
"Kita beli barangnya dulu atau cari Fei?" tanya Nesya. Mereka sudah berada di luar pondok. Menyusuri jalan demi jalan.
"Cari Fei dulu," putus Arisha.
Mereka mencari di setiap tempat yang pernah ketiganya kunjungi bersama. Hingga ketempat yang hanya sekedar lewat.
15 menit berlalu.
Terik matahari sudah menembus kedalam jilbab, panas. Ingin beristirahat tapi sahabat lebih penting.
Pencarian keduanya belum mendapatkan hasil. Cemas kembali menghinggapi Arisha dan Nesya.
Sesekali mereka bertanya, kepada siapa saja yang mereka lewati. Tapi tetap saja Nesya dan Arisha tidak pernah mendapat informasi tentang Felisha.
Sepanjang jalan, tidak terlalu banyak yang berlalu, hanya pedagang yang lewat, atau para pengendara, satu buah, dua buah, ah sudahlah.
Keduanya bertambah khawatir, terbesit pikiran yang enggak di otak Nesya, sebab sedikitnya orang di kawasan ini. Tidak ingin pikiran menjadi kenyataan, dia menggeleng, kemudian menyentuh kepala dan menghempaskan tangannya. Seakan membuang pikiran itu jauh-jauh.
Lain halnya dengan Nesya, Arisha justru bepikir keras, seakan ingin menemukan jawaban dari pertanyaan yang sulit dengan keadaan mendesak seperti ini.
Nesya membuka suara, "Bagaimana jika Fei tetap tidak ditemukan?"
Pikiran Arisha terhenti, dia menghadap ke Nesya. "Aku yakin, kita pasti ketemu sama Fei. Sekarang coba ingat dimana Felisha berada saat kejadian ini pernah terjadi. Tepatnya lima bulan lalu." Arisha mencoba untuk berpikir jernih, pikiran yang sejak tadi berada di otaknya dikeluarkan, jangan sampai kecemasan Nesya yang berlebih membuatnya lupa apa yang tadi otaknya pertengkarkan, hingga ia turut khawatir dan kecemasan yang menguasainya.
Nesya mulai menenangkan rasa takutnya, ia mengingat kembali. Dan menebak petunjuk-petunjuk dari ingatannya. "Duduk di tepi jalan, dekat genangan air, di belakangnya ada pohon kerseng."
Arisha mengangguk, "Saat peristiwa 1 tahun silam, kejadian itu ada dekat sungai, di tengah jalan, dengan pohon rindang berjejeran disekitarnya. Bisa disimpulkan Felisha sekarang berada dekat air, pohon dan pastinya jalan." otak cerdas Arisha berfungsi dengan cepat.
"Kalau gitu, kita cari Fei sambil beli perlengkapan acara di toko yang dilewati," Nesya mengatakan itu dengan mantap.
"Oke."
Setelah semua kue yang diperlukan terbeli, Nesya dan Arisha tetap belum menemukan Felisha.
"Tinggal 15 menit lagi, kita harus cepat menemukan Fei." ujar Nesya.
"Iya, ayo cepat. Kita nggak punya banyak waktu."
Arisha menggigit ibu jarinya, kebiasaan yang tak lazim lagi buatnya ketika sedang cemas berat atau sangat takut.
5 menit kemudian, mereka melihat seorang gadis duduk di sebuah bangku, tengah menghadap ke jalan raya.
"Itu pasti Fei." gumam Arisha. Akhirnya dia bisa bernapas lega.
Nesya berlari menghampirinya. Dan benar, gadis itu Felisha, ia termenung.
Wajahnya sama dengan langit, nampak sendu. Tadi ... mentari masih setia menemani Nesya dan Arisha dalam pencarian. Sekarang, mentari itu hilang, tertutup oleh awan hitam abu-abu.
Arisha menyusul, matanya menangkap mata merah Felisha. "Dia pasti habis menangis," batinnya.
Nesya diam. Tidak menjawab, hanya langsung memeluk Felisha.
Arisha turut duduk di samping Felisha. "Emang acara pondok lebih penting dari sahabat kita? Nggak kan." Felisha diam, "kita dari tadi cari kamu Fei! Aku sama Nesya khawatir banget tahu! Untung nggak ada yang terjadi sama kamu," ungkap Arisha.
"Aku baik-baik aja, nggak usah khawatirlah."
"Baik-baik gimana? Kamu langsung keluar dari pondok! Tanpa izin. Dan nggak ninggalin apa-apa, bahkan secarik kertas kayak dulu, nggak!! Gimana orang nggak khawatir coba. Kalau dihadapin sama yang beginian."
Felisha terseyum kecil, sama sekali bukan kebiasaannya. "Aku nggak akan lakuin kayak 5 bulan lalu kok! Aku sadar, kematian adalah takdir, dan itu nggak bisa di ubah. Percuma kita menyesal." Felisha menatap hampa di dedapannya. Ia tersenyum getir, ketika mengingat 5 bulan lalu.
Flashback on
"Kakak!!" Feilsha bangun, keringat bercucuran di pelipis. Wajahnya pucat pasih, bibir bergetar hebat oleh tangis yang tiba-tiba keluar. Semakin lama, semakin keras.
Tempat tidur Arisha berada tepat di samping Felisha, dia terbangun akibat teriakan gadis itu. Entah yang lain juga ikut terbangun atau tidak, yang pasti Arisha saat itu langsung bangun dan menyalakan lampu belajar yang ada di bawah tempat tidurnya.
"Fei, kamu kenapa?" Arisha bertanya dengan suara khas orang bangun tidur. Lampu belajar membuat terang sekitar, nampak sudah wajah pucat Felisha, 'dia menangis.'
Felisha tidak menanggapi, dia hanya terus menangis. Tersedu.
Arisha mengumpulkan kesadaran, ia langsung memeluk Felisha erat. Tidak tahu ada apa, tapi mudah-mudahan caranya bisa menenangkan sahabatnya. "Fei, kalau ada apa-apa bilang, jangan dipendam kayak gini, kamu pendam pasti bakal sakit. Bahkan sangat sakit, jika kamu mau berbagi, mungkin bisa kurangin sedikit beban kamu."
Felisha diam, tetap menangis. Matanya telah sembab oleh derai air mata, dia tetap bungkam tak mau bicara. Meski satu atau dua kata saja.
Tak ingin memaksa, Arisha turut diam.
Alunan musik malam, sepi. Membuat suara tangis menghiasi malam ini, penuh isak, sesak.
Satu kata berhasil keluar dari mulut Felisha. "Mimpi."
Arisha tahu, apa yang dimaksud gadis di hadapannya. Mimpi. Satu kata berjuta makna bagi Felisha.
Seakan terikat oleh ruang dan waktu, berjelajah ke waktu yang telah menjadi lalu, mengulang setiap serpihan pecahan terdahulu, membentuk hingga menjadi satu, satu cerita yang setiap bulan hampir menghantui.
Hidupnya seakan bergulir kewaktu itu, dimana serpihan kesedihan bermula, mimpi yang selalu datang, terus berputar, merekam ulang kejadian itu. Hingga mau tak mau, air mata kembali jatuh. Membasahi pipi.
Arisha memutar otak, 'Mimpi'. 'Bukannya itu sering terjadi? tapi Felisha bisa menghadapinya. kenapa saat ini tidak? Ataukah aku yang kurang peka terhadap dirinya? Hingga mimpi itu ternyata membawa kesdihan, dan itu sulit tuk kutangkap?'
Berbagi pertanyaan muncul di otak Arisha.
'Wajah cerianya seakan selalu mendominasi untuk mengatakan dia baik-baik saja. Tapi sepertinya aku salah. Dibalik senyum indah ada kesedihan yang terpaut. Orang lain pasti mengira dia baik-baik saja, dan aku juga seperti orang lain, kenapa aku bisa seperti ini. Aku adalah sahabatnya, seharusnya aku bisa menjadi tempatnya untuk bersandar, harusnya aku mengetahui ini, tapi kenapa harus melihat luka diwajahnya dulu, kenapa harus mendengar isak tangisnya dulu baru aku bisa tahu akan kepedihan yang dia alami setiap mendapatkan mimpi itu. Aku seperti bukan sahabatnya saja.'
"Lengkap." Satu kata kembali keluar. Felisha seakan ingin memberitahu tapi selalu tercekat.
Tapi itu sudah membuat Arisha paham, Akhirnya ia tahu kenapa Felisha seperti ini. setiap mimpinya membawa kenangan, juga rasa sakit. Tapi kali ini mimpi itu tidak hanya hadir sebagai serpihan, namun kehadirannya datang membawa semua kejadian 7 bulan lalu, kala itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=