
"Baiklah, berhubung acara pembukaan pada hari ini telah selesai, kami mengajak para santriwan dan santriwati untuk mengucap hamdalah."
Suara MC menggelegar ke seluruh ruangan ini.
Ucapan syukur mulai terucap, sahut menyahut bersamaan.
Setelah acara pembukaan, maka akan ada istirahat sekitar satu jam setengah, tidak lama, tapi cukup membuatku dan para santri yang lain untuk melaksanakan kewajiban yang sepertinya sebentar lagi akan memasuki waktu dzuhur.
Setelah kami--para panitia-- membubarkan para santriwan dan diikuti dengan bubarnya santriwati secara beraturan, panitia juga kembali ke asrama masing-masing setelah memantau para santri yang lain, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Juga, setelah membersihkan tempat acara yang akan dipakai kembali untuk lomba pertama pada hari ini, nantinya.
Tapi bukan aku yang memantau, melainkan panitia keamanan, dan juga panitia kebersihanlah yang bertugas membersihkan tempat acara, aku sendiri adalah panitia acara. Tugasku sudah lewat, tapi aku masih saja berdiam di tempat semula.
Aku memutar kepala, ke kanan dan ke kiri, sekedar melihat-lihat.
Terlihat di ujung sana Felisha sedang merapikan kursi-kursi yang sudah melenceng dari tempatnya. Ah, aku lupa, Felisha bertugas sebagai panitia kebersihan.
Seketika pikiran cerdikku kembali ingin mengganggu Felisha. Aku menyeringai, tanganku sudah siap siaga, bahkan kakiku serasa tidak ada, saking tidak adanya bunyi yang terdengar. Dalam hati, aku berhitung, "Tiga ... Dua ... Sa -."
"Mau ngapain lo disini? Mau ngagetin gue?" Aku terkejut. "Yaelah, trik lo kekanakan, kalau mau ngagetin lihat sana-sini dulu dong, nggak liat didepan gue ada apa?" ucap Felisha langsung, bahkan tanpa meghadap padaku.
Aku pun mengikuti perintah Felisha dan memandang ke depannya.
Ya ampun, bagaimana bisa ada cermin disitu, aku bahkan tidak menyadarinya, sungguh.
"Yaa, gagal deh ngagetin kamu," ucapku.
"Lo sih, mau ngagetin gue, kan semesta mendukung gue, bahkan Allah sendiri juga dukung gue," ucap Felisha dengan senyum termanisnya.
"Dih, pede banget kamu, sampai ngaku-ngaku."
"Yeee, bilang aja lo cemburu karena Allah lebih mihak ke gue, ya kan? Ngaku aja deh, gue tau kok." Felisha megatakan itu masih dengan senyum khasnya, bahkan ditambahi degan gaya yang ... uh, menyebalkan.
"Ah, terserah kamu ajalah," sambil mengibaskan tangan di hadapannya, "mau ditemanin gak nih? Kalau nggak aku duluan yah, bye."
Aku langsung membalik badan, hendak pergi.
"Eh, tunggu dulu, gue belum jawab, lo udah mau pergi gitu aja," ujar Felisha sambil menahan bahuku. Terlihat raut kesal disana.
Aku tertawa kecil melihatnya, "Canda. Jadi, gimana? mau aku tunggu atau nggak nih," Ucapku.
Felisha tampak berpikir sejenak, kemudian membalas ucapanku. "Mmm, tungguin deh, bentar lagi kerjaanku juga selesai."
Aku mengangguk, kemudian duduk disalah satu kursi yang sudah dirapikan Felisha.
"Sha!"
Aku mendongak, "Iya, ada apa?" Kulihat dia memegang kursi kemudian melihatnya, dan kembali menatapku, setelah itu beralih melihat ke arah kursi-kursi yang berserakan, belum dirapikan.
Sedikit bingun dengan tingkahnya itu, maksudnya apa?
"Ada apa Fei?" aku kembali bertanya.
"Ya Allah, sebenarnya sahabatku ini memang polos atau pura-pura polos sih," gerutu Felisha.
Aku semakin bingung dengan tingkahnya. Yaa, walaupun ini sering terjadi, tetap saja masih membuatku bingung sendiri dengannya, "Kamu kenapa? Bikin bingung tau gak."
Felisha seakan ingin berteriak saja, "Lo nggak ada niatan bantuin gue gitu?" Felisha menatapku seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar tadi.
"Ada sih, tapi kuliat kamu kayak nggak mau di ganggu, asyik sendiri beresin kursi-kursinya."
Felisha tercengang, sambil menggeleng-geleng. "Lain kali lo nggak boleh terlalu dekat sama Nesya."
"Loh, kok gitu? Nesya kan sahabat kita juga."
"Bukan itu maksud gue, tapi jangan terlalu dekat tuh maksudnya sampai kayak gini."
"Kayak gini apanya?"
"Kepolosan Nesya kayak tertular ke kamu!"
"Loh, kok bisa?"
Aku mengulum senyum, tapi lebih seperti menahan tawa yang ingin keluar, sebenarnya dari tadi aku tahu maksudnya, tapi kan nggak seru namanya kalau nggak sesekali jahilin Felisha, eh ralat, banyak kali.
"Mau!"
"Yaudah sini bantuin." Aku pun berjalan mendekat ke arahnya.
Sambil merapikan tempat duduk aku teringat dengan akan Nesya. "Fei, tadi kamu liat Nesya?"
Felisha mengangguk, "Emangnya kenapa?"
"Nggak apa-apa, aku kira kamu nggak liat Nesya, karena sibuk sama pikiran kamu sendiri," balasku sekenannya.
Felisha memicingkan matanya. "Kayaknya gue tau deh apa yang lo maksud." dia menghela nafas, "gue memang sempat mikirin itu, tapi yaudah lah, semuanya kan udah terjadi," tuturnya.
Aku tersenyum mendengar penuturannya.
"Tapi Sha, kamu perhatiin Nesya tadi nggak?
Aku sedikit memiringkan kepala, "Perhatiin gimana yah."
"Perhatiin tingkah lakunya lah Sha!"
"Mmm, iya, aku perhatiin, emangnya kenapa?"
"Yaa nggak apa-apa sih, cuma dari barisan panitia, gue lihat dia senyum terus, apalagi kalau dia liat Al-qur'annya, kayak bahagia- banget! Seperti habis dapat kejutan."
Aku sempat heran dengan perkataannya, "Yaa bagus dong, kalau Nesya senyum, terus bahagia, dia kan jadi nggak sedih lagi."
"Bukan gitu maksud gue, kalau Nesya bahagia, yaa bagus, malah gue turut senang. Tapi, maksud gue, Nesya kan tadi pagi biasa aja waktu kita berpisah, nah, pas dia datang ke aula, dia tiba-tiba senyum-senyum gitu," Jelasnya.
Aku mengernyit, "Iya juga sih."
"Tuh kan, lo juga liat Nesya kayak gitu kan." Aku mengagguk.
"Lo nggak mau tau apa penyebabnya?"
"Nggak."
"Singkat, padat, dan jelas." Felisha kembali menghela nafas, sudah berapa kali dia menghela nafas seprti itu dihadapanku. "Kalau gue mau tau banget, kan jarang-jarang kita liat Nesya kayak gitu, apalagi terhitung baru 15 hari dia- lo tau lah."
Aku membenarkan perkataan Felisha. "Tapi bisa saja kan Nesya memang lagi senang, mungkin ... karena kita berhasil ketemu sama kamu."
"Loh kok malah gue."
"Kan tadi pagi kamu langsung hilang gitu aja, pas ketemu kamu baik-baik aja, mungkin karena itu dia jadi senang, kan?"
"Iya juga sih."
Akhirnya kami sudah merapikan semua tempat duduk yang menjadi tugas Felisha.
Di perjalaanan pulang, kulihat Felisha masih berpikir, apalagi kalau bukan tentang Nesya. Kekepoannya sudah mendarah daging. Kepo tingkat akut.
"Masih mikirin tentang Nesya?"
"Mmm, gue masih nggak bisa terima sama penjelasan lo, pasti ada sesuatu, dan gue pastiin gue bakal tahu itu." Felisha mengucapkannya dengan nada yang menggebu-gebu.
"Nesya pasti bakal kasih tau sendiri kalau dia mau, bisa saja kan dia langsung ingat sama alm. Abinya ketika liat Al-qur'annya."
Felisha tampak berpikir. "Kalau alasan lo yang ini sih, bisa gue terima. Tapi kalau ada sesuatu yang kembali mencurigakan maka pendapat lo yang ini juga nggak bisa gue terima."
Aku tertawa kecil mendengar ucapannya.
Allahu akbar Allahu akbar
Sayup-sayup terdengar suara adzan dari mesjid, kami pun mempercepat langkah.
Tidak lama kemudian, akhirnya kami sampai di asrama, aku dan Fei segera mengambil air wudhu dan bergegas untuk menunaikan sholat dzuhur secara berjamaah di musholla.