masih bingung dengan tingkah laku wanita itu.


"Fei kenapa yah? Kok hari ini aneh?" tanya Nesya.


"Itukan udah biasa Sya, kayak nggak tau aja," balas Arisha.


"Iya juga sih," Nesya mengiyakan ucapan Arisha.


Mereka kembali diam, hingga Nesya membuka percakapan. "Sha, tadi malam ...,"


"Assalamualaikum anak-anak." Ustadzah Inna masuk dan itu cukup untuk mengehentikan ucapan Nesya.


'Udah masuk? Cepat baget' batin Arisha.


Arisha sama sekali tidak tahu, jika dari tadi dirinya hanya melamun. Membuat waktu istirahat menjadi sangat singkat baginya, ketika telah tersadar.


"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.


Ustadzah Inna menyapu seluruh ruangan berbentuk kubus, penglihatannya tertuju pada satu kursi kosong "Hannah, Felisha kemana?" tanya ustadzah Inna pada teman sebangku Felisha.


"Tadi udah datang ustadzah, tapi langsung keluar lagi. Mungkin kebelet," terangnya, yang juga tidak tahu dimana Felisha saat ini. Jawaban tadi juga hanya perkiraan seorang Hannah saja.


Ustadzah Inna ber-o-ria sambil mengangguk.


"Kalau gitu siapa yang udah hafal naik kedepan. Saya beri waktu 10 menit untuk memantapkan 10 bab kitab Alfiyah ibnu malik.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=